Chapter Six
Saat Mas Axel meminangku, Bunda memintaku untuk menimbangnya terlebih dulu, karena Bunda mungkin sudah terbiasa dengan perhatian Mas Furqan yang menyiratkan kasih sayang terhadapku, Bunda sepertinya lebih setuju jika aku menikah dengan Mas Furqan, kendatipun begitu, Bunda toh tetap merestui aku menikah dengan laki-laki pilihanku sendiri.
Dan, entah itu intuisi seorang Ibu atau bukan. Namun, kenyataanya, laki-laki yang aku pilih itu sama sekali tak membuat aku bahagia. Juga tak pernah membuat Bunda tertawa, dia justru membuat Bunda terus menerus menangis karena keadaan aku kini. Bunda, sekali lagi untuk ke seribu kalinya, maafkan Zanna, Bunda.
“Bunda, malah diam disitu! Zanna mau sapu daun kering tuh di kaki Bunda.”
“Eh, iya. Ya sudah Bunda masuk dulu, jangan terlalu cape ya, Nak.”
“Iya, Bunda.”
Aku menghela nafas. Ah, seandainya saja ada tempat lain selain rumah ini, yang bisa aku tuju. Aku akan tinggal di sana, agar hari-hari Bunda dan Ayah berlalu tanpa melihat kepedihan yang melekat pada wajahku ini. Tapi, sayangnya aku tak punya pilihan lain, aku harus tinggal di sini, selain itu, tentu saja, Bunda dan Ayah adalah sumber kekuatan untukku. Agar aku tak gelap mata dan berniat buruk pada hidupku sendiri.
***
Aku masuk ke dalam, sudah waktunya makan siang. Di meja dapur ada sepiring buah-buahan segar yang baru saja dicuci, nampak sangat fresh dan membuat liurku hampir menetes. Aku meraih sebuah apel dan menggigitnya.
“Enak sekali..” lirihku menikmati buah berwarna merah segar itu.
Bunda mengusap bahuku dari bekalang. Aku menoleh sebentar dan tersenyum kemudian melanjutkan makan.
“Ibu hamil memang harus suka buah-buahan, agar bayinya tidak kekurangan gizi.” Bunda duduk di sisiku.
“Iya Bunda, alhamdulillah hari ini Zanna belum merasakan mual.”
“Wah, berarti vitamin dari Bidan cukup manjur, ya.”
“Iya, Bunda.”
“Nah, nanti makan nasi juga ya! Bunda juga bawa ini nih, besek dari pengajian tadi.”
“Pengajian apa Bunda?”
“Ituloh, anak perempuannya Bu Retno, selamatan bayinya yang cukur rambut.”
“Oh, gitu. Pasti lega banget kalau sudah lahir ya bunda.”
“Iya, bayinya lucu banget, persis bapaknya!” celetuk Bunda.
Aku berhenti mengunyah apel di mulutku.
Bunda tampak biasa saja, beliau meletakkan dua potong ayam balado ke sebuah piring, dan mulai sibuk membaca nama sang bayi yang tertulis di atas kertas yang bunda temukan di dalamnya.
Aku tahu Bunda sama sekali tak bermaksud jelek, tapi Bunda.. hati aku sakit mendengarnya. Kenapa aku selalu saja sensitif tentang semua hal yang diucapkan Bunda dan Ayah. Kali ini, kalimat bayi yang mirip dengan bapaknya membuat aku tersayat sembilu. Apa yang aku pusingkan? Aku sungguh aneh, apa masalahnya jika bayi itu mirip Bapaknya? Bukankah itu hal wajar? Apa karena calon bayi yang ada di perutku ini bahkan belum pernah melihat Ayahnya, perut tempatnya akan tumbuh besar ini belum pernah dibelai olehnya, suamiku yang akan menjadi Ayah dari anakku ini.
“Bunda, Zanna mau sholat dulu.” Ucapku seraya meletakkan apel yang baru separuh aku makan.
“Iya, habis itu makan siang ya, Nak!”
Aku tak menjawab, karena airmataku terlanjur luruh. Aku buru-buru mengambil wudhu agar airmataku terbasuh dan tak terlihat oleh Bunda. Kemudian aku tunaikan salat wajib empat rakaat, dan tersungkur di atas sajadah. Menangis. Lagi.
Hanya Allah yang tahu, ujian macam apa yang tengah aku hadapi. Dialah yang punya andil penuh atas hidupku ini, lantas apa yang aku risaukan? Aku hanya perlu berpasrah diri padaNya. Aku hanya perlu bersyukur bahwa hidupku masih jauh lebih baik dari orang lain. Betapa banyak kasus kekerasan rumah tangga yang berujung cacat fisik pada tubuh istrinya. Atau, kasus lain yang lebih mengerikkan. Pikiranku melayang jauh, membuat aku tak sadar tertidur di atas sajadah.
Sampai Bunda membangunkanku.
“Nak, makan dulu..” suara lembut Bunda terdengar samar-samar.
“Nak, Zanna.. makan dulu.”
Aku mengerjapkan mata, tanganku keram karena menopang kepalaku saat tidur tadi.
“Iya Bunda.”
“Kenapa, Nak? Pusing? Kok tidur dibawah?”
“Enggak apa-apa Bunda, Zanna enggak sengaja tidur di bawah, mungkin karena angin dari jendela sejuk jadi ngantuk tiba-tiba.
Kandunganku sudah memasuki bulan ke tujuh, biasanya tradisi kami saat seorang ibu hamil usia kandungannya menginjak usia tujuh bulan akan mengadakan acara siraman dan selamatan kecil-kecilan. Terlebih jika ibu muda itu mengandung anak pertama.
Namun, setelah aku pikirkan baik-baik sepertinya akan lebih baik jika tidak usah selamatan saja. Aku sangat khawatir nantinya akan mengundang perhatian warga di sekitar rumah Bunda. Bagaimana jika pada akhirnya aku akan menjadi sumber gunjingan karena saat selamatan tujuh bulan, suamiku tak hadir. Orang akan mulai merasa ada yang aneh, dan pasti akan banyak bertanya padaku, Bunda ataupun kepada Ayah.
Aku menyampaikan keputusanku itu pada Bunda, tapi wanita itu tampak tak setuju dengan pemikiranku. Dia berkata bahwa pamali kalau hamil anak pertama tapi tidak melakukan selamatan. Sudah aku yakinkan Bunda tentang akibat yang akan muncul karena di adakannya acara itu. Aku takut, mentalku tak kuat menerima banyak pertanyaan dan apalagi jika menjadu bahan gunjingan.
“Bunda, Zanna takut kalau nanti orang-orang kampung semuanya membicarakan Zanna.” sungutku.
“Nak, apa yang perlu kamu takuti saat kamu tak pernah berbuat salah. Kamu hamil dengan suami kamu, bukan dengan laki-laki lain, kamu juga tidak hamil di luar nikah. Jadi, apa yang harus mereka gunjingkan?” ujar Bunda lembut, seperti biasanya.
“Mereka pasti akan bertanya dimana suami Zanna, Bunda.”
“Ehm, kalau itu yang kamu takutkan, lebih baik hubungi suamimu, minta dia untuk datang.”
“Mas Axel sedang terkena masalah, Bunda. Bagaimana bisa Axel memintanya untuk datang?”
“Zanna..” Bunda membelai kepalaku.
“Minta dia untuk datang, dan katakan bahwa dia tak perlu memberi apapun pada kita. Biar Bunda dan Ayah yang urus semuanya. Dia cukup hanya datang, bagaimanapun juga, cabang bayi ini juga anaknya, darah dagingnya.”
“Tapi, Bund..”
“Cobalah dulu.. telepon dia, atau minta dia untuk datang..”
“Bunda benar, Nak. Cobalah dulu..” timpal Ayah.
“Baik, Bun, Yah. Zanna akan coba hubungi Mas Axel.”
“Minta dia untuk datang jika melalui telepon kurang jelas.”
“Baik, Bunda.”
Aku beranjak ke kamar, duduk di tepi tempat tidur kecilku. Tangan kanan menggenggam ponsel pintar yang dilayarnya tertulis nama dan nomor telepon Mas Axel. Suamiku.
Bagaimanapun, aku harus mencoba menghubunginya. Memberitahunya tentang rencana selamatan yang akan kami laksanakan beberapa hari lagi. Bunda sepertinya tak bisa menentang tradisi tujuh bulanan yang sudah turun temurun dilakukan oleh keluarga kami dan oleh sebagian orang di kampung ini.
“Baiklah, Zanna. Ayo, kamu hanya harus bicara dengan Mas Axel. Apa yang perlu kamu takutkan? Dia adalah suamimu.”
Aku mentap ikon berwarna hijau bergambar telepon. Beberapa detik kemudian, kudengar nama sambung dari dalam sana. Aku menunggu.
Tapi, tak ada jawaban dari sebrang sana hingga aku mentap kembali ikon tadi. Aku menghubunginya, untuk kali kedua. Jujur saja aku berharap bahwa dia tak perlu mengangkatnya. Dengan begitu, aku tidak perlu bicara apapun pada laki-laki yang sudah lebih dari setengah tahun tak kutemui itu. Jangankan bertemu, bicara di telepon saja kami tak pernah melakukannya. Hanya sesekali saja aku mengiriminya pesan tatkala aku baru saja memeriksakan kandunganku ke bidan terdekat.
Panggilan kedua juga nihil. Mas Axel sama sekali tak mau menjawab telepon dariku. Aku menunduk dalam, tanganku lemas dan terjatuh di pangkuan.
“Mungkin dia sedang sibuk..” lirihku.
“Atau dia tengah asik b******u dengan Clarissa?” Aku menengadah, menahan airmata agar kembali masuk ke dalam, tak mengalir keluar.
“Arh, kenapa harus aku membayangkan hal menyakitkan itu?!” Aku merosot ke lantai dan bersandar pada tepi dipan, menangis seraya meremas kuat ponsel di tangan kananku.
Entah apa yang tengah dilakukan suamiku di sebrang sana, jikapun dia sedang bersama dengan istri mudanya, lalu apa yang harus aku khawatirkan? Mereka tidak selingkuh. Mereka menikah sah. Dengan aku yang tak pernah menolak pernikahan itu.
“Zanna, bagaimana sudah di telepon?” suara Bunda dari luar kamar.
Aku buru-buru naik ke atas tempat tidur dan menyeka wajah dengan jilbab sebelum Bunda membuka pintu kamar dan masuk.
“Bagaimana?” ulangnya saat sudah berada di dalam kamar.
“Belum dijawab Bu.”
“Maksudnya?”
“Belum diangkat.”
“Oh, ya sudah, nanti coba telepon lagi ya. insyaAllah dia mau datang, kok. Bagaimanapun kamu ini kan istrinya!”
“Iya, Bunda semoga saja.”
“Ya sudah, Bunda tinggal ke pasar dulu ya! Mau membeli ayam untuk besok.”
“Ayam? Kan acaranya masih beberapa hari lagi, Bunda.”
Bundaku tersenyum.
“Untuk mie ayam ayah lho, Zanna.”
“Oh iya. Zanna lupa.”
“Zanna mau ikut?”
Aku menatap perutku yang sudah membesar. Dan terhenyak.
‘Hei Zanna! Kamu punya suami, lalu apa masalahnya jika kamu hamil dan perut kamu besar? Sudah! Abaikan saja perasaan negatif yang selalu muncul dan membuatmu gelisah. Lebih baik lakukan sesuatu, agar otakmu berhenti berpikir.
“Iya, Zanna ikut Bunda.”
“Ayuk!”
Kami naik angkot berwarna merah, angkot yang setiap hari aku naiki untuk ke kampus jika sedang tak bersama Mas Furqan. Kampusku cukup dekat dari rumah, hanya naik angkot satu kali dan berjalan kaki beberapa puluh meter saja.
“Eh, Zanna! Lama enggak ketemu!” seorang wanita berhijab menyapaku.
Aku menatapnya, dia duduk di depanku, sejenak aku berpikir siapa dia. Wajahnya nampak tak asing tapi aku khawatir salah orang.
“Ini aku! Fatimah!”
“Fatimah? Fatimah? Fati? Ini kamu?” ujarku terkejut dan senang bertemu dia di tempat yang tak terduga.
“Iya! Ini aku!”
“MasyaAllah, Fati!” aku memeluknya di dalam angkot sempit itu. Fati juga menyalami Bunda yang duduk di seberang kami.
“Zanna! Aku kangen banget sama kamu!”
“Aku juga! kamu kemana aja, Fati?”
“Duh, panjang ceritanya! Eh, aku sudah mau turun, ini simpan nomor w******p aku, biar bisa ketemu lain hari!”
“Oh, iya ini simpankan!” jawabku seraya menyerahkan ponsel pada Fati.
“Nah, coba telepon aku!”
“Iya..”
“Nah, sudah aku simpan nomor kamu! Nanti ketemuan ya! Janji ya, Zanna!”
“Iya, Fati! insyaAllah.”
“Ya sudah, aku turun dulu ya!”
“Mau ada apa? Rumah kamu sekarang di sini?”
“Bukan! Aku ada urusan di rumah kerabat suami.”
“Oh, yasudah, salam buat keluarga ya!”
“Iya. Pak berhenti depan pak, kiri! Sudah ya Zanna, Bu!” dia lalu turun dari angkot.
Wah aku sampai pangling dengan best friend di masa SMA ku itu. Dulu, Fati itu tidak seputih itu wajahnya, bahkan pipi dan keningnya dipenuhi oleh jerawat besar dan merah bak merapi hampir meletus. Senang sekali melihatnya kini semakin cantik dengan wajah bersih dan cantik seperti itu.”
“Itu Fati Lho, Bunda! Temen SMA Zanna! Masa bunda lupa!”
“Kamu saja lupa, Bunda apalagi. Sudah tua!”
“Zanna bukan lupa Bunda, tapi Fati tampak jauh berbeda. Jadi, Zanna hampir enggak kenal.”
“Beda gimana?”
“Ya dia nampak lebih cantik, dan dia sekarang ceria banget, kalau dulu dia pendiam dan suka murung bunda.”
“Bagus dong, mungkin ada sesuatu yang membuatnya begitu. Mungkin suaminya bisa buat dia bahagia.”
“Iya Bunda, alhamdulillah..” jawabku sekenanya.
***
to be continue
*
*
Halo reader, jangan lupa silahkan tap love dan bubuhkan comentarnya yaaa!! Sayang kalian semua banyak-banyak. Semoga selalu sehat dan dilimpahkan rejeki yang halal dan berkah. Saranghae.
Salam hangat dan sayang dari Kiy Santoso.^^