Air Mata Terakhir

2216 Kata
Keesokan harinya Ginggi terbangun ketika seseorang menyiram dirinya dengan seember air. “Dasar gembel gak tau diri! Tidur seenaknya depan toko Oe!” maki si penyiram, seorang lelaki tua menatap Ginggi dengan marah, matanya melotot penuh kebencian sekaligus jijik dengan gelandangan yang terus saja menjadikan emperan tokonya sebagai tempat tidur mereka. Ginggi yang geram tadinya hendak membalas, namun melihat si penyiram sudah renta ia urungkan niatnya dan diam saja kemudian berlalu menjauh. “Yu jangan pernah tidur lagi depan toko Oe, awas kalau Yu ketahuan tidur disini lagi! Dasar Gembel!” Ancam lelaki tua itu sambil memaki dan menunjuk ke arah Ginggi. Matahari telah terbit, sinarnya mengenyahkan embun sekaligus memberi harapan yang hangat. Ginggi termangu menatap orang-orang yang sepagi ini sudah terlihat sangat sibuk berlalu-lalang. Mereka berjalan tergesa-gesa menuju kantor atau pabrik tempat mereka bekerja, mobil-mobil pribadi berjejal memenuhi jalanan. Para pengejar aktualisasi diri istilah si Loreng saat menjelaskan soal globalisasi dari sebuah buku yang ia suruh Ginggi untuk membacanya. Ginggi lebih suka menyebutnya robot keadaan, mereka yang diprogram dengan rutinitas kehidupan yang mengekang dan penuh tekanan. Tapi, begitulha kehidupan modern yang berlangsung saat ini. Dan orang-orang lebih banyak yang memilih masa bodo dan terus terjebak rutinitas tersebut. Ginggi membeli nasi kuning dan beberapa gorengan sebagai sarapan, ia memakannya di bangku yang disediakan oleh sang penjual bersama beberapa orang lain yang menatapnya penasaran tapi kemudian mengacuhkannya. Uang yang diberikan oleh dokter muda itu kini tersisa sedikit, tidak cukup untuk ongkos naik kendaraan umum ke kota asalnya. Ia tidak mungkin berjalan kaki kesana sebab jaraknya masih jauh, sekitar 50 kilometer lagi. Beres sarapan ia kembali berjalan sambil memutar otak mencari cara agar bisa kembali ke kota asalnya. Hingga sampailah ia ke sebuah rumah yang sangat mewah, pintu pagar tingginya dibiarkan terbuka dan seolah sengaja memamerkan mobil-mobil mewah dan motor-motor kepunyaan sang pemilik yang diparkir berjajar. Seorang satpam berjaga mengawasi sambil memutar-mutar pentungan dan kadang memelintir kumisnya, mengesankan dirinya seorang yang gagah dan ditakuti. Mata Ginggi berkilat ketika ia menatap sebuah motor sport di dekat pagar dengan kunci kontak yang masih tergantung, otaknya yang kini sangat encer segera memvisualisasikan beberapa kemungkinan dan ia tersenyum dengan sebuah rencana sederhana yang membutuhkan waktu beberapa detik agar terlaksana dengan baik. Ia mengambil sebuah batu sekepalan tangan yang berada di dekat trotoar. Ia lalu melemparkannya sekuat tenaga diarahkan ke salah satu jendela kaca di sudut rumah mewah tersebut. ‘Praaang…!’ jendela yang berada di pojok lain rumah itu pecah terkena lemparan Ginggi, sang satpam yang kaget refleks bergegas menghampiri jendela tersebut untuk memastikan apa yang sudah terjadi. Ginggi beraksi, dengan ilmu mencuri yang telah ia pelajari dari rekan-rekan yang disuruh oleh si Loreng di penjara, hanya membutuhkan beberapa detik saja bagi dirinya apalagi kunci motornya masih tergantung untuk melarikan motor tersebut. Ia langsung mengebut dan meninggalkan debu serta asap di belakang gilasan roda motornya. Sang satpam tersadar, berteriak kalap “Maliiing…!” Namun percuma, Ginggi sudah jauh meninggalkan rumah tersebut. Dengan motor curian itu Ginggi bisa mencapai kota asalnya hanya kurang dalam dua jam perjalanan saja. Kini ia sudah sampai di depan gang tempat kontrakannya dulu, ia kemudian parkir tepat di depan rumah yang menyimpan kenangan tragis itu. Ginggi terkejut ketika melihat gerobak martabak miliknya masih berada di rumah kontrakan yang mulai rapuh itu. Ia turun dan masuk ke halamannya, rumah ini sepertinya tidak lagi dikontrakkan oleh sang pemiliknya. Mendorong pintunya, agak seret. Ginggi menghentakkan tenaganya, pintu itu terbuka, agak remang di dalam rumah tersebut karena tidak ada lagi lampu penerangan. Hanya cahaya matahari siang itu yang menerobos melalui jendela dan celah-celah bolong rumah tersebut. Satu persatu kenangan demi kenangan di rumah ini mulai bermunculan di benaknya. Senyum tipis Dewi, tangis dan tatapan Rizky anaknya kala kegelian terkena kumis dan jenggotnya saat ia menciumnya. Ginggi mengulum senyum teringat semua kenangan manis itu. Ia mengedarkan pandang, semuanya masih sama persis dengan saat ia terakhir berada di rumah ini. Ginggi menghela nafas. Beranjak melihat sudut lainnya. Kemudian di dekat dapur ia melihat sebuah goresan kapur yang sudah pudar dimakan tahun dan sebagian bahkan sudah terhapus sementara sebagian lagi tertutupi debu yang tebal. Goresan kapur yang dijadikan sebuah penanda korban penembakan, itu adalah siluet sang istri. Ginggi meneteskan air mata sambil mengusap lantai tersebut. Ia bisa membayangkan tubuh istrinya yang terkapar terkena hajaran timah panas para aparat tengik itu. Dadanya sesak oleh amarah yang membuncah, ia harus membalaskan dendam kematian istri dan anaknya! Setelah mengatur nafas dan emosinya kembali tenang, Ginggi bangkit dan keluar dari dalam rumah kontrakannya dulu. Ia tidak boleh membiarkan dirinya berlama-lama dalam suasana melankolis yang bisa melemahkan hatinya kembali. “Mas cari siapa ya? Apa Masnya mau ngontrak di rumah ini? Wah jangan mau Mas, ini rumah terkutuk!” tegur seorang ibu-ibu berdaster menjelaskan sambil bergidik. “Terkutuk bagaimana Bu?” tanya Ginggi, ia masih mengenali ibu-ibu ini sebagai tetangganya dulu. Istrinya Pak Robi yang hobi bergosip, tampaknya ia sudah tidak mengenali dirinya lagi. “Iya Mas, jadi dulu itu penghuni sebelumnya itu mati di dor sama pak polisi dan sejak itu yang punya rumah ini suka dapat sial terus. Mau dikontrakkan lagi gak ada yang mau, mau direnovasi atau dirobohkan eh ada aja gangguannya. Macam-macam pokoknya.” Cerocos si Ibu sambil kembali bergidik. Ginggi tersenyum kecut, orang-orang ini masih saja percaya dengan takhayul. “Baiklah, saya cari tempat lain saja. Terima kasih atas informasinya Bu.” Pamit Ginggi. “Eh tunggu Mas, apa kita pernah kenal sebelumnya gak ya? Kok rasanya saya agak-agak kenal dengan wajah Mas nya?” tanya si Ibu mencegah langkah Ginggi sambil mengamati wajahnya. Ginggi menggeleng “Saya baru pertama kali ke tempat ini.” “Owh yo wis kalau begitu. Aduh saya lupa sedang masak tadi! Wah pasti gosong ini! Mas nya sich ngajak ngobrol terus!” si ibu kelimpungan sambil menyalahkan Ginggi atas keteledorannya dan segera berlalu menuju kedalam rumahnya. Ginggi geleng-geleng kepala, istri Pak Robi belum berubah sama sekali bahkan setelah lima tahun ini. Dia tipikal ibu-ibu yang selalu kepo dan ingin ikut campur dengan urusan orang lain terutama tetangganya, tentu saja untuk dijadikan bahan obrolan ketika sedang bergosip ria dengan ibu-ibu yang lainnya. Ginggi kembali mengendarai motor curiannya, ia tidak boleh terlalu lama berada di sekitar lokasi bekas rumah kontrakannya dulu. Siapa tahu saja ada cepu yang berkeliaran dan melaporkannya sebagai orang yang mencurigakan. Ia tidak mau kalau pelariannya berakhir cepat dan terutama ia tidak mau kembali ke lapas di pulau terpencil dengan keamanan maksimum itu. Sampai di jalan raya ia bingung hendak kemana menuju. Meminggirkan motor di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Cukup lama ia termenung sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi bekas panti asuhannya saja. Ginggi menggerungkan motor curiannya menuju ke sudut kota tempat panti asuhannya berada. Berhenti dua rumah dari panti asuhan tersebut, ia kembali meragu. Turun dari motornya dan berjalan menuju taman kecil di depan panti asuhan tersebut. Ginggi terkejut ketika mendapati seseorang yang sedang duduk bertopang dagu di sebuah bangku di taman tersebut. Ia mengenali lelaki yang sedang asyik melamun terduduk memandang panti asuhan di seberangnya. Tadinya ia bermaksud melakukan hal yang sama, duduk di bangku itu dan melihat anak-anak panti yang sedang bermain di halaman panti. Perlahan ia berjalan mendekati lelaki tersebut. Pria itu sepertinya larut dalam lamunannya dan tidak menyadari Ginggi yang sudah berada di dekatnya. “Sastro, apa yang kau lakukan di sini?!” tegur Ginggi dengan suara yang lirih namun terdengar berwibawa. Lelaki bernama Sastro itu tetap diam dan sepertinya tidak mendengar sapaan Ginggi. “Sastro!” Ginggi menyentuh pelan bahu lelaki berkumis dan berjanggut tipis tersebut. Pria itu menoleh dan menatap Ginggi keheranan “Apa? Siapa kamu? Kenapa bisa tahu namaku?” Ginggi duduk di sebelah Sastro dan balik bertanya “Kau sudah lupa padaku?” Sastro mengerutkan dahinya, ia memeras otaknya mencoba mengingat siapa lelaki kekar berwajah dingin dan bermata tajam yang duduk di sebelahnya ini. Ia juga merasa telah kenal baik dengan lelaki ini, tapi siapa dia? “Aku tidak mengenalmu, siapa anda?” kembali Sastro bertanya sambil menatap wajah Ginggi. “Keterlaluan kau Sastro, apa kau juga telah melupakan ketika ditampar si Sri karena ketahuan mengintipnya di kamar mandi wanita saat SMU?” ujar Sanin sambil ketawa. Tidak, untuk hal yang satu itu Sastro tidak melupakannya dan karena kejadian tersebut ia pun menemukan jodohnya. Ia menikah dengan si Sri kemudian, yang tahu masalah ini hanya dia, si Sri dan… “Sa-Sanin? Kau Sanin? Astaga lihat dirimu? Kau berubah, aku sama sekali tidak mengenalimu sekarang.” Ujar Sastro menatap setengah tak percaya tapi terlihat kegembiraan di wajahnya karena bertemu kembali dengan sahabatnya itu. Ginggi mengangguk “Panggil aku Ginggi sekarang, aku sudah membuang nama Sanin.” Sastro menghela nafas “Aku turut prihatin atas semua yang terjadi padamu. Kau tahu, aku dan yang lain mencoba untuk menemuimu saat di persidangan dan di tahanan polisi. Tapi, para aparat itu selalu mengusir kami. Aku tidak pernah percaya kalau kau adalah gembong obat terlarang seperti yang mereka tuduhkan padamu. Aku mengenalmu sejak kecil, jadi aku yakin kau bukanlah seperti apa yang mereka tuduhkan. Itu adalah fitnah belaka. Aku senang kau sudah bebas kembali sekarang.” “Terima kasih atas kepercayaanmu, aku tahu itu. Kau adalah sahabat sejatiku. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu.” Ginggi menatap Sastro. “Apa itu?” “Apa kau tahu dimana mereka menguburkan istri dan anakku?” Sastro mengangguk “Mereka di kuburkan di pemakaman umum di timur kota. Aku mengunjunginya beberapa kali, tapi ada sesuatu yang agak ganjil.” Ginggi mengerutkan dahinya sambil menatap wajah sahabatnya dan dengan matanya bertanya apa yang ganjil itu? “Menurut para penggali kubur mereka hanya membuat satu lubang saja, untuk istrimu. Saat kutanyakan pada para petugas kepolisian tentang hal tersebut, mereka menjawab bahwa istri dan anakmu memang diperintahkan untuk dikuburkan dalam satu lubang yang sama.” Jelas Sastro kembali. Ginggi menghela nafasnya, setidaknya istri dan anaknya tetap bersama dalam kuburnya. “Kau bisa mengantarku kesana?” tanya Ginggi. “Tentu saja.” Sastro mengangguk. * Ginggi menatap pusara sang istri dan anaknya, mengusap batu nisan yang bernama kedua orang tercintanya tersebut. Air mata berlinang membasahi pipinya, ia berjanji bahwa ini adalah air mata terakhirnya yang ditumpahkan. Ia akan mengeraskan dan mendinginkan hatinya agar bisa membalas dendam kepada para polisi tengik tersebut. Sastro duduk berjongkok di sebelah sahabatnya dan mulai memanjatkan doa-doa, ia sedikit terkejut ketika tanpa sengaja melihat mata Ginggi yang berkilatan dan memancarkan amarah yang amat sangat. Ia sedikit ngeri dengan penampilan sahabatnya kini, penjara telah mengubahnya secara drastis. Ginggi meletakkan sebuah buket bunga yang sebelumnya ia beli dari anak-anak yang berada di sekitar pemakaman. Mereka juga menawarkan sebotol air dan bunga-bunga rampai. Bahkan sekarang pun anak-anak itu tengah berdiri di belakang mereka, menanti dengan sabar. Sastro masih berdoa dengan khusyu, ia memang seorang yang religius. Ginggi menepuk bahu Sastro. “Ayo kita pergi!” Ajaknya. Sastro mengangkat tangan kanannya dan memberi isyarat ‘sebentar’ ia harus menyelesaikan doa-doanya. Ginggi mengalah dan mundur ke belakang ke dekat sebuah pohon, berteduh. Beberapa menit kemudian Sastro beres berdoa, ia melangkah mendekati Ginggi. Anak-anak yang tadi menunggu langsung mengerubunginya sambil menengadahkan tangan dan ribut meminta sedekah sang penziarah. Mereka tidak berani meminta pada Ginggi karena melihat raut matanya yang menyeramkan. Sastro merogoh saku celananya dan memberikan mereka beberapa lembar uang sedekah. Anak-anak itu tertawa riang sambil mendoakan dirinya. Sastro tersenyum. “Kau belum berubah Sastro, masih menyukai anak-anak?” tegur Ginggi. Sastro tersenyum “Mereka adalah penerus bangsa ini Sa-Ginggi. Nasib mereka banyak yang kurang beruntung, kitalah yang harus memberi harapan dan masa depan itu. Tapi rasanya aku sudah gagal.” Sastro mendesah. Mereka kini berjalan menuju parkiran di dekat kantor administrasi pemakaman tempat Ginggi memarkirkan motornya. “Apa ini ada hubungannya dengan kau yang melamun seperti tadi? Kau memiliki masalah apa?” Ginggi menatap Sastro. “Panti asuhan yang diwariskan oleh ayahku. Aku gagal mengelolanya Ginggi, beberapa waktu lalu kita mengalami kesulitan. Tidak ada sumbangan dari para donatur sama sekali selama berbulan-bulan. Kau tahu, anak-anak itu dan juga para pengurus tetap membutuhkan uang untuk makan sehari-hari juga untuk biaya operasional panti.” Sastro menghela nafas panjang. “Lantas?” “Di tengah keputusasaanku, muncul seorang marketing dari bank. Mereka menawarkan pinjaman lunak dengan jaminan sertipikat.” Kembali Sastro terdiam, ia menatap ke arah makam-makam, beberapa penziarah sedang sibuk mendoakan orang tua, anak, keluarga atau kerabat mereka. Ginggi diam dan menunggu Sastro melanjutkan ceritanya. “Aku menggadaikan sertipikat panti demi bisa memberi makan anak-anak dan operasional panti. Aku berharap semuanya akan kembali normal dan aku bisa menebus kembali sertipikat itu dari bank setelah mendapatkan suntikan dana dari para donatur. Tapi aku gagal Ginggi, aku tidak mampu membayar cicilan tepat waktu dan kini pihak bank telah men-somasiku. Mereka hanya memberiku waktu tiga bulan sebelum mereka menyita seluruh tanah dan bangunan panti. Aku bingung, aku tidak tahu lagi harus bagaimana.” Sastro memaparkan. Ginggi menatap Sastro, ia tahu kalau sahabatnya ini adalah orang yang baik namun terlalu lugu, persis sama seperti dirinya dahulu. Ginggi menduga kalau ini merupakan permainan dari orang-orang bank itu untuk menguasai lahan panti yang strategis dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. “Kau tenang saja Sastro, aku yakin bakalan ada jalan keluar atas semua masalah ini. Ayolah, dimana Sastro yang selalu optimis dan ceria yang kukenal dulu?” ujar Ginggi. Sastro memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Nah, itu lebih baik. Ayo kita isi perut dulu sekarang, jangan khawatirkan sesuatu yang belum terjadi!” Ginggi tersenyum merangkul bahu Sastro. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN