Ginggi terduduk di bangku taman kota, ia menatap kedua tangannya. Temaram lampu merkuri dan keheningan malam menjadi saksinya. Ia untuk pertama kalinya telah mencabut nyawa seseorang, rasanya sangat menyiksa. Ia resah dan gelisah, kedua tangannya bergetar. Ia merasakan sebuah kehampaan yang tak pernah ia alami sebelumnya.
“Kau harus bertahan Ginggi. Jangan biarkan tekadmu goyah dan hatimu lemah. Orang-orang ini memang pantas untuk dihabisi, apa kau tidak merasa yang mereka lakukan padamu, pada istri dan anakmu adalah sebuah kejahatan? Merekalah penjahatnya, kau hanya memainkan peran untuk menuntut balas saja. Mencegah mereka melakukan hal yang sama terulang kembali.” Suara si Loreng yang memberikan petuah terdengar begitu jelas dalam dirinya.
Ginggi menghela nafas, ia kemudian berdiri dan mengambil ransel yang ia sembunyikan di salah satu sudut taman tersebut sebelum mendatangi kediaman Koh Chen tadi untuk membayar dan menagih hutangnya.
Ginggi kemudian berjalan menyusuri trotoar dan emperan pertokoan yang sudah tutup. Menjelang tengah malam begini, lihatlah orang-orang lemah dan teraniaya yang terusir dari kediamannya kini sedang menggelar kardus bekas untuk tempat mereka tidur. Sebagian besar diantara mereka bahkan menahan rasa lapar seharian karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Orang-orang yang miskin bukan karen keinginan mereka melainkan oleh keadaan yang memaksa.
Setengah uang hasil rampokan itu memang digunakan oleh Ginggi untuk dibagi-bagikan kembali kepada mereka yang kehilangan rumahnya. Mereka yang teraniaya oleh sistem dan dibodohi agar menyerahkan kekayaan mereka yang sedikit itu.
“Terima kasih Nak, semoga kamu diberkati oleh Tuhan. Dilancarkan usahanya dan selalu sehat juga bahagia.” Doa seorang nenek tua yang terharu saat Ginggi memberinya beberapa lembar uang. Ia bahkan memeluk Ginggi erat seperti memeluk anaknya sendiri. Nenek tua itu sudah mengenal Ginggi sebagai pemuda yang baik dan kerap membagikan uang padanya. Ia merasa bersyukur menerima kebaikan yang diberikan oleh sang pemuda kepadanya.
Ginggi hanya mengangguk dan melepaskan pelukan sang nenek. Seharusnya nenek tua itu tidak berada di jalanan, ia harusnya berada di rumahnya yang hangat dan nyaman, kalau saja sang menantu tidak tergiur untuk meminjam uang ke bank dengan menggadaikan sertipikat rumahnya. Rumah mereka diambil alih oleh bank karena sang menantu yang tidak bisa mengembalikan pinjaman utang mereka. Menantunya kemudian menghilang entah kemana, meninggalkan sang ibu dan anaknya yang sering terlihat sakit-sakitan. Malam ini entah kemana sang anak, mungkin ia tengah mencari sesuap nasi di tempat lain.
“Om! Tunggu Om! Tolong ayah saya Om!” seorang bocah perempuan berlari ke arah Ginggi dari balik lorong sebuah ruko.
Ginggi menatap bocah perempuan itu, mungkin usianya baru sekitar lima tahun. Ia dan dan ayahnya sudah tak lagi memiliki rumah dan sering Ginggi dapati suka tertidur di emperan sebuah ruko tempat ia biasa memberikan uang hasil rampokannya.
“Ada apa? Kenapa dengan ayahmu?” tanya Ginggi menatap bocah perempuan itu penasaran.
Bocah itu menggeleng dan hanya menunjuk “Disitu! Ayah batuk darah dan tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.”
Ginggi bergegas mendatangi tempat ayah sang bocah perempuan itu berada. Lelaki itu terkapar dengan darah dari mulut dan tangannya. Ginggi memeriksa, masih ada nafasnya. Dengan segera ia mengangkat tubuh lelaki kerempeng itu. Bocah perempuan itu mengikutinya sambil terisak karena khawatir dengan keadaan sang ayah.
Ginggi menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat.
“Kemana?” tanya sang sopir taksi.
“Rumah sakit! Cepetan!” seru Ginggi sambil meletakkan tubuh pria yang ia bawa di jok penumpang.
Bocah perempuan itu ikut masuk kedalam taksi dan memegang tangan sang ayah sambil terus menangis.
Sopir taksi melajukan mobil dengan kencang menuju ke sebuah rumah sakit di pusat kota.
Lelaki kerempeng itu siuman dan menatap Ginggi, dengan kepayahan ia berkata “To-long jaga a-nak saya…” dan kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ginggi mengangguk, ia segera menutup kedua mata lelaki itu yang masih terbelalak.
“Om, apa yang terjadi pada ayah saya?” tanya sang bocah perempuan tak mengerti.
“Ayahmu sudah meninggal dunia, Nak.” Sahut Ginggi.
Bocah perempuan itu kembali menangis tersedu-sedu. Ginggi membiarkannya menangis sampai ia merasa lelah atau berhenti sendiri.
Sang sopir taksi melambatkan laju kendaraan dan kemudian berhenti di pinggir jalan.
“Gimana Mas, kita teruskan ke rumah sakit atau tidak?” tanyanya kebingungan dengan situasi baru yang mereka hadapi.
Ginggi menggeleng “Antar kami ke pemakaman umum saja. Aku sekalian menyewa taksimu sampai semua beres. Uang bukan masalah.”
Sang sopir taksi setuju, ia kemudian memutar arah dan menuju ke pemakaman umum yang berada di pinggiran kota.
Mereka tiba di pemakaman umum itu menjelang dini hari, hanya ada seorang petugas administrasi yang sedang berjaga disana.
“Maaf Mas, tapi kita baru bisa menguburkannya pagi nanti. Saat ini para tukang gali tidak bisa melakukan penguburan karena sudah berada di rumah masing-masing.” Jelas pria setengah baya itu,
Ginggi menyodorkan sebuah amplop berisi uang kepada lelaki pengurus pemakaman tersebut. Ia menerima dan membukanya, matanya berkilatan.
“Kecuali kalau Mas mau ikut bantu menguburkan, kita bisa melakukannya berdua. Ada lubang yang sudah digali sore tadi di dekat pemakaman korban kecelakaan. Bagaimana?” tanyanya menawarkan solusi.
Ginggi menatap bocah perempuan yang lusuh dan masih tetap menangis meratapi nasib dirinya dan ayahnya. Tidak baik membiarkan mayatnya berlama-lama.
“Baiklah, sepertinya kita tak punya pilihan.” Ucap Ginggi.
Mereka lalu memandikan jenazah tersebut dan mengkafaninya. Setelah beres, Ginggi, sang pengurus pemakaman dan sopir taksi yang iba kemudian bersedia ikut membantu menguburkan jenazah lelaki malang tersebut.
Subuh mulai merayap ketika akhirnya mereka beres menguburkan ayah bocah perempuan itu. Pekuburan ini cukup terang karena banyak lampu merkuri yang terpasang di setiap sudutnya. Pohon-pohon Jati yang besar berdiri kokoh di setiap blok makam, seakan sedang melindungi mereka yang tengah tidur dalam keabadiannya.
“Nak, ayahmu sudah menitipkanmu pada Om. Setelah ini kamu ikut sama Om pulang.” Ucap Ginggi mengusap kepala bocah perempuan yang masih tersedu di atas pusara sang ayah.
Bocah itu menatap Ginggi kemudian mengangguk, ia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Om ini pernah dibilang oleh ayahnya adalah seorang malaikat karena selalu datang memberi mereka sejumah uang hampir setiap malam yang digunakan oleh mereka untuk membeli makanan setiap harinya.
Mereka berjalan meninggalkan lokasi kuburan, sang pengurus pemakaman kembali ke kantornya. Ginggi, bocah perempuan itu dan sang sopir taksi kembali menuju mobil taksi yang berada di parkiran makam.
“Kita sekarang kemana Mas?” tanya sang sopir taksi melirik penumpangnya dari spion tengah mobil.
Ginggi menyebutkan alamat bekas pantinya.
Sang sopir mengangguk, ia tahu alamat tersebut dan melajukan taksi dengan baik. Bocah perempuan itu tak lama sudah tertidur dalam pangkuan Ginggi, mungkin karena terlalu lelah.
Ginggi menatap bocah yang sedang tidur itu. Kalau saja Rizky anaknya masih hidup, mungkin ia berusia sama dengan bocah perempuan ini.
Mereka tiba di depan panti setengah jam kemudian. Ginggi merogoh sejumlah uang dalam ransel dan memberikannya kepada sang sopir taksi.
“Ini, terima kasih sudah bersedia mengantar kami.” Ucap Ginggi.
Sang sopir taksi mengangguk “Maaf, Mas. Apa ini tidak kebanyakan?” tanyanya sambil mengamati sejumlah uang yang diberikan oleh Ginggi. Uang itu terlalu banyak untuk pengganti ongkos sewa taksinya.
“Tidak, anggap saja upah untuk ikut membantu menguburkan ayah anak ini.” Sahut Ginggi sambil membuka pintu taksi dan keluar sambil menggendong bocah perempuan yang masih pulas tertidur dengan sebelah tangannya.
“Terima kasih Mas.” Ucap sang sopir taksi senang, ia melajukan kembali taksinya dan hendak pulang ke rumah, ia bayangkan istrinya akan senang karena ia membawa banyak uang.
Ginggi mengetuk pintu panti beberapa kali, sampai akhirnya datang seseorang membukakan pintu.
“Maaf ada yang bisa dibantu?” tanya seorang wanita yang masih memakai mukena, sepertinya ia baru saja beres shalat subuh.
“Sri, aku mau ketemu sama Sastro.” Ucap Ginggi.
Sri istri Sastro mengamati Ginggi, pria kekar bermata tajam yang sedang menggendong seorang bocah di lengan kirinya ini siapa? Kenapa ia bisa tahu namanya?
“Maaf apa saya mengenal anda?” tanya Sri sambil terus menatap Ginggi dan berusaha mengingat-ingat.
“Aku Sanin.” Ucap Ginggi menyebutkan nama lamanya.
“Astaga!” Sri terkejut dan refleks menutup mulut dengan telapak tangannya.
“Kau akan membiarkan aku berdiri disini, Sri?” tanya Ginggi.
“Maaf-maaf, silakan masuk. Sanin aku tidak menyangka itu kamu. Kau sudah sangat berubah sekarang.”
“Dia sekarang lebih suka dipanggil Ginggi, benar kan?” Sastro yang datang menyusul, tersenyum mengetahui siapa tamu yang datang sepagi ini.
Ginggi menyeringai.
“Anak siapa itu?” Sri menunjuk bocah perempuan yang digendong oleh Ginggi.
Ginggi membaringkan bocah perempuan itu di sofa.
“Aku tidak tahu, kami bertemu secara aneh semalam. Ayahnya meninggal tadi malam, aku dan sopir taksi ikut menguburkan lelaki malang itu. Ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya memintaku untuk menjaga anak perempuannya ini. Tapi aku memiliki urusan untuk diselesaikan. Aku tidak tahu harus kemana, tempat ini satu-satunya yang terlintas dalam pikiranku.” Jelas Ginggi panjang.
“Aku mengerti.” Sahut Sastro “Sri tolong buatkan minuman panas untuk kita. Kopi, kau masih suka minum kopi kan, Ginggi?”
Ginggi mengangguk.
Sri menurut dan segera pergi ke dapur membuatkan kopi panas untuk suami dan sahabatnya tersebut.
“Tenang saja, kau bisa menitipkan bocah ini disini. Kami akan menjaga dan mengurusnya untukmu.” Sastro tersenyum.
“Terima kasih, kau memang sahabatku.” Ucap Ginggi.
“Bukan masalah, lagipula kau telah membantu agar panti ini masih tetap berdiri.” Sastro tersenyum.
Tak lama Sri telah kembali membawa dua cangkir kopi dan beberapa cemilan.
“Silakan Sanin eh Ginggi. Aduh aku masih tak percaya kamu sudah bebas, tapi syukurlah.” Ucap Sri sambil duduk di sebelah suaminya.
Ginggi tidak menjawab, ia menyeruput kopinya, masih terlalu panas. Meletakkannya kembali di meja.
“Kamu tidak sedang buru-buru kan? Nanti kita sarapan bersama anak-anak ya?” Sri menyarankan.
“Nah, benar itu Ginggi. Katanya kau kan kangen makan nasi goreng ala panti ini, hahaha…” Sastro tergelak.
Ginggi mengangguk “Tentu, lagipula aku harus menunggu bocah perempuan itu bangun dan menjelaskan kalau dia akan kutinggalkan di sini.”
“Apa anak itu masih memiliki ibu?” tanya Sri.
Ginggi menggeleng “Aku tidak tahu. Aku hanya sering melihatnya bersama ayahnya berdua tertidur beralaskan kardus bekas di area ruko tengah kota.”
“Kau tiap malam berada di ruko tengah kota? Apa yang kau lakukan disana?” Sastro penasaran.
“Hanya melakukan sesuatu yang bisa kulakukan.” Ucap Ginggi.
“Apa itu?” Sri penasaran.
“Aku tidak bisa menjelaskannya.” Sahut Ginggi.
Hening sejenak.
“Baiklah aku tinggal dulu. Harus menyiapkan sarapan untuk anak-anak.” Pamit Sri yang segera berlalu menuju ke dapur.
“Kau tampak sangat lelah, apa kau mau istirahat dahulu di kamarku?” tawar Sastro.
“Terima kasih, nanti saja. Aku harus menyiapkan diri untuk pergi ke ibukota siang nanti. Aku istirahat sekalian di dalam kendaraan saja.” Sahut Ginggi.
“Kau yakin untuk pergi dari kota ini?” tanya Sastro.
Ginggi mengangguk “O iya, sebelum lupa. Aku minta nomor rekening panti, siapa tahu ada rezeki akan kutransferkan.”
“Sebentar.”
Sastro beranjak menuju ke meja kerjanya yang berada di ruang depan panti. Tak lama ia sudah kembali dengan membawa selembar kartu nama. Ia memberikan kartu nama tersebut kepada Ginggi.
“Disitu sudah tertulis nomor rekening panti juga nomor teleponku.” Jelas Sastro.
Ginggi mengangguk dan menyelipkan kartu nama itu kedalam dompetnya.
Bocah perempuan itu terbangun, ia mengucek-ngucek mata dan menatap heran sekelilingnya, tempat asing yang baru pertama kali ia lihat. Tapi kemudian ia tersenyum ketika mendapati Ginggi yang sedang berbincang dengan seseorang.
“Om,” lirih bocah itu memanggil Ginggi.
Ginggi menoleh ke arahnya “Kau sudah bangun? Kemarilah, kau pasti lapar bukan?” Ginggi menunjuk ke arah cemilan di depannya.
Bocah perempuan itu mendekat, malu-malu sambil melihat ke arah Sastro ia mengambil cemilan dan mulai makan dengan lahap. Sastro tertawa menyaksikan tingkah anak tersebut.
Ginggi menyodorkan cangkir kopinya yang tinggal berisi setengahnya, bocah perempuan itu menyeruputnya dan nampak raut wajahnya berubah agak segar.
“Katakan Nak. Siapa namamu?” tanya Ginggi.
“Karina, Om.” Sahut bocah perempuan tersebut sambil tetap mengunyah.
“Dengar Karina, mulai sekarang tempat ini adalah rumah barumu. Di sini kamu bakal memiliki banyak teman, jadi kamu tidak akan merasa kesepian.” Jelas Ginggi.
Karina menatap Ginggi “Ini tempat apa, Om?”
“Ini adalah panti asuhan, dulu Om juga anak panti ini. Dan ini adalah Pak Sastro, beliau adalah pengurus panti ini dan juga sahabat Om. Kamu jangan khawatir, beliau pasti menjagamu dengan baik.”
“Betul itu Karina, disini kamu punya banyak teman dan kamu juga nanti bisa sekolah dan main bareng-bareng.” Bujuk Sastro.
“Beneran, Om?” Karina menatap Ginggi, ia pernah melihat anak-anak seusianya yang berkelompok memakai seragam untuk sekolah. Karina ingin merasakan seperti apa yang namanya sekolah itu.
“Beneran, ayo ikut sama Bunda. Kita sarapan dulu rame-rame.” Sri yang datang langsung menimpali.
Karina berpaling menatap Sri yang baru datang.
“Ini istri Bapak, namanya Bunda Sri. Nanti kamu bakal sering bertemu, Bunda ini yang mengurus semua keperluan kamu dan anak-anak perempuan lainnya di panti ini.” Jelas Sastro.
“Nah, sebelum sarapan, sepertinya kamu butuh mandi. Ayo ikut Bunda, setelah mandi kita ganti bajumu. Ada baju baru khusus untuk kamu.” Bujuk Sri.
“Karina, namanya Karina, Bunda.” Sastro menimpali.
“Iya, ada baju-baju baru untuk Karina. Bunda sudah menyiapkannya di kamar Karina.” Sekali lagi Sri membujuk.
“Kamar?” Karina mengerutkan dahinya.
“Iya, disini Karina sudah punya kamar sendiri. Karina mau lihat kamarnya seperti apa?” Sri mendekat dan membelai rambut Karina.
Karina mengangguk “Mau.”
“Ayo, ikut sama Bunda.” Sri meraih tangan Karina.
Karina berdiri dan sejenak menatap ke arah Ginggi. Ginggi mengangguk. Karina kemudian berjalan sambil berceloteh kepada Sri yang berusaha mengakrabkan dirinya.
“Kurasa urusan bocah perempuan itu sudah beres. Sekarang kau bisa fokus menyelesaikan urusanmu yang lainnya.” Ujar Sastro tersenyum.
Ginggi mengangguk.
***