“GO UCUP, GO UCUP, GO!” teriak Pras dan Sere yang sudah melewati danau.
Ya memang dari awal Ucup sudah ketakutan untuk melewati danau itu. Bukan, bukan ketakutan oleh danaunya, tapi ia hanya takut jika ada hewan-hewan seperti ular di dalam danau atau air danau yang kotor, itu bisa merusak kulit perem- err lelakinya maksudnya.
“Cepetan, Cup, lama amat begini doang,” Ucap Pras.
“Aduh, nanti eke kenapa-napa gimana? Lo pada mau pada tanggung jawab?!” ucap Ucup.
“Ngga usah banyak drama deh, Cup, tinggal lo sendiri yang belum ya di kelompok A,” ucap Pras.
“IHH, INI TUH BUKANNYA DRAMA, TAPI EKE KAN LAGI JAGA DIRI!” ucap Ucup tak mau kalah.
“Udah cepet, Cup, ngga usah alay banget. Gua yang cewek aja sampe kaga kenapa-napa,” ucap Sere lelah dengan semua tingkah laku Ucup.
“Iya, iya deh, bawel lo berdua!”
Ucup pun akhirnya mau tak mau melewati danau tersebut dan untungnya ia bisa melewatinya dengan selamat tanpa jatuh ke dalam danau.
Sedangkan di tempat lain, Amor terbangun dari tidurnya dan melihat Rega yang sedang tertidur di tempat duduknya. Amor sangat terkejut karna ia pikir setelah ia tidur, anggota OSIS itu akan pergi dari ruangan UKS. Tapi pikiranya salah, karna ternyata anggota OSIS yang mengantarkannya ke sini masih bersamanya sekarang dan ikut tertidur juga.
Rega terbangun dari tidurnya dan melirik Amor yang tengah menatapnya. Mata mereka saling bertemu hingga Amor memisahkan kontak matanya.
“Kau sudah bangun dari tadi?’ tanya Rega.
“Ya,” jawab Amor singkat.
“Apakah sudah mendingan? Ah, maksudku, apa kau sudah tak apa sekarang?” tanya Rega canggung.
Entah kenapa setelah saling bertatapan dengan Amor, d**a Rega tak berhenti berdetak hingga itu membuat dirinya canggung saat memulai pembicaraan dengan Amor.
Amor mengangguk sebagai jawabannya.
“Apakah acara pertama sudah selesai?” tanya Amor.
Rega mengedikan bahunya. “Aku dari tadi di sini bersamamu, bagaimana aku tahu?”
“Aku lupa,” ucap Amor.
“Aku akan melihatnya keluar,” ucap Rega.
“Tak apa, aku masih bisa berjalan sendiri,” sanggah Amor.
“Baiklah, kita berdua melihatnya, aku tak ingin terjadi apa-apa kepada murid baru,” ucap Rega.
Rega dan Amor pun berjalan beriringan ke tempat para siswa dan siswi baru berkumpul. Ada yang menatap mereka dengan tatapan iri, gemas, dan bahkan menatap tak suka. Tapi Amor hanya menunduk dan tak menghiraukan tatapan-tatapan tak enak kepadanya, hingga suara seseorang memanggilnya.
“MOR! SINII” teriak Ucup.
Amor mengangguk lalu pamit dengan Rega dan mengucapkan terima kasih karna telah membantunya tadi.
“Terima kasih telah menjagaku,” ucap Amor.
“Tak masalah, kunjungilah temanmu,” ucap Rega.
Amor pun menduduki dirinya di pinggir Sere dan juga Ucup.
“Ngapain aja nich lo dengan Abang Ganteng?” tanya Ucup menggoda Amor.
“Ngapain apa?” tanya Amor polos.
“Ngga usah dijawab, Mor, nih si Ucup emang agak ngga waras,” ucap Pras.
“Kalo gua ngga lagi kecapean, gua timpuk lo ya!” ucap Ucup kesal.
Setelah semua tim melalui danau, semuanya pun diberi istirahat selama 10 menit. Ah iya acara melalui danau tadi bukan hanya melalui dengan dua tali, tetapi dalam acara itu juga diberi beberapa rintangan saat sedang melalui danau yang cukup luas itu.
***
“Vic gua gabut banget nih, lo ngga gabut apa diem-diem mulu begini?” ucap Rangga kepada Vicko
“Gua lagi nugas begini lo bilang diem?” ucap Vicko yang dibalas cengiran oleh Rangga.
“Ayo dong, Vic kita datengin acara makrab aja yuk, Vic,” ajak Rangga seraya begelayut manja kepada Vicko.
“Apaan si lo, Rangga! Jijik gua liat lo begini. Cepetan siap-siap sono!” ucap Vicko mengalah.
Beginilah Rangga, ia selalu bisa mendapatkan hati Vicko dalam hal apa pun kecuali cinta. Begitu juga dengan Vicko yang hanya bisa mengalah karna ia tahu jika keinginan Rangga tidak diikuti, maka ia akan melalukan segala cara untuk meluluhkan hantinya, meskipun kadang memalukannya
“Serius nih, Vic? Ngga bercanda kan lo?” tanya Rangga.
“Buru siap-siap atau gua berubah pikiran!” ucap Vicko.
“Siap, Kapten!” seru Rangga yang dibalas gelengan oleh vicko.
Sedangkan di tempat lain, Amor, Ucup, Pras, dan Sere sedang melakukan kegiatan keduanya setelah beristirahat selama 10 menit.
“Baiklah, untuk acara selanjutnya, kita akan bermain dengan berloncat, berlari, dan juga menyeimbangkan tubuh. Setiap tim harus kompak untuk melewati rintangan-rintangan yang sudah tersedia nanti. Apakah bisa dipahami? Jika ada yang kurang jelas, maka angkat tanganmu lalu bertanya,” ucap Surya.
“Paham, Kak,” ucap siswa dan siswi baru serentak.
“BAGUS! Jadi bersiaplah untuk kegiatan kita!” ucap Surya yang dibalas sorakan semangat dari para murid.
“Jiakh, ada yang lagi fall in love nih, Del” ucap Tian merangkul bahu Rega.
“Siapa yang kalian maksud?” tanya Rega.
“Waduh, waduh, ada yang tidak mengaku, nih,” ucap Tian yang dibalas kekehan oleh Fadel.
“Bro, kalo lo tertarik itu deketin, bukan ddie-diem begini, payah amat lo jadi cowo, Ga” ucap Fadel yang diangguki oleh Tian.
“Apakah tidak terlalu cepat? Maksudku … kami bahkan baru berkenalan tadi saat di UKS,” ucap Rega.
“Lo mau tu cewe diambil orang duluan?” tanya Fadel.
Rega menggeleng cepat. Hei bagaimana mungkin ia ingin crush-nya diambil oleh orang lain? Tidak akan ia biarkan!
“Makanya, buru pepet, lebih cepat lebih baik, Bro!” ucap Fadel.
“Akan kucoba,” jawab Rega.
“Nah ini baru temen gua,” ucap Tian.
Setelah kegiatan ke dua itu berlangsung, semua murid diintrogasikan untuk kembali ke ruang kamarnya agar istirahat sejenak sebelum waktunya makan malam tiba.
“Haduh, cape banget nih eke. Untung kulit eke ngga jadi hitam gara-gara tuh sinar matahari,” ucap Ucup.
“Yaelah, sinar matahari sehat, Cup,” ucap Sere.
“Sehat sih sehat, tapi bikin kulit eke yang mulus ini jadi kering,” ucap Ucup.
Sere hanya menggelengkan kepalanya. Mengapa ia dulu bisa berteman dengan Ucup yang sangat repot dan heboh begini? Tapi jangan salah! Meskipun sikapnya menyebalkan, tetapi Ucup merupakan orang yang sangat penyayang dan perhatian kepada orang terdekatnya.
***
Waktu makan malam pun tiba. Semua siswa dan siswi diintrogasikan berkumpul untuk acara makan malam nya.
“Mor?” panggil Rega.
Amor menoleh ketika ada seseorang orang yang memanggil namanya
“Ah, ya? Ada apa?” tanya Amor.
“Bisakah kau membantuku?” tanya Rega lagi.
Amor terdiam sebentar lalu mengangguk dan mengikuti arah jalan Rega
“Kau meminta bantuanku untuk apa?” tanya Amor tanpa basa-basi.
“Membakar ikan. Kau bisa?” tanya Rega.
“Aku tak tahu cara membakarnya,” ucapnya lagi.
Sebenarnya Rega bisa membakar ikan, dan semua ini akal-akalan dari kedua temannya yang memberikannya ide untuk mendekati Amor.
Sedangkan di sisi lain, kedua teman Rega mengacungkan jempolnya kepada Rega yang berarti bahwa rencananya berjalan dengan lancar. Rega hanya tersenyum dan mengangguk ke arah dua temannya
“Kenapa aku seperti tak asing dengan bentuk tubuhnya?” gumam sosok wanita yang sedang berada di belakang amor dan juga Rega.