Amanat Dari Si Gorila

1408 Kata
Mendekati hari H Sanin semakin waspada, ia mengawasi sekitarnya dan juga tingkah laku para tahanan lainnya apakah ada sesuatu yang mencurigakan yang bisa menggagalkan pelariannya atau tidak. Sebagian besar dari mereka memang bersedia membantu dirinya berkat bujukan si Loreng. Tapi, si Loreng pun menyuruh Sanin berhati-hati karena siapa tahu ada cepu diantara para tahanan tersebut. Satu hari sebelum hari H, Sanin dan si Loreng makan siang di kantin lapas dengan menu yang sama buruknya seperti hari-hari sebelumnya. Si Loreng berbisik pada seorang tahanan di sebelahnya “Pastikan semuanya lancar dan tepat waktu, jangan meleset meski hanya satu detik!” Tahanan yang dibisiki oleh si Loreng mengangguk dan kemudian berdiri menuju meja makan blok yang lain, ia berpura-pura makan disana dan berbisik pada seseorang lainnya. Dan begitulah orang yang dibisiki itu kemudian berdiri dan melangkah menuju meja lainnya. Sebuah pesan berantai sedang disampaikan demi mendukung kesuksesan pelarian Sanin. “Apa kau gugup?” tanya si Loreng pada Sanin. “Sedikit.” “Hilangkan keraguan dan rasa gugup itu. Ingat kau harus membalaskan dendam kematian istri dan anakmu juga balas dendamku. Fokus dan terus maju sampai kau berhasil mencapai tujuanmu!” nasihat si Loreng. Sanin mengangguk. Seorang tahanan mendekati mereka, ia duduk di sebelah si Loreng. Sanin mengenali pria itu, ia adalah tahanan blok sebelah yang biasa disuruh mencuci baju oleh para sipir. Mereka sesekali bertemu saat Sanin sedang mengambil alat pembersih jendela di ruang penyimpanan dan melewati ruang laundry tempat pria itu bertugas mencuci baju para sipir. “Ini barang yang kau pesan.” Ujarnya sambil meraih sesuatu yang ia sembunyikan dari balik baju, sesuatu yang dibungkus dalam keresek hitam. Si Loreng mengambil keresek hitam itu dan menyembunyikannya dalam bajunya. “Kerja bagus!” puji si Loreng. Pria itu mengangguk dan kembali berdiri menuju tempat tadi ia duduk. “Apa itu?” tanya Sanin penasaran. “Kostum untuk kau kenakan esok hari.” Sahut si Loreng tersenyum. “Kostum?” Sanin keheranan. Si Loreng diam tak memberikan penjelasan lebih lanjut, ia malah sibuk menghabiskan sisa makannya. Sanin pun tidak mendesak, tokh pada akhirnya nanti si Loreng pasti akan memberitahunya. Dari ujung meja yang dekat dengan pintu keluar, si Gorila berdiri. Ia berjalan sendirian mendekati Sanin, semua mata memandang ke arah mereka. Para sipir waspada mereka khawatir bakal terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Enyah!” si Gorila mengusir seorang tahanan yang duduk di sebelah Sanin. Lelaki itu segera berdiri dan pergi mencari tempat duduk lain. Si Gorila duduk di sebelah Sanin. “Jangan melakukan hal bodoh!” ingat si Loreng mentap tajam si Gorila. “Aku tidak berminat untuk bertarung lagi dengan bocah ini.” Timpal si Gorila menunjuk wajah Sanin. “Lantas apa yang kau inginkan?” Sanin menatap si Gorila, ia tidak takut sama sekali dengan pria berbadan besar di sebelahnya lagipula ia pernah mengalahkannya. “Kudengar kau akan pergi dari tempat ini?” tanya si Gorila. “Apa kau jadi cepu sekarang?” tanya si Loreng menimpali. “Kalian salah paham, aku hanya bertanya. Benar kau akan pergi dari tempat ini esok?” sekali lagi si Gorila bertanya. Sanin mengangguk “Ya.” Jawabnya singkat. Si Loreng melotot ke arahnya, seharusnya itu menjadi sebuah rahasia. Siapa tahu si Gorila memang adalah cepu dan ia membawa alat perekam atau sejenisnya dan itu bisa menjerat Sanin. Bukannya bisa melarikan diri dari tempat terkutuk ini, Sanin malah bisa meringkuk dalam sel isolasi. Si Gorila merogoh saku bajunya, ia mengeluarkan selembar foto dan menaruhnya di meja. Sanin melihat foto tersebut, seorang gadis SMA yang cantik sedang tersenyum manis. “Aku minta tolong padamu untuk memastikan kabarnya. Alamat rumahnya sudah kutulis di belakang foto ini.” Ujar si Gorila. “Siapa dia?” tanya Sanin. “Namanya Lidya, ia adalah anakku, aku dan istriku telah bercerai beberapa tahun sebelum aku dijebloskan ke tempat terkutuk ini. Aku minta kau menemukannya dan bilang kalau… “ si Gorila menghela nafasnya, matanya mendadak membeling. “Bilang kalau aku ayahnya benar-benar menyayanginya dan aku minta supaya ia mau memaafkan ayahnya. Aku sudah menjadi ayah yang tak berguna bagi putri kesayanganku. Kalau kau sudah bertemu dengannya, kumohon untuk mengirimkan foto terbarunya.” Lanjut si Gorila. Sanin menatap wajah si Gorila, dibalik sikapnya yang sangar dan keras ternyata ia masih memiliki hati yang lembut. “Baiklah, akan kutemukan dan sampaikan pesanmu untuk putrimu.” Sahut Sanin sambil menyimpan foto tersebut kedalam saku bajunya. “Terima kasih, mulai sekarang kau dan aku adalah saudara!” si Gorila memeluk Sanin. Sirine panjang yang memekakkan telinga berbunyi, waktu makan mereka sudah habis. * Sore itu ketika semua tahanan sedang menjalankan program olahraga rutin di lapangan lapas, si Loreng kembali mengajak Sanin menyelinap. Kali ini mereka mendatangi sebuah ruang kosong di dekat aula, tahanan lain dari blok sebelah seorang lelaki berkumis tipis sudah menunggu. “Kalian lama sekali.” Keluh lelaki berkumis tipis itu menyambut kedatangan Sanin dan si Loreng. “Maaf, kita harus berputar tadi karena menghindari beberapa sipir yang berjaga di lorong.” Jelas si Loreng. “Duduklah!” lelaki berkumis tipis itu menyuruh Sanin sambil menunjuk ke sebuah bangku. Sanin duduk di bangku yang ada di dekat mereka. Lelaki berkumis tipis itu menyelimuti bahu dan tubuh Sanin dengan selembar kain, ia lalu mengeluarkan gunting dari balik bajunya. Si Loreng berdiri di dekat pintu, berjaga-jaga siapa tahu ada Sipir yang mengadakan patroli. Dengan cekatan lelaki berkumis tipis itu kemudian mencukur rambut Sanin yang dibiarkan gondrong selama hampir tiga tahun tersebut. Selama kurang lebih dua puluh menit lelaki berkumis tipis itu melakukan pekerjaannya. Ia tampak profesional dan menggunting rambut Sanin dengan baik. “Sudah beres!” ucap lelaki berkumis tipis tersebut, ia melepaskan kain yang menyelimuti tubuh Sanin dan mendekati tas miliknya yang ditaruh di meja. Sanin tidak tahu rambutnya dipotong dengan gaya seperti apa sebab tidak ada cermin di ruangan tersebut untuk berkaca. “Kerja yang bagus!” puji si Loreng menatap kepala Sanin yang kini rambutnya sudah terpangkas rapi. Sanin meraba kepalanya, sepertinya rambutnya dipangkas dengan sangat pendek. “Pakai ini!” lelaki berkumis tipis itu melemparkan sesuatu kepada Sanin. Sanin menangkap benda yang dilemparkan oleh lelaki berkumis tipis itu. “Wig?” Sanin mengerutkan dahi tak mengerti. “Agar para Sipir tetap menyangka kau berambut gondrong.” Jelas si Loreng. Tanpa banyak cakap Sanin mengenakan wig yang sewarna dengan rambutnya, ia kembali terlihat gondrong. Sanin dan Si Loreng segera kembali ke lapangan sebelum para sipir mengetahui kalau mereka telah menyelinap pergi. Malamnya si Loreng akhirnya memberikan keresek hitam yang ia dapatkan dari tahanan yang jadi tukang laundry para sipir kepada Sanin. “Esok, saat kau bersembunyi di atap, gantilah bajumu dengan ini. Itu akan memberi waktu tambahan dan memperbesar peluangmu lolos dari tempat ini.” Jelas si Loreng. Sanin membuka keresek itu yang ternyata berisi seragam sipir. Ia kini paham kenapa si Loreng membuatnya mencukur rambut bergaya cepak. Dengan seragam ini tentu si Loreng menyuruhnya untuk menyamar sebagai seorang sipir. “Ada satu hal yang harus kuingatkan lagi padamu.” Si Loreng menatap Sanin. “Apa itu?” “Para polisi tengik yang kau cari mungkin mereka sudah naik jabatannya dan dimutasikan. Kau akan kesulitan menemukan mereka, selain itu kau juga tidak bisa langsung membunuh mereka begitu saja. Sebab kalau kau melakukannya tanpa perhitungan yang baik maka balas dendammu akan gagal di tengah jalan. Kau mungkin bisa membunuh satu atau dua orang diantara mereka, tapi pemimpinnya tidak akan tersentuh.” Si Loreng menghela nafas. “Lantas apa yang harus aku lakukan?” Sanin mengerutkan dahinya. “Bersabarlah, dekati lingkaran mereka lalu ambil satu persatu. Lakukan balas dendammu tanpa menyolok. Meski butuh waktu agak lama tapi kau harus memastikan keberhasilan balas dendammu.” Nasihat si Loreng. Sanin manggut-manggut. “Karena itu kau harus menghabisi si Jamal terlebih dahulu, ambil alih kekuasaan Bromocorah dari tangannya. Lalu gunakan semua aset dan anak buah yang akan kau dapat setelah duduk di kursi Bromocorah untuk membantumu membalas dendam.” “Aku paham.” Sahut Sanin. “Bagus, esok ketika kau mendengar keributan meletus dan bahkan ledakan hebat terjadi. Jangan sampai kehilangan fokus dan tetap menjauh, hati-hati jangan bergerak dulu sampai kau yakin para sniper itu telah meninggalkan posisi mereka dan beranjak kedalam untuk membantu meredakan kericuhan di dalam lapas.” “Aku mengerti.” Sanin menimpali. “Sekarang tidurlah lebih awal, kau harus menjaga supaya tubuh dan staminamu berada dalam kondisi puncak setelah bangun esok pagi.” Ujar si Loreng. Sanin mengangguk dan segera beranjak menuju ranjangnya. Ia sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat terkutuk ini. Menjadi orang bebas kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN