Mengalahkan Si Gorila

1499 Kata
Sudah lima tahun dilewati Sanin di lapas berkeamanan maksimum ini. Ia berubah, lupakan Sanin sang penjual martabak manis yang kerempeng dan rapuh. Saat ini ia telah menjadi Sanin bertubuh kekar berambut gondrong dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk serta seorang jagoan yang berhasil melibas setiap lawan dalam tarung bebas setiap minggunya, kecuali si Gorila. Sanin masih belum bisa mengalahkan si Gorila, beberapa kali mereka bertarung tapi ia tetap saja kalah, paling banter Sanin bisa imbang melawannya. “Sanin, apa kau siap untuk keluar dari tempat ini?” tanya si Loreng. Sanin menatap ke arah rekan sekamar sekaligus gurunya selama beberapa tahun ini, ia sudah beberapa kali bertanya kapan ia akan dibantu keluar tapi si Loreng selalu menjawab ia belum siap dan kini ia menawarkan hal tersebut. Tanpa ragu Sanin mengangguk “Tentu saja, kapan?” “Aku sudah menyiapkan rencana pelarian dirimu, tapi satu syarat lagi harus kau penuhi.” Jelas si Loreng. “Apa itu?” tanya Sanin, menutup buku tentang ekonomi dunia yang sedang dibacanya. “Kau harus bisa mengalahkan si Gorila!” sahut si Loreng. “Baiklah.” Jawab Sanin. “Bagus! Sekarang push up 200 kali!” perintah si Loreng. Sanin tidak membantah dan segera melakukan push up 200 kali seperti perintah si Loreng. Berbeda dengan saat pertama melakukannya, ia kini enteng saja push up 200 kali itu, tidak berkeringat sama sekali. Si Loreng tersenyum senang, usahanya melatih Sanin telah membuahkan hasil. Lihatlah seorang tukang martabak yang kerempeng kini telah bermetamorfosis menjadi seorang yang gagah dan kekar. Sanin masih melakukan tugasnya menyapu lantai dan membersihkan jendela lapas. Sebagian sipir sudah mengetahui tentang dirinya yang setiap minggu melibas lawan dalam tarung bebas. Namun karena Sanin masih bersikap biasa dan tidak menolak apabila disuruh oleh mereka untuk memijat tubuh atau menyeduhkan kopi, maka mereka menganggap Sanin tidak berbahaya dan tidak dikhawatirkan akan kabur. Itulah tujuan si Loreng dan Sanin, agar para Sipir tidak mencurigai gerak-gerik mereka. “Mulai hari ini porsi latihanmu ditambah. Kau harus melatih dirimu untuk bisa menahan nafas selama mungkin. Minimal dua puluh menit, kau mengerti?!” ujar si Loreng begitu Sanin selesai melakukan push up nya. Sanin mengangguk, ia menghela nafas dan kemudian menahan nafasnya. Kali pertama ia hanya berhasil menahan nafas selama satu menit dua puluh enam detik. Si Loreng menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap stop watch. “Ini buruk, kau harus lebih banyak berlatih mengolah nafas!” gerutu si Loreng. Sanin yang sedang mengatur nafas menatapnya “Apa yang harus aku lakukan?” “Berlatih! Tarik nafas perlahan selama sepuluh detik, tahan selama yang kau bisa lalu hembuskan perlahan jangan sekaligus. Lakukan itu disetiap kesempatan, kau mengerti?!” “Aku mengerti.” Sahut Sanin. Maka kemudian sambil menyapu dan membersihkan jendela, Sanin mengatur nafasnya. Ia menarik nafas perlahan kemudian menahannya selama mungkin lalu menghembuskannya perlahan. Awalnya sangat sulit bagi Sanin karena selain mengatur nafas ia juga harus menyapu dan membersihkan jendela secara bersamaan. Hari ketiga ia baru bisa melakukannya dengan baik, ia sudah menjadikannya sebuah kebiasaan dalam alam bawah sadarnya. Ia kini bisa mengatur nafas sekaligus melakukan berbagai kegiatan lainnya. Malam itu si Loreng mengajari hal yang baru lagi buat Sanin. “Meditasi?” Sanin mengerutkan dahinya. Si Loreng mengangguk “Mulai malam ini kau lakukan meditasi selama satu atau dua jam sambil tetap mengatur nafasmu. Tujuannya agar kau semakin memahami dirimu, kekuatanmu, kelemahanmu. Dan terutama agar mentalmu semakin kuat. Sekarang lakukan, ingat konsentrasi dan jangan sampai kau ketiduran. Kalau kau tidur aku akan menghajarmu!” Sanin menurut, ia sudah mempelajari teorinya dari buku yang minggu lalu disuruh si Loreng untuk dibaca. Ia segera bersila dan menutup mata, menyatukan kedua ibu jari kemudian mengatur nafasnya. Satu bulan kemudian akhirnya Sanin berhasil menahan nafasnya selama dua puluh dua menit lewat beberapa detik. Si Loreng tersenyum puas. “Baiklah, sekarang sudah waktunya kita mempersiapkan dirimu untuk mengalahkan si Gorila. Lalu setelah itu akan kujelaskan bagaimana caramu meloloskan diri dari sini.” Ujar si Loreng. Sanin menghela nafas, sudah waktunya. Ia sudah bersabar selama lima tahun ini, ia sudah geram ingin membalas dendam kepada para polisi tengik dan antek-anteknya itu. “Kalau kau ingin mengalahkan si Gorila, selain memakai kekuatan otot kau juga harus menggunakan otakmu. Cerdiklah, cari tahu kelemahannya selama bertarung! Itu saja yang bisa kuberi tahu padamu, sisanya kau sendiri yang harus memikirkan jawabannya.” Papar si Loreng. Sanin manggut-manggut. Selama ini ia memang menghadapi si Gorila hanya berdasarkan kekuatan otot belaka, ia memukul, menangkis, menendang, semuanya gagal karena si Gorila lebih unggul dari segi fisik itu. “Dua minggu lagi, itu adalah kesempatan terakhirmu untuk mengalahkan si Gorila dalam tarung bebas. Kalau kau tidak bisa mengalahkannya, maka lupakan saja niatmu untuk balas dendam karena kau tidak cukup kuat meninggalkan lapas ini. Kau paham?” si Loreng menatap tajam. “Aku paham.” Sanin balas menatap, matanya kini sama tajam dan menusuknya. Selama lima tahun ini tanpa disadari oleh Sanin ia telah semakin mirip tindak tanduknya dengan si Loreng. Karena selain mereka berbagi satu sel yang sama, si Loreng telah mengajarinya semua ilmu yang ia punya. Si Loreng telah mewariskan apa yang ia miliki kepada Sanin tanpa Sanin tahu. Maka keesokan harinya Sanin berlatih lebih keras, tanpa disuruh oleh si Loreng ia melakukan push up, sit up dan squat jauh lebih banyak. Berlari lebih cepat melampaui batasan dirinya sendiri, berlatih beladiri bebas yang telah diajarkan oleh si Loreng bahkan ia sudah menyempurnakan beberapa gerakannya supaya lebih efektif. Tekadnya semakin membara dan berkilat terlihat dari sorot matanya. Dua minggu tak terasa telah terlewati, sore ini Sanin akan menghadapi si Gorila dalam lingkaran tarung bebas. Semua tahanan antusias menonton, mereka bertaruh dengan jumlah uang yang sangat besar, terbesar dalam sejarah lapas. Sanin tidak peduli dengan taruhan itu, yang ia inginkan adalah mengalahkan si Gorila lalu meloloskan diri dari lapas ini untuk membalaskan dendam kematian istri dan anaknya. Sanin dan si Gorila berdiri berhadapan di tengah lingkaran, saling menatap dan mencemooh meremehkan satu sama lain. “Mulai!” seru seorang tahanan yang jadi wasit. Setelah beberapa kali saling bertarung, si Gorila kini tak lagi diam. Ia menyadari kalau musuhnya bukanlah orang kerempeng yang sama dengan pertama kali mereka bertinju. Musuhnya selalu kembali menantang dengan kekuatan yang lebih besar. Maka ia pun melancarkan serangan pertamanya. Mereka jual beli pukulan di detik-detik awal pertarungan, nampak seimbang. Lalu si Gorila menggeram dan berusaha menghantamkan bogemnya ke tubuh Sanin. Sanin refleks berkelit menghindari pukulan si Gorila, meski berbadan besar tapi gerakan si Gorila sangat cepat dan tak boleh diremehkan. Sanin melancarkan serangan balasan mengincar wajah si Gorila. Si Gorila pun dengan cepat menunduk dan memutar kakinya hendak menendang Sanin. Sanin segera salto ke belakang menghindari tendangan kaki kanan si Gorila. Tanpa diduga, si Gorila yang gagal memberikan tendangan tersebut tiba-tiba melesat mengejar Sanin yang bersalto. Dan tepat ketika Sanin sempurna berdiri, si Gorila mencengkeram tubuh Sanin dan membantingnya, telak! Sanin terkapar. Si Gorila memukul-mukul dadanya, bertingkah persis seperti gorila sungguhan. Ia kemudian bermaksud menginjak Sanin yang masih tergolek di lantai. Dan Bumm! Kaki si Gorila menginjak lantai kosong karena Sanin sudah berguling dan kembali bangkit. Sanin melakukan tendangan berputar dan si Gorila mengangkat tangan melindungi wajahnya. Tapi Sanin mengincar dadanya, dan bughk! Tendangan Sanin tepat menghantam d**a si Gorila. Si Gorila terhuyung beberapa kaki ke belakang. Sanin tak memberi kesempatan, ia kembali melayangkan tinjunya. Lagi-lagi si Gorila menghalangi wajah dengan kedua tangannya, tak ayal perut dan dadanya jadi sasaran pukulan Sanin. Setelah melemparkan belasan pukulan Sanin mundur sesaat, menghimpun tenaga kembali. Si Gorila yang menerima lusinan pukulan Sanin ternyata tidak apa-apa. Ia menyungging senyum. “Boleh juga kau!” ujar si Gorila. Sanin terperangah, seharusnya si Gorila merasa kesakitan tapi ini sebaliknya. Si Gorila benar-benar kuat! Ia seorang Monster! Penonton bergemuruh memberi semangat dan bertepuk tangan. Tontonan yang sangat menghibur. Sanin melesat lagi dan berusaha melancarkan bogem mentah ke arah ulu hati si Gorila. Si Gorila membiarkan tangan Sanin masuk kedalam pertahanannya, lalu tanpa diduga ia menarik lengan Sanin dengan tangan kiri dan menghadiahinya sebuah pukulan tangan kanan telak mengenai perut Sanin. Pendukung si Gorila bersorak kegirangan. Si Gorila kemudian melakukan gerakan aneh, ia mendekap Sanin erat dan berusaha membuatnya pingsan dengan mengepitnya ke ketiaknya yang super bau. Sanin teringat pesan si Loreng, ia harus menggunakan akalnya. Dari tadi ia merasa curiga dengan pertahanan si Gorila yang terus menerus melindungi wajahnya padahal tidak diincar oleh Sanin, jangan-jangan? Sanin menahan nafas dan melemaskan tubuhnya, saat si Gorila menyangka Sanin sudah pingsan. Sanin dengan cepat melepaskan diri dari cengkeraman si Gorila dan dengan telak menghantam dagunya dengan segenap kekuatan. Si Gorila menjerit kesakitan lalu terhuyung dan kemudian jatuh pingsan, dagu ternyata adalah titik lemah si Gorila. Penonton untuk beberapa kejap terdiam, mereka tidak menyangka si Gorila sang petarung yang tak terkalahkan selama berada di Lapas akhirnya harus kalah di tangan Sanin. Tak lama kemudian mereka riuh bersorak dan bertepuk tangan, pertandingan yang bagus. Mereka mengelu-elukan Sanin. Sanin mendekati si Loreng “Kau lihat! Aku berhasil!” Si Loreng tersenyum senang, ia memang sudah menduganya. Terlebih ia gembira karena menang taruhan besar satu banding seratus ribu dengan bandar untuk kemenangan Sanin. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN