Chapter 9. Pengagum Terang-terangan

1305 Kata
“Cup, bangun, Cup, ngebo amat lo jadi orang!” ucap Pras yang duduk bersebelahan dengan Ucup. Ucup yang merasa terusik pun langsung memukul pelan mulut Pras dalam keadaan setengah sadar “Akh! Sialan lo, Cup, dibawa balik lagi sama ni bus mampus lo!” ucap Pras kesal. “Ngomong mulu lo! Ngga tahu apa ya, eke ini lagi bocan,” ucap Ucup manja. “Bocan bocan, iler lo banyak begini dikata bocan,” ledek Pras. “Gua begini begini masih cantik mirip Jennie blackpink ya, Pras. Lo aja pasti kegoda kan sama eke?” ucap Ucup dengan menaik-naikan alisnya. “Jijik gua yang ada, Cup... Cupp,” ucap Pras. Ia tak membayangkan jika dirinya dan Ucup menjadi sepasang – Ah lupakan, memikirkannya saja sudah membuatnya merinding “Mor, udah selese?” tanya Sere. “Hah? Oh, ya udah,” jawab Amor. “Ayo!” ucap Sere. “Ke mana?” tanya Amor polos. “Ke surga. Ya keluar dari ni bus lah, Mor, ada-ada aja pertanyaan lo,” jawab Sere sambil menggelengkan kepalanya. “Ah itu, baiklah, ayo!” ucap Amor canggung. Sere hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa Amor masih sangat canggung berteman dengannya, maka dari itu ia memakluminya. “Lo berdua udah selese belum, Cup, Pras?” teriak Sere. “Aman!” teriak Ucup tak kalah nyaring. “Kita tunggu di luar. Awas lo pada lambat,” ucap Sere. “Bawel bener lo, Ser. Gua sumpel juga mulut lo ye!” teriak Ucup. Tak ingin berdebat lebih jauh, Sere pun mengandeng tangan Amor keluar bus. Sedangkan Amor hanya diam dan mengikuti kemara Sere akan membawanya. “Haduh, panas banget sih! Bisa gosong nih eke,” ucap Ucup seraya mengibaskan tangannya. “Ck, lo laki ngapa alay bener si, Cup,” ucap Pras jengkel. “Eke ituh cewek, lo ngga liat ya muka cantik tubuh semok begini dikata laki?” ucap Ucup tak terima. Meskipun ya kenyataan dia memang laki-laki. “Terserah lo,” final Pras. “Anak-anak, semuanya harap berkumpul terlebih dahulu,” kata Surya ketua OSIS. “Dah cepet kumpul, ngga usah banyak debat!” seru Sere. Mereka pun berkumpul dan mendengarkan arahan yang diberikan oleh ketua OSIS dan anggota OSIS untuk acara MAKRAB. Setelahnya mereka diberikan kamar yang berisi 4 orang per kamarnya. “Mor, lo sama kita-kita aja, ya?” Sere membujuk. Amor mengangguk, ya meskipun ia ingin sendiri, tapi tetap saja tak bisa, bukan? Jadi ia memutuskan untuk mengiyakan tawaran Sere, karna sejujurnya ia pun tak punya teman di sekolah ini. Setelah dibubarkan, siswa dan siswi baru diintrogasikan untuk langsung menuju kamar dan mengistirahatkan dirinya, karna acaranya akan dimulai besok dari jam 7 pagi hingga petang. “Aduh, eke cape, lelah, letih, lesu,” ucap Ucup merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Lo mandi duluan sana gih, Cup, entar gua yang mandi duluan, lo malah ngamuk lagi,” ucap Pras. Ya, Pras, Ucup, Sere, dan juga Amor merupakan teman sekamar. Tapi di dalam ruangannya ini terdapat 4 kasur dan lumayan luas jadi aman meskipun ada lelaki dan wanita satu kamarnya. “Lo aja dulu deh,” ucap Ucup lalu memejamkan matanya. Pras pun mengambil handuk di dalam tasnya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi, tapi baru saja ia ingin membuka pintu, Ucup sudah masuk terlebih dahulu ke kamar mandinya. “HEH, UCUP! LO TADI BILANG GUA DULUAN YA!” teriak Pras kesal. Padahal tadi saat Pras menyuruh Ucup mandi, ia malah tidak mau dan memejamkan matanya. Tapi apa sekarang? Kenapa ia malah masuk terlebih dahulu ke kamar mandi? Huh, menyebalkan sekali perempuan jadi-jadian itu. “Badan gua lengket, Pras, gua duluan aja ye. Lo tunggu habis gua,” teriak Ucup dari dalam kamar mandi. “Mor?” panggil Sere. “Ah, iya? Mau ikut gua keluar bentar? Gua mau cari angin nih,” tawar Sere. Amor pun mengangguk. “Ayo!” Sere dan Amor pun keluar dari ruangan kamarnya. Oh ya, tentu saja mereka sudah berpamitan dengan Pras dan menyuruhnya untuk tidak menguncikan pintu karna mereka hanya keluar sebentar saja. “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Rega yang baru saja menghampiri mereka. “Hanya ingin mencari angin segar,” jawab Sere. “Bukankah kalian sudah diintrogasikan untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat?” tanyanya lagi. “Ya, kami tahu, tapi kami hanya berjalan sebentar,” jawab Sere. Amor hanya diam mendengarkan perdebatan orang yang ada di depannya ini. Sementara itu, Rega melirik sekilas ke arah Amor lalu menyuruh mereka berdua untuk kembali ke kamarnya. Sere pun hanya mengangguk pasrah dan mengandeng Amor menuju kamar mereka. “Nyebelin bener, sih! Mentang-mentang OSIS bisa seenaknya ngatur-ngatur!” gerutu Sere dan menghentak-hentakan kakinya. “Lo ngapa, Ser? Kesurupan lo? tanya Pras. “Itu tuh, anak OSIS yang kata si Ucup ganteng-ganteng, seenaknya dia nyuruh-nyuruh gua kaga boleh keluar kamar,” jawab Sere kesal. “Ya emang kaga boleh, Jamilah, lo aja yang batu!” ucap Pras yang mendapatkan hempasan bantal dari Sere. “Ada apa, nich? Eke denger ada yang ngomong ganteng-ganteng sama bawa nama eke tadi?” ucap Ucup yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Sere lagi kesurupan, Cup,” ucap Pras dan langsung lari ke kamar mandi agar tidak kena hempasan bantal lagi. “Sialan lo, Pras!” ucap Sere. Setelah berbincang-bincang, Amor, Ucup, Sere, dan juga Pras memutuskan untuk beristirahat agar tidak kelelahan esok harinya. “Oke semuanya, kegiatan pertama yang akan kita lakukan yaitu melewati danau tersebut dengan dua tali yang sudah disediakan. Tali yang atas untuk pegangan tangan kalian, dan tali yang bawah untuk kaki kalian yang akan menyebrangi danau,” ucap salah satu anggota OSIS. “Kalian paham?” tanyanya sekali lagi. “PAHAM!” ucap siswa dan siswi itu semangat. Sedangkan Amor hanya terdiam dan memikirkan bagaimana jika ia jatuh? Masalahnya ia tidak bisa berenang. Amor bahkan tidak menyadari di kejauhan ada seseorang yang sedang memperhatikan Amor dengan raut wajahnya yang kebingungan. “Ngapa lo, Ga?” tanya Fadel. “Hah? Oh, ngga apa,” jawab Rega gelagapan. “Suka sama entu cewe lo? Dari kemarin gua liat, lo perhatiin dia mulu,” ucap Tian kepo. “Engga tuh,” ucap Rega singkat lalu pergi meninggalkan Fadel dan Tian. Fadel hanya mengedikan bahunya acuh dan mengajak Tian untuk mengikuti Rega. Acara pun telah dimulai. Amor, Ucup, Pras, dan juga Sere masuk ke dalam kelompok pertama yang akan melewati danau tersebut. “Mor, lo kenapa? Muka lo kok pucat banget?” tanya Sere khawatir. Amor hanya menggelengkan kepalanya. “Kalo lo sakit, mending istirahat aja, Mor,” ucap Ucup. “Eke gamau liat kawan eke sakit ya,” tambahnya lagi. “Kak, kelompok kami ada yang sakit,” teriak Ucup kepada anggota OSIS yang sedang berkumpul. “Belum dimulai dah ada yang sakit aja. Urus sana, Del,” ucap Tian kepada Fadel. “Biar saya yang urus,” ucap Rega. Rega pun menyusul kelompok yang memberitahu jika ada salah satu temannya yang sakit. Sebenarnya ia sudah tahu jika Amor lah yang sakit karna terlihat dari mukannya yang terlihat pucat saat melihat danau. “Ikut saya!” ucap Rega. Amor hanya mengangguk dan mengikuti arah jalan Rega. “Duduk. Aku akan menyiapkan minum,” ucap Rega lagi. Amor pun mendudukkan dirinya di salah satu kasur yang disediakan ruang UKS. “Ini, minumlah!” kata Rega. “Apa kau ada trauma dengan danau?” tanya Rega langsung tanpa basa-basi. “Tidak. Aku hanya tidak bisa berenang,” jawab Amor. “Saya Rega,” ucapnya memperkenalkan diri. “Amor,” jawab Amor seadanya. Setelah perbincangan itu, tak ada lagi perbincangan di antara mereka. Mereka hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sebenarnya Amor bingung mengapa Rega masih di sini dan tidak mengurus acara? Tapi tak ingin ambil pusing, Amor pun memejamkan matanya dan terlelap. Rega melirik wajah damai Amor yang sedang tertidur, tanpa ia sadari bahwa bibirnya mengulas senyuman lebar. “Cantik,” gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN