Lawang, 14 Juli 2011

919 Kata
"Anak Rosa itu apa dia anakmu?" tanya Jingga ketika dia sudah duduk di jok.belakang motor Krisna menuju pabrik. Jingga memandangi Krisna cukup lama. Pemuda itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya merespon. "Aku harus bertanggung jawab." Itulah yang diucapkannya. "Aku sudah menghancurkan hidupnya." Jingga terdiam sejenak dia mengingat kata-kata Vio tadi. "Cerai apanya? Kamu bahkan tidak menikah!" Krisna dan Rosa tidak menikah. Bagaimana mereka bisa memiliki anak? Krisna barusan bilang dia yang menghancurkan hidup Rosa. Mungkinkah Krisna melakukan hal itu? Jingga menutup mulutnya. Dia tidak bisa membayangkannya, Krisna yang dia kenal memang berandal tapi cowok itu tak pernah menyakiti wanita. Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi. Jingga ingin bertanya tetapi dia tidak berani.  Jingga mengingat kembali sosok Rosa yang tadi ditemuinya. Gadis yang dulu centil itu kini benar-benar sudah berubah. Jingga ingat dulu Rosa bercita-cita menjadi seorang model. Dia ikut sedih karena Rosa tidak dapat mewujudkan impiannya itu. Bahkan Rosa hanya menjadi seorang kasir minimarket. Apa sebenarnya yang terjadi hingga nasib buruk menimpa sahabatnya itu? Sepuluh tahun telah berlalu, Jingga tak menyangka perubahan yang terjadi ternyata begitu drastis. "Vio ... Bagaimana dia berubah jadi galak dan jahat begitu?" lirih Jingga. Dia teringat pada sosok sahabatnya di mini market tadi. Dulu Vio adalah gadis yang lembut dan manis. Sikapnya hari benar-benar membuat Jingga hampir tak mengenalinya. Bagaimana bisa dia mendengarkan kata-kata yang begitu kasar keluar dari bibir tipis yang mempesona itu? Apa yang terjadi sehingga Vio berubah menjadi seperti itu? "Ada banyak hal yang terjadi sejak kamu pindah," kata Krisna. "Sepuluh tahun sudah berlalu dan semua sudah berubah." Jingga terdiam. Apakah ini yang menjadi penyebab teman-temannya tidak ada yang menghubungi dia? Apa sebenarnya yang terjadi ketika Jingga tidak ada di sini?  "Apa benar sekarang ini kalian sudah putus hubungan?" tanya Jingga ketika dia sudah duduk di jok belakang motor Krisna menuju pabrik mereka. Krisna melirik Jingga dari kaca spionnya. Mata gadis itu tampak sendu. Dia pasti sangat terpukul mengetahui teman-temannya kini sudah berubah drastis. Jarak dan waktu tak hanya memisahkan raga namun juga hati mereka. "Hm." Krisna hanya menjawab dengan gumaman dan anggukan kecil. "Bagaimana dengan Seta, Erwin dan Biru? Kamu juga bertengkar dengan mereka?" "Bisa dibilang begitu," sahut Krisna sembari membelokkan setir menuju halaman parkir PT Otsuko. Dia lalu menghentikan motornya tepat di samping sepedah pancal milik Jingga. Jingga turun dari motor Krisna lalu menatap mata cowok itu lekat-lekat. "Sejak kapan kalian jadi seperti ini? Apa yang menyebabkan kalian begini?" cerca Jingga. Krisna menghela napas lalu membuang muka. "Sejak dia meninggal." Jingga membeliak. Degup jantungnya berpacu cepat, dadanya terasa nyeri, tubuhnya gemetaran. Dia berharap apa yang baru saja didengarnya itu salah. "A-apa? Kamu bilang apa barusan?" tanya Jingga. Krisna tergegap saat melihat ekspresi Jingga itu. Dia menatap Jingga dengan nanar. "Kamu ... kamu belum tahu?" tanya Krisna. Krisna menghembuskan napas lagi kemudian berkata. "Dia sudah meninggal, sembilan tahun yang lalu." Jingga merasa kakinya seketika melemas. Dia limbung dan jatuh ke tanah. Krisna terkejut dan segera berjongkok di sampingnya. "Jingga, kamu nggak apa-apa?" tanya Krisna. Jingga terdiam, tatapan matanya kosong.. Perlahan air mata mengalir dari pelupuk mataq dan membasahi pipinya. "Bohong ... bohong...." Jingga merintih disela isaknya. Bahu gadis itu bergetar hebat. Dia mencengkram lengan baju Krisna lalu memukuli sahabatnya itu berkali-kali. "Yang kamu katakan barusan itu bohong, kan? Katakan itu bohong!" hardik Jingga. Krisna hanya terdiam. Dia tak tahu harus menjawab apa. Dia membiarkan Jingga meraung dan menangis di hadapannya. *** "Ibu, aku mau nasi goreng!" Biru kecil berseru dengan riang gembira sambil mengacungkan mainan robot pemberian Krisna di tangannya. Rosa membelai puncak kepala putra semata wayangnya itu. "Kamu kerjakan PR dulu, Ibu masak. Nanti kalau sudah selesai kita makan bersama," jawab Rosa. "Oke!" Biru kecil melompat-lompat lalu berlari menuju kamarnya. Rosa tersenyum kecil. Rosa tak menyangka janin yang sudah berulang kali coba untuk digugurkannya itu kini menjadi sosok anak yang begitu menggemaskan. Malaikat kecilnya itu kini menjadi alasannya untuk terus menjalani hidup. Ya, sepuluh tahun yang lalu dia hamil diluar nikah. Peristiwa itu terjadi pada malam ketika dia dan teman-temannya menginap di Villa milik keluarga Biru di Batu. Krisna membawa minuman keras hingga mereka semua mabuk. Akibat kejadian itu Rosa diusir dari rumah, dikeluarkan dari sekolah dan kehilangan impiannya menjadi model. Parahnya tak ada satupun temannya yang mau mengaku siapa yang telah membuatnya menderita. Setahun setelah itu barulah Krisna datang padanya. Rosa mendesah saat otaknya tiba-tiba saja mengingat tentang Krisna. Kenapa cowok itu terus saja mengusiknya. Ini sudah sembilan tahun dan Rosa tak pernah berhenti menolaknya. Kenapa dia tak pernah menyerah? Sampai kapan dia mau begitu? Apa yang membuatnya begitu ngotot? Apa karena dia memang ayah dari Biru? Rosa berdecak kesal. Dia harus menghilangkan Krisna dari dalam kepalanya. Memikirkan makhluk itu hanya akan membuatnya emosi. Sembari mengupas bawang merah Rosa melihat memandangi langit dari jendela. Langit yang berwarna biru itu selalu mengingatkannya pada sosok yang dulu sangat dicintainya. Jingga hari ini dia pulang. Setelah sepuluh tahun gadis itu pergi dia akhirnya kembali. Seandainya dulu Jingga tidak pergi, apakah hari ini orang itu masih hidup? Rosa mengingat bagaimana orang itu sering tampak murung setelah kepindahan Jingga. Seandainya Jingga tetap di sini, apakah orang itu akan mengambil keputusan yang berbeda untuk mengakhiri hidupnya? "Ibu?" Suara Biru membuyarkan lamunan Rosa. Anak umur delapan tahun itu menatap Rosa dengan gamang. "Kenapa Ibu menangis?" tanyanya. Rosa segera menghapus air mata yang menetes di pipinya lalu tertawa. "Enggak, ini gara-gara mengupas bawang," dusta Rosa. "Benar? Bukan karena Ibu sedih?" tanya bocah kecil itu penuh perhatian. Rosa meletakkan pisau dapur lalu menghampiri Biru dan memeluknya. Dia sungguh bersyukur karena malaikat kecil ini telah dititipkan kepadanya. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN