bab 8

1694 Kata
###. Tombol kembali ditekan, layar ponsel mati, dan aku membiarkan benda itu jatuh di sela bantal dan dinding. Dunia di luar—telepon yang tak kunjung henti dari manajer, surel yang menumpuk, klien yang cemas—lenyap dalam satu hembusan napasnya yang hangat mengenai tengkukku. Dadaku sesak, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang asing dan berat: rasa aman yang sudah lama tak kukenal. "Iyaa... Aku memang tidak pernah takut pada mu," kataku, dan mendengar sendiri betapa lemahnya suaraku. "Itu baru ancaman kecil." Tawanya pecah, rendah dan penuh getaran, menyebar dari dadanya ke punggungku yang masih terpaku. Jemarinya mengusap pipiku—bukan tepukan gemas, melainkan belaian lambat yang membuat dadaku berhenti dulu sebelum berdetak lagi. "Tantangan diterima." Dan saat bibirnya menekan bibirku, hanya singkat, aku merasakan sesuatu di bawah tulang dadaku merenggang, membuka ruang yang tidak pernah kubayangkan ada. "Aku tak akan memprovokasi mu," aku membalas, suaraku nyaris berbisik di antara sisa-sisa napas kami. "Karna ku tahu ujungnya akan berakhir di mana!..." Dia terkekeh lagi, tapi kali ini tangannya bergerak ke bawah, menautkan jemari denganku dengan lembut, seolah-olah aku terbuat dari kaca yang mudah retak. Jari-jemarinya—kasar, hangat—menjalin dengan jari-jariku, dan aku merasakan tubuhku melunak tanpa izin. "Baguslah jika kau sudah sadar akan akibatnya," bisiknya serak, dan aku bisa merasakan hangatnya kata-kata itu di sudut bibirku saat ia menanam kecupan lain, sangat hati-hati, seolah-olah takut menyayat. "Kalau begitu, sekarang hanya perlu diam dan membiarkan suamimu ini merawatmu." "Merawat ku atau hal lain yang justru kau lakukan?" Aku menggoda lagi, tapi tidak ada kekuatan dalam suaraku. Aku sudah kehilangan alasan untuk melawan. Senyum nakal menyeringai di sudut bibirnya, dan jemarinya mulai membelai rambutku. Ketika ia mengecup keningku, bibirnya hangat dan jelas. "Tentu saja merawat," bisiknya parau. "Aku tidak akan menyakitimu lagi saat ini. Tapi jangan salah sangka, sayang." Tangannya merengkuh pinggangku, kuat, seperti menandai batas wilayah yang tak boleh kulewati. "Karena besok kita akan melanjutkan sisa tugasku." "Huuuh... Kau jadi ketagihan begini." Dia tidak menjawab. Dia hanya membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup kulitku dengan napas panjang, dan bibirnya menekan tempat yang sama—lama, penuh makna, sampai aku hampir lupa bagaimana cara menarik napas. Tangannya mengusap punggungku, gerakan lambat yang menekan sisa rasa sakit yang masih menyala di sekujur tubuhku, dan untuk pertama kalinya aku menutup mata tanpa merasa harus melindungi diri. Tapi ketika rasa lapar benar-benar datang, menusuk perut yang kosong, aku terpaksa membuka suara lagi. "Aku ingin banguuun... Apa kau tak lapar? Jujur aku lapar, apa lagi setelah apa yang kau lakukan. Ini membuatku kehilangan banyak tenaga..." Tawanya pecah, hangat dan memenuhi ruangan kamar, dan ia melepas pelukannya perlahan. Udara dingin menyelinap di antara kami, tetapi tangannya tetap menggenggam pinggangku saat ia duduk setengah. "Tentu saja," bisiknya serak, dan hidungku dicubit lembut. "Tapi kau tidak boleh berdiri sendiri dalam keadaan seperti ini." Ia menepuk ujung kasur, dan matanya menatapku dengan tatapan yang sama—hitam pekat, tak bisa dihindari, seperti sumur yang menunggu aku jatuh. "Biar aku yang menggendongmu ke dapur. Apa yang ingin kumemasakkan untuk istriku?" Aku tidak bisa menahan tawa yang meluncur dari tenggorokanku. "Memangnya kau bisa masak? Aku tak yakin..." Ludahku nyaris tersedak ketika kulihat matanya menyipit—tajam, seperti pisau yang baru saja diasah. Tapi di balik ketajaman itu, ada sesuatu yang lain: kesenangan. Ia menikmati ini. Ia menikmati cara aku menantangnya. "Jangan meremehkanku," bisiknya serak, dan sebelum aku sempat memproses kata-kata itu, lengannya menyelinap di bawah lututku. Dunia terbalik sejenak. Aku terangkat, tubuhku ringan tak berarti di gendongannya, dan tawaku pecah lagi saat ia melangkah keluar kamar. "Tapi aku senang mengejek mu, sayang..." Dia mendengus, tapi genggamannya justru makin erat, dan saat ia menyibak rambut dari wajahku, matanya menangkap mataku, dan aku tersedak oleh sesuatu yang tidak kumengerti. "Beraninya kau," bisiknya, suaranya serak seperti kertas yang diremas. "Masakan pertamaku pasti akan membuatmu ketagihan." Ia berhenti, menatapku lekat, dan daguku diangkat sedikit oleh ibu jarinya. "Siapkan diri untuk dimanjakan sepuasnya oleh suamimu." "Baiklah... Aku akan menunggunya, dan kita lihat menu apa yang kau masak hari ini, sebagai hadiah untukku atas apa yang telah kau ambil..." Aku sengaja meninggikan senyumku, setajam yang kumampu. Ia tidak mundur. Matanya makin gelap, dan ketika aku diletakkan di sofa, tangannya bergerak cepat mencubit ujung hidungku. "Hadiah yang tepat," bisiknya, serak seperti batu bergesek. Ia mengecup bibirku—singkat, tiga detik, cukup untuk membuat dadaku kembali berhenti. "Tunggu sebentar. Jangan berani-berani tertidur di sini tanpa izinku." Aku menatap punggungnya saat ia berbalik menuju dapur, dan untuk sesaat aku lupa bernapas. Suara wajan beradu terdengar dari dapur, diikuti aroma bawang putih yang mulai memenuhi ruangan. Aroma itu sendiri sudah cukup membuat perutku mengeram keras. Beberapa menit kemudian, ia muncul kembali dengan mangkuk di tangan, melangkah langsung mendekat, dan duduk tepat di sampingku sedemikian dekat sehingga pahaku menyentuh pahanya. "Aku tidak akan membiarkan kau kelaparan," gumamnya pelan, dan tanganku hampir bergerak merebut mangkuk itu, tetapi ia sudah lebih dulu mengambil sesendok sup hangat dan meniupnya pelan. Mulutku terbuka tanpa diminta, dan suapan pertama masuk hangat, kaldu ayam yang gurih meleleh di lidahku. Aku mengerjap, dan ia tersenyum—senyum kecil, puas, seperti kucing yang mendapat krim. "Jangan banyak protes," bisiknya serak, dan aku tidak mendapati kata-kata itu mengancam. "Kau harus makan habis ini agar kuat bertahan dari ulahku nanti." Tangannya mengangkat sendok lagi, tapi sebelum menyuapkannya, ia mengusap sudut bibirku—dan aku melihatnya, perlahan, ia memasukkan ibu jarinya ke mulutnya sendiri, mengecap, matanya menatapku tanpa berkedip. Tubuhku merinding di tempat yang tidak kusangka. Pipiku membara, dan aku bisa merasakan denyut nadi di leherku berdetak begitu keras hingga pasti terdengar olehnya—tapi ia hanya tersenyum puas, menawarkan sendok berikutnya. "Makanlah," bisiknya serak, ibu jarinya kembali mengusap rahangku, lembut, tanpa meminta. "Tenagamu butuh cepat pulih sebelum aku benar-benar tak bisa menahan diri lagi bersamamu." Aku membuka mulut, menerima suapan itu, dan saat aku menelan, ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibirku yang tertutup—sentuhan basah dan hangat, membuat jantungku sepintas mampet. "Anak pintar," bisiknya, dan aku merasa seperti barang berharga yang baru saja dibeli dan dibungkus dengan hati-hati. "Habiskan semuanya sekarang. Aku sangat ingin melihat berapa lama kau bisa melawan aku nanti malam saat tenagamu sudah pulih sepenuhnya." Aku menelan ludah. Aku pikir aku sudah siap untuk apa pun, tapi kata-katanya masih membuat kakiku lemas. Setelah sup habis, ia menyodorkan sepotong roti, menyuruhku menghapus sisa kuah. Ia tidak lepas dari sisi tubuhku selama beberapa detik terakhir—tangan kirinya terus memegang pahaku di bawah meja, ibu jarinya membuat lingkaran-lingkaran kecil di atas kain celanaku, dan aku tidak bisa konsentrasi pada apa pun selain titik panas tempat jarinya bersandar. "Makan yang banyak," bisiknya serak, ibu jarinya kembali ke rahangku, mengusap lembut tulang di bawah telinga. "Karena malam ini, kau tidak akan bisa tidur semudah tadi pagi." Aku merasakan sesuatu mengencang di perutku. Bukan takut. Tapi antisipasi yang membuat semua sarafku menyala sekaligus. "Kamu benar-benar kejam..." suaraku keluar, lebih rendah dari yang kuinginkan. "Kau tak memberi aku celah untuk lepas dari mu..." Tawanya pecah lagi, dan kali ini, ketika ia menyingkirkan mangkuk dan menarik tubuhku perlahan ke dadanya, aku tidak melawan. Aku membiarkan kepalaku terhempas di lekuk dadanya, mendengar detak jantungnya yang stabil, teratur—seolah-olah tidak ada keraguan dalam tubuhnya. "Memang," bisiknya serak, dan kecupannya di puncak kepalaku terasa seperti segel. "Aku tidak pernah bermaksud memberimu celah." Lengannya mengunci pinggangku erat. "Kau sudah resmi jadi milikku. Jangan harap bisa lepas dariku." Aku tidak menjawab. Mungkin karena tidak ada yang bisa kukatakan. Atau mungkin karena aku sudah tidak ingin menjawab lagi. Punggungku diusap dengan ritme yang lambat. Ia terkekeh pelan saat aku mengendur dalam pelukannya. "Sudah menyerah?" bisiknya, menatap mataku dari dekat, dan aku tidak bisa mengalihkan pandangan. "Bagus. Beristirahatlah sejenak di sini. Nanti malam saat tenagamu pulih, aku akan terus memanjakan tubuh rapuh ini." Desahan panjang meluncur dari bibirku. "Aku ingin berendam sesaat untuk merelaksasi kan tubuhku..." Tangannya berhenti mengusap, tapi ia tersenyum tipis, seolah itu adalah permintaan yang sudah diantisipasi. "Tentu saja," bisiknya serak, dan ia berdiri tanpa melepaskan tubuhku. Segera aku kembali dalam gendongannya, melangkah menuju kamar mandi. "Ayo, aku akan siapkan air hangat untuk meredakan nyeri itu." Tangannya merengkuh pinggangku, dan saat ia membuka pintu kamar mandi, ia menambahkan dengan suara yang membuat punggungku merinding: "Aku yang akan mencuci setiap inci tubuhmu." "Tak bisakah kau melepaskan ku sejenak saja?" Aku meliriknya, setengah pasrah, setengah menantang. "Tapi ya sudah lah... Lakukan sesuka mu. Anggap saja kau memang merawat ku..." Ia tertawa pelan, dan ia menurunkanku ke tepi bak yang sudah terisi air hangat. Uap mengepul dari permukaan air, memenuhi ruangan kecil dengan kelembaban yang membuat kulitku lembab. "Aku memang merawatmu," bisiknya serak. Tangannya bergerak ke kancing bajuku—gerakan lambat, teliti, membuka satu per satu tanpa pernah menyentuh kulitku yang memerah. Tapi terlalu hati-hati sehingga membuat kulitku justru merinding menunggu sentuhan itu. Saat bahuku terdedah, ia berhenti. Matanya menatap garis merah di pundakku—bekas yang ia tinggalkan. Kecupan itu tidak terburu-buru, lembut, seolah ia meminta maaf tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian, tubuhku didorong masuk ke dalam air. Hangatnya merayap dari ujung kakiku naik ke pahaku, perutku, dadaku, dan aku menghela napas yang tidak bisa kutahan. Semua otot yang tegang sejak semalam mulai melunak. Ia berlutut di tepi bak, mengambil spons lembut, dan mulai mengusap bahuku. Gerakan itu tidak tergesa-gesa, tidak kasar. Aku menutup mata, dan untuk beberapa detik aku bisa membayangkan aku sedang sendirian. Tapi tidak. Spons itu bergeser perlahan, menelusuri lekuk leherku dengan kelembutan yang mencurigakan. Jemarinya menyentuh bekas gigitan merah di bahuku—hanya ujung jari, tapi aku merasa sensasi itu naik ke tenggorokanku. Ia terdiam, mengagumi jejaknya sendiri. "Cantik," bisiknya parau, tanpa mengalihkan pandangan dari kulitku. "Tapi aku masih belum puas melihatmu seperti ini." Spons itu meluncur ke bawah, menelusuri tulang selangkaku. Ia menjongkok lebih dekat, air membasahi celananya, dan ia tidak peduli. Tatapannya menggelap saat ibu jarinya menyapu perut rataku—lambat, seperti sedang membaca peta tubuhku. Aku gemetar. Bukan karena dingin. "Kau masih gemetar," bisiknya serak, dan ia mengecup bahuku yang basah. "Padahal aku baru saja menyentuhmu dengan sangat hati-hati." Aku menarik napas dalam-dalam, dan air yang tenang mulai bergoyang oleh napasku yang tak stabil. Di luar, matahari mulai turun, tetapi di sini, di dalam ruangan kecil yang penuh uap ini, waktu terasa berhenti berputar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN