Mengambil Alih Terminal

2630 Kata
Ginggi memutuskan untuk memakai kereta api, ia memilih kelas bisnis agar bisa tidur dengan nyaman. Ibukota adalah tujuan berikutnya karena disanalah para kurang ajar yang telah membunuh istri dan anaknya berada setelah mendapatkan promosi dan naik jabatan berkantor di markas pusat. Selain itu si Jamal yang harus ia habisi dan anak si Gorila itu, mereka pun berada di salah satu sudut ibukota. Ginggi akan menemui anak si Gorila dan menyampaikan amanat sang ayah setelah semua urusannya telah mulai selesai. Dari kota tempat tinggal Ginggi sampai ke ibukota bisa ditempuh selama hampir 12 jam perjalanan. Karena kelelahan, Ginggi menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan tertidur di kursi kereta api yang nyaman. Jam sepuluh malam ia tiba di ibukota. Ginggi memakai ransel besarnya dan melangkah keluar dari stasiun kereta api bersama dengan penumpang lainnya yang tak sabar untuk segera sampai di tujuan masing-masing dan beristirahat. Ginggi tidak merasa lelah, malah sebaliknya ia merasa segar setelah tertidur sepanjang perjalanan tadi. Ginggi berdiri di pelataran, selama beberapa saat mengamati lalu lalang orang yang keluar dari stasiun lalu berlalu memakai taksi atau kendaraan pribadi yang menjemput mereka. Malam ini ia belum tahu hendak kemana, Ginggi memutuskan untuk berjalan kaki saja sambil mengamati suasana malam ibukota, kalau ia sudah lelah baru ia akan mencari penginapan untuk bermalam. Suasana dan lalu lintas ibukota jauh lebih ramai dibandingkan dengan kota kecilnya. Kehidupan terus berjalan seperti tidak kenal lelah dengan banyaknya lampu yang benderang menyinari malam layaknya siang saja. Tapi, di beberapa sudut keremangan dan kegelapan sepertinya sengaja dipelihara. Dengan matanya Ginggi kembali menyaksikan kekontrasan keadaan. Di terang benderang jalanan, di dalam restoran, hotel dan klub malam, orang-orang asyik bercengkerama dan bercanda sambil makan dan minum, berpesta dengan gembira ria seperti tanpa mengenal rasa susah hati. Sementara di bagian gelap jalanan dan lorong-lorong tanpa lampu, ia melihat banyak orang yang tak beruntung menggelar kardus untuk tidur, para preman yang sedang mabuk-mabukan dan para perempuan yang menjajakan dirinya. Ginggi menghela nafasnya, sepertinya kemajuan sebuah kota selalu dibayangi oleh kemunduran bagi sebagian penduduknya. “Serahkan dompet dan uangmu!” seorang remaja berusia belasan menghadang langkah Ginggi sambil menghunus sebuah belati. Ginggi menatap tajam remaja tanggung di depannya, ia memegang belati dengan tangan yang gemetaran. “Kau tidak ingin melakukan ini, Nak!” ujar Ginggi. “Di-Diam kau! Serahkan uangmu atau kalau tidak akan kutusuk!” ancamnya. “Kau tidak mungkin bisa melakukannya dengan tangan gemetar seperti itu.” Sahut Ginggi tenang sambil menunjuk tangan remaja tersebut yang masih bergetar. “Banyak omong kau orang tua!” remaja itu berteriak sambil berusaha menusukkan belatinya ke perut Ginggi. Gerakan remaja itu terlalu lamban, Ginggi dengan mudah menepis belati itu dan memukul perut sang remaja. Remaja itu terhempas jatuh kebelakang dan tersungkur memegangi perutnya yang sakit, Ginggi memungut belati yang remaja itu jatuhkan dan berjalan mendekatinya. “Hentikan! Jangan sakiti kakakku!” seorang remaja perempuan muncul entah darimana, ia merentangkan tangan di depan remaja lelaki yang tadi menodong Ginggi. Seperti berusaha untuk melindungi remaja lelaki itu. Ginggi tersenyum “Kau adik anak itu?” Remaja perempuan yang berbeda dua atau tiga tahun dari sang remaja lelaki itu mengangguk “Aku mohon padamu, Pak. Maafkan kesalahan kami.” Ucapnya tersedu. Ginggi melemparkan belati yang ia pegang ke sebuah tong sampah. “Katakan padaku, kenapa kalian menodongku?” tanya Ginggi. “Kami lapar, sudah dua hari tidak makan.” Jawab remaja perempuan itu. Ginggi menghela nafasnya, anak-anak yang malang. “Ikut bersamaku! Kebetulan aku juga belum makan malam.” Ajak Ginggi. Remaja perempuan itu membantu kakaknya berdiri dan mereka mengikuti Ginggi masuk ke sebuah warung makan. “Pesanlah apa saja yang kalian mau.” Ucap Ginggi. Mereka mengangguk lalu memesan makanan kepada pemilik warung makan. Ginggi tersenyum menyaksikan mereka makan dengan lahap, mereka tidak bohong ketika bilang lapar. Begitulah, perut yang lapar bisa mendorong seseorang bahkan remaja seperti mereka yang berada di depannya ini berbuat jahat. “Siapa nama kalian?” tanya Ginggi sambil menyuap nasi kedalam mulutnya. “Rena dan ini kakak saya Randi. Kalau Bapak siapa namanya?” Jawab remaja perempuan itu menunjuk sang kakak. “Ginggi. Orang tua kalian kemana?” Rena menggeleng “Ibu kami sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, dan ayah sejak sebulan kemarin menghilang entah kemana.” “Rumah kalian dimana?” Ginggi kembali bertanya. “Disita pihak bank. Ayah ternyata meminjam uang untuk biaya perawatan ibu. Sebelum meninggal ibu memang sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit.” Jelas Rena. Ginggi mengangguk-angguk. “Maafkan kami, Pak Ginggi. Sungguh kami minta maaf, tapi kami terpaksa menodong anda tadi karena sudah tak kuat menahan rasa lapar.” Sekali lagi Rena meminta maaf, ia memandang ke arah sang kakak. “Iya, Pak Ginggi. Maafkan saya sudah berbuat nekat tadi.” ujar Randi meminta maaf. “Selama ini kalian tinggal dan tidur dimana?” “Di sembarang tempat.” Jawab Rena. “Bagaimana dengan saudara, apa kalian punya saudara?” selidik Ginggi. “Ada, kami punya seorang paman tapi ia berada jauh di luar kota. Kami juga ingin datang ke rumah paman, tapi tempatnya terlalu jauh dan kami tidak memiliki sepeser uang pun untuk ongkos kesana.” Jelas Randi. “Baiklah setelah ini kalian ikut aku buat tidur di penginapan. Besok pagi kalian akan aku antar ke stasiun membeli tiket kereta untuk menemui paman kalian. Kalian bisa kan pergi berdua kesana?” tanya Ginggi. Rena menatap Ginggi “Benarkah? Bapak tidak berbohong kan?” Ginggi menggeleng “Tidak, aku yakinkan kalian. Esok kalian sudah dalam perjalanan menuju rumah paman kalian.” Randi dan Rena saling berpandangan. “Terima kasih, Pak Ginggi!” hampir serempak mereka menjawab. Setelah beres makan, Ginggi membawa kedua kakak beradik itu ke sebuah penginapan. Hari sudah lewat tengah malam, mereka harus beristirahat. Keesokan paginya setelah sarapan bersama dan minum kopi, Ginggi menepati janjinya dan membawa kakak beradik itu datang ke stasiun kereta, ia membelikan mereka tiket yang menuju ke kota tempat paman mereka berada. Tak lupa ia juga memberi mereka bekal dan sedikit uang untuk berjaga-jaga. Kedua kakak beradik itu gembira dan memeluk Ginggi sesaat sebelum naik ke atas kereta api dan berterima kasih. * Siang itu Ginggi sedang berdiri di atas sebuah jembatan penyeberangan, ia menatap tajam mengawasi ke bawah, ke sebuah terminal bis antar kota. Di sana ia mengamati aktivitas para calo dan preman terminal. Terminal di ibukota sama seperti kebanyakan terminal di kota lainnya, semrawrut dan penuh sesak oleh orang. Calon penumpang, pejalan kaki, pedagang asongan, pedagang kaki lima, pengamen dan preman semuanya campur baur melebur menjadi satu dalam sebuah aktivitas harian terminal. Si Loreng pernah mengatakan bahwa si Jamal kini otomatis menguasai seluruh kegiatan perpremanan di ibukota. Tapi si Jamal adalah orang yang licik dan licin seperti belut, ia pasti sedang bersembunyi di markasnya. Dan itu adalah hal yang tidak diketahui oleh Ginggi. Markas si Jamal entah berada dimana, karena itu ia akan memakai strategi untuk mengeluarkan tikus dari dalam lubangnya dengan membakar jerami agar asapnya masuk kedalam lubang tikus tersebut dan membuatnya terpaksa menampakkan diri. Ginggi berjalan turun dari jembatan penyeberangan dan kemudian menghampiri seorang preman yang bertugas menjadi calo tiket bus. Secara tak terduga Ginggi mencengkeram leher preman tersebut dan kemudian membantingnya, lelaki itu berdiri kembali dengan susah payah. Beberapa wanita penumpang bus itu menjerit ketakutan, mengira bakal terjadi tawuran atau perkelahian sengit. “Si-siapa kau?!” tanyanya sambil memasang kuda-kuda. “Aku Ginggi, mulai hari ini, terminal ini aku ambil alih!” jawabnya tegas. Lelaki itu berusaha memukul Ginggi, tapi Ginggi dengan mudah berkelit dan menghadiahinya sebuah bogem mentah di perut. Lelaki itu terhuyung dan terjatuh, ia lalu berdiri lagi kemudian berlari menuju ke arah dalam terminal, melapor ke bosnya. Ginggi tersenyum dan berjalan mengikuti lelaki tersebut. Bagian dalam terminal ini lumayan sepi, tidak terlalu banyak orang juga penumpang, aparat resmi terminal sepertinya sengaja memberikan tempat ini sebagai markas para preman yang mereka pelihara. Bagus sekali, Ginggi bisa mengamuk tanpa khawatir disaksikan oleh warga biasa. “Itu Bos! Pria itu yang sudah memukul saya dan bilang kalau dia akan mengambil alih terminal ini.” Jelas preman yang tadi dibanting oleh Ginggi. “Cuih!” lelaki itu meludah “Kau tidak tahu siapa preman penguasa terminal ini rupanya!” Selusinan preman lainnya kemudian bermunculan di belakang pria yang meludah barusan. Mereka siap untuk menghajar Ginggi yang telah sembarangan masuk ke wilayahnya dan menghajar salah satu anggota mereka. “Kau Bos disini?” tanya Ginggi dengan tenang. “Benar, akulah si Rontek! Aku adalah bos preman di terminal ini! Mau apa kau?” “Bagus, mulai hari ini aku akan menjadi Bos di sini, kau serahkan terminal ini baik-baik atau kau harus kuhajar dulu?” Ginggi menatap tajam si Rontek. “Cari mampus rupanya kau kurang ajar! Hajar dia!” dengus si Rontek memberi perintah kepada anak buahnya. Maka para preman itu kemudian mengepung Ginggi, beberapa bahkan membawa balok kayu yang akan digunakan untuk menghantam tubuh lawan. Ginggi menyeringai, ia tidak gentar walaupun semili. Di penjara ia pernah dikeroyok saat tarung bebas berlangsung dan para tahanan yang satu blok dengan tahanan yang menjadi lawannya tidak terima jagoan mereka dikalahkan, mereka pun mengeroyok Ginggi, tapi Ginggi berhasil selamat dan kemudian berbalik menghajar habis mereka semua. Selusinan lebih preman itu membentuk lingkaran dan siap untuk mengeroyok Ginggi, sang pendatang yang tak tahu diri dan hendak merampas terminal tempat mereka mencari nafkah sehari-hari. Ginggi bersiaga, ia mengeraskan tubuh dan menajamkan matanya mengawasi siapa yang akan bergerak pertama kali. Seorang preman yang berada di sebelah kanan mengangkat balok kayu ke atas dan bersiap menghantam kepala Ginggi. “Heah…!” teriak preman itu sambil menghantamkan balok kayu yang ia pegang. Ginggi sudah sangat siap, ia berkelit sedikit. Balok kayu itu melewati tubuhnya beberapa sentimeter, Ginggi memberikan balasan sebuah kepalan tangan yang kuat menghantam dagu sang preman yang memegang balok kayu itu dan telak sang preman tersungkur pingsan. Para preman yang lain berubah beringas dan mereka segera menerkam Ginggi dari segala arah secara serempak. Itu adalah tindakan yang bodoh karena mereka pun tidak melihat kemana arah serangan mereka, maka tidak bisa dihindari bogem mentah dan kepalan tangan liar tak terarah saling tumpang tindih dan mengenai tubuh serta wajah kawan mereka sendiri. Lebih dari lima belas menit mereka terus melemparkan pukulan demi pukulan dan tendangan tanpa menyadari kalau Ginggi sudah tidak ada di tengah keroyokan mereka. Mereka baru berhenti setelah hampir setengah kawan mereka terkapar terkena bogem mentah rekannya yang lain. ‘Plok…Plok…Plok…!!!’ Ginggi yang sedang bersandar pada pilar dinding terminal bertepuk tangan. “Kerja yang bagus, teruskan…!” ujar Ginggi terkekeh. “Kurang ajar! Dasar setan alas! Kau mempermainkan kami, hajar dia!” perintah si Rontek untuk yang kedua kalinya. Kali ini hanya tersisa si Rontek dan enam orang preman terminal itu. Ginggi memutuskan akan menghajar mereka sekaligus untuk menunjukkan d******i dirinya. Ia berlari menyongsong para preman itu, dengan gerakan yang sangat cepat bahkan hampir tak terlihat oleh mata orang biasa, Ginggi menghajar keenam preman itu. Ia memukul tengkuk, menyambarkan bogem mentah ke ulu hati, pokoknya ke semua bagian vital yang membuat korbannya akan jatuh pingsan tak berdaya dalam sekali pukul. Kurang dari satu menit keenam preman itu berjatuhan bagai lalat kena tepuk, pingsan di tengah terminal, tinggal tersisa si Rontek seorang. Ginggi menatap tajam si Rontek sambil tersenyum “Jadi, kau ingin kuhajar juga atau menyerahkan terminal ini kepadaku?” Lutut si Rontek bergetar, ia ketakutan melihat tatapan tajam Ginggi yang menguar penuh ancaman tersebut. Laki-laki di depannya ini bukan manusia, ia begitu mudahnya menghajar selusinan anak buahnya yang terkenal garang dan bengis itu. Si Rontek menjatuhkan diri ke bawah dan segera bersujud “Maafkan aku, kau boleh mengambil terminal ini.” “Bagus! Sekarang buatkan aku segelas kopi!” perintah Ginggi sambil beranjak ke sebuah bangku tempat tadi si Rontek duduk. “Si-siap, segera Bos!” ujar si Rontek bergegas masuk ke sebuah warung kopi. Satu persatu para preman yang lain, mantan anak buah si Rontek mulai siuman ketika Ginggi tengah menikmati kopinya. “Kalian pilih, menjadi anak buahku dan tetap mendapatkan uang seperti biasa atau meninggalkan terminal ini!” Ginggi mengultimatum. Para preman itu saling berpandangan dan kemudian menatap si Rontek yang kini bak seorang pelayan berdiri merendahkan tubuhnya, mereka jelas telah mendapatkan pelajaran yang keras dari Ginggi. Semuanya kemudian pasrah dan bersedia menjadi anak buah Ginggi. Ginggi tersenyum, rencananya untuk mengeluarkan si Jamal dari lubang persembunyiannya sudah dimulai. * Beberapa minggu kemudian di tengah terik matahari yang membakar aspal, seorang preman dengan brewok tebal datang ke markas preman terminal. Ia menghampiri si Rontek yang kebetulan ada di markas tersebut sedang menyuguhkan kopi untuk Ginggi. “Heh Rontek! Kenapa kau tidak menyetorkan uang keamanan kepada Bos Besar?” tanya preman brewokan itu dengan suara keras. Si Rontek terlihat panik dan ketakutan ia menatap ke arah Ginggi yang sedang santai meminum kopinya. Ini ulah Bos barunya yang menyuruhnya untuk menghentikan setoran kepada Bos Besar preman. Sebagai gantinya ia menaikkan uang bagian semua preman dan juga memberikan uang pelicin lebih kepada para aparat di terminal yang suka datang meminta jatah. Para aparat itu tidak peduli siapa Bos preman di terminal, yang penting jatah bagian mereka lancar. “Si Rontek bukan lagi Bos di terminal ini!” Sahut Ginggi dengan suara yang lebih menggelegar, ia meletakkan gelas kopi di meja. “Siapa kau?” dengus preman brewokan tersebut menatap tajam ke arah Ginggi. “Aku Bos baru disini, namaku Ginggi!” timpal Ginggi, santai menyeruput kembali kopinya. “Dengar kau kurang ajar! Aku tidak peduli kalau kau mau mengambil alih terminal, tapi kau harus ikut aturan kami. Kau harus menyetorkan uang keamanan secara rutin kepada Bos Besar!” preman brewokan itu menunjuk wajah Ginggi. ‘Plaaak…!’ cepat sekali Ginggi menampar wajah preman brewokan itu sampai ia jatuh tersungkur. “Aku tidak suka orang menunjuk wajahku sembarangan.” Ujar Ginggi santai. Preman brewokan itu tak menduga bakal ditampar sekeras itu sampai ia tersungkur sesaat dan kemudian berdiri lagi. Ia hendak memukul balik Ginggi namun Ginggi sudah mendahuluinya dan melayangkan sebuah bogem mentah ke perutnya. Preman brewokan itu tersungkur kembali untuk kedua kalinya. “Katakan pada Bos Besarmu, Ginggi si Bos terminal tidak sudi untuk menyetorkan uang keamanan lagi. Katakan padanya untuk menjauhi terminal kalau ia tidak mau menyesal!” Ginggi tersenyum kecil. Preman brewokan itu berdiri sambil memegangi perutnya yang sakit dan beringsut keluar sambil memuntahkan ancaman “Kau yang akan menyesal Ginggi. Tunggu saja kau akan habis!” Si Rontek mendekati Ginggi “Bos apa tidak apa-apa? Bos Besar itu sungguh mengerikan, ia bisa memporakporandakan terminal ini kapan saja.” Ingat si Rontek ketakutan. Beberapa orang preman yang berada di sana pun mengangguk, mereka sama takutnya dengan si Rontek. “Tenang saja, memang itu yang kuharapkan.” Ginggi tersenyum tipis dan kembali menyeruput kopinya dengan santai. “Tapi ini bisa mengundang perang terbuka Bos?” si Rontek masih ketakutan. “Akan kuhadapi, kau tenang saja. Kalau kau takut kau boleh pergi dari sini.” Ginggi menjawab. Si Rontek jelas tidak ingin perang antar geng terjadi dan juga tidak ingin meninggalkan terminal karena ini adalah satu-satunya tempat yang menjadi sumber nafkahnya. Tapi si Bos Ginggi ini nampak begitu tenang, entah ia sudah gila atau memiliki rencana? Bagaimanapun si Rontek masih terkesan dengan kekuatannya yang mampu menghajar selusinan orang lebih hanya sendirian. Tapi kalau Bos Besar sampai menyerang itu artinya bisa sampai ribuan orang mendatangi terminal, ini sungguh gawat. “Apa Bos punya rencana?” si Rontek akhirnya tidak bisa membendung rasa penasarannya. Ginggi menatap si Rontek “Aku tidak memiliki rencana apapun. Mereka boleh datang kapan saja dan akan kuhadapi mereka. Seperti kataku tadi, kalau kau takut kau boleh meninggalkan terminal ini atau ikut bergabung bersama mereka, aku tidak peduli.” Si Rontek menghela nafas, sepertinya si Bos Ginggi ini memang gila atau memiliki kekuatan atau ilmu yang mumpuni. Si Rontek pernah mengetahui hal mistis tersebut, kalau orang-orang tertentu memiliki kemampuan kebal bacok maupun tidak mempan ditembak oleh senjata api. Apa si Bos Ginggi ini memiliki ilmu semacam itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN