Ginggi duduk termenung di sebuah bangku taman, malam telah datang menyelimuti ibukota. Aktivitas orang masih seramai siang, hilir mudik kesana kemari dengan tujuan masing-masing. Ia menghela nafasnya beberapa kali, membayangkan semua hal yang ia lalui dan lakukan selama berada di ibu kota ini.
Di bawah temaram lampu taman, Ginggi menatap kedua tangannya. Lagi-lagi tangannya harus merasakan darah dan menjadi sebab tercabutnya nyawa orang lain, entah melalui cekikan atau kepalan tangan. Bagaimanapun caranya itu sama saja, rasanya ia kembali kedalam kehampaan yang aneh setelah membantai para preman itu tadi sore.
“Tak terelakkan Ginggi, darah harus tertumpah, tulang harus patah, bahkan nyawa harus melayang. Kau telah memilih jalan balas dendam sebagai jalan hidupmu sekarang, maka kau harus menerima kebencian, kau harus menerima rasa sakit dan kesepian itu. Tapi tetaplah fokus pada tujuanmu, balas dendam! Kau harus berhati dingin dan tidak mempedulikan apapun selama balas dendammu bisa tercapai!” nasihat si Loreng kembali terngiang di telinga Ginggi.
“Kau benar Loreng. Aku harus kuat dan berhati dingin.” Gumam Ginggi lirih, ia beranjak dari tempat duduknya dan kembali mengenakan ransel besarnya.
Malam ini ia kembali melakukan aksinya.
Ginggi berjalan mengelilingi ibukota dan terutama sudut-sudut gelapnya, sama seperti yang ia lakukan saat di kota tempat tinggalnya beberapa waktu lalu.
Tak terasa sudah lewat tengah malam ketika Ginggi melirik ke arah jam tangannya, ia sudah membagikan uang kepada para tunawisma dan para gelandangan yang berada di sekitar terminal sampai dengan pasar induk.
Ginggi hendak pulang ke rumah kontrakannya ketika tanpa sengaja mendengar sebuah makian di pelataran sebuah penginapan.
“Dasar jalang tak tahu diri! Sudah untung kau aku pekerjakan disini!” seru seorang wanita tua memarahi seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh tahunan yang berpakaian minim dan bermakeup tebal.
“Tapi Mami, aku tak ingin bekerja seperti ini.” Sahut gadis muda tersebut.
‘Plaaak…!’ wanita tua itu dengan keras menampar pipi sang gadis muda.
“Ingat kau masih berhutang banyak padaku! Kalau kau tidak mau kerja disini kau harus melunasi semua hutangmu, kau mengerti?!” dengus wanita tua itu dengan d**a naik turun menahan amarah.
Gadis muda itu menangis tersedu-sedu sambil memegang pipinya yang terasa sakit.
Ginggi mendekati mereka.
“Berapa dia kalau kusewa sampai besok?”
“Siapa kau?” wanita tua itu mengamati Ginggi dengan matanya yang jereng sebelah.
“Aku Ginggi, kutanya berapa yang harus kubayar untuk menyewa gadis ini sampai esok pagi?” Ginggi mengulang pertanyaannya.
Wanita tua itu berpikir sejenak “Kau beri aku satu juta rupiah dan kau boleh membawanya sampai kau puas! Ini adalah hari pertamanya bekerja disini!”
Ginggi merogoh ransel dan mengeluarkan uang sebesar satu juta rupiah.
Wanita tua itu dengan cepat menyambar uang yang disodorkan oleh Ginggi.
“Kau ikut pria ini, esok pagi temui aku lagi disini!” perintah wanita tua itu menunjuk gadis muda yang berusaha menghapus sisa air matanya.
Ginggi melangkah masuk ke dalam penginapan tersebut dan memesan sebuah kamar, gadis muda tadi kemudian mengikutinya. Seorang office boy menunjukkan kamarnya dan segera berlalu setelah Ginggi memberinya uang tip. Ia sudah banyak berurusan dengan para lelaki yang membawa perempuan model begini untuk menginap. Bukan urusannya, lagi pula ia hanya sebatas bekerja di sini dan menerima upah serta tips untuk dibawa pulang ke rumah, urusan lainnya ia tidak peduli.
Ginggi dan gadis muda itu duduk di kursi yang ada dalam kamar penginapan yang telah ia sewa tersebut.
“Apa kau lapar atau haus? Aku akan memesan makanan, kau mau sesuatu?” tawar Ginggi.
Gadis muda itu mengangguk “Apa saja.” Sahutnya lirih.
Ginggi mengangkat telepon yang ada disana dan memesan room service, nasi goreng lengkap dengan minumannya sebanyak dua porsi.
“Kau mau melakukannya sebelum atau setelah makan?” tanya gadis muda itu sambil menatap Ginggi.
“Apa maksudmu?” Ginggi mengerutkan dahinya.
“Kau jangan pura-pura. Kau tentu paham apa maksudku?”
Ginggi tersenyum “Kau yang salah paham, aku menyewamu bukan karena itu. Tapi aku ingin mendengar ceritamu. Tadi tanpa sengaja aku mendengar makian wanita tua itu, apa hubunganmu dengan dia?”
“Siapa kau? Apa kau seorang wartawan?” gadis muda itu kini sedikit ketakutan, ia pernah mendengar kalau para wartawan suka mencari berita yang aneh-aneh.
“Bukan, aku bukan wartawan, aku hanya Ginggi. Aku hanya penasaran saja, kalau bisa aku ingin membantumu.” Ujar Ginggi sambil menggeleng.
“Untuk apa? Kau kan tidak kenal siapa aku? Untuk apa kau membantuku?” selidik gadis muda itu, agak aneh mendengar penjelasan Ginggi. Tak mungkin kan seorang yang asing tiba-tiba saja mengulurkan tangan hendak membantu tanpa maksud tertentu.
“Room service!” seorang pelayan hotel berteriak di depan pintu kamar.
“Sebentar!” sahut Ginggi.
Ginggi membuka pintu dan menerima baki berisi makanan dan minuman yang telah ia pesan, memberi uang tip dan sang pelayan mengucapkan terima kasih kemudian kembali ke tempatnya.
“Lebih baik kita makan dulu, silakan!” Ginggi menyodorkan sepiring nasi goreng kepada gadis muda itu.
Gadis muda itu menerima piring berisi nasi goreng “Terima kasih.” Ucapnya.
Mereka berdua kemudian memakan nasi goreng tersebut tanpa percakapan, Ginggi bisa melihat betapa lahapnya gadis itu menyantap makanan. Benar dugaannya, gadis di depannya ini pasti menahan rasa lapar.
Beres makan dan minum, Ginggi menatap gadis muda di hadapannya.
“Kau sudah tahu namaku Ginggi tapi aku belum tahu siapa namamu?”
“Yunita.” Sahut gadis muda itu lirih.
“Baiklah Yunita, katakan padaku apa kau bekerja di bidang ini karena kemauanmu sendiri atau karena terpaksa?”
Yunita terdiam dan menatap Ginggi, apa maksud laki-laki ini? Kenapa dia bertanya hal seperti itu?
“Jangan khawatir Yunita, aku hanya sekedar ingin tahu saja. Kau tahu kita akan menghabiskan waktu cukup lama sampai pagi di tempat ini. Jadi terserah padamu apa kau mau bercerita atau kita akan melewati waktu dengan berdiam diri saja?”
Yunita masih ragu, ia menghela nafas “Aku terpaksa,” melihat raut Ginggi yang tak berubah dan masih menatapnya penasaran maka ia melanjutkan “Semua gara-gara suamiku yang hobi berjudi.” Ucapnya sambil menghela nafas, sesuatu dalam dadanya terasa sangat sesak.
Ginggi tersenyum “Teruskan.”
“Kami menikah beberapa tahun lalu, tapi setahun kemarin suamiku diberhentikan oleh pabrik tempatnya bekerja. Setelah jadi pengangguran suamiku memiliki hobi baru yaitu berjudi. Segala hal ia jadikan taruhan, kadang menang namun seringnya kalah. Saat menang ia merayakannya dengan mabuk dan bila kalah ia berusaha melupakan kekalahannya dengan mabuk minum-minuman keras pula.” Yunita menarik nafas.
Ginggi manggut-manggut, ia sudah bisa menebak kemana cerita Yunita.
“Kemudian harta kami satu demi satu habis dijual atau digadaikan untuk menyokong hobinya berjudi, ia pun kerap marah-marah dan tak segan memukulku sebagai pelampiasan amarahnya bahkan sampai kemarin malam, suamiku tega menjualku kepada Mami itu…” Yunita kembali terisak-isak menangis.
Ginggi menyodorkan tisu yang berada di atas meja.
“Terima kasih.” Yunita menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan oleh Ginggi.
“Suamimu berhutang pada wanita tua tadi?” tebak Ginggi.
Yunita mengangguk “Benar, ia meminjam uang yang besar untuk berjudi pada Mami itu dan kami sudah tak memiliki harta lagi untuk membayar semua pinjaman suamiku.”
“Boleh kutahu berapa uang yang dipinjam oleh suamimu kepada wanita tua tadi?” tanya Ginggi.
“Awalnya hanya dua puluh juta tapi wanita itu terus menagih dan memberikan bunga berbunga. Kini katanya kami harus membayar sebesar empat puluh lima juta rupiah. Aku tak punya pilihan, wanita tua itu memaksaku untuk bekerja seperti ini katanya agar bisa mencicil hutang suamiku kepadanya.” Suara Yunita tergetar, perlahan butiran air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
Uang, uang dan uang adalah solusi setiap permasalahan manusia, selalu seperti itu yang Ginggi temukan selama ini. Menjadi orang miskin yang lemah ekonomi akan selalu tertindas dan akhirnya menjadi korban kelicikan orang-orang yang memiliki kekuasaan, kuasa karena memiliki uang.
“Boleh aku memberimu saran?” Ginggi menatap tajam.
Yunita mengangguk, tangisnya sudah reda “Boleh.”
“Kau tinggalkan saja suamimu, kau masih muda dan masih memiliki kesempatan besar untuk berbahagia. Besok pagi akan kubayar lunas semua hutangmu kepada wanita tua itu dan kau kembalilah kepada keluargamu, kepada kedua orang tuamu. Apa kau mau melakukan itu?”
“Tentu saja, akan kulakukan itu. Tapi apa kamu memiliki uang sebanyak itu?” Yunita menatap Ginggi sangsi.
“Jangan khawatir, aku pasti akan membantumu lepas dari jeratan wanita tua itu. Sekarang pergilah istirahat. Kau tidur di ranjang sana, aku akan tidur di kursi ini.” Sahut Ginggi.
“Ginggi, terima kasih sebelumnya.” Ucap Yunita menatap wajah Ginggi terharu.
Ginggi hanya mengangguk, ia kemudian mengatur posisi kursi agar nyaman dipakai untuk berbaring.
Yunita beranjak menuju wastafel dan mencuci wajahnya, ia membersihkan make up tebal yang dikenakannya semalaman.
Ginggi menatap wajah Yunita yang tampak jauh lebih cantik tanpa make up, tapi ia segera berpaling dan memandang langit-langit kamar. Dewi adalah satu-satunya wanita tercantik di dunia ini.
Paginya setelah check out dari penginapan dan membayar biaya sewa kamar serta room servicenya, Ginggi bersama dengan Yunita menemui wanita tua yang dipanggil Mami tersebut yang sudah menunggu mereka tepat di halaman penginapan.
Wanita tua itu terkekeh menatap Ginggi “Hehehe, bagaimana dia memuaskan bukan?”
Ginggi memasang wajah datar.
“Aku hendak menebus dia, akan kubayar hutang-hutangnya.”
“Kau rupanya sangat terkesan sampai ingin memiliki gadis ini sepenuhnya. Baik kau beri aku lima puluh juta rupiah sekarang juga, maka hutang gadis ini lunas dan kau boleh membawanya pergi.” Ujar wanita tua itu tersenyum.
“Kenapa jadi segitu Mami, bukannya kemarin Mami bilang hanya empat puluh lima juta?” Yunita protes.
“Diam kau! Ini adalah bisnisku, kau bayar lima puluh juta atau tidak sama sekali!” Ancam wanita tua itu sambil menatap Ginggi.
“Akan kubayar!” Ginggi mengambil uang dari dalam ranselnya secara hati-hati.
Wanita tua itu sumringah dan segera menghitung segepok uang yang disodorkan oleh Ginggi, segera ia memasukkan uang itu kedalam tas jinjingnya.
“Uangnya pas, kau boleh mengambil gadis ini. Dia milikmu sekarang!” ucap si Mami sambil berlalu meninggalkan keduanya.
Ginggi menghela nafas dan menatap Yunita.
“Keluargamu ada dimana?” tanya Ginggi.
Yunita menyebutkan nama kota tempat kedua orang tuanya tinggal.
“Lumayan jauh, kau bisa memakai bus antar kota dari terminal menuju kesana tapi sebelumnya kita harus membeli pakaian yang layak dulu untukmu. Kau tidak boleh menemui orang tuamu dengan pakaian seperti itu.” Jelas Ginggi.
Yunita mengangguk dan mengamati pakaian yang terlalu minim yang ia kenakan sejak semalam itu “Iya.”
Setelah memakai baju baru yang jauh lebih rapi, Yunita membuang baju minimnya yang seperti kekurangan bahan kain itu ke sebuah tong sampah yang ada di depan toko busana. Yunita terlihat sangat cantik dengan penampilannya sekarang.
“Semoga bisa buang sial sekalian!” Ujarnya sambil tersenyum ke arah Ginggi.
Ginggi mengangguk, mereka kemudian menuju ke terminal bus antar kota.
“Siang, Bos!” sapa seorang preman terminal yang menjadi calo bus.
“Siang!”sahut Ginggi.
“Dia ini siapa? Istri Bos?” tanyanya lagi sambil menunjuk Yunita.
Ginggi menggeleng “Bukan, ini adalah saudaraku, dia mau pulang ke kampung. Kau titipkan sama sopir dan kondektur bus. Bilang pada mereka untuk mengawasi dan menjaga keselamatannya sampai tujuan!”
“Siap, Bos!” sang preman anak buah Ginggi segera berlari menuju depan Bus untuk memberi tahu sang sopir tentang penumpang khususnya.
“Kenapa preman itu memanggilmu Bos?” Yunita menatap Ginggi penasaran.
“Karena aku Bos mereka.”
“Kau Bos para preman itu? Kau tidak terlihat seperti Bos mereka.”
Ginggi tersenyum, ia merogoh saku celana dan memberikan sebuah amplop yang sudah ia siapkan ketika Yunita sedang memilih baju di toko pakaian tadi.
“Ini sebagai bekal untukmu, hanya sedikit tapi aku yakin bisa kau gunakan untuk membuka usaha kecil-kecilan.” Jelas Ginggi.
“Kau terlalu baik, aku tidak bisa menerimanya.” Yunita menggeleng.
“Terimalah, kau harus mandiri selepas berpisah dari suamimu. Sebisa mungkin jangan menyusahkan orang tuamu juga.” Ujar Ginggi sedikit memaksa.
Meski agak ragu, tapi Yunita kemudian menerima amplop berisi uang pemberian Ginggi tersebut.
“Terima kasih banyak, kau pria yang sangat baik. Aku akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti, aku berjanji.” Ucap Yunita sambil memasukkan amplop itu kedalam saku bajunya.
“Jangan khawatirkan masalah itu.” Timpal Ginggi.
Sang preman anak buah Ginggi datang kembali.
“Silakan Nona, lewat sini. Saya sudah memberitahu supir dan kondektur, mereka sudah menyiapkan kursi khusus untuk anda.” Ucap Sang preman sambil sedikit membungkuk hormat.
Hati Yunita sedikit bergetar, lihat karena seorang pria asing bernama Ginggi, preman yang ditakuti memperlakukannya dengan hormat bak seorang putri. Berbanding terbalik dengan suami, mantan suami, Yunita bertekad segera mengajukan gugatan cerai kepada lelaki yang telah menjualnya kepada Mami tadi malam itu. Cinta yang ia miliki untuk lelaki itu sudah lenyap sepenuhnya sekarang. Sekarang hanya ada kebencian kepada lelaki itu, dan sebuah harapan untuk hidup barunya yang lebih baik karena bantuan seorang asing bernama Ginggi yang telah melepaskan jerat sebelum ia jatuh ke dunia hitam yang menjijikan.
“Ginggi, sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Sampai jumpa lagi nanti.” Yunita pamit dan melambaikan tangannya.
Ginggi mengangguk, ia kemudian berjalan menuju markas preman terminal.
***