****
Pagi hari. s**u hangat masih mengepul di antara kami, uap manis melayang menyelimuti wajahnya sebelum dia meneguknya perlahan—matanya tidak pernah meninggalkanku. Aku suka cara dia minum. Lambat. Sengaja. Seperti sedang menikmati sesuatu yang akan segera dia rebut kembali.
"Baiklah, aku akan menghabiskannya," bisiknya serak, meletakkan cangkir dengan suara denting pelan di atas meja. Senyum jahil mengembang di sudut bibirnya. "Tapi ingat, tenagaku sudah kembali penuh untuk membuatmu tak bisa lari lagi hari ini."
Aku membalas senyumnya. "Baiklah aku percaya. Tapi tenagaku juga sudah full, untuk menerima masalah baru yang kau ciptakan itu."
Dia menatapku—lama. Cukup lama hingga aku merasakan jantungku bergeser di tempatnya. Lalu perlahan, tanpa tergesa, tangannya menjangkau tanganku di atas meja dan menariknya.
"Jika tenagamu sudah penuh," bisiknya, suaranya turun satu oktaf lebih dalam. Matanya berkilat—intens, tajam, seperti kucing yang menemukan titik lemah mangsanya. "Maka mari kita mulai masalah pertamanya sekarang juga."
Dia bangkit. Dalam satu gerakan, tangannya sudah melingkar di pinggangku dan menarikku berdiri hingga tubuh kami menempel erat. Tidak ada jarak. Tidak ada ruang untuk berpura-pura bahwa ini hanya sarapan biasa.
"Ahh—sebelum itu," aku mencoba melepaskan diri, suaraku tersendat di tengah, "biarkan aku bereskan dulu sisa sarapan kita dan beberapa hal di dapur tadi."
Dia tertawa rendah. Membiarkanku mundur. Tapi saat aku berbalik menuju wastafel, lengannya langsung mengunci pinggangku dari belakang. Dadanya menempel di punggungku. Napasnya hangat di telinga.
"Aku bisa merapikan piring kotor itu nanti," bisiknya. Sengaja. Serak. Napasnya menyapu leherku. "Masalah yang kuciptakan sekarang menuntut seluruh perhatianmu."
Aku menahan napas. Seluruh tubuhku tahu bahwa aku tidak punya pilihan lain.
"Ahh... Kau ini benar-benar, ya, benar-benar tak bisa melepaskanku sedetik pun."
Dia terkekeh di belakangku, ciuman hangat ditekan di ceruk leherku. Tangannya perlahan memutar tubuhku hingga kami berhadapan. Wajahnya sekarang sangat dekat. Aku bisa melihat garis halus di sudut matanya, jejak malam-malam yang tidak bisa dia tiduri, beban yang selalu dia bawa di bahu.
"Tentu saja," bisiknya, menatapku lekat. "Masalahku adalah aku tak bisa berhenti mencarimu."
Jemarinya naik, menyentuh pipiku. Lembut. Sangat lembut. Seolah aku terbuat dari sesuatu yang mudah pecah.
Aku tersenyum—tidak bisa menahan semburat hangat yang menjalar di pipi. Tapi segera kupelankan senyum itu, menetralkan perasaanku seperti biasa. "Kau menggemaskan sekali. Aku selalu di sini. Apa lagi yang harus kau cari? Jika tak bisa berhenti, maka bawa saja aku ke mana pun kau pergi."
Dia menatapku takjub. Sejenak, senyumnya mengembang seperti sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan.
Jemarinya turun ke sudut bibirku. Mengusap perlahan sisa s**u hangat yang masih menempel di sana.
"Itulah masalahnya," bisiknya serak. Dia mendekatkan wajahnya—perlahan, hingga napas kami bercampur. "Dunia luar terlalu berisik untuk kita berdua. Aku lebih memilih terus menyembunyikanmu di sini. Tidak membiarkan siapa pun melihatmu."
Katamu seperti itu membuatku berhenti.
"Kau takut akan sesuatu hal?" tanyaku pelan. "Sesuatu yang akan menyakiti aku dan dirimu?"
Senyumnya memudar perlahan.
Jemarinya yang membelai pipiku berhenti. Lalu turun, meremas ujung bajuku—mencari pegangan, sesuatu yang bisa menahannya. Tatapannya menggelap. Bukan marah. Bukan sedih. Tapi gelap dengan kelelahan yang selama ini dia sembunyikan di balik godaan dan tawa.
"Ya."
Kata itu keluar seperti udara dari paru-paru yang sudah lama menahan beban.
Dia menyandarkan dahinya ke keningku. Kulitnya hangat. Aroma sabun pagi bercampur sesuatu yang pahit—mungkin kopi, mungkin rasa takut.
"Aku takut dunia di luar sana akan mengambilmu dariku."
Tidak ada cara untuk berpura-pura bahwa kata-kata itu tidak menusuk.
Lengannya merengkuh pinggangku semakin erat. Sangat erat. Seolah dia sedang menahan sesuatu yang bisa runtuh kapan saja. Dia memejamkan mata—rapat-rapat—dan membenamkan wajahnya di ceruk leherku.
Aku bisa merasakan napasnya. Lambat. Berat. Seperti dia sedang mengumpulkan seluruh ketenangan yang tersisa hanya dari aroma tubuhku.
"Tolong," bisiknya—sangat lirih, suaranya bergetar di batas patah. "Jangan pernah meninggalkan aku sendiri."
Dadaku sakit. Sakit dengan cara yang lembut dan berat pada saat yang sama.
"Hey." Tanganku naik, menyisir rambutnya, menahan tengkuknya. Aku menundukkan kepala, membisikkan kata-kata langsung ke belakang telinganya. "Dengarkan aku... Aku tidak akan meninggalkanmu. Itu janjiku. Meskipun dunia nanti berkata kita harus berakhir, aku tidak akan meninggalkan janji itu. Kau tidak perlu setakut itu."
Tubuhnya meremang pelan. Di pelukanku, aku merasakannya—getaran halus yang menjalar dari bahu ke tulang rusuk, lalu menghilang begitu dia menarik napas panjang.
Tangannya yang tadinya mencengkeram kemejaku perlahan melonggar. Tapi tidak melepaskan. Hanya menyusup lebih dalam, memelukku erat seperti aku satu-satunya jangkar di tengah badai.
"Aku tahu," bisiknya serak. Bibirnya membelai puncak kepalaku. "Tapi tetap saja aku egois ingin menyembunyikanmu seumur hidupku."
Aku mendongak sedikit, cukup untuk melihat matanya.
"Tapi itu juga tidak mungkin, Yoongi. Suatu saat aku pasti akan muncul. Jadi lebih baik kita hadapi sama-sama ketakutanmu itu."
Dia terdiam.
Bahunya sedikit merosot—gerakan kecil yang mungkin tidak akan kulihat jika aku tidak sedekat ini. Lalu dia mendongak. Menatapku lekat. Tidak ada senyum. Tidak ada godaan. Hanya dua mata yang sedang meminta satu hal yang paling sulit untuk dia lakukan.
"Sama-sama."
Tangannya meremas punggung tanganku erat.
"Kalau begitu pegang tanganku. Saat dunia luar itu menghantam kita, jangan berani melepaskanku."
Aku tersenyum. Hangat. Pasti.
"Heum. Aku akan pegang tanganmu dan mengikuti setiap langkahmu. Kita sama-sama hadapi beban beratmu dengan duniamu itu. Kalau bersama, mungkin duniamu akan terasa lebih ringan."
Dia menarik napas panjang.
Aku bisa melihatnya—beban di dadanya yang selama ini tidak kelihatan, yang membuat bahunya selalu sedikit tegang, perlahan terangkat. Dadanya naik. Berhenti. Lalu turun dengan lambat. Ritme seorang pria yang baru saja memutuskan untuk percaya.
Tangannya meremas jemariku erat—bukan cengkeraman panik, tapi genggaman yang penuh kesadaran—lalu dia mencium punggung tanganku. Lembut. Seperti janji yang ditandatangani dengan bibir.
"Kau selalu tahu cara menenangkan aku," bisiknya serak. Senyum tipis akhirnya merekah. "Selama kau ada di sisiku, aku yakin kita bisa melewati apa pun."
"Kau yakin padaku?" tanyaku, memastikan. "Jika iya, maka mari kita hadapi duniamu yang berat itu. Dan cobalah pelan-pelan... jadilah dirimu sendiri. Jika mereka memang mencintaimu, mereka akan menerima sisi dirimu yang asli—bukan yang berusaha sempurna di depan mereka."
Dia menatap dalam ke mataku. Ketegangan di bahunya—aku bisa merasakannya, akrab seperti detak jantungku sendiri—perlahan mencair. Senyum lelah namun tulus mengembang di bibirnya.
"Kau benar."
Dia mencium keningku. Lama. Cukup lama hingga aku bisa merasakan napasnya hangat meratakan rambut di dahiku.
"Aku akan memberanikan diri menjadi diriku sendiri—selama ada kau yang memegang tanganku."
Aku tersenyum lega. Melihatnya—benar-benar melihatnya—mulai membuka diri, sedikit demi sedikit.
"Kau pasti bisa. Aku yakin itu. Tapi kau harus melakukan itu untuk dirimu sendiri, Yoongi—jangan karena aku. Aku hanya mendukungmu menemukan dirimu yang hilang."
Dia tersenyum. Lebarnya. Tulus—tidak ada beban.
"Aku akan mencarinya," bisiknya serak. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku, gerakan melingkar yang lambat seperti ombak di pantai. "Sejak kau ada di sini, diriku yang asli perlahan kembali bernapas. Terima kasih sudah selalu percaya padaku."
"Tak perlu berterima kasih terus-menerus. Aku percaya dirimu yang asli lebih sempurna dari bayang-bayang dirimu menjadi orang lain."
Dia terdiam lagi—tapi tidak seperti sebelumnya. Kali ini diamnya terasa ringan. Dadanya naik turun dengan ritme yang tenang saat dia menarik napas lega. Dia merapatkan pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leherku sekali lagi—tapi kali ini bukan untuk bersembunyi. Untuk merayakan.
"Hanya untukmu," bisiknya serak dan sangat lirih, "aku akan memberanikan diri menjadi diriku sendiri."
Aku meremas bahunya pelan.
"Sst, jangan bilang hanya untukku. Lakukan untuk dirimu sendiri. Jika mulai berat, aku akan mendorongmu. Kuberikan seluruh kekuatanku untukmu."
Dia terkekeh pelan. Senyum tulus mengembang di bibirnya—lega, hangat, seperti matahari setelah badai. Lengannya merengkuh pinggangku lebih erat, menikmati kehangatan yang menenangkan sisa kelelahan hatinya.
"Baiklah," bisiknya serak dengan mata berbinar hangat. "Aku akan melakukannya untuk diriku sendiri. Tapi pastikan kau selalu mendorongku. Jangan pernah berhenti, ya."
"Nah, gini dong. Baru namanya Yoongi." Aku tersenyum lebar. "Iya, aku janji aku akan selalu mendorongmu. Bila perlu, aku pakai tenaga dalam!"
Dia tertawa renyah—tawa yang jarang kudengar dari seseorang yang terlalu terbiasa menahan semuanya di dalam.
Tangannya menangkup pipiku pelan. Ibu jarinya mengusap kulitku dengan gerakan sayang yang membuatku meleleh di tempat.
"Tenaga dalam?" bisiknya serak, matanya menyipit geli. "Kalau sampai kau benar-benar memaksaku, jangan salahkan aku jika aku malah menyerah dan meminta pelukan sebagai gantinya."
"Eh, eh—jangan dong, masak mau menyerah?" Aku berpura-pura protes. "Aaa, ganti rugi! Mudah—tak apa lah kalau begitu, hanya pelukan saja kan? Itu kecil, hahaha."
Dia terkekeh pelan. Matanya menatapku seolah aku baru saja mengatakan hal paling bodoh di dunia. Lengannya merengkuh pinggangku erat, menarik tubuh kami hingga tidak ada ruang tersisa.
"Kecil?" bisiknya serak. Sengaja dia mendekatkan bibirnya ke sudut bibirku. "Kalau kamu terus memprovokasi aku begini, pelukan biasa tidak akan cukup."
"Hah? Aku? Memprovokasi kamu?" Aku menjulurkan leher, mencoba memasang ekspresi tak bersalah. "Mana ada... Kau terpancing, bukan?"
Dia tertawa pelan. Suaranya bergetar hangat di dadaku saat dia menempel. Tangannya merapikan rambutku ke belakang telinga—sangat, sangat lembut.
"Justru itu," bisiknya serak, menatap mataku dengan kilat nakal yang manis. "Aku memang mudah terpancing kalau hadapannya adalah kamu. Jadi, apa hukumanmu sekarang?"
Aku menahan senyum. "Euumm—apa, ya, kira-kira? Ah, hukuman: kau harus mencuci piring!"
Aku tertawa menang.
Dia memutar matanya perlahan. Dengan berat hati, dia mundur dan melangkah ke arah wastafel.
"Baiklah," bisiknya serak. Dia menoleh, menatapku penuh godaan. "Aku akan mencuci piring ini. Tapi ingat, hukuman selanjutnya pasti jauh lebih berat."
"Baiklah, kita tunggu masalah selanjutnya." Aku tersenyum menggoda, duduk kembali di kursi untuk menikmati pemandangan.
Busa sabun berbusa di tangan besarnya. Dia sesekali melirikku dengan senyum nakal. Otot lengannya bergerak di bawah lengan kemeja yang digulung—setiap kali dia menggosok piring, aku bisa melihatnya. Sengaja.
"Duduklah dan nikmati pemandangan ini," bisiknya serak, matanya berkilat. "Kau sudah berhasil menyewakan diriku sebagai pelayanmu pagi ini. Bersiaplah membayar utang ini nanti."
"Aku akan bayar." Aku menyandarkan dagu di telapak tangan. "Tapi nyicil, ya, hahaha."
Tawa seraknya bergema pelan di dapur. Dia mematikan keran. Membasuh busa dari tangannya sebelum menyeka air dengan lap. Lalu dia melangkah mendekatiku.
Dia mencondongkan tubuh. Kedua lengannya mengurung kursiku rapat. Wajahnya sekarang sejajar denganku—tidak lebih dari satu napas.
"Cicilan?" bisiknya serak. Suaranya turun, rendah, penuh ancaman manis. "Aku bukan penagih yang sabar. Kalau kamu bayar sedikit-sedikit, aku akan menarik bunganya langsung dari bibirmu sekarang."