Kesadaran Yang Datang Terlambat

2197 Kata
Hari demi hari berlalu bagaikan sebuah anak panah yang dilemparkan dari busurnya. Tak terasa Sanin sudah menghabiskan waktu satu tahun dua bulan di dalam tahanan lapas pulau terpencil berkeamanan maksimum ini. Harapannya untuk bebas dan pulang masih ada meski kini semakin pudar, ia sangat frustasi ingin bertemu dengan anak dan istrinya. Pagi ini setelah beres menyapu lantai bloknya, Sanin mendatangi ruang penyimpanan untuk mengambil ember, kemoceng, botol cairan pembersih, lap dan sebundel koran. Semua perlengkapan untuk membersihkan jendela. Sebulan yang lalu ia mendapat tugas tambahan dari Kepala Lapas untuk membersihkan jendela di atap dekat dengan menara pengawas penjara. Dari sini ia mulai mengetahui beberapa tempat persembunyian para sniper. Sanin mulai membersihkan jendela dengan memakai kemoceng lalu ia menyemprotkan cairan pembersih dan membasuhnya dengan air kemudian mengeringkannya dengan kertas koran. Sesekali ia bersiul-siul kecil, kegiatan ini mengingatkannya ketika sedang membersihkan gerobak martabak miliknya dulu. Setengah jam kemudian hampir semua kaca jendela yang berada di atap sudah bersih kinclong tinggal dua jendela lagi yang belum. “Sanin! Disini rupanya, capek sekali naik ke atas sini.” Pria tua teman sekamarnya datang dan langsung duduk dengan nafas yang tersengal. Tahanan lain saat ini memang sedang dipusatkan di aula sedang diadakan acara olahraga, pria tua itu pasti menyelinap untuk menemui Sanin. “Ada apa? Tumben kau menyusulku?” “Kau mau ikut taruhan?” pria tua itu bertanya, ia mengatur nafasnya sejenak. “Taruhan apa?” Sanin tetap melanjutkan pekerjaannya, ia menarik sebuah koran dari dalam bundelannya. “Panco! Sekarang sedang diadakan lomba panco dan kita bertaruh siapa yang akan jadi juara di blok kita.” Jelas pria tua itu. Sanin hendak mengeringkan jendela dengan koran yang telah ia pegang ketika matanya melihat judul berita dan sebuah foto dalam koran tersebut. Istri dan Anak Gembong n*****a Tewas Karena Melawan Petugas. “Astaga!” Sanin tercekat karena ia mengenali sosok di foto dalam potongan koran tersebut, itu adalah Dewi istrinya yang sedang menggendong Rizky anaknya. Koran itu memberitakan soal penggerebekan dirinya dan setelah ia pingsan, rupanya Dewi melawan dan petugas kemudian menghadiahi istri serta anaknya dengan muntahan timah panas, mereka tewas seketika di tempat. Kesadaran yang terlambat mulai merasuk dalam d**a Sanin. Ia telah bodoh dan membiarkan dirinya terjebak, istri dan anaknya telah jadi korban kebiadaban para polisi itu. Dewi tidak mungkin melakukan perlawanan kecuali mereka telah melecehkannya dan anaknya, Rizky. Bukankah masih bayi merah dan saat itu sedang ditidurkan di kamar mereka? “Kurang ajar! Kurang ajar!” Maki Sanin, dadanya bergemuruh oleh gelombang amarah yang membuncah, matanya terasa panas dan melelehkan air mata karena telah kehilangan anak dan istrinya tanpa sepengetahuannya. “Apa? Apa yang kau katakan? Sanin kau tidak apa-apa?” pria tua teman sekamarnya bangkit dan menyadari ada perubahan aneh pada diri Sanin. “Kurang ajar! Kurang ajar, dasar biadab kalian!” geram Sanin sambil mengepalkan tangannya. “Sanin kau baik-baik saja?” pria tua itu menyeret kakinya dan melangkah mendekati Sanin. Sanin masih berdiri mematung sambil mengepal-ngepalkan kedua tangan, nafasnya berpacu dadanya naik turun dengan cepat. Ia harus membalas dendam! Tapi, sekarang ia berada dalam penjara berkeamanan maksimum yang tidak mungkin dijebol. Ia hanya punya satu pilihan, ia harus menyusul anak istrinya, ia mau mati saja. Sanin melemparkan potongan koran itu dan melangkah menuju perimeter luar, para sniper itu pasti dengan senang hati menembak jidatnya. Dengan begitu ia bisa menemui anak istrinya. “Tunggu! Sanin apa yang kau lakukan! Jangan bodoh!” pria tua itu berteriak melihat gelagat Sanin yang aneh. Pria tua itu mengambil potongan koran yang dilemparkan oleh Sanin dan membaca berita yang ada disana, seketika ia langsung memahami apa yang sedang berlangsung dalam pikiran teman sekamarnya itu. “Kalau kau mau mati menyusul anak istrimu mati saja sekarang! Tapi kalau kau mau membalaskan dendam pada polisi tengik itu, aku bisa mengajarimu mengubah amarah dan kebencianmu menjadi sebuah kekuatan dan juga membantumu lolos dari sini!” ujar Pria tua itu. Balas dendam! Kata itu menyadarkan Sanin, ia berpaling. “Kau mau mengajari dan membantuku balas dendam dan lolos dari tempat terkutuk ini? Kau?! Jangan bercanda, lihat dirimu! Bisa apa kau?” Sanin meremehkan. Pria tua itu menghela nafas kemudian menatap Sanin dengan tatapan elangnya, dan entah kenapa tiba-tiba saja suasana terasa begitu menekan buat Sanin. “Kau tahu kenapa para tahanan lain enggan berurusan denganku?” Suara pria tua itu menjadi begitu berat dan berwibawa. Sanin menggeleng. “Karena aku! Aku adalah si Loreng! Akulah sang Bromocorah! Dan para tahanan itu sebagian besar adalah mantan anak buahku!” teriak pria tua yang mengaku bernama Loreng itu, suaranya begitu menggelegar. “Kau tidak bohong?” Sanin menelan ludah dan mulai melunak, ia mendadak seram dengan aura yang terpancar dari rekan sekamarnya itu. “Aku tidak bohong asal kau mau melaksanakan satu syarat dariku.” “Apa itu?” “Kau bantu membalaskan dendamku juga! Bagaimana?” tanya si Loreng. Sanin tertegun, sebelum mati ia harus bisa membalas dendam kepada para polisi yang telah menjebaknya dan membunuh istri serta anaknya. Dengan demikian barulah ia bisa mati dengan tenang. “Baiklah, aku akan membalaskan dendammu juga asalkan kau bisa mengeluarkanku dari sini!” Sanin kembali melangkah ke arah si Loreng dan menjauh dari zona larangan. “Bagus! Kau mengambil keputusan yang tepat.” Si Loreng pria tua teman sekamarnya itu tersenyum, dan keadaan kembali seperti semula, tidak lagi menekan dan mencekam. Kemudian malamnya di sel kamar mereka. “Mulai saat ini kau harus mematuhi dan melaksanakan semua apa yang kusuruh, kau mengerti?!” si Loreng menatap Sanin dengan tatapan matanya yang tajam dan menusuk. “Asal kau bisa mengeluarkanku dari sini. Aku akan melakukan semua perintahmu.” Jawab Sanin mantap tanpa keraguan. “Kita akan merencanakan hal itu pada saatnya. Sekarang kau harus terus memelihara api amarah dan dendam dalam dadamu. Semua itu akan memberikanmu kekuatan dan fokus untuk mencapai tujuanmu. Mulai saat ini kau pun harus mengolah fisik dan mentalmu. Kau harus kuat agar bisa bertarung sendirian, juga kau harus pandai dan lebih cerdik dari para polisi tengik yang dengan pintarnya telah menjebakmu. Kau paham?!” Sanin mengangguk. “Bagus, sekarang push-up seratus kali!” perintah si Loreng. “Apa?” “Kau dengar aku, lakukan tanpa membantah!” Galak si Loreng menyuruh. Sanin turun dari ranjangnya dan mulai push up di lantai sel mereka yang sempit. Baru hitungan dua puluh ia sudah merasakan pegal dan terkapar di lantai. Si Loreng menendang Sanin “Lanjutkan! Kau pikir kalau kau selemah ini kau bisa membalas dendam kematian anak dan istrimu? Jangan bercanda kau!” Dada Sanin kembali memanas, si Loreng benar. Ia harus lebih kuat! “Aaargh…!” teriak Sanin, ia pun melanjutkan push upnya meski beberapa kali merasa pegal dan tidak memiliki tenaga tapi ia telah membulatkan tekad agar bisa lebih kuat, ia memaksakan dirinya untuk melampaui batasan itu. Si Loreng mengangguk-angguk melihat kekuatan tekad yang dimiliki oleh Sanin tersebut. Sepertinya ia sudah menemukan orang yang tepat untuk melakukan rencananya. Setelah Sanin menyelesaikan seratus kali push up, ia lalu terduduk dengan nafas tersengal. “Mulai besok pagi kau harus bangun lebih awal, lakukan push up, sit up dan squat jump sebagai pemanasan. Lalu kau pun harus mengikuti semua kegiatan fisik yang diadakan oleh lapas. Kau mengerti?” “Mengerti!” jawab Sanin. “Bagus, sekarang baca ini!” pria tua itu melemparkan sebuah buku yang ia ambil dari dalam lemarinya. Sanin menangkap buku tersebut. “Selain fisik, kau juga harus mampu berpikir dengan baik. Setiap detik kau harus berpikir dan bersikap dengan tenang dan dingin, membaca akan melatih sikap mentalmu untuk tetap waspada.” Jelas si Loreng. “Boleh aku bertanya sesuatu?” Sanin menatap si Loreng pria tua teman sekamarnya. “Tentu apa yang ingin kau tanyakan?” “Saat di atap, kau bilang kalau kau adalah sang Bromocorah, apa itu?” “Kau tidak tahu apa itu Bromocorah?” si Loreng malah balik bertanya. Sanin menggeleng. “Hahaha… kau memang benar-benar unik. Kau adalah lelaki yang sederhana dan polos, lalu karena sebuah intrik kau terjebak di sini bersamaku dalam sebuah penjara berkeamanan maksimum. Tapi kau tidak tahu apa Bromocorah itu?” “Aku memang tidak tahu, apa itu?” sahut Sanin. “Kau tahu Mafia? Yakuza? Gangster? Preman?” si Loreng kembali balik bertanya. Sanin mengangguk “Aku tahu di film dan berita saja.” “Bromocorah itu adalah pemimpin dari itu semua, tentu saja dalam sebutannya bermacam-macam tergantung negara mana mereka berada. Di sini, di negara ini maka pemimpin dunia hitam dan para preman yang berada dibalik bayangan dan berkuasa disebut dengan Bromocorah.” Jelas si Loreng. “Kalau begitu hebatnya seorang Bromocorah, kenapa kau bisa sampai dipenjara?” Sanin keheranan. Sebuah kilatan amarah berkilat di mata si Loreng “Semua gara-gara si pengkhianat itu! Si Jamal sialan! Dia adalah orang yang harus kau habisi setelah bisa keluar dari sini dan balaskan dendamku. Aku ingin kau membuatnya menderita sebelum ia memohon untuk mati!” si Loreng menunjuk kaki kirinya yang pincang. “Apa itu perbuatan si Jamal?” tanya Sanin. Si Loreng mengangguk “Pengecut itu telah menaruh racun dan membuatku tak berdaya, lalu ia menembak kaki kiriku kemudian melemparkanku kedalam penjara ini dengan rekayasa yang dibuatnya. Kemudian dia duduk di kursiku dan berkuasa, tapi dia bukan Bromocorah sebenarnya, dia hanya anjing belaka!” “Aku mengerti.” Sanin menghela nafasnya. “Cukup bincang-bincangnya, sekarang baca buku itu!” perintah si Loreng. Sanin mulai membuka halaman dan membaca buku yang diberikan oleh si Loreng, sebuah buku filsafat. Keesokan paginya Sanin terbangun dengan sebuah tendangan, ia terbangun mengaduh. “Jangan malas-malasan, sekarang push up dan sit up seratus kali!” bentak si Loreng. Sebenarnya tangan Sanin masih pegal akibat push up semalam, tapi ia tidak membantah dan turun dari ranjangnya lalu mulai push up di lantai sel mereka. Ia merasa seakan seluruh otot tangannya menegang dan hampir putus ketika menyelesaikan seratus push up nya. “Sekarang lakukan sit up seratus kali!” si Loreng memerintah, ia sendiri mengambil sebuah buku dan mulai membacanya. Sanin lagi-lagi tidak membantah, hitungan ke tiga puluh ia merasa otot perutnya keram, berdiri sejenak tapi melihat si Loreng melotot ke arahnya ia kembali melakukan sit up sampai tuntas. Setelah selesai melakukan sit up, Sanin melirik ke arah jam dinding kecil sudah jam tujuh pagi. Ia tidak punya waktu untuk istirahat, segera meraih bandana berlogo kebersihan lapas dan kemudian menggedor pintu kamar selnya memanggil sipir jaga. Ia tetap harus melaksanakan kewajibannya menyapu dan membersihkan jendela lapas. Siangnya ketika mereka akan makan siang di kantin lapas, si Loreng menahan Sanin di dekatnya dan berbicara dengan petugas yang memberikan mereka makanan. “Untuk sekarang dan selanjutnya, tolong berikan dia porsi dua kali lipat!” ujar si Loreng menunjuk kepada Sanin. Petugas itu menatap Sanin lalu berpaling kepada si Loreng “Baiklah.” Si Loreng membuktikan ucapannya bahwa ia memang disegani dan dihormati bahkan oleh para petugas lapas ini. Sanin menyodorkan bakinya dan sang petugas memberikan dua porsi kepadanya. “Mulai saat ini kau pun harus mengisi perutmu dengan baik agar otot-ototmu berkembang dengan sempurna.” Jelas si Loreng. Sanin mengangguk dan mereka kemudian berjalan menuju ke meja blok mereka untuk makan bersama. Baru kali ini Sanin makan dengan lahap, mungkin karena ia sangat lelah dan kelaparan setelah melakukan push up dan sit up tadi pagi. Dua porsi menu kantin lapas yang buruk itu ia habiskan dalam sekejap. Si Loreng yang melihat hal tersebut tertawa. Si Loreng berdiri dan berjalan menghampiri meja blok lain, terlihat ia sedang berbicara pada salah seorang tahanan di blok tersebut. Beberapa menit kemudian ia menunjuk ke arah Sanin, lawan bicara si Loreng kemudian mengangguk. Si Loreng tersenyum dan berjalan kembali ke mejanya. “Kabar bagus, kau diperbolehkan ikut tarung bebas setiap minggunya.” Ujar si Loreng menunjuk ke arah wajah Sanin. “Apa?” Sanin yang sedang minum hampir saja keselek. “Kau yakin? Dia pasti akan babak belur setiap minggunya.” Timpal seorang lelaki yang duduk di sebelah si Loreng. “Tenang saja, ini juga sebuah latihan untukmu.” Jelas Si Loreng. Sanin mengangguk, benar juga. Ia harus kuat dan mempunyai kemampuan beladiri yang mumpuni, tarung bebas adalah cara tercepat untuk meraih kekuatan itu. “Dan kau,” Si Loreng menatap ke arah lelaki yang tadi menimpalinya “Kau ajarkan dia cara untuk mencuri kendaraan! Kau mengerti?” Tadinya pria itu hendak protes tapi melihat tatapan yang mengendalikan dari si Loreng ia pun mengangguk, ia tak punya pilihan. Ia tahu siapa pria tua yang menatapnya tersebut, reputasi orang ini sudah terkenal. “Mencuri kendaraan? Buat apa?” tanya Sanin mengerutkan dahinya. “Kau harus menyerap semua ilmu yang ada didalam lapas ini, suatu saat kau mungkin akan membutuhkan semua pengetahuan itu.” Jelas si Loreng. “Dan kau!” Si Loreng menepuk bahu tahanan di sebelahnya, lelaki berkumis dan bercambang lebat itu melirik ke arahnya “Kau ajari dia cara merampok!” lanjut si Loreng. Lelaki itu pun mengangguk menurut. Begitu pula dengan hampir seluruh tahanan yang ada di blok mereka, semuanya disuruh oleh si Loreng untuk mengajari Sanin semua keahlian mereka. Baik itu mencuri kendaraan, merampok, meracik bom, bela diri, bahkan mencopet. Semuanya tidak ada yang membantah, semua menuruti perintah pria tua teman sekamar Sanin yang bernama si Loreng tersebut. Sanin semakin yakin kalau si Loreng memang sehebat yang pernah ia katakan padanya. Dia benar-benar seorang Bromocorah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN