Lisa ikut terdiam ditengah keheningan yang terjadi di ruang kamar rumah sakitnya. Ia menatap wajah Grace dan Rey yang ada di hadapannya saat ini. Lisa bisa merasakan suasana tegang diantara mereka. Kesunyian ruangan ini terasa mencekam. Lisa menyadari situasi serius yang ada di hadapannya kini. Lisa menggenggam tangan Rey. Genggamannya tidak bisa kuat karena luka dan perban ditangannya. Namun Rey pasti merasakan sentuhan tangannya yang tulus dari dalam hatinya. Lisa tak ingin melihat Rey begitu emosi. Ia tak suka melihat raut wajah kekasihnya itu menjadi frustasi dan meledak dalam amarah. “Aku gak papa kok, Rey. Lepasin aja Sherly. Apa yang dikatakan Mama kamu itu ada benarnya,” ucap Lisa dengan nada lembut. Rey menggelengkan kepalanya, tanda tak setuju. “Gak bisa semudah itu, sayang.

