Ginggi membuka matanya, ia melihat bintang-gemintang kelap-kelip bersinar di langit sana. Apa ia sudah mati? Ia masih bisa mendengar suara air dan angin yang berhembus, tapi ia sedang berbaring? Ginggi berusaha duduk dan menatap sekitarnya, ternyata ia berada dalam sebuah perahu kecil.
“Kau sudah bangun, Nak?” sapa seorang nelayan tua yang sedang mengayuh perahunya dengan sebuah dayung lebar.
Ginggi menatap kakek tua tersebut “Dimana kita?”
“Masih di laut, aku menemukanmu hanyut beberapa saat lalu.” Jawab Kakek tua tersebut, masih sibuk dengan kegiatan mendayungnya.
“Terima kasih sudah menolong saya Kek.” Ucap Ginggi, memegang bahunya yang masih berdarah karena sebuah peluru bersarang di sana.
“Lukamu itu harus segera diobati, sebentar lagi kita akan tiba di perkampungan nelayan. Ada sebuah klinik disana, kau bisa mengobati lukamu di tempat itu.” Jelas sang nelayan tua sekaligus meneragkan tujuan mereka.
Ginggi mengangguk, ia merasa mulutnya sangat kering setiap kali berbicara.
“Aku melihat puing-puing kapal tapi tidak menemukan rekan-rekanmu yang lainnya. Apa yang telah terjadi sebenarnya?” selidik nelayan tua itu penasaran.
“Saya memang hanya sendirian, kapal saya dibajak lalu dihancurkan dengan torpedo.” Ucap Ginggi berbohong.
“Kau dibajak? Pasti kapalmu membawa sesuatu yang penting dan berharga. Setahuku perairan disini aman dan tidak pernah ada yang dibajak selama aku melaut selama ini.” Nelayan tua itu menggeleng-gelengkan kepala dan mengusap janggutnya.
Ginggi tidak menjawab.
“Siapa namamu, Nak?” Lanjut nelayan tua itu.
“Sa-Ginggi. Namaku Ginggi.”
“Ginggi, nama yang unik. Kenalkan aku Pungga tapi orang-orang lebih suka memanggilku Opung. Kau harus bersyukur masih bisa hidup meski aku yakin kau bakal dimarahi sama atasanmu.” Ucapnya berusaha menghibur.
“Apa?” Ginggi belum ngeuh.
“Itu, seragammu itu. Kau pasti seorang aparat bukan? Kau dinas dimana? Biar nanti kita hubungi kantormu setelah sampai di perkampungan. Rekanmu pasti akan datang menjemput.” Nelayan tua bernama Opung itu menunjuk seragam yang dikenakan oleh Ginggi.
“Aku berada dalam satuan khusus, aku tidak bisa menghubungi kantorku sampai beberapa hari kedepan. Lagipula sepertinya aku bakalan dipecat.” Jelas Ginggi, menelan ludah bibirnya benar-benar kering. Ia mengusap leher dan mulutnya.
“Kau tidak boleh pesimis, kalau kau jelaskan atasanmu itu pasti mengerti. Apa kau haus? Ambil bungkusan di sampingmu, itu ada sedikit air dan sepotong roti. Kau boleh memakan dan meminumnya.” Sahut Opung yang akhirnya menyadari kalau Ginggi merasa kehausan dan kelaparan.
Ginggi meraih bungkusan keresek hitam yang disempilkan di sela kayu perahu si Opung yang berada di dekatnya. Ia minum dan kemudian memakan roti dengan lahap, ia memang sangat lapar dan kehausan.
“Kita sudah tiba!” si Opung menunjuk ke depannya.
Ginggi menoleh ke belakang, di arah yang mereka tuju nampak banyak lampu kelap-kelip. Perkampungan nelayan yang diceritakan oleh Opung, mereka tinggal beberapa puluh meter lagi dari sana.
Mereka tiba di perkampungan nelayan itu beberapa menit kemudian, si Opung menambatkan perahunya. Ia kemudian membawa Ginggi menuju ke sebuah klinik yang terdapat di tengah perkampungan. Beberapa nelayan yang kebetulan berpapasan dengan si Opung bertanya keheranan, dua orang diantaranya bahkan terus mengikuti sampai mereka sampai ke klinik. Mereka ingin tahu cerita si Opung dan orang asing berseragam sipir yang ia bawa dari laut tersebut.
“Opung dan yang lain tolong tunggu di luar, biar saya bisa berkonsentrasi!” Usir dokter yang sedang berjaga di klinik.
Dokter itu seorang perempuan muda, seorang mahasiswi kedokteran yang sedang melaksanakan pengabdian masyarakat di kampung nelayan ini.
“Buka bajumu, biar aku periksa lukanya!” perintah sang dokter.
Ginggi menurut dan membuka seragam sipirnya, meletakkannya di atas kursi.
Dokter muda itu melirik lengan kiri Ginggi yang dihias sebuah tato, ia mengerutkan dahi dan menyipitkan matanya, sebuah pemikiran kemudian tercetus dari penglihatannya barusan itu.
Setelah menyuntik Ginggi memakai penghilang rasa lokal dengan sigap ia kemudian mengeluarkan sebutir peluru dan menaburkan bubuk anti infeksi lalu membalut luka tersebut agar tidak terkena debu atau kotorang yang bisa mengganggu proses penyembuhan.
“Sudah beres.” Ucap sang dokter sambil membereskan semua peralatan dan obat-obatan yang ia pakai barusan ke tempatnya semula.
“Terima kasih dokter.” Sahut Ginggi dengan suara yang lirih.
“Kusarankan kau segera pergi dari kampung nelayan ini. Kau tidak mau kan para masyarakat disini menyerahkanmu kepada aparat kepolisian.” Ujar sang dokter menyarankan.
“Apa maksudmu?” Ginggi menatap tajam, sang dokter seperti sedang mengusirnya dari kampung nelayan ini padahal ia baru saja datang.
“Tato itu, kau tidak mungkin seorang sipir. Setiap aparat tidak boleh memiliki tindik juga tato, jadi kurasa kau sedang menyamar dan kabur dari penjara. Bukankah begitu?” simpulnya sambil menunjuk lengan kiri Ginggi yang masih belum tertutupi oleh bajunya.
“Kau benar, lantas apa kau akan melaporkanku?” tanya Ginggi.
“Aku tidak akan melaporkanmu, kecuali kau masih berada disini esok hari. Tidak melapor pun esok para aparat akan mendatangi perkampungan ini untuk mencarimu. Jadi sekarang terserah padamu, apa kau akan tetap berada di perkampungan ini atau pergi sebelum mereka itu tiba.” Sang dokter muda menatap Ginggi dengan tajam, tidak ada sorot ketakutan dalam matanya malah sebaliknya menggambarkan keteduhan dan keteguhan yang luar biasa karena ia melakukan sebuah tindakan yang benar.
“Aku akan pergi, terima kasih atas pertolonganmu. Aku tidak punya uang saat ini tapi aku akan membayar suatu saat nanti.” Ucap Ginggi, ia membaca name tag yang tergantung di baju sang dokter ‘Sofie’.
“Kau tidak perlu membayarku. Dan ini sedikit uang untukmu makan!” Dokter muda yang cantik itu merogoh saku bajunya dan meletakkan beberapa lembar uang di dekat Ginggi.
Ginggi menatap sang dokter “Terima kasih.” Ia mengambil uang dari sang dokter.
Dokter muda itu hanya mengangguk.
Ginggi berbalik, memakai kembali bajunya dan kemudian melangkah keluar dari klinik tersebut. Mengucapkan terima kasih pada si Opung, Ginggi kemudian berlalu dan berjalan keluar dari perkampungan nelayan tersebut.
Ginggi melemparkan baju sipir yang ia gunakan sebagai penyamaran ke sebuah tong sampah. Selain terlalu mencolok, ia pun sudah tidak membutuhkan baju itu lagi sekarang. Sebagai gantinya ia dengan enteng meraih kemeja lengan panjang yang tergantung di jemuran salah satu penduduk yang luput tidak dimasukkan kedalam rumah. Meraba saku celananya, beberapa lembar uang dari dokter muda itu, pelat yang dipakai untuk menato lengan dan selembar foto dari si Gorila yang sudah ia bungkus dengan beberapa lapis plastik masih ada di dalamnya.
Ia hendak menuju ke kota tempat tinggalnya dulu, tapi pertama ia harus makan mengisi perut dan memikirkan tempat untuk beristirahat malam ini.
Ginggi mampir ke sebuah warung makan dan memesan seporsi nasi dengan lauknya, ia makan dengan lahap. Makanan orang bebas memang jauh lebih lezat ketimbang makanan di kantin penjara.
Perutnya sudah kenyang, Ginggi melangkah menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Ia melihat sepanjang emper pertokoan banyak sekali orang yang menggelar kardus dan karton bekas lalu tidur disana. Sangat kontras dengan pemandangan gedung dan rumah mewah di sekitarnya. Ginggi menghela nafas menyaksikan perbedaan tersebut.
Ia juga mulai merasa lelah dan harus mencari tempat untuk beristirahat, ia melihat sebuh pojokan yang tampak nyaman. Ginggi segera beranjak menuju pojokan tersebut kemudian meringkuk disana. Baru kali ini ia tidur di emperan, tapi tidak masalah yang penting ia kini menjadi orang bebas kembali.
***