Setelah mengambil alih terminal, Ginggi kini mengontrak sebuah rumah yang tak jauh lokasinya dari terminal tersebut. Sebuah rumah petak sederhana yang cocok untuk seorang lelaki yang hidup sendirian seperti dirinya. Ia memilih kontrakan kecil tersebut untuk menutupi jati dirinya sebagai bos preman terminal. Selain itu ia sebenarnya memiliki cukup uang untuk tinggal di apartemen mewah di ibukota ini. Tapi ia lebih suka untuk memberikan uangnya kepada mereka yang jauh lebih membutuhkan.
Kehidupan di terminal berlangsung seperti biasanya, tak ada yang berubah meski para preman kebanyakan sedang harap-harap cemas. Namun mereka tetap melakukan tugas masing-masing, sebagian menjadi calo dan menunjukkan para penumpang tujuan serta mengantar menuju bus yang sesuai. Sebagian lain memungut uang keamanan dari para pedagang yang mangkal dan berjualan di sekitar terminal, dan sebagian lagi memungut iuran parkir.
Ginggi sudah memperkirakan bahwa kabar tentang dirinya yang kini menguasai terminal dan enggan membayar uang keamanan kepada Bos besar pasti sudah menyebar kepada seluruh preman yang berkuasa di wilayah lainnya. Ia sedang menanti kedatangan mereka, kapan saja ia sudah siap melayani.
Nyaris satu bulan sejak preman brewokan itu mendatangi terminal dan pergi dengan rasa malu yang dibuat oleh Ginggi. Namun, tidak ada tanda-tanda kalau akan terjadi perang antar geng atau si Bos Besar yang mengadakan penyerbuan ke terminal dan menghabisi Ginggi. Si Rontek yang paling khawatir di antara para preman itu lambat laun mulai tenang, sepertinya si Bos Besar tidak mempedulikan laporan si Brewok waktu itu, pikirnya. Ia pun mulai mengendurkan kewaspadaannya dan ikut hanyut bercanda bersama dengan kawan-kawannya setiap hari.
Senja jatuh di atas terminal, membuat siluet dan garis-garis oranye lukisan cahaya sebelum matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Waktunya bagi para pekerja untuk mengakhiri pekerjaan dan kembali pulang ke rumah. Suasana terminal yang siang tadi hiruk pikuk pun semakin menyepi, para penumpang sebagian besar sudah terangkut dan diantarkan oleh kendaraan yang tadi mangkal di terminal ke tujuan mereka masing-masing. Membuat terminal semakin lengang dan bisa bernafas bebas dari kepenatan.
Saat itulah, dari ujung jalanan siluet puluhan orang mulai terlihat. Mereka bergerombol berjalan menuju ke arah terminal. Seorang preman yang menjadi calo bus yang pertama menyadari kedatangan mereka. Ia segera berlari mengabarkan berita penyerbuan itu kepada Ginggi yang sedang mengemil sepotong roti di markas para preman terminal.
“Bos, kita diserbu! Mereka banyak sekali, puluhan mungkin lebih!” lapornya dengan nafas terengah-engah.
Ginggi masih santai menelan roti dan meminum kopinya, ia lalu menatap para preman anak buahnya.
“Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, kalian boleh pilih. Ikut bertarung bersamaku, pergi dari sini sekarang juga, atau bergabung bersama mereka dan hadapi aku dalam pertarungan!” ujarnya dengan suara menggelegar namun dengan ketenangan yang luar biasa.
Si Rontek menghela nafas dan sambil menatap Ginggi ia berkata “Aku akan ikut bertarung denganmu, bagaimanapun kamu adalah Bos kami dan terminal ini adalah tempat kami mengais nafkah!”
“Bagus, kalian bagaimana?” Ginggi meminta jawaban dari anak buahnya yang lain.
“Kami akan bertarung juga bersama Bos!” ucap mereka serempak, selama Ginggi menjadi Bos, mereka telah mendapatkan bagian yang lebih besar. Maka sangat pantas jika kini mereka bertarung bersamanya sebagai rasa terima kasih.
Ginggi melangkah keluar dan berdiri di tengah areal terminal yang kini sepi dan lengang, menyisakan sebuah lapangan parkir yang luas dan kosong. Si Rontek dan para preman terminal yang kini setia kepada Ginggi turut berdiri di belakang Bos mereka. Menanti.
Tak berapa lama puluhan preman dengan wajah beringas berdatangan dan menjaga jarak tertentu ketika melihat Ginggi dan belasan preman terminal lainnya sedang berdiri menunggu mereka. Para preman itu membawa berbagai macam benda yang akan digunakan untuk senjata tarung mereka, dari mulai pentungan, balok kayu, gir sepeda motor yang diikat ke tali sabuk, pisau dan golok sampai yang aneh ada yang membawa raket nyamuk segala.
Sebuah pertempuran yang akan dicatat dalam sejarah terminal berlangsung beberapa saat lagi.
Seorang preman bertubuh besar dan berwajah bengis, hampir seluruh tubuh dan wajahnya dipenuhi tato. Ia tampak paling garang diantara mereka maju ke depan lalu berteriak. Sepertinya pria besar itu adalah bos mereka.
“Kau Si kurang ajar yang bernama Ginggi?!” Hardiknya menatap Ginggi dengan tajam seakan hendak menelannya bulat-bulat.
Ginggi tersenyum tipis, ia tetap tenang lalu menjawab dengan suara yang menggelegar “Benar, kau siapa?”
“Aku si Mikimos tangan kanan Bos Besar, aku datang untuk memberimu pelajaran. Tapi Bos Besar masih memberi kesempatan, kau bayar uang keamanan dengan bunganya dua kali lipat dan pergi tinggalkan terminal sekarang juga maka kami akan mengampunimu!” si Mikimos mengultimatum.
Ginggi sudah menduga kalau yang bakalan datang bukan si Bos Besar alias si Jamal langsung. Si Mikimos yang mengaku tangan kanannya ini pun paling hanya membual saja, dari caranya berseloroh Ginggi menduga kalau ia hanya sebatas preman penguasa seperempat ibukota saja.
Ginggi tertawa “Kau kira aku bakalan melakukan itu? Catat ini baik-baik, Ginggi tidak akan membayar satu rupiah pun! Juga tidak akan meninggalkan terminal ini! Katakan itu pada Bos Besarmu!”
“Kalau begitu kau akan mati hari ini. Habisi dia!”
Si Mikimos memberi isyarat dan dengan segera puluhan preman yang bersiaga di belakangnya berhamburan ke depan berusaha untuk menyerang Ginggi dan anak buahnya yang hanya berjumlah belasan. Dari segi jumlah si Mikimos merasa percaya diri bakalan menang dengan mudah. Para preman terminal ini bodoh karena sudah berani menghina dan menantang Bos Besar mereka, pikir si Mikimos.
Di bawah bayang-bayang senja dan gurat oranye matahari yang semakin memudar, puluhan orang bertarung di dalam terminal bus antar kota di sudut paling utara ibukota. Para warga sipil biasa segera berlari dan menghindari lokasi kejadian, mereka takut menjadi target salah sasaran para preman yang sedang berkelahi tersebut.
Pukulan demi pukulan, tendangan, sabetan dan bacokan saling berkelebat mengincar musuh dari kedua pihak. Yang lemah dan lambat dengan segera digilas dan menjadi korban yang bergeletakan. Tubuh-tubuh yang memar, benjol dan berdarah-darah tersungkur diinjak oleh rekan mereka sendiri yang masih bertahan dan bertarung.
Ginggi dengan cepat menghindar dan membalas serangan, ia berhasil merubuhkan dua orang yang mencoba menyerangnya dari belakang. Dua lagi preman di sebelah kanan yang lambat ketika hendak menghantamkan balok kayu harus menerima nasib terkena tendangan berputar Ginggi yang mengarah langsung ke wajah mereka. Mereka segera jatuh tersungkur. Setiap gerakan yang dilakukan oleh Ginggi benar-benar efektif dan tidak ada yang sia-sia, semua dilakukan untuk membungkam lawan dalam satu atau dua pukulan saja.
Si Rontek yang bertarung di sebelah Ginggi merasakan kengerian yang tak terlukiskan, Bos barunya benar-benar seperti kesurupan. Ia membabat siapa saja yang berusaha menyerangnya tanpa ampun. Dalam sekejap jumlah penyerang itu berkurang lebih dari setengahnya, dan Ginggi terlihat masih belum kehabisan staminanya. Ia masih bertarung dengan semangat yang menyala-nyala seperti api dari neraka yang berkobar-kobar tak mengenal kata padam. Ginggi bahkan terlihat seperti sedang menikmati semua, sepertinya ia hanya sedang berolahraga ringan saja menghadapi puluhan orang-orang yang mengeroyoknya.
Si Mikimos menatap Ginggi yang terus mengamuk dan menghabisi satu persatu anak buahnya. Ia sedikit jerih dan ketakutan mulai menjalar di tubuhnya, kekuatan apa yang merasuki manusia kurang ajar di depannya ini? Ia jelas bukan manusia sembarangan, cara bertarungnya benar-benar aneh tapi dengan cepat bisa merobohkan anak buahnya yang terkenal dengan keberingasan mereka.
Dua puluh menit berlalu dan kini hanya tersisa beberapa orang saja preman yang masih bertarung. Korban dari kedua belah pihak sudah banyak berjatuhan dan darah pun membasahi lantai terminal.
Ginggi mendekati si Mikimos, seorang preman anak buah si Mikimos meloncat untuk menghalangi langkah Ginggi. Preman itu menghunus katana pendek dan berusaha menyabet pinggang Ginggi.
Ginggi meloncat ke atas dan melakukan tendangan ke arah kepala preman tersebut. Telak! Tendangan Ginggi yang keras membuat preman itu terpental dan berguling-guling di aspal terminal sampai akhirnya berhenti karena membentur tubuh rekannya yang telah terlebih dahulu pingsan.
Seorang preman lainnya dengan sangat percaya diri dan sekuat tenaga memukulkan raket nyamuk ke tubuh Ginggi. Raket nyamuk itu hancur terkena tubuh Ginggi yang keras. Ginggi menatap sang preman yang juga menatapnya kemudian menyeringai bodoh sambil melambaikan tangan seolah berkata “hai apa kabar?” karena serangan raket nyamuknya gagal. Ginggi menendang preman tersebut yang segera tersungkur tak berdaya.
Si Mikimos sebenarnya sudah merasa sangat ketakutan, tapi ia harus mempertahankan harga dirinya sebagai seorang Bos penguasa seperempat ibukota. Ia harus melawan dan membunuh si kurang ajar di depannya ini, kalau ia sampai gagal maka Bos Besar bisa menyiksanya secara perlahan dengan sangat kejam mungkin sampai ia menyesal telah dilahirkan ke dunia ini.
Segera si Mikimos mencabut golok besarnya meski dengan tangan yang sedikit bergetar dan menghunuskannya ke arah Ginggi.
Ginggi berhenti sekitar dua kaki dari musuhnya dan menatap si Mikimos dengan tatapan elangnya, ia merasakan selama pertarungan berlangsung tato di lengan kirinya seperti memberi kekuatan yang aneh untuk melakukan semua p*********n ini. Ada sebuah kekuatan yang menyelimuti seluruh tubuhnya dan sebuah sensasi kesenangan karena melakukan ini semua. Dan kekuatan aneh itu terus mendorong dirinya untuk menambah korban dan membantai mereka sampai tak bersisa. Ginggi menghela nafas dan sedikit menenangkan diri dari pengaruh tato itu.
Dengan sebuah sabetan yang sangat cepat dan bertenaga si Mikimos mengincar leher Ginggi dengan golok besarnya. Aneh, Ginggi bisa melihat semua gerakan yang dilakukan oleh si Mikimos itu seperti sebuah gerakan dalam film yang diputar dengan kecepatan lambat, setiap mili detik perubahan gerakan itu nampak jelas di matanya. Dengan cepat Ginggi menggeser posisinya beberapa senti meter menghindari sabetan golok besar si Mikimos tersebut.
Si Mikimos terkejut, musuh di depannya jelas bukan manusia biasa. Entah bagaimana caranya si kurang ajar Ginggi ini seperti menghilang dan muncul kembali tepat di sebelahnya, padahal seharusnya tak ada seorang pun yang sanggup menghindari sabetan goloknya dari jarak sedekat ini. Seumur hidupnya, tak ada yang bisa lolos dari mata goloknya yang dibuat khusus dari sebuah pedalaman desa para jawara. Tapi kini ada seorang manusia kurang ajar yang dengan mudahnya menghindari sabetan golok andalannya tersebut. Si Mikimos benar-benar merasakan ketakutan dalam dirinya, keringat dingin bahkan mulai berjatuhan dari pelipis wajahnya.
Ginggi seperti menjatuhkan diri, tapi ia membuat gerakan lain dan menyapu kaki si Mikimos, golok di tangan si Mikimos terlempar dan jatuh beberapa kaki dari mereka. Pria besar itu seketika rubuh terkena sapuan dari Ginggi, sebuah serangan lain yang tak mungkin dihindari dilancarkan bertubi-tubi oleh Ginggi. Si Mikimos diinjak-injak sampai babak belur dan akhirnya dengan suara yang hampir tak terdengar ia meminta ampun. Si Mikimos berharap Ginggi akan mengampuni nyawanya.
Ginggi menghentikan aksi brutalnya, ia bergeser ke samping dan berdiri dengan gagah. Si Mikimos berusaha untuk duduk meski sedikit bersimpuh di aspal terminal.
“Aku minta ampun, kau memang hebat Ginggi. Ampuni aku…” Ucap si Mikimos lirih sambil bersimpuh memohon ampun kepada Ginggi.
Ginggi menghela nafas panjang, ia sedang menenangkan tato harimau di lengan kirinya yang seperti bergolak meminta tumbal lebih banyak lagi. Kemudian Ginggi menatap tajam ke arah si Mikimos.
“Kali ini kau kuampuni. Pergi bawa anak buahmu dan mayat mereka dari sini. Ingat jika kulihat wajah busukmu itu lagi, kau akan kuhabisi saat itu! Kau mengerti?!” Ancam Ginggi mendelik ke arah si Mikimos.
“Terima kasih atas kebaikan Bos Ginggi.” Si Mikimos mengangguk dan beringsut pergi diikuti oleh sisa anak buahnya yang masih mampu berjalan, sebagian mereka menggotong rekannya yang tewas bersimbah darah dan terluka.
Si Rontek lega, keputusannya untuk tetap berada di samping Bos barunya Ginggi ternyata tidak keliru. Ia baru kali ini melihat seseorang bertarung seperti seekor harimau buas yang sedang membantai tikus-tikus saja. Bos Ginggi memang luar biasa, ia adalah seorang petarung sejati.
“Rontek! Kau bereskan sisa kekacauan di sini, aku mau pergi dulu!” perintah Ginggi sambil berlalu berjalan keluar terminal.
“Siap, Bos!” si Rontek menjawab dengan semangat dan segera menyuruh preman terminal yang lain untuk membantunya membereskan sisa keributan barusan sebelum aparat terminal berdatangan dan bertanya macam-macam.
***