Ginggi menatap tajam ke arah sebuah bank yang berada di seberang jalan. Ia duduk di dekat trotoar dan terus mengamati bank yang merupakan bank cabang terbesar di kota. Bank itu baru ada sekitar tiga tahun lalu bertepatan dengan semakin gencarnya pembangunan fisik yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Pusat pertokoan, kantor, dan hiburan sudah banyak bermunculan di sana-sini. Lima tahun ia dipenjara dan kota tempat tinggalnya melesat dalam hal pembangunan fisik.
Sayangnya selain kemajuan tersebut, kota ini pun mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan. Banyak bermunculan tuna wisma, mereka adalah penduduk asli yang terkena penggusuran untuk membangun infrastruktur dan gedung-gedung serta perumahan mewah. Hanya mendapatkan uang pengganti minimal saja, tidak cukup untuk kembali membeli rumah. Mereka mengontrak dan kemudian menghabiskan uangnya di pusat-pusat hiburan, hingga akhirnya ditendang keluar oleh sang pemilik kontrakan karena tidak bisa membayar sewa rumah.
Sungguh menyedihkan melihat kekontrasan antara kemewahan dengan kemiskinan yang kini seakan merajalela di kota ini.
Ginggi beranjak dari duduknya dan kemudian menyeberang, ia berjalan mengitari gedung bank tersebut. Melirik jam tangannya, sekarang adalah waktunya istirahat makan siang. Berhenti beberapa puluh meter di belakang gedung bank tersebut. Mata elangnya mengawasi keluar masuk para pegawai melalui pintu belakang tersebut.
Ia sudah mengamati aktivitas para pegawai bank itu selama empat hari berturut-turut. Mengambil waktu yang berbeda dan melihat pola pergerakan mereka, kebiasaan setiap pegawai. Dan yang terpenting, mengamati sistem keamanan yang dipakai oleh bank tersebut. Ginggi sedang mengatur sebuah rencana.
Ginggi kemudian masuk kedalam sebuah warung makan yang berada tepat di sebelah gedung bank tersebut dan memesan seporsi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Tak berapa lama muncul seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut buncit datang ke warung makan tersebut, ia juga memesan makanan kemudian duduk di sebelah Ginggi. Tersenyum ramah, Ginggi juga tersenyum ke arahnya lantas menyuap makanannya.
“Maaf Pak, kalau saya lihat dari baju yang bapak pakai, bapak ini pegawai bank di sebelah ya?” Ginggi membuka obrolan.
Si Bapak bertubuh tambun tersebut menatap ke arah Ginggi, mengerutkan dahi kemudian mengangguk “Iya, kenapa gitu Dek?”
“Wah boleh tanya-tanya dong Pak saya?”
“Tanya apa ya?” si Bapak bertubuh tambun tersebut mulai menyuapkan alas makannya.
“Itu Pak soal aduh sebenarnya saya agak kurang enak ngobrol di tempat seperti ini, tapi saya penasaran.” Ujar Ginggi.
“Soal apa Dek, katakan saja siapa tahu saya bisa membantu.” Si Bapak bertubuh tambun itu tersenyum lagi.
“Saya mau menggadaikan sertipikat rumah, tapi punya orang tua saya.” Ginggi sengaja berbisik.
“Boleh saya tahu berapa luas dan dimana lokasinya?”
“Luasnya 30 tumbak dan tak jauh dari lokasi proyek mall baru di sebelah utara kota, Pak.” Jelas Ginggi.
Si Bapak bertubuh tambun itu manggut-manggut, cukup luas juga sangat strategis, ia menaksir nilainya pasti milyaran. Prospek baru ini.
“Kamu benar, Dek. Sebaiknya kita ngobrol nanti, setelah beres makan ini kamu temui saya di dalam Bank. Katakan saja sama satpam yang berjaga kamu mau ketemu dengan Pak Ragil. Siapa nama kamu?” si Bapak bertubuh tambun itu menatap Ginggi.
“Ginggi, Pak!” sahut Ginggi.
“Baiklah, nanti setelah bank buka kembali, saya tunggu di dalam.”
Ginggi mengangguk “Siap, Pak. Kalau begitu saya duluan.”
Ginggi menghabiskan sisa makannya dengan cepat, meneguk air teh dalam gelas dan kemudian membayar. Ia mengangguk kepada si Bapak bertubuh tambun itu sebelum keluar warung makan.
Ginggi bersiul-siul, umpannya telah dimakan oleh ikan kakap. Beberapa hari lalu ia sebenarnya sudah mengetahui kalau si Bapak bertubuh tambun itu adalah kepala bagian loan dan kredit. Lelaki itu adalah otak dibalik pengambilalihan lahan panti asuhan dengan cara curang.
Menunggu di pelataran depan Bank itu sampai jam istirahat para pegawainya berakhir, tepat jam satu siang. Satpam yang berjaga di depan pintu bank itu kemudian membalikkan papan penunjuk ‘buka’ yang sebelumnya bertuliskan ‘istirahat’. Ginggi kemudian melangkah masuk, satpam yang berjaga sigap membukakan pintu.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu Mas?” tanyanya tegas seperti sebuah rangkaian kalimat yang terprogram.
Sang satpam mengamati Ginggi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Penampilan pemuda bertubuh kekar di depannya ini tidak terlalu meyakinkan sebagai seorang nasabah bank, ia hanya mengenakan baju kemeja kotak-kotak dan bercelana jeans agak pudar warnanya.
Meski ia tersenyum tapi Ginggi tahu sang satpam sedang mencurigai dirinya. Ia harus menunjukkan wibawanya kepada satpam ini.
Ginggi tersenyum mengendalikan dan kini sang satpam yang mulai berdebar menatap sorot tajam mata Ginggi yang seolah menembus kedalam jiwanya.
“Saya mau ketemu dengan Pak Ragil.”
“Mas nya sudah membuat janji?” satpam itu berusaha bertanya dengan suara wajar tapi tak dipungkiri kini ia merasa sedikit ketakutan.
“Sudah, kau bilang sama Pak Ragil. Ginggi sudah datang!” ujarnya tegas.
“Ba-baik, tolong tunggu sebentar Mas.” Sahut sang satpam mendadak tergagap.
Agak tergopoh ia berjalan masuk kedalam ruang para pimpinan. Aneh, siapa lelaki itu kenapa ia bisa membuat janji dengan Pak Ragil langsung? Biasanya kalau nasabah biasa hanya akan ditangani oleh anak buahnya saja. Satpam itu bertanya dalam hatinya.
Ginggi ternyata sudah bisa menggunakan kekuatan mata dan intonasi suara berpengaruh seperti yang diajarkan oleh si Loreng .
Tak berapa lama satpam itu sudah datang kembali, Ginggi saat itu sedang duduk di salah satu bangku terbuat dari besi berlubang yang disediakan untuk para nasabah selama menunggu giliran dilayani oleh teller.
Saat duduk menunggu, mata Ginggi yang tajam merekam setiap jengkal ruangan bank ini dan ia menyadari ada beberapa kamera cctv di sudut ruangan tapi posisi kamera itu menghasilkan sebuah titik buta tepat di belakang pintu teller yang menuju ruangan di dalamnya.
“Anda sudah ditunggu Pak Ragil, silakan ikuti saya.” Ucap satpam itu begitu kembali berhadapan dengan Ginggi, kini ia berbicara dengan intonasi suara yang lebih ramah dan hormat.
Ginggi mengikuti langkah satpam tersebut sambil kembali menajamkan mata, ia terus merekam semua sudut dan tata letak bank tersebut dalam ingatannya. Latihan membaca buku setiap hari yang disuruh oleh si Loreng sekarang terbukti memperkuat daya ingat Ginggi.
Satpam itu membawa Ginggi ke lantai dua tempat ruangan Pak Ragil berada. Mereka melewati ruang direktur utama, seorang pria separuh baya dengan penampilan rapi, berjas abu-abu dan berdasi lebar sedang sibuk berbicara di telepon.
“Ah, Dek Ginggi. Silakan duduk!” sambut Pak Ragil begitu Ginggi dan satpam masuk ke ruangannya.
“Terima kasih.” Sahut Ginggi, menggeser kursi dan duduk di atasnya.
“Tinggalkan kami!” usir Pak Ragil kepada satpam yang berdiri di pintu ruangan.
“Siap, Pak!” sang satpam menghormat dan kemudian berbalik kembali ke tempatnya berjaga di bawah.
Setelah yakin hanya ada mereka berdua, pria bertubuh tambun itu menatap Ginggi.
“Jadi Dek Ginggi, silakan jelaskan rencana anda dan alasan kenapa anda ingin menggadaikan sertipikat rumah orang tua anda. Apa Dek Ginggi sedang membutuhkan modal untuk membuka usaha?” tebaknya.
Ginggi menggeleng “Saya mempunyai masalah dan membutuhkan uang secepatnya.”
“Masalah? Masalah seperti apa, Dek?”
“Saya mempunyai kebiasaan buruk, saya bertaruh sesuatu dan kalah cukup besar pada seorang bandar.” Jawab Ginggi lirih.
Pak Ragil mengulum senyum, pemuda di depannya ini pasti seorang penjudi.
“Kita semua memang memiliki kebiasaan buruk, untuk kasus Dek Ginggi ini juga tentu membutuhkan solusi bukan? Dan solusi untuk semua kasus atau masalah manusia ujungnya memang membutuhkan uang. Karena itu juga salah satu visi dan misi bank kami ini, berusaha menghadirkan solusi keuangan bagi masyarakat. Jadi katakan pada saya, berapa uang yang Dek Ginggi butuhkan?”
“Seratus dua puluh juta rupiah.” Sahut Ginggi.
Pak Ragil menyilangkan kedua tangan di dadanya “Jumlah yang cukup besar.”
Ginggi melemparkan pandangannya ke arah jendela, seperti dugaannya. Jendela ruangan Pak Ragil berada persis di dekat sebuah tiang telepon.
“Tapi jangan khawatir, kalau semua surat-surat rumah yang Dek Ginggi miliki lengkap dan asli maka saya yakin kita bisa melakukan sesuatu.” Lanjut Pak Ragil.
“Semuanya ada dan asli tapi karena saya awam mengenai ini. Maka saya ingin tahu, apa saja persyaratan dan berkas-berkas yang harus saya miliki untuk meminjam uang disini?” tanya Ginggi.
Pak Ragil semakin mengulum senyum, ini adalah mangsa yang empuk. Seorang penjudi dengan utang yang tidak bisa dikembalikan, sertipikat rumah berharga milyaran yang digadaikan hanya ratusan juta saja. Benar-benar menggiurkan dan mudah.
“Sertipikat kepemilikan rumah yang asli tentu saja beserta surat kuasa dari orang tua anda, IMB, bukti pembayaran PBB terakhir, fotokopi KTP dan kartu keluarga, fotokopi surat nikah atau keterangan lain, dan surat keterangan pegawai atau usaha. Semuanya ada dalam ceklis ini, silakan Dek Ginggi bawa dan pelajari terlebih dahulu.” Jelas Pak Ragil sambil menyerahkan sebuah kertas ceklis persyaratan kredit jaminan sertipikat rumah.
Ginggi mengambil kertas ceklis tersebut dan membacanya dalam hati.
“Saya rasa syaratnya ada semua kecuali surat keterangan pegawai atau usaha, bagaimana ini Pak?” Ginggi mengerutkan dahi.
Pak Ragil menyeringai, pemuda di depannya ini komplit, seorang penjudi yang putus asa karena memilliki hutang yang harus dibayar, sertipikat rumah yang ia tak tahu nilai jual sebenarnya, dan ditambah ia adalah seorang pengangguran. Hanya dengan uang sedikit saja dan bersabar selama beberapa bulan maka ia bisa menguasai harta pemuda bodoh di depannya ini, sama seperti para pemilik rumah sebelumnya juga pemilik panti itu.
“Dek Ginggi jangan khawatir, saya bisa mengupayakan sesuatu. Semua itu hanya formalitas belaka saja. Tapi, saya sarankan Dek Ginggi untuk mengambil plafond kredit yang lebih tinggi.”
“Maksud Bapak, bagaimana?” Ginggi menatap Pak Ragil.
Pak Ragil mendekatkan wajahnya kepada Ginggi kemudian ia berbisik.
“Saya bisa mengatur agar kredit anda bisa cair tanpa surat keterangan pegawai atau keterangan usaha. Namun saya butuh imbalan, jadi kalau Dek Ginggi bersedia, saya sarankan meminjam uang di angka 150 juta saja. Saya hanya minta sepuluh juta, selebihnya itu akan menjadi hak Dek Ginggi. Bagaimana?”
Ginggi tersenyum senang dan mengangguk-angguk “Boleh Pak, boleh. Lebih besar lebih baik.”
“Kapan Dek Ginggi akan membawa persyaratan lengkapnya? Tentu saja nanti akan ada survei dari pihak kami ke lokasi.”
“Besok Pak, sekarang saya akan meyakinkan orang tua saya dulu untuk membuat surat kuasanya.” Jawab Ginggi.
“Baiklah, saya akan menunggu kedatangan Dek Ginggi kembali.”
“Baik, terima kasih atas bantuannya, Pak.” Ucap Ginggi sambil berdiri dan menyodorkan tangannya.
Mereka bersalaman dan Ginggi kemudian berlalu pulang.
Pak Ragil tertawa puas, banyak sekali orang bodoh di kota ini. Komisi dan uang yang ia gelapkan sebagai hasil ‘membantu’ para penduduk di kota ini sudah bisa membuatnya kaya raya. Bila begini terus dalam beberapa bulan ia sudah memiliki lebih dari cukup tabungan untuknya menghabiskan masa pensiun dengan bersenang-senang dan keliling dunia.
*
Jam setengah dua dini hari, waktu yang rawan dimana kantuk sudah sangat menyerang bagi mereka yang terbiasa begadang sekalipun. Satpam Bank cabang terbesar di kota, berkeliling sambil sesekali menyorotkan senternya. Tidak ada apapun, ia kembali ke depan dan duduk di kursi di posnya. Menguap sambil merentangkan tangan, dengan cepat meraih cangkir kopi, meneguknya.
Meski sudah menghabiskan kopi dalam cangkir, tetap saja rasa kantuk itu belum sepenuhnya terusir. Hari ini hanya ia seorang yang berjaga, kedua rekannya mendapatkan cuti bulanan dan saat ini pasti sedang memeluk guling, tertidur dengan pulas di rumah masing-masing.
‘Duaaarrr…!!!’ sebuah ledakan terdengar menggelegar disusul dengan matinya listrik beberapa blok di sekitar tempat itu, membuat sang satpam terperanjat. Ia segera bersiaga dan celingukan, menyalakan kembali senternya.
Ledakan itu terjadi di luar gedung bank tempatnya berjaga, bergegas ia mendatangi lokasi ledakan tersebut untuk memastikan apa yang sudah terjadi. Beberapa orang warga pun tampak penasaran, berkerumun mendatangi lokasi tersebut.
“Ada apa, Pak?” tanya sang satpam pada seorang Bapak berkaos oblong berkain sarung, ia tampaknya sedang mengadakan ronda bersama warga lainnya.
“Trafo listrik meledak!” sahutnya sambil menunjuk ke atas.
Api masih terlihat menyala di atas trafo listrik tersebut, pantas saja lampu-lampu pada mati. Bisa-bisa besok pagi baru petugas listrik akan datang dan memperbaiki kerusakan tersebut, sang satpam menghela nafas ia harus rela gelap-gelapan berjaga sendirian.
Sementara itu di sisi lain Bank, tepat saat trafo meledak dan kerumunan warga berlangsung untuk memastikan apa yang sudah terjadi. Ginggi sudah naik ke tiang telepon dan mencongkel jendela ruang kerja Pak Ragil. Ia berpakaian ala ninja lengkap dengan sarung tangan, semuanya berwarna hitam pekat. Ia juga menggendong sebuah ransel besar di punggungnya.
Ledakan trafo itu memang ulah Ginggi untuk mengalihkan perhatian sang satpam yang sedang berjaga sekaligus untuk mematikan listrik. Dengan kelamnya malam dan kegelapan tanpa lampu maka ia bisa menjalankan aksinya dengan baik. Selain itu, tanpa adanya aliran listrik maka kamera cctv yang ada di gedung bank ini pun tidak akan berguna. Menepuk dua ekor burung dengan satu batu!
Sewaktu di penjara, Ginggi memang telah menyerap semua ilmu kejahatan yang ada disana termasuk cara membuat bom dengan peralatan dan bahan-bahan yang tersedia sehari-hari. Mudah saja sekarang bagi Ginggi untuk mempraktekkan semua itu.
Ginggi segera menuju kantor sang direktur utama yang berada tepat di sebelah ruangan Pak Ragil. Di sanalah brangkas yang menjadi incaran utamanya.
Melihat jam tangannya, dan memasang peledak kecil buatannya di kunci pintu brangkas, menunggu sekitar tiga menit.
‘Duaaarrr…!!!’ sebuah ledakan besar terjadi kembali di luar berbarengan dengan ledakan di pintu brangkas yang dipasang oleh Ginggi. Pintu brangkas itu terbuka, Ginggi dengan segera memasukkan isinya kedalam ransel yang ia gendong. Ia hanya punya waktu lima menit sebelum para polisi datang karena ada alarm yang terhubung ke kantor polisi secara rahasia.
Ini adalah pertama kalinya ia melakukan perampokan namun semua berjalan sesuai dengan rencananya. Ginggi telah memvisualisasikan setiap gerakan dan mengatur timingnya setiap hari, ia bahkan sudah membuat 23 rencana yang berbeda dimana 19 diantaranya ia yakin bakalan sukses. Dan sekarang terbukti bahwa rencananya telah berhasil. Menjadi orang jahat ternyata lebih mudah daripada menjadi orang baik yang lemah dan selalu teraniaya, batin Ginggi.
Sambil berjalan keluar Ginggi mengacak-acak meja dan lemari yang ia lewati, mengesankan sebuah perampokan yang serampangan apabila esok pagi diperiksa oleh para petugas.
Ginggi kembali keluar melewati ruangan Pak Ragil, merosot turun melalui tiang telepon di samping gedung bank tersebut. Ia kemudian mengendarai motor (curian sebelumnya) dan menghilang ditelan kegelapan. Tak berapa lama dari kejauhan terdengar suara sirine mobil petugas yang berdatangan karena terpicu oleh alarm rahasia yang terpasang di brangkas bank.
*
Jam sepuluh pagi lewat beberapa menit, Ginggi datang kembali ke bank yang dini hari tadi ia rampok. Ia berpakaian sangat rapi, berkemeja kotak-kotak dan memakai celana bahan hitam panjang. Menggendong sebuah ransel kecil. Kali ini ia datang sebagai calon kreditur.
Banyak petugas kepolisian yang sedang berada disana untuk olah TKP. Banyak nasabah terlihat berkerumun di pelataran Bank, mereka penasaran dengan nasib uang mereka yang dititipkan di bank tersebut. Beberapa pejabar bank tersebut pun berada di sana untuk menenangkan mereka, termasuk Pak Ragil.
Ginggi mendekat, ia menepuk lengan Pak Ragil pelan.
“Pak!” tegur Ginggi.
Pak Ragil terlihat sangat lelah dan kuyu, ia menatap Ginggi dan memaksakan diri untuk tersenyum.
“Dek Ginggi, mari kita bicara sebelah sana!” Ajak Pak Ragil mengajak Ginggi ke sebuah pojok di parkiran yang teduh karena ada pohon rindangnya.
“Ada apa ya Pak, kok rame sekali?” tanya Ginggi sambil menatap ke arah para petugas.
Pak Ragil menarik nafas panjang, perut buncitnya tampak bergoyang ketika ia melepaskan nafasnya kembali.
“Kami sedang mendapat musibah Dek Ginggi. Bank kami kerampokan semalam, semua uang tunai di brangkas ludes tak bersisa digasak maling tersebut.” Jelas Pak Ragil.
“Saya turut berduka Pak. Lalu bagaimana dengan rencana pinjaman saya?” tanya Ginggi memasang wajah sedih tapi sebenarnya ia ingin tertawa geli.
“Itu dia, Dek Ginggi. Karena ada musibah ini maka untuk sementara operasional bank akan dihentikan sampai proses penyelidikan selesai, termasuk untuk pemberian kredit juga.” Ujar Pak Ragil.
“Aduh gawat ini Pak. Saya sudah sangat terdesak dan membutuhkan uang sekarang ini.” Keluh Ginggi.
Pak Ragil menatap Ginggi, entah iba atau tidak. Ia menggeleng.
“Maaf Dek Ginggi, bukan saya tidak mau membantu, tapi bagaimana lagi. Keadaan kami pun sedang susah, terlebih para nasabah besar saat ini mempertanyakan nasib uang tabungan mereka. Mereka meminta uang mereka dikembalikan secepat mungkin. Kami juga sedang diambang krisis Dek.” Jelas Pak Ragil.
Ginggi terdiam, ia benar-benar geli sekarang. Pak Ragil bersikap seolah dia benar-benar peduli pada nasabahnya, padahal dia sendiri lintah yang telah menyedot habis uang para nasabah dengan cara-cara kotor dan licik.
Angin yang membawa debu berhembus ke arah mereka, Ginggi menghalau debu yang hendak masuk ke mata dengan kibasan tangan kanannya.
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak. Maaf sudah merepotkan.” Ujar Ginggi.
“Tidak, Dek Ginggi saya tidak merasa kerepotan. Saya juga minta maaf tidak bisa membantu Dek Ginggi sesuai rencana.” Sesal Pak Ragil.
***