Chapter 10
(Mencoba kabur)
●●●
Setelah kedatangan Jena tadi perempuan itu pergi untuk pulang saat malam tadi. Selama itu pula Arey hanya diam membisu, seolah dirinya tidak dianggap.
Sebenarnya sedari tadi Deon juga tidak banyak bercakap, tetapi tidak tau kenapa dia juga tidak mengajak Arey berbicara. Meliriknya saja tidak.
Kira-kira Deon kenapa ya?
Saat ini juga Arey sudah pamit untuk masuk ke dalam kamar duluan bertepatan saat Jena ini kembali pergi. Arey hanya sedang tidak mood dan bosan.
Coba kalian bayangkan, sedari tadi perempuan itu terus berceloteh dan bergelayut pada Deon. Memang sih Deon tidak terlalu menghiraukannya, tetapi seolah dia pasrah atas gelayutan dan responnya terhadap Jena.
Sedangkan Arey, hanya duduk di samping sofa single dan memainkan poselnya seperti tidak diharapkan kehadirannya.
Jena juga sepertinya sangat tidak menyukai kehadirannya di rumah ini, sepertinya merasa terganggu?
Apa jangan-jangan Deon dan Jena ini sepasang kekasih ya? Ah, jadi perlakukan Deon selama ini kepadanya hanya sekedar formalitas ya? Karena ingin menarik perhatiannya untuk mengambil batu darinya.
Hati Arey mencelos memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalanya.
Bagaimana ya caranya pergi dari sini? Aduh, sulit pasti. Deon itu sangat peka, apalagi Deon punya kemampuan di luar nalarnya.
Mengingat kemampuan Deon yang bisa membaca-
AH.
Apa jangan-jangan Deon membaca isi hatinya sejak tadi ya?
ASTAGA.
BAGAIMANA INI?
HAH. Arey panik.
Kuku jarinya dia gigiti, sambil memikirkan alasan Deon diam sejak tadi.
Apa Deon marah kepadanya?
Apa Deon sudah tau ya dia mau kabur?
Oh no. Jangan-jangan Deon juga tau alasannya ingin kabur.
Arey jadi tidak enak hati. Sebenarnya ucapan Jena itu benar tidak ya? Arey takut bahwa pikirannya yang memikirkan Deon tidak-tidak ternyata benar-benar tidak terjadi.
Arey malu banget.
Kaki Arey bergerak menuju kasur lalu membantingkan dirinya ke atas kasur kemudian menutup wajahnya dengan bantal.
"Apa aku pergi malam-malam ya? Deon sadar tidak ya?" ucap Arey pada dirinya sendiri.
Rasanya sudah cukup Arey tinggal di rumah mewah ini. Sudah merepotkan Deon banyak-banyak, lalu Arey dengan seenaknya menuduh lelaki itu.
"Oke, aku akan pergi. Maafkan aku Deon untuk semua tuduhanku, aku menyesal." Arey beranjak untuk masuk ke dalam kamar pakaian, mencari sesuatu yang bisa dibawanya untuk membantunya keluar.
Tidak ada apa-apa. Kosong sebenarnya.
Arey berjalan lesu kembali ke kasur.
Baiklah, Arey akan pergi hanya dengan ponsel dan dompet.
Nekat sih.
"Di dalam hutan, tidak ada apa-apa kan ya?"
Kaki Arey berjalan menuju pintu balkon yang sejak awal dia masuk ke dalam kamar ini belum sama sekali disentuhnya. Padahal Arey ingin sekali bermalam di sini sambil melihat bintang ditemani oleh segelas cokelat hangat.
"Woah, indah sekali." tangan Arey bersandar pada pinggiran balkon. Saat tadi Arey menginjakkan kakinya di balkon, angin malam langsung menerpanya lembut dan sejuk, membuat Arey tersenyum senang, terlebih ketika di langit terpampang bintang berkerlip sangat indah.
Bola mata Arey mengerjap begitu pandangannya beralih menuju pohon-pohon lebat yang berada di daerah luar gerbang rumah ini. Begitu lebat sampai-sampai cahaya bulan pun tidak menembusnya. Arey bergidik ngeri.
Tiba-tiba nyalinya ciut. Merinding ketika memikirkan dirinya hanya seorang diri berjalan menembus hutan lebat yang tidak tau di mana ujungnya. Begitu luas.
"Ugh, bagaimana ini? Apakah keputusanku tepat?"
"Atau keputusanku membawaku ke malapetaka?"
"Argh."
Arey mencengkram rambutnya kasar. Pusing memikirkan berbagai macam cara yang harus dilakukan untuk pergi dari rumah Deon.
Dering posel Arey mengejutkan lamunannya. Arey hampir saja melompat mendengar dering ponselnya sendiri.
Kok bisa ya?
Satu pesan masuk ke dalam ponselnya, membuat Arey mengernyitkan dahi. Bukannya tidak ada signal? Kenapa tiba-tiba ada?
Corey Jelek?
Kau di mana adikku yang manis? Kata bunda teman kuliahmu menelfon dan mengatakan kalau kau menginap di rumahnya. Ada apa? Tumben sekali.
Hah?
Teman kuliah?
Arey saja tidak memiliki teman.
Siapa ya yang berinisiatif menelfon bundanya dan mengatakan bahwa Arey menginap di rumah teman. Aneh.
Apa Deon ya?
Arey terkekeh, lagi-lagi dia menuduh Deon sesuka hatinya.
Tunggu deh. Kalau pesan di ponselnya saja bisa masuk, berarti Arey bisa kan pergi dari sini mengandalkan GPS di ponselnya?
Arey meloncat kegirangan sambil bertepuk tangan, seolah menemukan titik terang dari jawabannya.
Masih dengan perayaannya, Arey tidak memperhatikan langkahnya, dia tidak sadar kalau di belakangnya ada sebuah kursi santai. Kaki Arey kesandung dan hampir saja terjatuh jika tidak ada seorang yang menolongnya.
Arey mengerjapkan matanya, jantungnya bergemuruh karena kaget ingin jatuh. Tadi ia pikir tubuhnya akan jatuh ke lantai yang keras dan dingin, tetapi bukannya jatuh ke lantai keras, Arey malah jatuh ke dalam pelukan hangat lelaki bermata hijau.
Bola mata Arey sepertinya tidak mau beranjak dari pemandangan di hadapannya. Indah sekali, melebihi bintang yang sedang berlomba untuk menunjukan siapa yang paling indah.
"Kau lagi-lagi ceroboh." ucap Deon. Napasnya menerpa wajah Arey lembut, mengantarkan bau mint yang menenangkan. Kenapa ya, semua yang ada pada diri Deon selalu menenangkan.
Akhirnya Deon sendiri yang membantu Arey untuk berdiri dan melepaskan pelukannya.
Arey masih dalam keterkejutannya. Semuanya begitu membuat jantung Arey serasa ingin lepas.
"Kau tidak merasa kedinginan?"
Arey menggeleng.
Deon maju untuk bersandar ke pinggiran balkon, menikmati angin malam yang dingin.
Langkah kaki Arey ikut menghampirinya dan berdiri di sebelahnya. Deon ini terlihat lebih diam dari biasanya, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kau sedang ada masalah?"
Deon menghadap Arey lalu mengangguk. "Ada sesuatu yang sedang berkeliaran di kepalaku. Aku tidak bisa memutuskannya."
Mata Arey mengerjap. Sedikit binggung dengan maksud yang Deon ucapkan.
"Aku tidak mengerti."
Pandangan Deon kembali menghadap depan. "Menurutmu, jika kau berada di sana, apa yang akan kau lakukan?" tangannya menunjuk ke arah lebatnya hutan di luar gerbang.
Arey memperhatikan perginya tangan Deon. "Emm, aku tidak tau, mungkin akan menyalakan GPS?"
Deon terkekeh. "Tidak akan terlalu berguna. Akan lebih baik jika kau mengandalkan arah mata angin."
Arey mengangguk paham. "Kenapa kau membicarakan itu?"
Deon diam dan tidak membalas.
Hening.
Baik Arey dan Deon, tidak ada yang kembali bersuara. Asyik dengan lamunannya masing-masing, sampai akhirnya Deon beranjak untuk keluar dari balkon.
Tanpa meninggalkan apa-apa.
Membuat Arey bertanya-tanya. Tidak tau kenapa rasanya Arey ingin menangis. Hatinya mencelos, ragu sedikit akan niatnya untuk pergi. Akankah hasilnya baik?
•••
Sebenarnya Deon pusing sekali duduk di samping perempuan berisik ini. Sungguh, kalau tadi dia tau bahwa yang datang berkunjung adalah perempuan cerewet ini, dia tidak akan membukakan pintu.
Segala celoteh yang dikeluarkan oleh Jena tidak dia hiraukan. Deon terlalu asyik dengan lamunannya.
Tadi, Deon sebenarnya tau apa yang mereka bicarakan. Tentang Arey yang berpikir tidak-tidak dan Jena yang menghasutnya. Deon sedikit kecewa, hanya saja, dia tidak ingin Arey mengetahuinya. Dia tidak ingin menyakiti Arey, makanya dari tadi Deon diam saja.
Deon tidak menyangka kalau Arey sempat berpikir seperti itu, tetapi wajar sebenarnya. Karena, memang semua ini tidak tepat. Deon tau pasti perempuan itu sedikit terguncang atas sesuatu kejadian yang tiba-tiba menghampirinya. Seolah itulah takdir dalam hidupnya.
Apalagi semuanya berlalu begitu cepat, seolah tidak diizinkan untuk bernapas.
Sebenarnya baik Deon pun terpaksa, terpaksa karena terdesak. Dia terpaksa untuk bertindak cepat, terkesan memaksa, tetapi itulah yang sebenarnya dirasakannya.
Dia juga sadar kalau Arey merasa sedikit jengah dan bosan, Arey tidak nyaman, kakinya terus bergerak membentuk pola abstrak. Sebegitu lekatnya Deon memperhatikan.
Lalu, setelah Jena akhirnya memutuskan untuk pulang, bertepatan juga dengan Arey meminta izin untuk kembali ke kamarnya.
Sungguh, sebenarnya Deon tidak ingin mengabaikannya seperti ini, tetapi kenapa ya, tiba-tiba Deon penasaran dengan reaksi perempuan itu. Terdengar kekanakan bukan?
Ohiya, sebenarnya Deon juga tau tentang rencana Arey yang hendak kabur dari kamar ini. Deon tau kekhawatirannya dan rencananya, itulah kenapa saat malam hari, Deon memutuskan untuk menghampiri Arey.
Berperang dengan perasaannya sendiri, untuk rela membiarkan Arey bebas. Lagipula, bukan kewajibannya bukan Deon untuk menahan Arey? Perempuan itu bahkan bukan siapa-siapanya, bukan haknya bukan?
Argh. Sungguh, Deon rasanya ingin mengurung Arey saja di dalam rumahnya, tetapi apa boleh buat, dia tidak boleh berbuat seenaknya, hal yang dia lakukan sekarang ini saja sudah melanggar aturan, apalagi jika Deon ingin menyimpan perempuan itu untuk dirinya sendiri?
Menggelikan bukan?
Sungguh Deon sangat malu dengan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, setelah tadi berperang dengan perasaanya, Deon kini tengah berdiri di depan pintu kamar cokelat, mengetuk pintu sebelum masuk.
Lima menit Deon tunggu, tidak ada balasan dari dalam, Deon jadi panik, apa jangan-jangan perempuan itu sudah pergi? Tetapi, Deon masih bisa merasakan kehadirannya kok.
Akhirnya Deon memutuskan untuk membuka pintu dengan pelan, takut-takut perempuan itu sedang tertidur atau mungkin sedang berada di toilet.
Tetapi, saat Deon masuk ke dalam, keadaan kamar terlihat hening, kasur dan kamar mandi juga kosong. Kemudian pandangan Deon bergerak menuju pintu balkon yang ternyata terbuka lebar, dia melangkahkan kakinya untuk ke sana melihat bagaimana perempuan itu begitu senang berada di sana.
Deon memperhatikannya dalam diam, memperhatikan bagaimana raut perempuan yang belum menyadari kehadirannya. Arey bahkan bisa terlihat begitu senang ketika ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.
Dia sengaja. Deon sengaja, dia sudah mengatur semuanya.
Dan terbayarkan puas, melihat senyuman di wajah Arey, membuat Deon turut senang atas keputusannya untuk membuat perempuan itu bebas.
Tetapi ceroboh tetaplah ceroboh, tidak bisa dihilangkan dari diri Arey. Kursi sebesar itu saja bahkan tidak dilihatnya, membuat tubuhnya hampir terjatuh ke lantai yang dingin kalau reflek Deon tidak berjalan cepat untuk menangkap tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Dipandangnya bola mata cokelat itu, yang bersinar di bawah terang bulan. Sangat indah, Deon menyukainya. Wangi harum Arey yang menyeruak ke dalam penciumannya, Deon begitu menyukainya.
Deon tidak mau lama-lama memeluk tubuh itu, berbahaya akan kesadarannya. Dia tidak mau dimabuk oleh tubuh kecil itu. Tidak boleh.
Lalu, Deon juga sebenarnya sengaja bertanya kepada Arey tentang pendapatnya jika harus pergi ke luar gerbang rumah, di mana terdapat hutan dengan pohon yang lebat.
Tetapi, lagi-lagi, respon perempuan itu terlihat sangat positif dan senang, membuat Deon kembali dilanda rasa bersalah.
Baiklah, kali ini Deon benar-benar akan membiarkannya. Lagipula, Deon juga bisa mengawasinya dari jauh. Deon tidak ingin perempuan itu merasa terkekang, dia ingin perempuan itu merasa bahagia dan aman.
Setelah pertanyaannya tadi, mereka berdua terdiam. Baik Deon dan Arey juga tidak ada lagi yang bersuara.
Deon yang asik dengan pemikiran dan kegalauannya, sedangkan Arey asik dengan mempersiapkan keberaniannya untuk pergi.
Akhirnya, setelah tadi Deon berjanji akan menjaga Arey, Deon juga bersumpah kalau tidak akan ada yang bisa menyentuhnya lagi. Maupun Albert sekalipun. Deon sangat akan membuat perhitungan kepadanya. Karena, Deon tau Albert adalah orang yang sangat egois dan serakah, dia tidak akan membiarkan perempuan tidak bersalah seperti Arey untuk masuk ke dalam hidup Albert.
Ohiya, Deon juga akan mencari tau siapa perempuan yang kemarin ada di rumah Albert, sepertinya perempuan baik-baik. Deon akan berusaha menyelamatkannya.
Lalu pandangan Deon beralih lagi ke arah Arey, perempuan itu terlihat sedang melamun. Deon tidak akan mengganggunya, Deon akan membiarkan perempuan itu untuk bergumul mengumpulkan keberaniannya.
Tidak apa. Deon akan menjaganya.
•••