Wolf sedikit menjauhkan tubuhnya. Ia kembali menyentuh jemari Yuriko dan meremasnya perlahan. Lalu, ia menatap manik mata indah wanita yang sangat dicintainya. "Aku ... Aku apa, Yuri?" tanyanya tidak sabaran. "A-aku ma-mau mencoba menjadi istri sungguhanmu," jelas Yuriko terbata. Meskipun masih terdengar sangat ragu-ragu, tetapi Wolf tidak mempermasalahkannya. Yuriko sudah mau mencoba menjadi istri yang sesungguhnya saja sudah membuatnya sangat bahagia. "Baiklah, mari kita coba," ujar Wolf bersemangat. "Tunggu! Apa kau tidak marah?" tanya Yuriko terkejut. Ia pikir, Wolf akan marah atau kecewa karena hubungan pernikahannya dijadikan sebagai bahan percobaan. Akan tetapi, ia justru mendengar jawaban di luar bayangannya. "Kenapa aku harus marah?" tanya Wolf sambil mengedikkan bahunya.

