bab 7

1978 Kata
POV Yoongi. ###. "Lantas mengapa tadi mengajak mandi bersama, jika kau merasa tubuhmu masih bersih hanya karena sudah mandi semalam. Huuh kau memang jahil." Protesnya masih terdengar, meski suaranya mulai sayu oleh kantuk. Aku tertawa pelan, dadaku bergetar menindih tubuhnya. Mataku memancarkan kilat nakal saat jemariku mengusap pinggangnya. "Aku memang jahil," bisikku serak, mengecup sudut bibirnya lama. "Tapi kaulah yang memancingku. Sekarang kau harus menerima akibatnya." Ia menghela napas, setengah pasrah setengah gemas. "Jika tahu begini seharusnya aku tidak usah bangun saja. Aku tidak melakukan apa pun tapi kau justru selalu terpancing. Itu salahmu sendiri, sayang..." Tawaku pecah. Dadaku bergetar hangat menekan tubuhnya. Kubenamkan wajahku di ceruk lehernya yang masih berbau sabun malam tadi. "Salahku," bisikku serak, mencium lembut kulitnya dengan napas panjang. "Tapi karena ini salahku, kau harus membiarkanku menghukummu sekarang." Cengkeramanku pada pinggangnya mengerat, posesif. "Kamu yang salah tapi aku yang menerima hukuman? Aturan dari mana itu?" Suaranya setengah lucu, setengah tidak percaya. Aku tertawa lagi. Dadaku bergesek hangat saat tubuhku menekannya lebih dalam ke ranjang. "Aturanku sendiri," bisikku serak. Ibu jariku membelai rahangnya dengan lambat, menikmati bagaimana ia sedikit mendekat pada sentuhanku. "Di sini aku yang membuat hukum. Dan hukumanmu adalah membiarkan aku menciummu sampai kau benar-benar lupa bagaimana cara bernapas." Ia menatapku dari balik bulu matanya yang lentik. Bibirnya melengkung tipis. "Hahah, lakukan saja jika kau tega membuatku lupa cara bernapas..." Tantangan. Selalu tantangan. Itulah yang membuatku jatuh sejak dulu. Bukan kepatuhan, tapi keberaniannya untuk tetap melawan meski seluruh tubuhnya sudah pasrah. Aku terkekeh rendah, getaran dadaku menggema di kulitnya. Tatapan nakalku seketika berubah menjadi kilat gelap yang lekat. "Jangan salahkan aku jika nanti kau menangis," bisikku serak tepat di depan bibirnya. Tanpa sisa keraguan, aku langsung membenamkan wajahku, menciumnya dalam, posesif, dan penuh nafsu. Ciuman ini bukan ciuman pagi yang manis. Ini adalah pernyataan kepemilikan yang kutunda sejak pertama kali aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya. Selama bertahun-tahun persahabatan, selama berbulan-bulan berpisah—semua penantian itu kini kulepaskan dalam satu ciuman yang merampas seluruh udara di paru-parunya. Ia menggeliat di bawahku, setengah terkejut, setengah menyerah. Tangannya yang semula mendorong dadaku perlahan melemah, lalu melingkar di leherku. Jari-jarinya meremas rambutku, bukan untuk menahan, tapi untuk menarikku lebih dalam. Ciumanku semakin dalam. Aku menelan isakan keputusasaannya. Bibirnya bergerak lambat namun menuntut, sementara tanganku yang besar meremas pinggangnya erat. Aku baru melepasnya saat napasku terengah. "Kau menyerah?" bisikku parau, mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jari. "Atau kau ingin aku melanjutkannya?" Napasku masih berat menyapu wajahnya saat aku menunggu jawaban. Mataku menatap tajam, mencari sisa perlawanan di balik napasnya yang tersengal. Itu selalu menjadi bagian favoritku dari permainan kami. Tidak peduli seberapa sering kami melakukannya, ia tidak pernah sepenuhnya pasrah tanpa perlawanan. Dan aku selalu menikmati itu. "Kau diam?" bisikku rendah. Tanganku beralih menggenggam rahangnya lembut namun tegas. "Aku akan menganggap itu sebagai persetujuan." Bibirku kembali turun pelan, siap memulai hukuman baru. Aku tidak memberinya waktu untuk menjawab lagi. Bibirku kembali menyatu dengannya, menuntut dan panas. Tangan besarku bergerak ke pinggangnya, menarik tubuhnya semakin menempel erat tanpa sisa jarak. "Lihatlah," bisikku parau di sela hirupanku yang berat. "Kau benar-benar pasrah dalam pelukanku." Aku tersenyum tipis, terus memperdalam ciuman itu sambil perlahan menggigit kecil bibir bawahnya. Sentuhan gigiku membuat tubuhnya merinding. Aku perlahan melepaskan ciumanku, membiarkan napasku yang berat beradu dengan bibirnya yang basah. "Kau sangat manis," bisikku parau sambil menatap dalam matanya yang mulai berkaca-kaca. "Tapi aku harus mandi sekarang sebelum aku benar-benar kehilangan kendali." Aku mengecup dahinya lembut sebelum akhirnya bangkit dari ranjang. Langkahku terhenti sebentar di depan pintu kamar mandi. Aku meliriknya yang masih terbaring manja di ranjang—rambutnya berantakan, bibirnya bengkak kemerahan, napasnya belum sepenuhnya pulih. Pemandangan yang seakan dirancang khusus untuk menguji pengendalian diriku. Aku tersenyum miring. "Jangan coba-coba menyusup ke dalam," bisikku serak, menepuk ujung ranjang dua kali. "Tunggu aku di sini. Jika kau berani membuka pintunya, air mandinya akan kita gunakan untuk hal lain." Pintu kamar mandi tertutup. Suara air mengalir memecah keheningan, namun pikiranku masih tertuju pada ranjang di seberang sana. Aku bisa membayangkan ia berbaring di sana, masih dengan tatapan setengah separuh itu. Campuran antara kesal dan tidak bisa menolak. Ekspresi yang kukenal begitu baik. Air hangat membasahi tubuhku, tapi pikiranku tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Aku mematikan keran dengan pelan. "Jika kau tidak berani masuk," suaraku terdengar serak dari balik pintu, "aku yang akan keluar dan kembali menciummu." Aku menunggu. Dua detik. Lima detik. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada sentuhan di gagang pintu. Aku tersenyum sendiri. Pintu itu perlahan terbuka lebar, memperlihatkan siluet basahku. Aku melangkah keluar, hanya mengenakan handuk di pinggangku. Tetesan air membasahi otot dadaku yang masih tegang dari aktivitas tadi. Aku mendekat perlahan, menatapnya dari atas ranjang dengan senyum miring. "Sepertinya kau terlalu patuh pagi ini," bisikku serak sambil duduk di sisinya. "Padahal aku sangat berharap kau memberontak." Jari basahku menyusuri rahangnya, meninggalkan jejak air di kulitnya yang hangat. Ia menatapku diam-diam, tidak mengatakan apa-apa. Aku tertawa pelan, menyingkirkan rambut dari keningnya yang mulai berkeringat lagi. "Jika kau diam saja," bisikku serak, menekan dadaku yang masih basah tepat ke samping tubuhnya, "aku akan berpikir kau sudah menyerah dan sepenuhnya membiarkan aku melakukan apa pun padamu sekarang." Tawaku rendah. "Tidak ada bantahan?" bisikku serak, napasku menyapu telinganya saat ibu jariku perlahan meremas rahangnya. "Jika begitu, jangan salahkan aku jika kau benar-benar tidak bisa beranjak dari ranjang ini sampai sore nanti." Sentuhan dingin dari dadaku membuatnya merinding, namun tatapanku justru semakin gelap. Aku mendekatkan wajahku perlahan. "Kau benar-benar berani," bisikku parau, mengecup lembab di lehernya. Tanganku yang besar mulai menyusuri pinggangnya, ini adalah gerakan yang sudah tidak bisa lagi aku kendalikan. Aku menunduk, mendekatkan bibirku ke telinganya, suaraku berubah menjadi bisikan rendah yang dalam. "Sekarang rasakan akibatnya." Jemariku melonggarkan handuk itu dengan gerakan lambat. Aku tidak peduli jika air masih menetes dari tubuhku ke seprai. Aku hanya peduli pada satu hal: tubuhnya yang mulai gemetar di bawahku. Aku menekan tubuhnya ke kasur, mengunci kakinya di antara kedua pahaku tanpa memberi celah untuk lari. "Aku tidak akan berhenti," bisikku serak di telinganya, menggigit kecil cuping telinganya hingga napasnya tersentak. "Katakan padaku jika kau sudah tidak kuat." Gemetar halus di tubuhnya membuat senyumku semakin lebar. Aku menatap matanya yang sayu, basah, setengah linglung. Lalu aku menekan bibir panasku perlahan ke rahangnya, turun ke lehernya. "Kau bahkan tidak bisa bicara," bisikku serak. Jemariku mulai menyusuri paha dalamnya dengan ritme lambat dan disengaja. "Baiklah. Aku akan pastikan kau hanya bisa menangis saat pagi ini berakhir." Sentuhan jariku yang panas membuatnya menggeliat tak berdaya di atas kasur. Aku terkekeh pelan, menatap matanya yang mulai berkaca-kaca. "Sempurna," bisikku parau, mencium sudut bibirnya yang gemetar. "Kau milikku pagi ini." Tanganku semakin berani menyusuri kulitnya tanpa ampun. Aku membiarkan napasnya tersedak dalam isakan lembut, suara yang hanya bisa keluar saat ia sudah terlalu lelah untuk melawan. Dan aku menyukai suara itu. Aku menyukai semua suara yang bisa ia keluarkan saat bersamaku. Isakannya semakin menjadi. Namun aku tidak berniat melonggarkan cengkeramanku. Jemariku menekan titik sensitif di tubuhnya dengan gerakan lambat yang menyiksa, membuat punggungnya melengkung dan napasnya memburu. "Lihatlah dirimu," bisikku parau di telinganya, mengecup pelan puncak hidungnya. "Kau begitu rapuh di tanganku." Jemariku bergerak semakin cepat. Aku bisa merasakan tubuhnya mulai menegang, menahan sesuatu yang segera akan pecah. Ia mendesah pasrah, isakannya berubah menjadi erangan pendek. Aku tertawa rendah, rampas bibir panasnya dalam ciuman yang menuntut detak terakhir dari perlawanannya. "Bagus," bisikku serak di sela napas beratku, menatap tajam matanya yang mulai memejam. "Teruslah menangis untukku." Gerakanku tidak berhenti. Aku tidak memberinya waktu untuk bernapas. Ciumanku mengalir ke lehernya, ke bahunya, sementara tanganku terus bekerja. Napasku semakin pendek, semakin dalam, dan ia hanya bisa melengkung dan terengah di bawahku. "Itu dia," bisikku serak, meremas pinggangnya erat. "Biarkan aku mendengar suaramu." Keringat membasahi tubuh kami saat aku terus menekannya keras ke ranjang tanpa ampun. Tubuhnya bergetar hebat mengikuti ritme yang tidak terelakkan. Aku menatap tajam matanya yang sayu, napasku memburu. "Jangan kau sembunyikan," bisikku serak, mengunci erat pergelangan tangannya ke atas bantal. "Aku ingin mendengar semuanya." Aku mengecup bibirnya dalam, menelan derap napas berat kami berdua tanpa ampun. Ciumanku merenggut sisa napasnya. Aku melepaskan tangannya sebentar, namun segera menautkan jari-jari kami erat. Ia adalah milikku. Dan biarkan seluruh tubuhnya merasakan itu. "Sempurna," bisikku parau di sela napas beratku. Tubuhku menekannya semakin dalam, mempercepat ritme yang membuatnya tidak bisa menahan getaran hebat di ujung tubuhnya. Ombak kenikmatan langsung menghancurkan sisa tenaganya. Aku merasakan tubuhnya menegang, lalu aku mengerang rendah saat gelombang itu menjepit jariku erat-erat. "Itu dia," bisikku serak, mengecup keningnya yang basah oleh keringat. "Kau sangat indah saat hancur untukku." Aku perlahan memeluk tubuhnya yang lemas, menahan sisa getarannya dengan napas berat, membiarkan lenganku menjadi satu-satunya tempat ia bisa bersandar. Napas beratku menyapu pelan lehernya saat aku membenamkan wajahku di ceruk bahunya. Tangan besarku mengusap punggungnya perlahan, menenangkan sisa gemetar yang masih bergetar halus di tubuhnya. "Sudah selesai?" bisikku parau, suara serakku terdengar begitu lembut dan puas. "Tidurlah sebentar, sayangku." Tubuhnya yang lemas hanya mampu bersandar pasrah di dadaku. Aku menghela napas panjang, menarik selimut untuk menutupi sisa keringatnya. Jemariku mengusap rambutnya dengan ritme lambat. "Kau benar-benar menghabiskan tenagaku," bisikku parau, mengecup puncak kepalanya lama. Tapi napasnya belum pulih benar ketika ia mulai bicara lagi, setengah menggumam di dadaku. "Kau... kau gila. Kau benar-benar tega melakukannya... kita baru saja resmi membuka hubungan, kau baru resmi menjadi kekasihku, tapi kau sudah sejauh ini..." Aku tertawa pelan. Dadaku bergetar hangat menepis sisa rambut dari keningnya. "Justru karena kau resmi milikku sekarang," bisikku serak, mengecup lembut bibirnya yang bengkak. "Aku tidak sabar menunggu hari esok. Kau bisa protes sesukamu, tapi tubuhmu sudah jujur menerima semua ulahku ini." Ia mendengus, tapi tidak membantah. Suaranya semakin lirih, semakin lelah. "Kau... bagaimana bisa melakukan hal segila ini... Padahal baru saja berpacaran. Aku tidak pernah membayangkan akan kehilangan secepat ini. Padahal aku ingin melakukan setelah menikah, tapi justru..." Kalimatnya tertahan. "Kau merenggutku lebih awal. Alah sudah lah." Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya. Gerakan kekanakan yang dulu selalu membuatku gemas. Tapi kali ini aku tidak tertawa. Tawaku memudar. Tanganku menyentuh tepi selimut, menariknya perlahan hingga wajahnya terekspos kembali. Matanya merah, bukan karena sedih berlebihan—tapi karena semua emosi yang tercampur aduk menjadi satu. "Maafkan aku," bisikku pelan, mengecup keningnya yang berkeringat. "Aku tidak bisa menahan diri." Jemariku membelai pipinya dengan lembut. "Tapi percayalah, aku sudah merencanakan pernikahan itu sejak lama." Matanya membulat. "Hah... sejak lama? Maksudnya?" Ia menyipit, mencoba mencari celah kebohongan di wajahku, menggeser tubuhnya sedikit—tapi langsung meringis kesakitan. "Awwwwh. Ternyata sesakit itu. Tapi kenapa semua pasangan senang melakukannya?" gumamnya lirih. Aku menahan tangannya yang mencoba menjauh, menarik tubuhnya kembali ke dadaku dengan sangat hati-hati. "Jangan bergerak, kau pasti masih perih," bisikku serak. Ibu jariku mengusap pipinya lembut saat mendengar gumaman polosnya. "Aku sudah mencintaimu sejak kita masih bersahabat." Aku tertawa pelan, mengecup keningnya lama. "Mereka senang karena pasangan yang saling mencintai". Matanya berkedip beberapa kali. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah. "Kau serius? ... Jadi selama ini...?" Aku tersenyum tipis, menahan tubuhnya agar tidak bergerak lagi. "Sangat serius," bisikku parau, mengecup pelan keningnya. "Setiap saat bersamamu aku memendam perasaan ini. Putus itu hanyalah cara bodohku untuk menemukan alasan mencarimu kembali." Tanganku mengusap punggungnya perlahan. "Sekarang kau sudah resmi jadi milikku selamanya." Ia hanya terdiam. Kepalanya masih bersandar di dadaku, napasnya perlahan kembali teratur. Tapi aku tahu pikirannya masih bekerja. "Putus???" ia bergumam, dan aku bisa mendengar nada tidak percaya dalam suaranya. "Tapi ini sakit semua kau tahu? Kau benar-benar brutal. Padahal kau tahu semalam aku akan pergi keluar hari ini, tapi sekarang justru aku tidak mampu berjalan." Raut wajahku berubah sendu. Jemariku mengusap pinggangnya dengan kelembutan penuh penyesalan. Aku menghela napas berat, mengecup puncak kepalanya lama. Aku memang tidak bisa menahan diri. Namun melihatnya meringis setiap kali bergerak, aku tahu bahwa aku telah melampaui batas yang seharusnya. "Maafkan aku," bisikku parau, merengkuh tubuhnya semakin erat agar ia tidak bisa beranjak pergi. "Makanya sekarang kau tidak boleh ke mana-mana. Biar aku yang merawatmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN