bc

Rahasia Sebuah Hati. First Love

book_age18+
820
IKUTI
2.8K
BACA
love-triangle
sex
goodgirl
police
sweet
campus
highschool
office/work place
first love
school
like
intro-logo
Uraian

Dea Amanda seorang siswi yang cantik, rajin dan berprestasi tiba-tiba jatuh cinta dengan pemuda sejak duduk di bangku SMA, dia adalah Dana Dirgantara. Namun cinta itu terhalang karena perbedaan status sosial dan ancaman perjodohan. Dana memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Anti begitu juga dengan Dea, Alex adalah pacarnya saat ini. Karena cintanya yang begitu besar pada Dea membuat Dana berjanji pada hatinya untuk mendapatkan Dea sebagai Cinta pertamanya dan terakhir baginya. Oleh karena itu Dana berjuang untuk memantaskan dirinya agar layak bersama dengan Dea, Dana berhasil menjadi seorang perwira AKPOL dan segera menyampaikan niatnya pada Dea. Namun tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Saat mereka siap satu sama lain, ternyata Alex berjalan lebih cepat dari pada Dana dan berhasil membuat Dea berada pada pilihan yang sangat sulit. Mampukah mereka bertahan dan berjuang menyatukan cinta mereka? Ataukah mereka akan menyerah pada keadaan? Atau mungkin mereka justru bersatu hanya dalam cinta tanpa memiliki? Bagaimana perjuangan cinta pertama yang mereka lakukan?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 Siapa Dia?
"Tumben kekantin ini?" Tegur seorang pria tampan padaku. Kaget tentu saja, karena sudah sebulan lamanya menjadi siswa SMA namun tidak pernah bertegur sapa dengan laki-laki. Apalagi dalam pandanganku dia cukup tampan. Bersekolah disebuah SMA favorit di ada di kabupaten Luwuk, Sulawesi Tengah membuat mereka tidak mudah untuk menemukan sosok tertampan karena banyak pria tampan di sekolah ini termasuk pria yang baru saja menyapanya itu. Aku terdiam tak percaya dan hanya mematung hingga akhirnya Moning menarik tanganku untuk masuk ke dalam kantin. Aku bergegas masuk tanpa menoleh ke belakang lagi, memesan apa yang ingin aku makan sejak tadi, kemudian memilih duduk bersebelahan dengan sahabatku itu. "Namanya Dex Dana Dirgantara, cowok keren kelas sebelah" Moning memulai percakapan. Aku menatapnya dengan lembut dan senyum, ku gelengkan kepalaku. Tidak ada keinginan di kepalaku untuk menanyakannya lagi karena pasti akan membuat sahabatku itu mengejekku habis-habisan. Aku justru memperlihatkan ekspresi nggak peduli. "Nggak usah gitu juga ekspresinya, De" Suci menimpalinya. Kami bersahabat sejak SMP bahkan sejak SD. kami memiliki karakter persabahatan yang saling melengkapi. Aku sangat bahagia memiliki mereka, bahkan kami memiliki nama grup, MoDeCiTi. Moning, Dea, Suci dan Siti. Persahabatan sejak masih kanak-kanak hingga remaja ini membuat kami saling memahami satu dengan yang lainnya. Aku memilih diam saja dan menikmati makanan yang sudah ada didepan mataku. Sesekali kusempatkan untuk melirik sahabat- sahabat ku itu yang makan dengan sangat lahap sambil terus tersenyum mengejekku. "Aku nggak kenal sama dia, Mon" balasku dengan cuek dan tetap melanjutkan makanku dengan tenang. Moning mendesah perlahan dan menatap wajah Dea dengan tatapan serius, "Kamu terlalu serius dengan buku De, sekali-kali bolehlah angkat kepala dan pandang tuh betapa banyaknya cowok ganteng disekolah kita, dan bahkan boleh jadi bisa jadi kenang-kenangan masa putih abu-abu kita, De" kali ini Suci menyambungnya. Mereka saling sambung menyambung membahas tentang cowok keren tadi. ‘ah, dia memang tampan’ kesalku dalam hati. Aku menggelengkan kepalaku dan tak mau menjawab. Merekapun pasrah melihat reaksiku. Dea Amanda adalah seorang siswi cantik, cerdas dan dari orang terpandang. Kecerdasannya dalam pembelajaran memang sudah terkenal sejak SD hingga sekarang jadi sudah bukan hal yang baru bagi sahabat- sahabatnya. Namun, kecerdasannya itulah yang sudah membuat Dea tidak mengangkat kepalanya itu melihat pria tampan, karena seriusnya dengan dunia pendidikan dia memilih melupakan yang namanya pacaran. Memiliki kakak laki – laki yang posesif dan orang tua yang selalu menekankan kesuksesan di atas hubungan cinta menjadikan Dea tidak pernah menjatuhkan pandangannya pada makhluk bernama lelaki. "Ayo cepat, kita harus ke kelas, kalau terlambat bakalan berdiri sepanjang pelajaran loh, pelajaran Pak Wildan, Ekonomi" ancamku pada mereka. Merekapun bergegas mengikutiku setelah membayarnya. “Nggak usah terlalu tegang keles” Moning mengejekku. Pak Wildan adalah guru ekonomi yang sangat disiplin, tidak boleh terlambat masuk ke kelasnya walaupun hanya sedetik saja. Menakutkan, dan inilah yang membuat mereka harus segera bergegas ketika menyadari makanan sudah habis tanpa menunggu bel berbunyi. Sepanjang jalan menuju ke kelas aku melihat Dana memandangku dari sisi kelasnya, aku menjadi risih dan tidak nyaman. Akupun memilih untuk berjalan diantara sahabat-sahabatku agar tidak terlalu terlihat olehnya. Bel pulang telah berbunyi dan kami pun langsung keluar kelas. bersama-sama berjalan kaki menuju kerumah yang berjalan dengan menempuh waktu 20 menit dengan berjalan kaki, namun kami sangat menikmati perjalanan ini. Beginilah aktivitas ini sehari-hari kami lewati bersama sahabat- sahabat yang selalu menyenangkan. "Kamu beneran nggak mau tau tentang Dana, De?" Moning memulai pembicaraan. Aku menggeleng dan berusaha untuk tidak membahas tentang laki-laki. "Kenapa De?, mencobalah, ini masa putih abu-abu kita" Suci menimpalinya. “Memang masa putih abu- abu kata orang adalah masa yang sangat menyenangkan dan indah untuk dikenang. Namun bagiku semua masa adalah sama, tidak boleh ada cinta yang mungkin berakhir luka”. Jawabku entang pada mereka. “Sok tau kamu” Moning Kembali mengejekku. Mereka tertawa bersama dan terasa menyenangkan. “Cerita ini sering aku dengar dari sahabat- sahabat kakakku yang kecewa karena putus cinta” Dea menjawab mereka dengan tatapan santai. Aku menghela napas setelah menjawab pertanyaan sahabat-sahabatku ini. "Aku masih mau fokus belajar Mon, Ci. Aku merasa masih terlalu kecil untuk pacaran, kayaknya belum layak aja" sambil tersenyum kearah mereka. "Kita sudah SMA De, nggak apa-apa kali kalau pacaran, yang penting nggak kebablasan. Ha haaaaa" kali ini Siti berkomentar. Sahabatku ini memang rata-rata sudah punya pacar, walaupun aku tau hanya cinta monyet. Tapi aku belum berani untuk pacaran. Aku ingat bagaimana susahnya aku menolak tembakan kakak kelasku saat masih dibangku SMP. "Aku suka kamu De, mau nggak kamu jadi pacarku?" Puja namanya. Sejak kami terlibat tarian bersama, dia memang sangat memperhatikanku dan terang-terangan menembakku. Tapi aku teringat pesan ibuku, untuk tidak menolak laki-laki dengan kasar, agar tidak menyakiti perasaannya. 'Bagaimana sekarang?' gumamku dalam hati. Lama aku hanya diam dan tak berani berkata. ini adalah pertama kalinya ada pria yang berani mengutarakan isi hatinya padaku. "Aku belum mau pacaran kak, masih SMP. Masih terlalu kecil" alasanku ini menurutku masuk akal. "Aku menunggumu saat SMA, ingat ya. Aku mencintaimu" Puja melanjutkannya. Aku tersadar dari lamunan saat Moning mengatakan salam perpisahannya karena akan berpisah dipersimpangan jalan menuju rumahnya. "bye kalian" sambil melambaikan tangannya. Akupun menyambutnya dengan lambaian tangan dan tentu saja ditambah senyum mengembang. "Sampai besok ya" Jawabku Satu persatu pulang hingga akhirnya aku yang rumahku berada paling akhir, berbelok menuju rumah dan sesampainya dirumah aku langsung berganti pakaian dan istirahat. Ibuku memanggilku dan menyuruhku untuk makan. "Makan dulu De, dah mau sore. Sebentar temani ayah kepertemuan di kecamatan. Katanya harus ada perwakilan dari pemuda pemudi desa kita. Kamu kan ketua karang tarunanya, jadi perginya bareng ayah saja" Aku mengangguk tanda menyetujui saran ibu. Kemudian mempersiapkan diri mengikuti kegiatan tersebut. Aku memang nggak pernah pacaran tapi kalau dibilang masalah kegiatan sekolah maupun kegiatan di desa aku nggak kalah seru. Teman tentunya banyak aku miliki tapi nggak ada lowongan untuk pacaran. Mengurus kegiatan karang taruna memang banyak berhubungan dengan banyak anggota dan pengurus karang taruna yang dominannya laki-laki, tapi sifat kekanak- kanakanku membuat keinginan mereka untuk ‘say love to me’ nggak kesampaian. Karena tau nggak bakalan diterima. "Ibu, masakannya enak" aku memuji masakan ibu "Iya dong" adikku keluar dari kamarnya, kemudian menghampiriku. Adik perempuanku satu- satunya yang saat ini sedang duduk di bangku SMP. Aku tersenyum dengan adikku ini. "Gimana sekolahnya Wik?" tanyaku pada adikku ini. sambil menarik hidung mancungnya saat aku selesai makan. ibuku tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah kami. "Asyik kak, tapi juga mulai sibuk. SMP banyak pelajarannya nggak sama dengan SD ya" keluhnya. Aku hanya terkekeh saja mendengar ceritanya. * Rapat dimulai dan aku melihat kak Puja duduk diantara pria-pria lainnya. Dia tersenyum kearahku, dan aku menatapnya seperti biasa. Tak ada yang spesial bagiku. "Gimana kabarmu De?" Puja memanggilku saat rapat selesai. "Baik kak" Aku bercerita seperti biasa dengan Puja dan teman-temannya. "Apa jawabanmu sekarang?" lanjutnya kemudian "Maksud kak Puja?" aku menjawabnya lagi Aku berusaha mengingatnya, kembali teringat saat masih di bangku SMP. "Aku masih menunggu jawabannya, De" Puja menatapku dengan penuh harap. Tak ada getar itu dihatiku, hanya biasa saja. "Kayaknya aku belum mau pacaran kak, kita bisa berteman dengan semuanya kak, jadi bisa cerita sama siapa aja" jawabku tegas. "Baiklah" Puja mengakhirinya dan berpamitan terlebih dahulu. Kak Puja adalah kakak kelasnya di SMA saat ini. Disekolah favoritku ini, SMA Negeri 1 Toili, dengan siswa yang hampir seribu orang pastilah tidak mudah memperhatikan dan kenal dengan kakak kelas kita. Namun kak Puja sudah aku kenal sejak SMP karena kami pernah terlibat kegiatan tari bersama dan kak Puja adalah pasangan tariku. Tapi aku hanya bersikap seperti seorang adik dan kakak. Tak pernah ada dalam pikiranku rasa suka itu, apalagi Kak Puja adalah teman akrab kakakku, Putra. * Pagi yang cerah ini 'Aku piket hari ini, harus datang lebih awal' gumamku dengan berjalan lebih cepat. Hingga akhirnya sampai disekolah dan menyelesaikan tugasku bersama teman-temanku. "Pagi De" sapanya, sambil terus berjalan melewatiku menuju ke kelasnya yang bersebelahan dengan kelasku. "Pagi ju.." aku terdiam. "Kamu...." aku kembali menjawab "Iya, kok kaget?, kayak ngelihat set@n aja. belum kenal namaku kah?" ia melanjutkan kata-kataku. Ada yang aneh dengan pikiranku, aku terpana dengan matanya. Aku hanya terdiam dan tak menjawab. 'Apakah itu... Dana?' dalam hati aku bertanya. Dia tampak tampan, pikirku. Moning menarikku kearah lapangan untuk mengikuti apel. 'Oh Tuhan, apa ini, kok tiba-tiba aku jadi begini' pikirku. 'Hatiku, hati-hati ya, jangan dulu melihatnya dengan hatimu, belum saatnya bagimu' sekali lagi aku bergumam sendiri, berperang dengan hati agar dia tetap tenang dan tidak menunjukkan reaksi yang akan membuatmu sakit hati atau reaksi yang nantinya tak mampu kau kendalikan dengan dirimu sendiri. Aku harus tetap bertahan pada prinsipku untuk tetap menomor satukan pendidikan jangan dulu mengisi cinta dan pacar dalam urusan masa depan. Aku memutuskan berlalu menuju ke kelasku mencari sahabat-sahabatku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook