Ginggi mampir ke bekas panti asuhannya dengan berjalan kaki, ia menemukan Sastro berada di bangku taman di seberangnya. Melamun seperti kebiasaannya belakangan ini, pasrah menerima nasib. Menunggu sampai panti digusur atau ada keajaiban yang datang entah darimana. Sastro sudah memikirkan berbagai macam solusi agar panti asuhannya bisa ia pertahankan, tapi percuma ia tak bisa menemukan jalan keluar yang memuaskan.
Sastro khawatir dengan kemungkinan yang paling buruk akan terjadi, anak-anak ini terpaksa menjadi tuna wisma. Dan itu adalah kesalahannya, ia yang berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak panti asuhan yang menjadi tanggung jawabnya. Tapi ia keliru, ia telah khilaf dengan mengambil pinjaman ke bank memakai sertipikat panti sebagai jaminannya. Bunga bank yang besar telah menjeratnya begitu kuat sehingga ia tidak mampu membayar kewajibannya. Para donatur panti yang biasanya memberikan transferan untuk anak-anak, entah kenapa beberapa bulan belakangan ini tidak ada sama sekali.
Hanya ada donatur yang memberikan langsung ke panti, biasanya itu pun berupa barang kebutuhan pokok anak-anak. Tidak ada yang memberikan uang tunai, dan barang yang diberikan pun sangat minim, hanya mencukupi untuk dua sampai tiga hari saja digunakan oleh operasional panti asuhan.
“Kau selalu nampak buruk belakangan ini, Sastro!” tegur Ginggi sambil duduk di sebelahnya. Entah kapan ia sudah ada saja di dekat Sastro yang sedang melamun.
Sastro menyeringai “Kau Ginggi.”
“Hari ini cerah, matahari bersinar hangat dan langit berwarna biru. Kenapa kau malah memasang wajah mendung?” tanya Ginggi agak berpuisi, ia sudah banyak melahap buku-buku dari berbagai jenis genre termasuk puisi, yang dipaksa oleh si Loreng untuk dibaca saat berada di lapas pulau terpencil itu.
Sastro menatap Ginggi, sahabatnya ini benar-benar sudah berubah. Dulu saat ia masih bernama Sanin, mana bisa mengatakan rangkaian kalimat indah seperti barusan. Berada di penjara bisa juga mengubah gaya bahasa orang ternyata, pikir Sastro.
Sastro menghela nafasnya dan menunjuk ke arah anak-anak yang sedang bermain.
“Bulan depan, tawa gembira mereka akan hilang. Bank akan menggusur panti ini awal bulan besok, kecuali aku bisa membayar hutangku atau setidaknya membayar cicilannya secara bertahap. Tapi jangankan untuk melunasi, untuk membayar bunganya aku tidak memiliki uang sepeserpun. Hanya ada untuk operasional dan makan sehari-hari anak-anak, itu pun dihemat oleh si Sri.” Jelas Sastro mengeluh, ia menarik nafas panjang dan berat.
Ginggi mengerutkan dahinya “Bukannya, seharusnya mereka memberi waktu tiga bulan, bukan?”
“Kau mungkin tidak tahu, beberapa hari kemarin bank itu ada yang merampok dan mereka kekurangan banyak sekali uang tunai. Sebab itu kemudian mereka memaksa para pemiliki kredit untuk segera melunasi kreditnya atau akan menyita barang jaminan segera agar bisa mereka lelang. Pengadilan rupanya menyetujui niat bank tersebut dan memberikan izin untuk mempercepat tenggat waktu peringatan sebelum penyitaan. Kemarin salah seorang pegawainya datang dan memberikan surat peringatan tersebut.” Sastro menjelaskan secara lebih detail masalah yang sedang ia hadapi dan pikirkan dengan sangat serius tersebut.
Kurang ajar! Lihat begitu mudahnya mereka bersekongkol untuk memuluskan rencana mereka. Dalam situasi krisis pun mereka memikirkan solusi yang memberatkan nasabahnya, masyarakat memang hanya sekedar dijadikan sapi perah oleh orang-orang itu. Ginggi menjadi sangat geram dengan bank dan rekan kolusi mereka. Mereka dengan mudah merekayasa sesuatu dan berusaha menghalalkan segala cara untuk menguasai sesuatu, menguasai barang jaminan nasabah mereka sendiri.
“Kau jangan khawatir, pakai ini untuk mencicil hutangmu ke bank! Sisanya bulan besok, aku berjanji akan memberikan sisanya agar kau bisa menebus kembali sertipikat panti.” Ginggi menyerahkan sebuah amplop berisi uang yang ia ambil dari balik saku jaketnya kepada Sastro. Ia memang sudah menyiapkan amplop berisi uang tersebut saat berada di penginapan. Selama masih tinggal di kota ini, Ginggi memutuskan menginap di sebuah penginapan murah di ujung kota. Ia pun paling lama hanya menginap dua hari di penginapan tersebut dan kemudian berpindah ke penginapan lainnya. Ia tidak ingin ada orang yang mencurigai dan mengetahui kalau dirinya adalah tahanan yang melarikan diri dan juga dikaitkan dengan pencurian di bank itu.
“Kau mendapatkan uang sebanyak ini darimana?” tanya Sastro menyelidik. Setahunya Ginggi masih belum bekerja dan berjualan lagi semenjak kembali dari lapas terpencil berkeamanan maksimum.
“Aku menjual motorku.” Sahut Ginggi santai.
Ia tidak bohong, dua hari kemarin Ginggi memang menjual motor curiannya tersebut dengan harga yang murah karena ia juga takut ada orang yang mengenali motor tersebut. Selain itu dengan menjual motor itu, dia telah menghilangkan kendaraan yang sering mondar-mandir di dekat lokasi bank yang kerampokan beberapa hari kemarin itu.
“Tapi, bagaimana denganmu?” dengan dahi berkerut Sastro menatap Ginggi. Meski ia sangat membutuhkan uang untuk menyelamatkan panti, tapi Ginggi pun tentu membutuhkan uang bukan? Setidaknya buat modal usaha atau yang lainnya. Bukankah itu alasan kenapa Ginggi menjual motornya? Ia tentu sedang membutuhkan modal bukan?
“Tenang saja, aku masih bisa bertahan dan aku pun akan mencoba peruntungan. Aku akan pergi ke ibukota dalam satu atau dua hari ini.” Ginggi tersenyum mencoba menenangkan Sastro.
Ginggi memang sengaja tidak sekaligus memberikan uang hasil rampokannya untuk menebus sertipikat panti. Ia tidak mau mereka kemudian mencurigai Sastro, selain itu dia berjaga-jaga siapa tahu orang bank itu mengetahui nomor seri uang yang dia rampok. Jadi untuk awalnya dia menyerahkan uang hasil penjualan motornya saja.
Ginggi berencana untuk membuka sebuah tabungan di bank lain, lalu secara hati-hati mentransfer uang itu kepada Sastro agar bisa menebus kembali sertipikat panti. Tenang dan terkendali adalah salah satu hal yang diajarkan si Loreng kepada Ginggi sewaktu mereka berada dalam lapas di pulau terpencil itu. Ia sekarang adalah lelaki yang hati-hati dan penuh dengan perhitungan. Ia tidak akan salah langkah dalam mengambil keputusan, semua itu adalah hasil pelatihan yang diberikan oleh si Loreng.
“Terima kasih Ginggi. Aku yakin anak-anak itu bakalan senang mengetahui kalau mereka masih bisa tinggal di panti dengan nyaman. Kau memang sahabatku, aku tidak bisa membalas budi baikmu ini.” Sastro terharu, matanya nampak membeling menatap Ginggi penuh rasa terima kasih.
“Kau salah Sastro. Bapakmu yang paling berjasa, kalau ia membiarkanku membusuk di jalanan waktu itu, entah bakal bagaimana nasibku saat ini. Sekarang bukankah hal yang wajar jika aku membalas jasa-jasa beliau, setidaknya dengan tidak membiarkan panti digusur dan diubah menjadi pusat pertokoan.” Ujar Ginggi mengenang jasa yang dilakukan oleh ayah Sastro, pemilik panti sebelumnya yang sudah meninggal.
“Sekali lagi terima kasih Ginggi.” Sastro benar-benar bersyukur memiliki seorang sahabat yang sangat baik dan juga ayahnya yang telah banyak menabur benih kebaikan kepada anak-anak jalanan dahulu.
Ginggi mengangguk “Apapun yang terjadi, kita tidak boleh membiarkan mereka mengambil alih panti. Kita tidak boleh kehilangan senyum anak-anak itu.”
“Kau benar.” Jawab Sastro lirih, ia merasa tenang sekarang. Masalah yang menghantui Sastro belakangan ini pudar begitu saja berganti harapan dan semangat, optimisme dirinya untuk melanjutkan mengurus panti asuhan warisan sang ayah kini kembali berkobar.
“Baiklah aku harus pergi.” Ginggi beranjak berdiri hendak meninggalkan Sastro yang masih duduk di bangku taman tersebut.
“Tunggu, bisakah kau tinggal untuk makan siang bersama kami? Si Sri sudah memasak nasi goreng untuk kita.” Pinta Sastro, istrinya si Sri pasti juga akan merasa sangat gembira bisa bertemu kembali dengan Ginggi, sahabat mereka sejak kecil itu.
Ginggi menatap Sastro “Apakah rasanya seburuk nasi goreng buatan ibumu?”
Sastro terkekeh mendengar candaan Ginggi “Kurasa buatan si Sri lebih baik meski mungkin tak seenak nasi goreng buatan Dewi.”
Ginggi tertegun sejenak sambil menghela nafas, Sastro benar, nasi goreng buatan Dewi istrinya adalah yang paling enak yang pernah ia rasakan dalam hidup ini.
“Maaf Ginggi, aku tak bermaksud…” Sastro menyesal karena sudah kelepasan bicara. Ia telah mengingatkan sahabatnya itu pada kenangan tentang almarhum istrinya, itu pasti membuatnya kembali merasa sedih dan kehilangan. Ia berdiri di samping Ginggi.
“Tidak apa-apa Sastro. Mungkin lain kali aku bisa makan bersama kalian. Saat ini ada hal lain yang harus aku lakukan. Sampai jumpa lagi nanti!” Ginggi melambaikan tangan dan terus melangkah meninggalkan Sastro yang masih berdiri mematung.
*
Jam sebelas malam, Koh Chen terbatuk-batuk bangun dari tempat tidurnya dan duduk di ranjang. Ia menghela nafasnya yang agak sesak karena terganggu dengan batuknya barusan. Mungkin ia masuk angin atau terlalu capek seharian mengurus grosir miliknya. Ia merasa sekarang ini sering merasa letih dan sakit-sakitan, benar kata orang kalau penyakit yang tak bisa diobati adalah penyakit tua. Ia merasa umurnya sekarang ini sudah sangat banyak, mungkin sudah saatnya ia pensiun dan menyerahkan grosir kepada sang anak untuk diurus.
“Kenapa Koh?” tanya istrinya yang ikut terbangun. Merentangkan tangan sambil menguap dan menatap sang suami. Tidak biasanya suaminya bangun mendadak tengah malam begini.
“Batuk hah.” Sahut Koh Chen singkat, ia kembali terbatuk-batuk.
“Mau Cici buatkan obat?” tanya sang istri yang kini sudah duduk di sebelah sang suami dan merasa sedikit khawatir.
Koh Chen mengibaskan tangannya “Kagak usah, Oe cuma perlu minum saja. Cici teruskan tidurnya saja.”
Koh Chen tidak ingin merepotkan sang istri yang sudah sangat setia menemani dirinya semenjak mereka menikah dulu ketika berusia dua puluh tahunan dan sang istri waktu itu masih berusia delapan belas tahun. Mereka menikah karena sebuah perjodohan, tapi tak mengapa karena cinta kemudian menyusul datang seiring dengan kebahagian mereka yang dikarunia oleh anak-anak.
Sang istri mengangguk dan kembali berbaring, ia menarik selimut dan memejamkan mata melanjutkan tidurnya. Ia juga sama letihnya dengan sang suami, selain mengurus urusan domestik rumah tangga Cici pun ikut membantu sang suami mengurus grosir milik mereka.
Koh Chen berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air minum, tapi saat di dekat tangga untuk turun ia melihat seseorang sedang duduk di kursi tempat ia biasa membaca koran. Koh Chen terkejut, bagaimana mungkin ada orang asing yang bisa masuk ke dalam rumahnya. Malam-malam begini tentu orang itu punya maksud yang tidak baik, apa dia maling? Pikiran Koh Chen berputar memikirkan segala kemungkinan dan berusaha mengenali siapa pria tersebut.
“Siapa Yu?! Kenapa malam-malam ada di rumah Oe Hah?!” Bentaknya galak.
Lelaki itu bangkit dari duduknya dan menatap Koh Chen dengan tajam.
Koh Chen agak takut juga dengan pandangan lelaki itu yang tajam dan seakan menusuk ke dalam jiwanya, telebih melihat tubuh kekar dan wajahnya yang sangar itu. Lutut Koh Chen bergetar karena rasa takut yang mulai menjalar di dirinya.
“Tenang saja Koh, saya kemari untuk membayar hutang saya.” Ucapnya sambil melemparkan sejumlah uang ke arah Koh Chen.
Uang itu berhamburan di dekat kaki Koh Chen.
Meski sangat mencintai uang dalam hidup ini bahkan melebihi cintanya pada sang istri, tapi Koh Chen tidak segera mengambil uang tersebut. Ia merasa orang di depannya memiliki maksud lain selain membayar hutang. Ia punya firasat buruk saat menatap kilatan tajam dari mata lelaki tersebut.
“Hutang apa hah? Oe belum pernah lihat Yu selama ini?” tanya Koh Chen tetap waspada dengan lelaki asing di depannya tersebut.
Lelaki itu berjalan mendekat dengan langkah perlahan dan memiliki ketenangan yang luar biasa tapi membuat suasana semakin mencekam bagi Koh Chen.
“Hutang Terigu 50 kilogram dan gula pasir 25 kilogram. Cincay kata Koh, saat itu saya merasa Koh sangat baik pada saya. Ternyata itu bohong, Koh menjebak saya!” Desis lelaki itu dengan sangat tenang dan jelas terdengar di telinga Koh Chen.
Keringat dingin mulai bertitikan keluar dari pelipis Koh Chen, ia ingat sekarang. Ia tahu siapa lelaki kekar bermata tajam tersebut, ia tidak mungkin lupa dengan hutang yang dikatakan oleh lelaki tersebut.
“Astaga! Yu, Yu Sanin hah?!” Koh Chen sadar dan mengenali siapa lelaki kekar di hadapannya kini. Ia adalah tukang martabak manis kerempeng yang menjadi langganannya dan pernah ia berikan hutang terigu serta gula pasir dan saat itu, astaga! Koh Chen kini menyadari kesalahannya. Ia telah menebar angin dan kini ia akan menuai badainya, badai yang tak pernah ia kira akan datang secepat ini.
Ginggi mencengkeram leher Koh Chen dan mengangkat tubuh tua itu beberapa sentimeter di atas lantai.
“Kenapa Koh? Kenapa Koh tega menjual saya pada para polisi tengik itu?!”
Koh Chen megap-megap, ia berusaha melepaskan diri dari cekikan Ginggi namun tak bisa.
“Ma-afkan Oe Sa-nin Oe terpak-sa, mere-ka mengan-cam Oe.” Jelas Koh Chen dengan kepayahan dan tubuhnya mendadak menggigil ketakutan.
Ginggi tidak peduli dengan penjelasan tersebut.
“Hutang uang dibayar uang, hutang nyawa dibayar nyawa! Saya sudah membayar hutang uang saya, sekarang giliran Koh untuk membayar nyawa anak dan istri saya!” ujar Ginggi mendesis kejam.
Ginggi mencekik Koh Chen lebih kuat sampai ia tidak merasakan denyutan lagi dari leher pria tua tersebut. Kemudan ia melemparkan tubuh Koh Chen yang sudah tak bernyawa itu ke bawah tangga. Menatap sesaat, kemudian Ginggi keluar dan menghilang ditelan kegelapan malam melalui jalan yang sama dengan ia masuk.
Cici, istri Koh Chen terperanjat mendengar suara gedebuk yang begitu keras. Ia bangun dari tempat tidur dan kemudian memburu suara tersebut.
“Kokoooh…!” jeritnya sambil menangis begitu mendapati sang suami yang sudah terkapar di lantai bawah dekat dengan tangga, ia mengira sang suami terjatuh karena buru-buru hendak ke dapur untuk mengambil minum.
***