Bab 5 Bertahan dengan Hati

1083 Kata
Ketika cinta hadir, kita bahkan tidak mengerti apakah rasa ini benar cinta yang tulus atau sekedar rasa nyaman. Namun bertahan menjadi pilihan untuk menyadari kehadiran cinta itu. Dana selalu tersenyum padaku ketika tak sengaja kami bertemu muka, namun secepat kilat aku memalingkan wajahku seolah tak pernah mengenalnya. Namun tak bisa kupungkiri bahwa aku menginginkan pertemuan dengannya, hatiku selalu ingin tau tentangnya seperti saat ini. Debaran hati yang tidak bisa digambarkan lagi ketika tak bertemu muka ataupun mengetahui kabarnya sehari saja, namun apa yang terjadi beberapa hari belakangan ini membuatku sedikit frustasi. "Mon, Dana apa kabarnya ya?" tak bisa kusembunyikan rasa ingin tahuku pada Moning karena seharian ini aku tak melihatnya. Matahari pagi menyinari indahnya suasana sekolah yang menyapa mekarnya bunga ditaman sekolah. Sambil menunggu jawaban menggoda dari sahabatku itu, ku tarik nafas dalam-dalam agar mampu menerima apapun kabar dari rahasia hatiku itu. Sambil melemparkan senyum terindahnya sahabatku itu menjawab "Entah dia benar-benar bahagia atau hanya pengalihan saja yang jelas dia masih setia memperhatikan gerak gerikmu, De. Aku sendiri yang melihatnya" sahabatku itu tak mau melihat pandangan menusukku, dia mengalihkan pandangannya pada aktivitas siswa-siswi di lapangan volley ball yang menampilkan keseruan permainan itu. Setidaknya hatiku sedikit mendapat jawaban indah karena ternyata cinta itu masih ada, mungkin Dana punya alasan sendiri untuk semua keputusannya memacari Anti saat ini. Walaupun mereka terlihat semakin mesra dan semakin dekat, aku tak peduli. Bagiku dia masih memiliki rasa itu, rasa yang tak sempat diungkapkan padaku juga rasa yang tak meminta balasan. Pikiranku berkelana saat kami pertama bertemu, senyum itu begitu indah dan terasa hangat. Kapan pertemuan indah itu akan berakhir indah. “Baiklah, kita harus melanjutkan pembelajaran kita, let’s move on Mon” aku menarik sahabatku menuju kelas. Dia tampak bingung dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba itu. Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum padanya. “Ayolah, bukankah ujian sudah dekat” sambungku lagi. “Ya udah, si bintang kelas kali ini lagi semangat” dia mengikutiku dibelakangku namun secepat itu pula dia menarik pinggangku untuk berjalan beriringan dengannya. * Sekarang kami duduk di kelas 2 SMA di sebuah pusat kecamatan di daerah Toili, Sulawesi Tengah. Daerah yang bisa dikatakan memiliki perkembangan yang sangat pesat, walau jauh dari pusat provinsi namun kehidupan perekonomian masyarakatnya sangat pesat. Entah ini nasibku atau takdirku, aku sekelas dengan Anti pacar Dana di kelas 2E. Jumlah siswa yang hampir diangka seribuan orang maka tak heran bila dikatakan sekolah ini adalah sekolah favorit dikalangan orang pedesaan seperti kami. Apakah ini awal derita ataukah pertengahan derita, hari-hari harus lebih menyedihkan dari ketika kami di kelas X. Rasanya remuk redam saat Dana mengajaknya cerita atau bahkan menikmati snack ringan di saat jam istirahat itu berdua dengan Anti. Terlihat jelas bagaimana lembutnya perlakuan Dana terhadap Anti. Anti yang tidak pernah tau tentang kedekatan kami sebelumnya tak pernah memperlihatkan sikap memanas-manasi aku dengan Dana dan yang lebih aneh Dana bersikap seolah-olah kami tidak pernah dekat.  'Mungkin ia sudah benar- benar melupakan rasa itu padaku' pikirku dalam hati. "Anti, polpenku hilang dan pinjam polpenmu ya" rengek Dana pada Anti. Siti yang masih setia menjadi teman sebangkuku hanya tersenyum padaku sambil terus mengalihkan pandanganku untuk tetap berkonsentrasi pada tugas Matematika yang belum selesai kami kerjakan. Aku teringat kembali dengan perkataan Moning beberapa hari lalu sehingga Aku mantap kembali pada tugasku di atas meja. “Dea, coba kau perhatikan soal ini, bila integralnya sudah sesulit ini aku nyerah deh” Siti terlihat frustasi dengan tugas-tugas yang lumayan banyak. "Integral parsial? aku juga nyerah" sambung Suci. Dalam setiap kegiatan pembelajaran, aku memang menjadi tameng buat sahabat-sahabatku, tapi saku sangat menikmatinya, aku senang dengan mereka dan segala hal yang kami lewati bersama dalam pembelajaran. “Baiklah, kita kerja sama-sama ya” senyumku pada Siti namun ternyata tiba-tiba pandangan kami sama-sama terarah pada sebuah buket indah. Dea dan Siti memandangi sebuah buket yang dibawa oleh Riris ke kelasnya. Ternyata pandangan itu juga berasal dari Dana, dia memperhatikannya. “Titipan dari cowok IPA 3” Riris langsung memberikan buket itu kepadaku. Kaget tentu saja karena aku nggak pernah tau bahwa ada pria lain yang memperhatikanku selain Dana, hal ini karena aku terlalu larut dalam perasaanku sendiri. “Hah… siapa?” “Nggak tau De. Aku Cuma disuruh ngasi aja” Riris kemudian pergi meninggalkan kami. Dea membuka sebuah kertas disana dengan tulisan indahnya. “Dear Amanda. Kakak jatuh cinta saat Dea menari pertama kali di acara pembukaan MPLS. Pandangan matamu tak mampu kakak lupakan. Kakak jatuh cinta. Jadilah wanita istimewaku” Dea menutup kertas kecil itu. “Alex” Lirihnya Moning terlihat mendekati Dea yang sedang memandangi buket indah itu. "Dea, ada senior kita kelas IPA 3 yang naksir kamu tuch, namanya Alex Darmawan, katanya sih dah lama banget pengen nembak, tapi belum punya kesempatan aja" kata Moning "Hmmmmm, ga usah disuruh nembak Mon. Aku ga mau pacaran" jawabku Moning dengan memelas melanjutkan kata-katanya "Please deh De, pikirin sekali lagi. Apakah kamu tau, bahwa  obat patah hati itu ya jatuh cinta lagi" lanjutnya. Aku tampak berfikir untuk mencerna kata-katanya, aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku sembari berfikir 'benarkan aku patah hati pada Dana? apakah seperti ini rasa patah hati ini? lalu apakah aku mau jatuh cinta lagi dengan orang lain atau hanya menjadi pelampiasan saja?' seakan menjadi boomerang dalam diriku aku menghela napasku dengan kasar. "Aku mau konsentrasi belajar aja Mon, belum mau pacaran-pacaran" sambil tersenyum padanya dan meyakinkan dirinya bahwa kali ini aku nggak akan menoleh kebelakang lagi. Fokus pada belajar, belajar dan belajar. “Yah, bertahanlah De, bertahan dengan hatimu yang keras sekeras batu itu. Tapi jangan lupa batupun akan hancur bila terus terusan dikikis oleh air sekalipun” jawabnya dengan mendekatiku. Hatiku tersentak seperti hentakan kaki yang menderu, tak menentu jadinya. Apakah benar hatiku sekeras ini? Aku berfikir kembali apakah benar hanya Dana yang aku damba? dan apakah sekarang aku hanya mencintainya? Aku kembali mendesah dengan nafas keras, aku tak ingin berada diposisi ini, posisi ketika hati bingung dan menjadi tak mampu berkonsentrasi lagi. Aku tersenyum pada sahabatku itu. “Ijinkan aku bertahan, sampai aku tak mampu Mon” Lirihku padanya. “Baiklah, sebagai sahabatmu aku hanya ingin kau Bahagia De” dia memberikan semangatnya padaku. Aku memeluknya erat, sebahagia ini aku bersama sahabatku. Aku lirik kesampingku, Sila tersenyum ngakak tanpa suara, ditutupnya mulutnya itu. Aku melepaskan pelukanku pada Moning. “Baiklah, waktunya aku sendiri lagi” senyumku pada mereka. Mereka tertawa geli melihat ekspresiku dan akupun memilih pergi menuju kelas. ‘Lebih baik aku bersiap  belajar’ batinku. Kulangkahkan kakiku dengan lambat sambil mencoba mencerna kata-kata sahabatku itu. Belum sampai dikelas, aku melihat Suci mendekatiku. Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN