Chapter 18 (Rebel moment) ●●● Tarik napas, hembuskan. Tarik napas, hembuskan. Tarik napas, hembuskan. Mungkin sudah lebih dari 3 kali Rebel menghembuskan napasnya tetapi hatinya masih belum tenang juga. Setelah tadi tiba-tiba Albert menarik tangannya untuk duduk di atas pangkuannya dan tangan besar itu bergerak memeluk tubuhnya rasanya Rebel sudah kehilangan kewarasannya. Rebel tidak menyangkal atas rasa nyaman berada di pelukan pria itu. Sejak lima menit yang lalu pula Rebel belum membuka suaranya lagi, asik membiarkan detak jantungnya berdegub kencang ketika berada di posisi ini. "Jadi, kau hanya ingin memelukku?" suara bisikan Albert di dekat telinga Rebel terdengar, membuat Rebel merinding dibuatnya. "Sebenarnya a-ada yang ingin aku ucapkan," ucap Rebel sedikit terbata-bata.

