Melarikan Diri

2055 Kata
Hujan cukup deras turun sejak subuh, membuat udara pagi ini begitu dingin. Seperti biasa para tahanan bangun dengan sebuah jeritan sirine yang memekakkan telinga. Sanin menatap jendela kecil di atas sel kamar yang sempit. Dengan hujan seperti ini apakah pelariannya akan sukses? Jalanan pasti akan becek dan penuh dengan lumpur. “Cuaca dan alam sepertinya mendukungmu untuk pergi dari sini.” Tegur si Loreng rupanya ia memperhatikan Sanin yang terus menatap jendela. “Apa maksudmu?” Sanin tak mengerti. “Hujan dan udara dingin seperti ini membuat para sipir sedikit malas bergerak dan membuat mereka mencari sesuatu untuk menghangatkan diri. Kewaspadaan mereka akan berkurang. Tapi kau harus tetap siaga dan jangan lengah!” ingat si Loreng. Sanin mengacungkan jempolnya dan meraih bandana kebersihan lapas lalu menyembunyikan keresek hitam berisi seragam sipir di balik bajunya. “Semoga berhasil!” si Loreng menepuk bahu Sanin. Sanin mengangguk. “Kau adalah murid terbaik yang pernah kumiliki.” Si Loreng tersenyum. Lihatlah seorang tukang martabak yang kerempeng dan rapuh kini telah berubah menjadi seorang Bromocorah yang gagah dan kekar dengan sorot mata tajam bak elang. “Aku pun berterima kasih. Kau sudah banyak mengajariku, aku tidak mungkin bertahan sampai sejauh ini tanpa bantuan darimu. Kau lebih dari seorang guru bagiku, kau sudah kuanggap sebagai…” “Hentikan, kalau kau teruskan maka mentalmu bisa goyah. Kau harus kuat dan berhati dingin!” potong si Loreng menghentikan sikap melankolis Sanin. “Aku pergi!” pamitnya. Si Loreng mengangguk. Sanin melangkah menuju pintu sel dan mengetuk-ngetuk memanggil sipir jaga. Setelah beres menyapu Sanin kemudian beranjak menuju ruang penyimpanan mengambil peralatan untuk membersihkan jendela. “Hari ini kau tidak usah membersihkan jendela!” tegur seorang sipir yang kebetulan berada di ruang penyimpanan. “Kenapa, Pak?” Sanin pura-pura tidak mengerti, kalau ia tidak membersihkan jendela maka rencananya bakalan gagal. “Kau tidak lihat sekarang ini sedang hujan? Percuma kau membersihkan jendela-jendela itu karena akan kembali kotor terpercik air hujan.” Jelasnya. “Maaf Pak. Tapi Pak Kepala Lapas memerintahkan saya untuk membersihkan jendela setiap hari, saya tidak bisa melanggar perintah itu.” Dalih Sanin. Mendengar nama Kepala Lapas disebut, sipir tersebut agak mengkerut. Ia tidak mau berurusan dengan sang atasan. “Terserah kau saja. Bersihkan semua jendela itu dengan baik, aku tidak mau diomeli nanti kalau ada satu saja yang masih terlihat kotor.” Ujarnya sambi melangkah pergi dari ruang penyimpanan. Sanin menghela nafas, hampir saja. Sejenak ia celingukan memastikan tidak ada orang lain lagi selain dirinya. Setelah yakin ia lalu mengambil sehelai kain yang ada di lemari penyimpanan dan memasukkannya kedalam ember. Ia menutupi atas ember tersebut dengan bundelan koran. Sanin melirik jam dinding, sudah jam 8.25 ia harus bergegas. Sanin berjalan agak cepat dan langsung naik ke atap lapas untuk membersihkan jendela seperti biasanya. Hujan masih menghias pulau keci ini meski mulai mengecil dan menyisakan rintik-tintik. Beberapa orang sniper ia lihat tengah bersembunyi di setiap sudut atap berbalut jas hujan, mereka melihatnya sekilas lalu kembali pada tugasnya. Kepala Lapas memang sudah memberitahu para sniper itu kalau Sanin ia tugaskan membersihkan jendela, ia juga melampirkan sebuah catatan ‘tidak berbahaya, hanya korban intrik’. Sanin mengeluarkan bundelan koran dan mulai membersihkan debu yang menempel di kaca jendela. Ia sesekali melirik ke arah para sniper yang sangat disiplin dan fokus menjalankan tugasnya. Kabarnya mereka sanggup diam dan bersembunyi seharian penuh tanpa makan dan juga ke toilet, mereka adalah orang pilihan yang sudah terlatih. Saat ini pun bahkan ketika cuaca sedang turun hujan begini, para sniper itu masih setia mengemban tugas. Waktu terasa berjalan sangat lambat, Sanin berdebar-debar antara harapan dengan kecemasan mulai menyelimuti dirinya. Sanin mengenyahkan semua pikiran negatif itu dan menenangkan dirinya, semua pasti akan berjalan sesuai rencana. Tapi ia juga teringat nasihat si Loreng ‘Berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk’ karena itu ia tetap waspada. Hujan kembali membesar, tetesan air yang turun dari langit itu semakin banyak menghantam bumi. Sanin bergeser ke tempat yang terlindung plafon dan berteduh sambil tetap mengelap kaca. ‘Duaaarr…!’ sebuah ledakan terdengar dari dalam lapas. ‘Duaaarrr…! Duaaarrr…!’ ledakan berikutnya berturut-turut terdengar. “Kami segera kesana!” seorang sniper berujar ke handy talkie yang ia pakai. Rupanya keributan dan ledakan sebagai pengalih perhatian itu sudah dimulai dan para sipir kewalahan mencoba mengendalikan situasi kembali. Delapan orang sniper segera berloncatan dan berlari menuju kedalam lapas, mereka tidak menyadari Sanin yang sedang bersembunyi diantara tembok atap tersebut. Setelah para sniper meninggalkan atap, Sanin segera membuka baju rangkapnya dan kini ia mengenakan seragam sipir. Ia melemparkan wignya, mengambil sehelai kain yang ia sembunyikan dalam ember lalu berlari menuju ke dekat menara pengawas para sipir. Ia sudah menyiapkan kain-kain lain yang sudah dibentuk menjadi tali di bawah menara tersebut, disamarkan dengan kaleng-kaleng cat dan kayu bekas renovasi lapas yang ia temukan. Menggabungkan kain terakhir dan mengaitkannya pada besi yang menyembul dari beton menara. Sanin lalu menyibak kawat berduri yang memagari atap, ia sudah memutus kawat itu beberapa hari lalu. Melemparkan tali dari kain ke bawah lalu mulai turun. Angin kencang mengayunkan tubuhnya yang berpegang pada tali kain dan cipratan air hujan mengenai wajahnya. Berhasil! Untuk pertama kalinya setelah lima tahun terkurung di dalam lapas terkutuk ini, Sanin kini bisa menjejakkan kakinya di luar. Ia menarik tali kain itu dalam sebuah hentakan keras dan tali kain itu lepas ke bawah. Ia menyembunyikan tali itu di balik sebuah batu besar. Sanin kemudian berjalan agak cepat menuju ke pelabuhan, tadinya ia hendak berlari tapi nanti pasti bakal langsung ketahuan. Dari tempatnya sekarang, mau tidak mau ia harus melewati sebuah pos penjagaan. Kalau mereka mencurigainya, ia akan menghabisi para penjaga itu kemudian lari secepat mungkin. Ada dua orang penjaga di pos terluar ini, Sanin melangkah dengan tegap. Mereka tidak akan mengenali dirinya yang menyamar sebagai sipir. Sanin memberi hormat saat melangkah melewati portal, mereka membalasnya. Aman, bisik Sanin dalam hatinya. “Kau! Tunggu sebentar!” panggil salah seorang penjaga tersebut. Sanin membalikkan badan “Ya?” “Kau sipir baru? Mau kemana?” tanya penjaga tersebut. “Ke pelabuhan, Bapak menyuruh saya untuk mengambil sebuah paket khusus.” Ujar Sanin. Petugas itu mengerutkan dahi, ia kemudian berjalan mendekati Sanin. Sanin waspada dan siap dengan segala kemungkinan. “Kalau itu barang bagus, kau sisihkan sedikit untukku! Kau paham?!” bisiknya. Sanin mengangguk dan tersenyum “Tentu.” “Hei!” seru petugas lain menyembulkan kepala di pintu pos jaga memanggil temannya. “Apa?” tanya petugas yang berada di dekat Sanin. “Kita harus kedalam! Kerusuhan terjadi di aula! Para tahanan meledakkan sesuatu!” jelasnya sambil bergegas keluar menyandang senapannya. “Sial, para kurang ajar itu mau apalagi mereka! Kau pergilah tunaikan tugasmu!” usir petugas yang di dekat Sanin, ia kembali menuju pos jaga untuk mengambil senjatanya. Sanin menghela nafas lega. Ia kini berlari sekuat yang ia bisa menuju pelabuhan. Beberapa puluh meter lagi ia sampai, Sanin mengatur nafasnya dan kembali berjalan. Tiga orang anak buah kapal sedang menurunkan barang-barang sementara dua orang lainnya yang terlihat seperti kapten kapal dan navigator sedang berbincang di tempat teduh. Sanin menghampiri kedua orang tersebut. Mereka sigap berdiri, tidak biasanya seorang sipir mendatangi mereka di pelabuhan. “Ada apa, Pak?” tanya kapten kapal. “Kalian semua diperintahkan Kepala Lapas untuk menghadap. Beliau mau memberikan hadiah atas kerja keras kalian selama ini.” Jelas Sanin. Kapten kapal dan sang navigator saling pandang satu sama lain, orang pelit itu mau memberi mereka hadiah? “Kau sedang bercanda bukan?” sang nvigator menatap Sanin tajam. “Apa aku terlihat sedang bercanda? Di hari hujan seperti ini aku lebih baik diam di ruanganku dan meminum kopi panas, tapi tidak. Pak Kepala mendatangiku dan menyuruhku menemui kalian disini? Apa aku senang dengan hal tersebut?” ujar Sanin. Masuk akal, sang Kapten memegang bahu sang navigator “Baiklah kami akan menghadap beliau.” Ucapnya. Sang Kapten kemudian mengumpulkan para anak buah kapalnya dan kemudian mereka berlima berjalan menuju ke arah Lapas. “Kau tidak ikut bersama kami?” tanya sang navigator. “Aku harus beristirahat dulu, capek sekali berjalan di tengah hujan begini. Kalian langsung saja bilang pada petugas jaga kalau kalian disuruh menghadap Bapak.” Jelas Sanin. Sang Navigator mengangguk paham, ia segera menyusul rekan-rekannya. Tanpa membuang waktu lagi Sanin segera melepaskan tambang untuk menambatkan kapal pengangkut pasokan tersebut. Sedikit mengutak-atik kabel, ia sudah mempelajari ilmu pencurian dari rekan sesama tahanan dan kini semua jelas tergambar di benaknya. Berhasil! Kapal pengangkut itu hidup, perlahan Sanin keluar dari pelabuhan kecil tersebut. Sang Kapten kapal, sang Navigator dan ketiga anak buah kapalnya mendengar deru mesin kapal. Mereka berlari kembali mengejar sambil meneriakkan sumpah serapahnya. Sanin hanya melambaikan tangan, ia maju dengan kecepatan penuh dan mengarahkan kapal menuju ke daratan utama, kalau lancar maka ia akan sampai dalam satu jam. Hujan deras masih turun dan membuat gelombang tinggi, Sanin yang kini bertubuh kekar serta memiliki pengetahuan dan mata yang tajam dengan cakap menghindari semua gulungan ombak tinggi tersebut. Sanin sudah setengah perjalanan ketika ia mendengar sebuah perintah yang keras dari penguat suara menembus gelegar petir dan hujan. Para sipir itu menyadari pelariannya dan kini sedang mengejar. “Kau yang berada di kapal pasokan Lapas, segera berhenti! Serahkan dirimu sekarang juga!” Sanin tersenyum kecut, tentu saja ia tidak sebodoh itu. Ia terus melajukan kapal bajakannya tanpa mengindahkan perintah tersebut. Perintah itu diulang sampai tiga kali, melihat gelagat si pelarian tidak berhenti juga maka mereka meneriakkan sebuah perintah terakhir. “Kalau kau tidak berhenti, kami akan menembakmu dengan torpedo!” Sanin terus mengacuhkan semua perintah itu, tapi mendengar ancaman terakhir ia menengok ke belakang juga. Para sipir itu ternyata tidak main-main, mereka meluncurkan sebuah torpedo yang dengan sangat cepat membelah lautan menuju kapal yang dibajak oleh Sanin. “Sial!” gerutu Sanin, ia tidak pernah membayangkan bakalan ditorpedo seperti ini. Tepat saat torpedo itu mengenai buritan kapal bajakannya, Sanin melompat keluar menyelam kedalam air. ‘Duaarrr…!!!’ Kapal yang dibajak oleh Sanin meledak, hancur berkeping-keping dihantam torpedo. Tak berapa lama kapal yang membawa para sipir sampai di lokasi ledakan, mereka berputar-putar mencari mayat Sanin dan memastikan kalau si pelarian sudah mati. Sanin saat itu sedang menyelam dan berusaha menahan nafas sekuat yang ia bisa. Ia bersyukur telah bersiap dengan berlatih nafas hampir setiap hari, rekor menahan nafasnya adalah 25 menit lebih beberapa detik. Tapi dengan kondisinya saat ini ditambah cuaca yang tidak mendukung, Sanin merasa ia hanya dapat menahan nafas sekitar lima belas menit saja. Ia berharap para sipir itu menyerah dan kembali ke lapas sebelum ia benar-benar kehabisan nafas. “Kurasa ia sudah mati.” terdengar suara seorang sipir. “Kita harus memastikan itu!” timpal sipir yang lainnya. Mereka mengarahkan senjata mereka ke air lalu memuntahkan beberapa peluru menembak siapa saja yang mungkin bersembunyi di sana. Sanin kelimpungan, ia berusaha sekuat mungkin menghindari peluru-peluru tersebut. Tapi sebutir peluru berhasil menembus bahu kirinya. Sanin menahan jerit dan rasa sakit yang ia rasakan. “Tidak ada, mungkin mayatnya sudah hanyut terbawa ombak.” Ucap seorang sipir. “Baiklah, kita kembali dan melapor pada kepala Lapas!” sahut seorang sipir. Deru mesin kapal yang membawa para sipir itu terdengar dan menjauh semakin jauh. Setelah yakin, Sanin menyelam ke atas dan muncul di permukaan. Bernafas dengan sangat kepayahan, ia memegang bahu kirinya yang terluka akibat tertembus timah panas tadi. Para sipir yang mengejarnya pasti mengira ia sudah mati. Itu bagus, hari ini biarkan Sanin mati ditorpedo dan tenggelam di lautan dan sebagai gantinya lahir seorang Ginggi! Pikirnya dalam hati, mulai saat ini ia tidak akan lagi memakai nama Sanin. Sekarang ia adalah Ginggi. Ginggi memperkirakan apabila ia berenang ke daratan maka butuh waktu sekitar lima jam mungkin lebih dengan kondisi cuaca buruk seperti ini, ia tak punya pilihan selain harus mencobanya. Meraih sebilah papan yang cukup lebar yang mengapung, puing-puing bekas kapal bajakannya yang hancur ditorpedo para sipir. Hujan masih turun dengan deras dan sesekali petir menyambar. Ginggi berpegangan pada papan itu dan mulai berenang menuju ke daratan utama. Berkali-kali ia tak sengaja menelan air laut, hujan yang turun membuatnya semakin susah berenang. Gelombang yang tinggi datang menghantam dan mengombang-ambingkannya tak terarah. Kondisi bahunya pun semakin parah, darah terus mengalir dari sana. Lebih dari tiga jam Ginggi bertarung dengan ombak tinggi tersebut, cuaca buruk membuatnya tak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia berusaha tetap memeluk erat sebilah papan lebar tersebut dan perlahan kesadarannya menghilang. Hujan yang deras ditambah angin besar membuat laut bergolak begitu dahsyat, Ginggi yang tak sadarkan diri kini dipermainkan oleh ombak sesuka hatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN