Suhu udara di kamar rawat yang ditempatinya menjadikan Sonja merapatkan selimut lebih. Ditambah dengan keheningan menyesakkan yang melingkupi. Sonja berbaring dengan wajah yang masih pucat meski sisa-sisa air mata nya tadi sudah tidak terlihat. Lebih tepatnya, tidak memperlihatkan pada sosok yang sedari tadi tidak membuka suara. Ibram duduk di dekat jendela dengan kepala menunduk. Merapatkan kedua tangan untuk menyangga tubuhnya. Tidak ada satu kata terlontar sejak setengah jam lalu, sejak ibu pulang dan meninggalkan keduanya. Walaupun sebenarnya banyak yang ingin diungkapkan, tapi keduanya tidak tahu harus mulai dari mana. Ketika Ibram mengangkat wajahnya, Sonja menelan ludah, kelu. Bukan raut seperti itu yang diinginkannya. Dia bukan sosok Ibram yang menjadi suaminya lebih dari satu

