Penerus Sang Bromocorah

1315 Kata
“Rencananya sederhana saja.” Si Loreng mulai menjelaskan rencana pelarian Sanin. Sanin menatapnya menunggu penjelasan lebih rinci. “Tanggal 4 bulan depan itu adalah waktu yang tepat untukmu melarikan diri dari tempat ini. Seperti biasa tanggal tersebut merupakan saat kapal pengangkut pasokan bahan makanan dan lainnya datang merapat dari pelabuhan seberang. Tepat jam sembilan pagi kau harus tetap pura-pura membersihkan jendela lalu bersembunyi di atap karena saat itu aku akan membuat kericuhan tepat saat jam makan pagi berakhir. Para tahanan lain akan membantu, selain itu mereka sudah menyiapkan beberapa bahan peledak yang disebar di beberapa sudut lapas agar para sipir semakin kebingungan.” Si Loreng menghela nafas sejenak. “Saat para sniper bergerak menuju ke area dalam lapas untuk membantu menghentikan kericuhan, kau gunakan kesempatan itu untuk turun melalui tembok di dekat menara pengawas, ada satu titik buta disana sehingga para sipir di atas menara pengawas tidak akan mengetahuimu turun. Tapi saat kau sudah berada di bawah maka larilah secepat yang kau bisa menuju kapal pengangkut pasokan yang masih tertambat di pelabuhan, kau gunakan ilmu mencuri kapal yang telah kau pelajari sebelumnya. Dari sana kau punya waktu tujuh menit lebih beberapa detik saja sebelum para sipir sadar dan mengejarmu dengan speed boat mereka. Tapi mereka sudah terlambat, kau pasti bisa sampai lebih dulu ke pelabuhan. Di daratan utama peluang mereka untuk menemukanmu sangat kecil. Kau mengerti?” Si Loreng menatap Sanin. “Aku mengerti.” “Jangan sampai gagal, kau hanya memiliki satu kesempatan saja!” Si Loreng mengingatkan. “Aku tidak akan gagal!” Sahut Sanin, matanya memancarkan keteguhan. “Bagus. Masih ada waktu sembilan hari lagi, kau harus terus mengawasi situasi dan lihat apa ada sesuatu yang janggal atau bisa merusak rencanamu. Semuanya harus kita evaluasi sampai tiba hari H-nya.” Si Loreng menepuk bahu Sanin. Lima hari menjelang hari H, saat jam bebas si Loreng mengajak Sanin menyelinap masuk kedalam blok khusus yang berisi sel-sel mewah. Ia mengetuk sebuah pintu, penghuninya mengintip dari sebuah lubang kemudian membukakan pintu. Si Loreng masuk kedalam sel mewah tersebut diikuti oleh Sanin. “Selamat datang si Loreng. Aku sudah menyiapkan semua yang kau minta.” Sambut pemilik sel mewah tersebut, seorang lelaki bertubuh tambun yang selalu menyungging senyum di bibirnya. “Bagus, terima kasih. Aku minta maaf sudah merepotkan.” Sahut si Loreng. “Tidak masalah, untuk kawan lama tidak merepotkan sama sekali.” Ujarnya tersenyum. Sanin memperhatikan sel tersebut yang luas dan bisa dibilang sama seperti sebuah rumah saja, ada televisi, kulkas, pendingin udara dan berbagai perabotan mewah lainnya. Ia penasaran berapa uang yang harus disetorkan kepada Kepala Lapas agar bisa mendapatkan sel semewah ini. “Jadi anak ini yang kau pilih sebagai penerusmu?” tanya pemilik sel mewah itu, ia memperhatikan Sanin dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Sanin menatap si Loreng tidak mengerti. “Jadi Sanin, sudah kuputuskan bahwa selain membalaskan dendamku pada si Jamal pengkhianat itu. Aku pun akan mewariskan gelar Bromocorah kepadamu!” jelas Si Loreng. “Apa itu tidak berlebihan?” tanya Sanin sedikit ragu, gelar itu setelah ia tahu adalah gelar yang sangat diincar oleh para preman dan mereka yang berkecimpung di dalam dunia hitam, mereka rela membunuh dan bertarung sampai titik darah penghabisan demi mendapatkan gelar tersebut dan kini ia ditawarkan begitu saja? “Kau telah menunjukkan kualitasmu, selain itu kau adalah muridku selama empat tahun ini. Jadi kurasa kau pantas untuk menjadi penerusku sebagai seorang Bromocorah.” Ucap si Loreng. “Benar apa yang dikatakan oleh si Loreng, aku sudah melihat sepak terjangmu. Kau nyaris saja membuat si Bandar bangkrut dengan kemenanganmu atas si Gorila. Tapi itu memang pertunjukan yang bagus.” Timpal si pemilik sel mewah, lagi-lagi tersenyum. “Jadi, apa kau mau menjadi penerusku? Menjadi seorang Bromocorah?” sekali lagi si Loreng bertanya. Sanin berpikir sejenak, akhirnya ia mengangguk. “Bagus, kita akan memulai ritual pengangkatanmu sebagai seorang Bromocorah!” ujar si Loreng senang. “Duduklah di sebelah sana!” sang pemilik sel mewah menunjuk ke hamparan karpet tebal di dekat televisi. Sanin duduk bersila, televisi sedang menayangkan sebuah film yang cukup seru tapi Sanin tidak berminat menonton. Si Loreng ikut duduk di sebelahnya. Sang pemilik sel mewah membawa sebuah kompor gas portabel dan menaruhnya di dekat Sanin lalu ia meletakkan panci berisi air dan menyalakan kompor tersebut. Ia lalu masuk kembali kedalam. Si Loreng menatap air yang perlahan mulai mendidih, ia melepaskan kalung yang dikenakannya. Sanin baru pertama kali melihat kalung tersebut, liontin kalung itu terbuat dari batu yang aneh, seperti titanium tapi memiliki urat-urat berwarna ungu. Si loreng melemparkan kalung tersebut kedalam air yang mendidih. Setelah lima menit si Loreng mematikan kompor, aneh air di dalam panci itu berubah warna menjadi ungu pekat. Si Loreng mengambil kembali kalungnya dan meletakkannya di atas karpet. Tak berapa lama sang pemilik sel mewah itu datang kembali dengan membawa sesuatu seperti sebuah pelat kecil dan tampak panas karena ia membawanya dengan mencapitnya memakai sebuah tang yang cukup besar. Si Loreng mengambil alih, ia menggenggam tang yang mencapit pelat tersebut dari tangan si pemilik sel mewah. “Ulurkan tangan kirimu!” perintah si Loreng. Sanin menurut, ia mengulurkan tangan kirinya. “Gigit ini!” sang pemilik sel mewah itu memberikan handuk kecil yang sudah digulung sambil tersenyum. Sanin menggigit gulungan handuk kecil tersebut. Si Loreng menempelkan pelat panas itu ke tangan kiri Sanin. Sanin menjerit kesakitan tapi suaranya hilang tertelan oleh gulungan handuk kecil yang sedang ia gigit. Setelah yakin apa yang ada di dalam pelat panas itu tercetak sempurna di tangan kiri Sanin, si Loreng melepaskannya dan menyisihkan pelat itu. Ia kemudian menuntun tangan Sanin ke atas panci berisi air berwarna ungu pekat tersebut. Dengan sebuah gelas plastik yang difungsikan sebagai gayung si Loreng membasuh tangan kiri Sanin yang kini sudah tercetak sebuah gambar harimau berkepala dua yang salah satunya sedang menggigit seekor ular sementara kepala yang satunya tampak mengaum. Si Loreng membasuh tangan kiri Sanin itu beberapa kali sampai motif belang harimau di tangan Sanin berubah warna menjadi ungu. “Bagus! sekarang kau sudah resmi menjadi seorang Bromocorah!” ujar si Loreng. Sanin terengah-engah, sungguh rasanya sangat menyakitkan. Kalau saja tidak ada gulungan handuk kecil itu, sudah pasti ia bakal menggigit lidahnyaa sendiri. Sang pemilik sel mewah itu pun turut menyalami Sanin “Selamat kau sekarang seorang Bromocorah!” “Mulai sekarang namamu adalah Ginggi! Kau adalah Ginggi Sang Bromocorah!” ujar si Loreng sambil menyerahkan kalung yang tadi ia kenakan dan direbus untuk memberi warna ungu pada motif belang harimau yang kini menjadi tato di tangan kirinya. Sanin menerima kalung tersebut dan mengenakan di lehernya meski disana sudah tergantung sebuah kalung lainnya yang jauh lebih sederhana. Si Loreng lalu mengambil sebuah pisau dan ia kemudian membuat garis silang di lengan kirinya yang juga bergambar sama dengan yang ada di tangan kiri Sanin. “Aku sudah bukan lagi Bromocorah, sekarang kau lah sang Bromocorahnya, Ginggi si Bromocorah!” si Loreng menunjuk. “Ginggi, apa arti nama itu?” tanya Sanin penasaran. “Artinya adalah setan bergentayangan yang menebar teror dan ketakutan. Itu nama yang cocok untukmu yang hendak membalas dendam.” Sahut Si Loreng. “Ginggi, nama yang bagus. Akan kupakai nama itu.” Ucap Sanin mengangguk-angguk. “Baiklah, sudah terlalu lama kita pergi, kita harus kembali sebelum para sipir menyadari.” Ajak si Loreng. Sanin menurut, ia pun bangkit dari duduknya. Tangan kirinya masih terasa sangat sakit, ia pun merasa tubuhnya kini panas dingin. “Kawan lama, terima kasih. Maaf sudah merepotkan.” Si Loreng berpamitan pada sang pemilik sel mewah tersebut. “Tidak apa-apa kawan lama, kau boleh datang kapan saja.” Ujarnya menjabat tangan si Loreng. “Kalau begitu aku juga pamit.” Ucap Sanin. “Ginggi, jadilah seorang Bromocorah yang hebat!” Sang pemilik sel mewah itu tersenyum sambil menyerahkan pelat bercetak harimau berkepala dua yang salah satunya sedang menggigit seekor ular dan satu kepala lainnya sedang mengaum tersebut. Pelat itu sudah tidak panas, Sanin memasukkannya ke dalam saku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN