bab 5 .

1512 Kata
Bab 5 --- #bunga jatuh tempo. Ada baunya. Tersisa di lidahku—garam tipis kulitnya, sisa kopi yang dia minum sejam lalu, sesuatu yang hangat dan sulit kukenali. Aku masih berdiri di tempat yang sama. Dapur. Cahaya lampu kuning di atas kepala. Tangan di samping tubuh, kaku. Di luar jendela, malam sudah hitam pekat. Aku tidak tahu sudah berapa lama kami diam sejak dia melepaskan mulutnya dari mulutku. Dia masih di depanku. Menatapku. Matanya—hitam pekat seperti lubang kunci, tapi di dalamnya ada kilat yang kukenal sekarang. Kepemilikan. "Astaagaaah," bisikku, suaraku keluar seperti orang tersedak. "Ini pencurian, kau tau itu *first kiss* ku…" Tanganku naik ke bibirku sendiri, menyentuhnya. Masih basah. Masih hangat. Masih bergetar. "Itu milikku yang kupersiapkan untuk jodohku, nanti." Aku mengedip cepat, dua kali, lalu tersenyum palsu—senyum yang tidak pernah bisa dipercaya siapa pun, termasuk diriku sendiri. Dia tidak tersenyum balik. Tapi gerakannya berhenti. Matanya melebar sejenak—hanya sejenak—sebelum tawa serak memecah keheningan dapur. Dia menyandarkan dahi pada keningku. Aku bisa merasakan napasnya, lambat dan dalam, seperti dia sedang menenangkan diri. Ibu jarinya naik, mengusap bibirku yang masih merah, masih bengkak karena tekanan ciumannya. "Jadi ini milik pertama?" bisiknya parau. Dan kilat di matanya—posesif, puas, hampir liar—muncul jelas. "Syukurlah. Berarti tidak ada pria lain yang berani menyentuhmu sebelum aku sampai." Aku menelan ludah. "Iyaa... kau juga tau bukan, aku tak pernah dekat dengan pria mana pun dan hanya kau yang... jadi teman dekatku." Aku menggigit bibir bawahku. Refleks. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiranku. Ibu jarinya menyentuh bibirku yang tergigit, menekan perlahan sampai gigiku melepaskannya. "Jangan menggigitnya," bisiknya serak. Wajahnya turun perlahan, mendekat. Matanya menangkap mataku dan tidak melepaskannya. "Aku sangat bersyukur menjadi satu-satunya pria di hidupmu. Mulai sekarang, biarkan aku saja yang menciummu." Udara di antara kami menjadi berat. Seperti ada yang mengganti oksigen dengan sesuatu yang lebih tebal, lebih panas. "Bagaimana bisa?" Suaraku hampir hilang. Hampir tidak terdengar bahkan oleh diriku sendiri. "Kau dan aku belum resmi ada apa-apa... tapi justru kau sudah mencuri ciuman pertamaku." Dia terdiam. Tidak lama. Tapi cukup lama bagiku untuk merasakan jantungku naik ke tenggorokan. Ibu jarinya bergerak turun, membelai rahangku pelan. Matanya tidak pernah meninggalkan mataku. "Belum resmi?" bisiknya serak. Wajahnya mendekat lagi. Napasnya hangat menyapu bibirku. "Kalau begitu, aku akan segera memperresmi ini. Karena sejak mencuri ciuman pertamamu, aku tidak akan pernah membiarkan pria lain menyentuhmu." Mataku melebar. "Haaah..." Napasku tersangkut. "Maksudnya?" Dia tersenyum tipis. Tangannya naik, merapikan helaian rambutku ke belakang telinga dengan sentuhan yang sangat lembut. Terlalu lembut untuk pria yang baru saja mencuri napasku tanpa izin. Tatapannya berubah. Lebih serius. Lebih yakin. Seperti dia sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum aku tahu harus menjawab apa. "Maksudku," bisiknya serak, wajahnya mendekat perlahan hingga ujung hidung kami bersentuhan lekat. Aku bisa merasakan bulu matanya hampir menyapu kelopak mataku. "Aku ingin membuatmu jadi pacarku secara resmi. Kau sudah menjadi milikku sejak lama." Aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas. Tidak bisa berpikir. Tapi aku bisa merasakan segalanya—ujung hidungnya yang dingin, jemarinya yang menggenggam tanganku di atas meja, tekanan ringan di punggung tanganku saat ibu jarinya mengusap perlahan. Dia menahan napas. Menunggu. "Jadi?" bisiknya serak. Sorot matanya melembut. Penuh cinta yang belum sempat kuproses. "Apakah kau akan menerima tawaranku? Aku bersumpah akan selalu melindungimu seumur hidupku." Lidahku kaku. Dia menunggu. Jemarinya meremas punggung tanganku perlahan. Sekali. Dua kali. Tatapannya tetap di mataku. "Kau diam saja," bisiknya serak. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Aku akan menganggap itu jawaban tegas kalau kau tidak segera berbicara padaku sekarang." Dia mendekat lagi. Wajahnya di depan wajahku. Matanya menangkap getaran di mataku. Tawa pelan terdengar saat ibu jarinya kembali membelai rahangku. "Jangan membuatku menunggu terlalu lama," bisiknya serak dengan senyum tipis yang menyebalkan. "Katakan iya sekarang, atau aku akan menciummu lagi sampai kau menyerah padaku." Aku menarik napas. "Kau menunggu jawabnya," kataku, suaraku mulai kembali, "atau memaksa untuk jawabannya?" Dia tertawa pelan. Dadanya bergetar hangat menindih bahuku. Ibu jarinya mengusap bibirku dengan ritme lambat—sekali ke kiri, ke kanan, kembali lagi. "Aku menunggu," bisiknya serak. Matanya menyipit tajam, penuh godaan. "Tapi kalau jawabanmu terlalu lama datang, aku akan memaksamu mengucapkannya di antara celah-celah ciumanku." Dadaku sesak. Tapi bukan karena takut. Aku menunduk. Melihat tangannya di atas tanganku. Melihat jemarinya yang melingkar erat, seperti dia takut aku akan lenyap jika dia melepaskannya. "Iya aku mau." Suaraku keluar sebelum aku siap. "Aku mau menjadi bagian dari dirimu." Dia tidak bergerak selama satu detik. Dua detik. Lalu senyum lega terukir di wajahnya. Bukan senyum kemenangan—sesuatu yang lebih dalam, lebih penuh. Tangannya menarikku ke dalam pelukan erat. Dadanya bergetar hangat menahan sesuatu yang besar. Rasa syukur. Lega. Milik. "Akhirnya," bisiknya serak. Wajahnya membenam di ceruk leherku. Napasnya panjang, dalam, seperti dia baru saja lari sejauh mungkin dan baru sampai di rumah. "Kau milikku sekarang. Aku bersumpah akan selalu menjagamu seumur hidupku." Aku mendorongnya sedikit, cukup untuk melihat matanya. "Tak perlu janji yang muluk-muluk," kataku. "Cukup jalani saja dulu. Alurnya biarkan mengalir apa adanya, tanpa paksaan atau pun tekanan." Dia terkekeh pelan. Sorot matanya menjadi lebih tenang. Lengannya tetap melingkar erat di pinggangku, tapi tekanan posesifnya perlahan memudar menjadi sentuhan yang lembut—seperti dia sedang belajar cara memegang sesuatu yang rapuh. "Baiklah," bisiknya serak, menunduk mengecup keningku lama. Bibirnya tinggal di sana beberapa detik lebih lama dari perlu. "Kita jalani ini pelan-pelan. Tanpa paksaan, hanya kita berdua." Aku mengangguk dalam pelukannya. "Heum... jadi, apa masalahmu selanjutnya yang akan kau buat lagi?" Senyum nakal kembali mengembang di bibirnya. Tangannya mencengkeram pinggangku, menarik tubuhku hingga tidak ada jarak lagi. "Masalah selanjutnya?" bisiknya serak, menundukkan wajahnya tepat di depan bibirku. "Kau harus mulai terbiasa memanggilku dengan sebutan kekasih sekarang." Aku tertawa. "Hahaha... kau mulai jahat, ya." Aku menarik napas, menahan tawa. "Baiklah, jadi kamu mau dipanggil apa?" Dia tertawa pelan. Jemarinya mengusap pipiku. "Terserah padamu," bisiknya serak, menatapku lekat. "Namaku, sayang, atau cinta. Asal itu keluar dari bibirmu." Dia mengecup hidungku. Gemas. Seperti aku adalah benda paling lucu yang pernah ada. "Coba ucapkan sekarang." Aku mengerutkan kening. "Eumhh... apa ya enaknya panggilannya? Agar beda dari yang lain. Yang tidak umum." Dia menyandarkan dagunya di bahuku. Menatapku dengan senyuman malas yang sangat manis—seperti kucing besar yang baru kenyang. Ibu jarinya perlahan mengusap leher belakangku, mengirimkan getar hangat ke seluruh tubuhku. "Aku tidak peduli seberapa aneh atau tidak umumnya itu," bisiknya serak tepat di telingaku. "Asalkan nama itu hanya kau panggil untukku. Jadi, apa sebutan yang berhasil kau temukan?" "Aku... belum ada yang cocok. Hahaha." Dia tertawa pelan. Napasnya menghangatkan leherku saat dia menggeliat nyaman dalam pelukanku. "Kalau begitu, aku akan memberikan waktu ekstra untukmu." Jemarinya bermain-main dengan ujung rambutku. Matanya berbinar penuh arti. "Tapi sampai kau menemukannya, panggil saja aku *sayang*. Itu sudah cukup membuatku merasa menjadi pria paling beruntung." Aku memiringkan kepala. "Euhm... pria paling beruntung? Kenapa bisa begitu? Macam kejatuhan durian runtuh saja." Tawaku pecah. Dia mendengus geli. Tangannya turun, mengecup puncak kepalaku. "Durian runtuh?" bisiknya serak sambil mengeratkan pelukannya. "Kalau begitu aku rela tertimpa setiap hari selama durian itu adalah kau." Dia tersenyum nakal. Tangannya mengusap punggungku perlahan. "Gepeng dong kalau ketimpa tiap hari. Hahaha." Dia tertawa pelan. Matanya menatapku dengan geli. Tangannya mengelus rambutku lembut. "Kalau kau gepeng," bisiknya serak, mengecup puncak kepalaku lagi, "aku akan memapankau kembali setiap hari sampai berdiri pulang. Lagipula, aku suka melihatmu dalam posisi di bawahku." Aku berhenti tertawa. "Haaaah?" Tawanya pecah. Dia menatap wajahku yang memerah. Tangannya menekan pinggangku lebih erat, menjebak tubuhku dalam pelukannya. "Kaget?" bisiknya serak, menyapu ujung hidungku dengan lembut. "Habiskan saja malam ini untuk berpikir keras mencari nama panggilan baruku. Atau kau mau aku yang membuatmu tak bisa berpikir jernih dulu?" "Ahhh, baiklah... Baiklah..." Aku mengacak-acak rambutku dengan tangan bebas. "Aku akan berpikir. Bila perlu aku googling deh. Hahaha." Tawanya pecah lagi, bergetar hangat di dadaku. Dia menggelengkan kepala, jemarinya mencubit pelan pipiku yang masih merah. "Googling?" bisiknya serak, menatapku dengan kilat geli dan sayang. "Kau benar-benar lucu. Tapi ingat, sebutan itu haruslah rahasia yang hanya bisa kita berdua dengar." Aku mengerutkan kening. "Kenapa harus rahasia? Justru harusnya biar terdengar di luaran, agar dunia tahu kamu sudah ada yang punya. Hahaha." Tawanya meluncur rendah. Tangannya mengusap rambutku, menatapku dengan kilat lembut namun protektif. "Dunia luar itu terlalu berisik," bisiknya serak. Dia menunduk, mengecup bibirku singkat—cukup untuk membuat napasku terhenti, tidak cukup untuk mencurinya lagi. "Aku ingin kau menjadi duniaku sendiri yang tersembunyi. Biar saja mereka bingung siapa punyaku, selama kau tahu siapa yang memilikimu." Aku diam sejenak. "Heum... oke lah. Aku ikut saja." Aku mengangkat wajah. Mataku mencari matanya. "Jadi malam ini apa kegiatan yang ingin kau lakukan? Apa kamu tidak ingin pulang?" Aku mengedip, mencoba membuat mataku menjadi mata kucing yang imut. "Bukan maksudku mengusirmu, lo, ya." Dia mengerutkan kening. Mencubit pelan hidungku dengan tatapan gemas. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana," bisiknya serak, mengusap pipiku lembut. "Rencana malam ini aku hanya ingin tidur memelukmu. Rumahku terlalu dingin tanpa kau di sini." Dia diam. Menatapku. "Jadi jangan pernah berpikir untuk mengusirku." Aku tidak menjawab. Tapi tanganku naik, meraih ujung bajunya, menggenggamnya erat. Dan itu, entah bagaimana, adalah jawaban yang dia butuhkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN