Berlatih Di Dalam Penjara

1165 Kata
Dimulailah rutinitas latihan Sanin dengan porsi yang ditentukan oleh si Loreng sekehendak hatinya. Push up, sit up dan squat jump adalah menu rutin yang diwajibkan oleh si Loreng, selain itu setiap sore ketika mereka berada di lapangan untuk berolahraga maka Sanin pun kini ikut bahkan ditambah lari mengelilingi lapangan selama beberapa putaran. Hari ini pun Sanin ikut mengangkat beban puluhan kilogram dan diteruskan dengan lari lima putaran di lapangan ketika sore harinya. Beberapa tahanan memperhatikan perubahan yang dilakukan oleh Sanin tersebut. Para sipir tidak terlalu peduli karena memang tahanan yang berolah raga bukanlah sesuatu yang aneh. Mereka hanya sedang melepaskan diri dari rasa stress yang kadang hinggap karena dikurung di tengah pulau terpencil ini. Mereka tidak peduli, kecuali si tahanan berusaha hendak melarikan diri, maka mereka tidak segan untuk melumpuhkannya dengan segala cara. “Makan ini!” si Loreng melemparkan sebuah apel ke arah Sanin. Sanin yang sedang membaca sebuah buku tentang ekonomi dunia yang dipinjam dari perpustakaan Lapas dengan sigap menangkap apel tersebut dan menggigitnya. Ia kini memiliki refleks yang baik. “Aku perhatikan belakangan ini kau tidak meminum minuman keras, kenapa?” tanya Sanin sambil kembali menggigit apel yang ia pegang. “Hehehe, kau cukup jeli rupanya. Saat ini kita harus mencukupi kebutuhan gizimu, aku mengalokasikan uangku untuk membeli makanan sehat untukmu. Lagipula sebetulnya aku minum hanya untuk menghilangkan gundah belaka. Tapi sekarang aku sedang optimis dan yakin kalau kau bisa melakukannya, kau bisa melampiaskan dendamku pada si Jamal.” Jelas si Loreng dengan mata yang berapi-api. Sanin manggut-manggut, pantas saja belakangan ini ia selalu menerima makanan yang enak dan bergizi dari si Loreng. Makanan yang tidak pernah mereka dapatkan dari kantin lapas. Semua makanan sehat yang dibeli oleh si Loreng dari beberapa orang sipir dan juga Bos yang berada di blok tahanan dengan kamar mewah. Sanin tak pernah bertanya berapa banyak uang yang dimiliki dan dikeluarkan oleh si Loreng untuk membeli semua kebutuhan makanan sehat mereka. Sabtu ini Sanin akan mengikuti tarung bebas untuk pertama kalinya. Hiburan ilegal ala para tahanan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi disela waktu bebas mereka. Para sipir sebenarnya tahu aktivitas tersebut tapi sengaja tutup mata karena mereka pun merasa terhibur bahkan kadang ada juga diantaranya yang ikut bertaruh dan mendapat sedikit keuntungan. Di tempat seperti ini, hiburan ala tarung jalanan adalah salah satu hiburan yang mengasyikkan. Lawan Sanin adalah si Botak dari blok G, meski postur tubuh mereka hampir sama namun si Botak terlihat jauh lebih berbahaya daripada Sanin. Si Botak adalah tahanan dengan kasus perampokan disertai dengan pembunuhan sebuah keluarga, ia tertangkap karena mengoceh pada seorang cepu yang sedang menyamar di sebuah bar. Maka polisi kemudian berhasil membekuknya beberapa jam setelah kejadian. Banyak para tahanan yang ditahan di tempat ini karena informasi yang diberikan oleh para cepu. Itu sebabnya para cepu ini adalah orang-orang yang sangat dibenci bahkan sering dihabisi oleh para tahanan lain apabila ketahuan. Itulah sebabnya si Loreng selalu mengingatkan Sanin apabila ada aparat yang mendekati dan menyuruhnya menjadi cepu maka ia harus menolaknya. Karena meskipun jumlah uang yang ditawarkan sangat besar tapi nyawa adalah taruhannya. Tidak ada sarung tinju yang dikenakan di tangan maupun ring, kedua tahanan, mereka bertarung hanya dalam sebuah lingkaran yang dikelilingi oleh para tahanan lain. Seorang diantara mereka menjadi wasit, aturannya sederhana kau bebas memukul atau menendang bagian mana saja tapi tidak boleh sampai membuat lawan mati. Kau hanya harus membuat mereka mengaku kalah atau membuatnya pingsan dan tak bisa melanjutkan pertarungan. Selain itu tidak boleh curang dengan menggunakan senjata rahasia atau meludahi mata lawan. Semuanya harus full body contact saja, kepalan dan tandangan bebas dilakukan ke semua bagian tubuh lawan. “Mulai!” Seru sang wasit memberikan aba-aba agar kedua petarung segera memulai pertarungan mereka. “Pukul dengan segala kekuatanmu, jangan menahan diri. Kalahkan dia!” si Loreng mendorong Sanin masuk ke arena pertarungan sambil memberikan semangat. Kali ini si Loreng bertaruh untuk kemenangan Sanin sebagai motivasi dan juga menumbuhkan keyakinan kalau ia sekarang berbeda, ia lebih kuat dari saat pertama dijebloskan ke dalam lapas ini. Si Botak tampak percaya diri dan menatap Sanin meremehkan, ia bahkan mengacungkan kedua tangannya ke atas sebagai pertanda bahwa ia akan menang dengan mudah. Para penonton bersorak, bergemuruh memberikan semangat dan tepuk tangan kepada kedua petarung. Kertas taruhan pun mulai disebarkan, bandar kali ini memasang hadiah yang menggiurkan. Mereka kini sudah berada di tengah lingkaran dan si Botak dengan cepat melancarkan serangan pertama saat wasit memberikan aba-aba agar pertarungan dimulai. Sanin yang belum siap terpaksa menerima bogem mentah dari si Botak, ia terjengkang. Penonton bersorak, si Botak tertawa gembira karena mendapatkan lawan yang mudah dan sangat lemah. Sanin bangkit kembali dan berjalan ke tengah lingkaran, si Botak menyambutnya dengan sebuah pukulan lagi. Kali ini Sanin telah siap, ia menangkis pukulan si Botak dan memasukkan serangan balasan dengan tangan kirinya ‘Bughk!’ Sanin berhasil memukul pipi si Botak. Si Botak tak menduga hal tersebut, pukulan Sanin cukup keras. Si Botak jadi geram, ia berubah beringas dan melancarkan pukulan secara membabi buta. Sanin berusaha keras menangkis dan bertahan, tapi serangan si Botak memang sangat cepat sehingga mau tak mau Sanin harus menerima sebagian pukulan yang tak bisa ia tangkis. Sanin kini hanya bertahan sambil melindungi wajahnya dari amukan si Botak. “Serang balik! Kau jangan mau jadi samsak! Bayangkan kalau ia yang telah membunuh istrimu!” Teriak si Loreng berusaha membangkitkan semangat bertarung Sanin. Mendengar teriakan si Loreng itu Sanin menjadi tersulut emosinya, ia menghela nafas dan mengeraskan kepalan, dalam benaknya yang ia lihat adalah wajah para polisi tengik yang telah membunuh istri dan anaknya. Lalu tanpa menahan diri lagi Sanin mengeluarkan semua yang ia punya, ia melancarkan serangan balik bagai banteng yang terluka, ia menatap nanar si Botak dan kemudian mengamuk. Si Botak sedikit jerih menatap mata Sanin yang begitu buas dan seakan tak lagi memiliki belas kasihan. Pukulan demi pukulan Sanin kini menjadi lebih kuat dan bertenaga, hasil latihannya selama ini, menghantam tubuh si Botak tanpa ampun. Keadaan kini berbalik, si Botak terdesak dan tersungkur. Si Botak berteriak meminta ampun tapi tidak dihiraukan oleh Sanin. Sanin tidak memberi kesempatan, ia terus mengamuk dan menendang si Botak yang sudah tak berdaya. Si Botak kini berada dalam posisi yang sangat gawat, nyawanya terancam oleh amukan Sanin. “Hentikan! Kau sudah menang!” Wasit menarik tangan Sanin agar menjauh dari si Botak. Sanin yang masih dikuasai oleh amarahnya tak berhenti, ia bahkan memukul wasit yang memegang tangannya. Penonton riuh dan terpaksa sebagian mereka termasuk si Loreng mengamankan Sanin sebelum membuat kericuhan yang akan menarik perhatian para sipir. Mereka mengepung Sanin yang seperti kesurupan dan terus saja bertarung dengan siapa yang mendekat ke arahnya. Empat orang bertubuh besar menelikung Sanin dan menjauhkannya dari lingkaran pertarungan, akhirnya Sanin kembali tersadar setelah salah seorang tahanan mengguyurnya dengan sebotol air. “Apa yang sudah kulakukan?” Tanya Sanin kebingungan. “Kau berhasil mengalahkan si Botak, hehehe…” si Loreng terkekeh senang sambil membayangkan banyaknya uang taruhan yang ia menangkan. Maka kemudian setiap minggu setelahnya, Sanin terus mengikuti setiap pertarungan demi pertarungan yang diadakan oleh para tahanan secara diam-diam tersebut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN