Lawan Menjadi Kawan

2108 Kata
Setelah p*********n yang dilakukan oleh si Mikimos dan anak buahnya, para preman terminal semakin waspada dan selalu bersiaga. Mereka khawatir kalau si Bos Besar akan bertambah murka dan kemudian melakukan p*********n yang lebih serius dan mengirimkan anak buah dengan jumlah yang sangat banyak. Reputasi Bos Besar yang kejam dan tak mengenal belas kasihan memang sudah mereka ketahui, meski sebagian besar para preman terminal tak tahu bagaimana rupa dari si Bos Besar tersebut. Si Rontek mendengar desas-desus dari para preman temannya di belahan lain ibu kota. Mereka mengatakan kalau Bos Besar preman sedang menyiapkan kejutan untuk menghabisi Ginggi dan para preman terminal yang berkhianat menjadi anak buahnya tanpa terkecuali. Ia jelas sangat ketakutan, begitu pula dengan beberapa anak buahnya yang mengetahui desas-desus tersebut. Tapi Ginggi tetap santai dan bersikap biasa saja, ia melakukan aktivitasnya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Saat si Rontek melaporkan desas-desus yang didengarnya, Ginggi hanya tersenyum tipis dan berkata “Itu yang kuharapkan.” Si Rontek yang mengetahui reaksi Bos Ginggi yang sangat santai itu mengerutkan dahinya, apa ia memang benar-benar tidak sayang nyawanya? Atau Bos Ginggi ini sebenarnya menyimpan sebuah rencana rahasia? Si Rontek jadi penasaran dibuatnya. Tapi ia menyimpan sendiri rasa penasaran tersebut, percuma kan karena Bos Ginggi pasti tidak akan memberi tahu apa yang ia rencanakan itu kepada dirinya. Hampir dua bulan berlalu tapi ‘kejutan’ dari si Bos Besar itu tidak kunjung datang. Sebagian besar para preman terminal mulai mengendurkan kewaspadaan dan berpikir kalau desas-desus yang dikabarkan oleh si Rontek memang hanya sekedar kabar angin belaka yang tidak jelas juntrungannya. Mereka kini semakin santai dalam menjalankan aktivitas harian mereka sebagai preman terminal dan sudah tidak mengingat lagi ancaman yang disebar melalui desas-desus para preman sudut ibu kota yang lainnya. Siang itu terminal seperti biasa ramai oleh lalu lalang orang dan calon penumpang, bau keringat bercampur parfum dan aroma makanan yang dijual oleh para pedagang kaki lima yang mangkal di sekitar terminal bercampur baur dengan aspal jalanan yang terbakar matahari. Menciptakan atmosfer yang khas dari setiap terminal, bau menyengat yang untuk sebagian orang sangat memuakkan ketika terhirup dalam hidung dan membuat mual bahkan ingin muntah. Tapi tidak bagi mereka yang menggantungkan nafkahnya dari terminal, bagi mereka itu adalah harum uang dan aroma penambah semangat menjalani hidup dari hari ke hari. Sebuah ladang penghasilan non formal dari kehidupan modern bagi kaum yang terpinggirkan. Ginggi sedang memantau anak buahnya yang sedang bekerja, si Rontek dengan setia mendampingi. Kini si Rontek adalah tangan kanan Ginggi yang bisa dipercaya, sebaliknya si Rontek merasa puas meski turun jadi anak buah tapi ia mendapatkan bagian yang lebih besar dari sebelumnya. Jatah preman yang lebih besar membuat kondisi ekonominya membaik termasuk senyum dari sang istri yang kini selalu menghias kala dirinya pulang, ia pun semakin jarang bertengkar dengan sang istri gara-gara uang belanja yang kurang. Ginggi tetap dengan pendiriannya untuk tidak menyetor pendapatan yang didapatkan di terminal kepada Bos Besar preman dan lebih memilih membagikannya dengan para anak buahnya juga aparat terminal yang semakin mendukungnya. “Bagaimana keadaan?” tanya Ginggi pada seorang preman calo angkutan umum yang sedang bertugas, ia menepuk bahunya pelan. “Aman Bos.” Jawab preman dengan tindik di hidung dan lidah dengan suara penuh hormat kepada Bosnya tersebut. Wajahnya berseri menatap sang Bos yang tetap mempertahankan dirinya bekerja seperti ini di terminal meski awalnya mereka harus bertarung satu sama lain. “Bayaran sopir?” tanya Ginggi lagi. “Lancar, Bos!” kembali ia menjawab sambil mengacungkan jempolnya. “Bagus, lanjutkan kerjamu!” sahut Ginggi menepuk bahu anak buahnya sekali lagi. “Siap Bos!” Saat Ginggi hendak melanjutkan langkahnya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh, tato di tangan kirinya bergetar dan ada sebuah kekuatan yang tak bisa dijelaskan yang menarik tubuhnya ke bawah membuat Ginggi terjatuh. Dan tepat saat itu sebuah benda membelah udara dan menancap dengan sempurna di tembok di belakang Ginggi. Kalau saja ia tidak menjatuhkan diri maka bisa dipastikan Ginggi akan terkena benda tajam itu. “Bos tidak apa-apa?” tanya si Rontek dan preman yang menjadi calo angkutan kota tergopoh-gopoh mendekati Bos mereka yang masih rebah di lantai terminal. “Tidak apa-apa.” Sahut Ginggi, kembali berdiri dan menepuk-nepuk debu yang menempel di baju dan celananya. Ginggi menatap tajam ke arah asal benda yang hampir mengenainya barusan, dari jembatan penyeberangan. Terlalu banyak orang disana, siapapun pelakunya ia tentu sudah pergi sambil berbaur dengan para pejalan kaki lainnya. Siapa pun dia, dia sangat profesional. Bertindak secepat dan seefisien mungkin tanpa meninggalkan jejak sama sekali. “Cek benda itu!” Ginggi memerintah sambil menunjuk tembok di belakangnya. Si Rontek sigap, ia segera mencabut benda yang menancap di tembok yang ternyata adalah sebuah shuriken. “Bos ada surat, ini!” si Rontek menyerahkan selembar kertas yang tergantung diikat oleh sebuah tali di ujung shuriken tersebut. Ginggi menerima kertas yang disodorkan oleh si Rontek dan membacanya, ia lalu tersenyum tipis. Meski caranya unik, tapi Ginggi kini mulai memahami cara pikir si Jamal. Bos besar preman itu menyukai untuk membuat lawannya merasa frustasi terlebih dahulu sebelum ia menghabisinya, sebuah agitasi murahan! Pikir Ginggi. “Apa isinya, Bos?” si Rontek penasaran. Para preman lain yang kebetulan melihat Bos mereka tiba-tiba terjatuh pun bergegas berdatangan untuk mengetahui apa yang sudah terjadi. Penasaran apa yang sudah terjadi sekaligus merasa cemas dengan keadaan sang Bos. “Mereka akan datang dua hari lagi.” Jawab Ginggi sambil menyerahkan surat itu kembali kepada si Rontek. Si Rontek kini dikerubungi para preman lainnya yang penasaran mencoba mengintip dan membaca isi surat yang dikirim melalui shuriken tadi. Orang yang melemparkan shuriken itu pasti hebat, tapi mereka pun mengakui kalau Bos Ginggi tidak kalah hebatnya karena bisa menghindari serangan mendadak dan cepat seperti itu. “Bagaimana ini Bos? Apa kita perlu menyiapkan strategi untuk menghadapi penyerbuan dari Bos Besar?” si Rontek yang sudah membaca isi surat menatap Ginggi, ia mulai merasa cemas. Si Rontek dan beberapa preman terminal lainnya kini mulai kembali teringat desas-desus dan ancaman yang pernah dikabarkan beberapa waktu lalu itu. Apa sekarang saatnya telah tiba? Si Bos Besar akan menghabisi mereka semua dan tidak menyisakan satu pun juga dari mereka tanpa terkecuali? Ginggi menggeleng “Tidak usah, kita cuma perlu menghadapi mereka kalau mereka datang saja. Seperti sebelumnya, kalau kalian mau meninggalkan terminal ini maka aku persilahkan, mau ikut gabung mereka karena takut pun maka silakan saja. Tapi kalau kalian tetap mau disini maka bertarunglah bersamaku menghadapi mereka!” ujar Ginggi sambil berlalu menuju markasnya, kali ini ia tidak perlu mendengar jawaban para anak buahnya. Si Rontek dan para preman terminal lainnya berpandangan, jujur mereka takut menghadapi jumlah penyerbuan si Bos Besar yang menurut desas-desus bisa berjumlah sangat banyak, mungkin ratusan atau ribuan orang akan mendatangi terminal. Tapi mereka pun pernah menyaksikan keberingasan Ginggi dalam pertarungan. Bos Ginggi bertarung seperti ia terlahir untuk itu, ia adalah iblis petarung sejati. Tapi bukankah mereka gila jika hanya selusinan preman terminal melawan ratusan orang bahkan lebih dan bisa jadi ribuan preman dibawah perintah si Bos Besar? Satu hari menjelang penyerbuan yang direncanakan oleh si Bos Besar preman, Ginggi masih saja bersikap santai dan biasa. Ia seolah tak peduli dengan kengerian yang dibisikkan oleh si Rontek. Kecemasan tergambar jelas di wajah si Rontek, ia bahkan merasa tidak enak untuk sekedar duduk diam beberapa saat. Berkali-kali ia melihat ke arah luar terminal dengan perasaan was-was, ia waspada dan harus bersiap jika tiba-tiba harus bertarung hari ini. Diam-diam si Rontek dan beberapa preman terminal yang kini menjadi anak buah Ginggi, telah mempersiapkan berbagai senjata yang disimpan dengan rapi di sudut-sudut terminal. Tak terlihat oleh orang biasa karena disamarkan dengan berbagai macam benda lain yang ada di terminal. Si Rontek merasa perlu melakukan sesuatu karena melihat Bos Ginggi hanya bersikap santai saja. Kalau terjadi p*********n oleh si Bos besar ke terminal, setidaknya si Rontek berpikir kalau ia bisa melakukan perlawanan dan tidak akan mati konyol begitu saja. Ginggi tengah menyeruput kopi ketika seorang anak buahnya datang sambil berlari dan terlihat sangat buru-buru. Ia masuk ke markas preman terminal bahkan tanpa mengetuk pintu sama sekali, menandakan sebuah kegentingan. Si Rontek segera berdiri karena penasaran ada apa. “Bos! Si Mikimos datang lagi!” ujarnya terengah-engah sambil menunjuk ke arah pintu masuk selatan terminal. Ginggi meletakkan gelas kopinya di meja lalu mencomot sebuah bakwan jagung di piring dan mengunyahnya. Preman yang memberi kabar tersebut menatap ke arah si Rontek yang berdiri di sebelah Bos Ginggi, ia tak mengerti kenapa sang Bos malah bersikap santai seperti itu. Si Rontek mengendikkan bahunya, meski tak mengerti jalan pikiran Bos Ginggi tapi ia sudah mulai terbiasa dengan sikap tenang dan acuhnya. Si Rontek sendiri melirik ke arah lemari keci di sudut markas mereka, di sana ia telah menyimpan beberapa batang besi. Kalau terjadi apa-apa ia akan mengambil batang-batang besi tersebut dan digunakan sebagai alat pertahanan diri. Tak berapa lama si Mikimos memang datang bersama puluhan preman anak buahnya. Ia sendirian langsung masuk kedalam markas preman terminal dan dengan isyarat menyuruh puluhan anak buahnya menunggu di luar. Beberapa anak buah Ginggi yang berada di dalam markas langsung bersiaga, mereka siap mengantisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Semua saling memandang dengan waspada dan curiga, kericuhan bisa terjadi kapan saja sekarang ini. “Ginggi!” seru si Mikimos dengan suara yang menggelegar. Ginggi menatap tajam pria besar yang tubuh dan wajahnya dipenuhi oleh tato tersebut, ia urung mencomot sebuah bakwan. “Apa maumu? Apa kau ingin kuhajar kembali?” ujar Ginggi dengan suara yang tenang tapi terdengar berwibawa. Suara Ginggi yang tenang tersebut membuat si Mikimos sedikit terkejut, ia menyadari sesuatu, suaranya saat menyapa Ginggi barusan terlalu kencang dan kurang sopan. Si Mikimos menggeleng “Jangan salah paham, aku kesini justru untuk membantumu. Kudengar Bos besar akan mengadakan penyerbuan ke terminal ini esok.” Ujar si Mikimos dengan suara yang jauh lebih lunak dari sebelumnya. “Aku tahu, biarkan dia datang dan aku akan menyambutnya. Kenapa kau mau repot-repot membantuku?” selidik Ginggi mencari motif dari si Mikimos. Si Mikimos menarik nafas panjang dan menatap Ginggi “Karena aku sudah bukan anak buahnya lagi.” “Apa maksudmu?” “Dia seenak udelnya telah mendepakku dari wilayahku. Aku tidak rela ia menggantikan posisiku dengan anak buahnya yang lain. Maka aku menggalang orang-orang yang juga membencinya dan ingin balas dendam karena perlakuan si Bos Besar yang semena-mena. Aku telah bertarung denganmu, aku yakin kau pasti bisa mengalahkan si Bos Besar. Gaya bertarungmu mengingatkan aku pada Bos kami sebelumnya yang telah menghilang.” Jelas si Mikimos, teringat dengan Bos Besar mereka sebelumnya yang entah kenapa menghilang dan kemudian si Jamal muncul menggantikan menjadi Bos Besar para preman. “Siapa nama Bosmu sebelumnya?” tanya Ginggi menatap si Mikimos dengan mata elangnya yang tajam menusuk. “Dia adalah si Loreng. Si Loreng sang Bromocorah.” Sahut si Mikimos menyebutkan nama Bos Besar mereka sebelumnya. Ginggi tertawa terbahak-bahak “Hahaha kebetulan, aku adalah murid si Loreng!” Si Mikimos terkejut “Kalau benar kau adalah muridnya si Loreng, kau tentu memiliki sesuatu yang hanya diwariskan pada seorang yang layak. Aku ingin melihatnya sekaligus ingin tahu apa benar kau murid si Loreng atau hanya membual belaka” selidik si Mikimos menatap Ginggi dengan antusias sekaligus penasaran dengan kata-katanya. Ginggi menaikkan lengan kemeja panjangnya dan memperlihatkan tato harimau berkepala dua di lengan kirinya. Loreng harimau itu berwarna ungu dan sedikit berkilauan seperti memiliki cahayanya sendiri. Mata si Mikimos terbelalak, ia tak menyangka bakalan menyaksikan kembali simbol Bromocorah itu setelah sekian tahun si Loreng menghilang. “Kau adalah orangnya! Kau berhak untuk menjadi Bos Besar, kau adalah sang Bromocorah sejati! Mulai detik ini aku akan selalu setia padamu seperti aku setia kepada si Loreng dulu!” ujar si Mikimos sumringah dan bersemangat sambi mengepalkan tangan kanan di dadanya. Si Rontek dan para preman yang berada disana pun sama terkejutnya, mereka tahu kalau Ginggi sangat hebat dalam bertarung. Tapi siapa sangka pemuda yang datang entah darimana ini ternyata adalah sang Bromocorah yang sejati. Pantas saja Bos Ginggi mereka ini memiliki ketenangan yang begitu luar biasa, ia tak memiliki rasa takut pada apapun atau siapapun karena dia adalah sang Bromocorah itu. “Kita pasti akan menang melawan si Jamal penipu yang menjadi Bos Besar itu! Aku yakin!” si Mikimos kembali berujar, semangat dalam dirinya kini semakin berkobar. Ginggi menatap si Mikimos “Aku menghargai bantuanmu untuk menghadapi pertempuran esok tapi sekarang suruh anak buahmu untuk istirahat atau makan. Suruh mereka berbaur dan jangan menyolok, terlebih jangan sampai mengganggu aktivitas terminal!” Perintah Ginggi. “Siap, Bos!” sigap si Mikimos segera keluar dan memberikan perintah kepada anak buahnya sesuai permintaan Ginggi. Si Rontek dan selusinan preman terminal menghela nafas lega, mereka bersyukur mendapatkan tambahan kekuatan yang cukup banyak dari si Mikimos dan puluhan anak buahnya yang kini sedang berbaur di dalam terminal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN