Berjuang Dari Bawah

1834 Kata
Chapter Seven Kami berbelanja tiga ekor ayam untuk jualan Ayah besok, Bunda juga membeli sayuran segar untuk masak hari ini, tak lupa juga berbagai penganan dari kedelai seperti tempe dan tahu, untuk asupan gizi calon bayiku, begitu kata bunda. Belakangan aku memang lebih suka makan sayur bening dan tempe tahu saja, segar sekali rasanya. Bunda sudah membeli semua daftar belanjaan yang beliau tulis di sebuah kertas kecil, Bunda memang sangat cermat, mencatat semua hal yang akan beliau beli agar tak ada yang terlewat dan membuat beliau bolak-balik. “Sudah semua, Bunda?” “Sudah sepertinya, tapi coba Zanna cek lagi, ini coba liat daftar belanjaan yang Bunda tulis.” Aku mencermati tulisan di kertas. “Sudah semua Bunda.” “Ya, sudah.” “Ayo pulang, Bunda. Sudah mulai terik.” “Iya, eh Dyandra mau makan soto dulu enggak?” “Soto. Bund?” “Iya, soto si mamang langganan kita!” “Wah, boleh bund, kebetulan Zanna sudah lapar.” “Ayo kalau begitu!” Kami menyebrangi jalan yang membelah hiruk pikuk pasar tradisional itu. Berjalan menyusuri para pedagang kaki lima, sampai akhirnya menemukan gerobak penjual soto ayam yang sudah berada di sana sejak aku kecil dulu. Kami memesan dua porsi untuk makan di tempat, ternyata menyenangkan juga berpergian berdua bersama Bunda, aku jadi merasa rileks untuk sesaat, meski sesaat tapi itu membuat aku nyaman. Belum siap soto yang kami pesan, tiba-tiba ada suara pria dibelakang kami. Memesan hal yang sama, hanya saja dia menyebutkan satu saja yang dia pesan. “Lho, Furqan?!” seru Bunda yang menoleh ke arah suara itu. “Bunda! masyaAllah!” ujar laki-laki yang ternyata Mas Furqan, sesuai dengan perkataan Bunda. Mas Furqan menyalami Bunda dan menyapaku dengan riang. “Kebetulan banget ketemu di sini!” Dia menatapku. “Iya, Bunda belanja sayuran di pasar tadi.” “Oh, gitu. Sudah pesan Bunda?” “Sudah, Nak!” “Kamu kok bisa ada di sini?” tanyaku. “Oh, aku mau berangkat kerja, ibu kebetulan enggak masak. Jadi mampir dulu ke si mamang buat sarapan, aku sering sarapan di sini kok, iya kan mang?” Si mamang hanya menoleh dan tersenyum, dia sibuk karena saat itu cukup banyak pembeli yang menunggu pesanannya jadi. Bunda terus saja mengobrol dengan Furqan. “Ke rumah dong kalau lagi libur! Bunda masakin kentucky nanti!” “Bener nih, Bunda?” “Bener, dong! Lagian kamu kayaknya sibuk sekali ya! Sudah berbulan-bulan pindah kerja, tinggal dirumah lagi, tapi enggak pernah nengokin bunda!” “Waktu itu Furqan sempat ke rumah, tapi sepi.” Aku terdiam, rupanya waktu itu. Mas Furqan memang pernah ke rumah. Berkali-kali dia mengetuk pintu, tapi aku yang hanya sendirian di rumah tak membukakkan pintu dan hanya mengintip dari jendela kamarku yang berada di sisi kanan pintu depan. Tentu saja aku tak bisa menerima tamu jika hanya sendiri dirumah, terlebih dia adalah laki-laki yang bukan muhrim, aku takut tetangga mengira aku ada apa-apa dengan Mas Furqan. “Sepi? Mungkin Bunda sedang di luar rumah.” “Iya, sepertinya begitu.” Kemudian, pesanan kami siap. Kami makan dengan tertib dan tak banyak bercakap-cakap satu sama lain. Sampai akhirnya kami selesai makan. Mas Furqan yang tengah menyeka keringat di keningnya dengan tisu, bergegas bangkit berdiri dan menghampiri si mamang. Dia membayar makanan, dan berkata berapa semua? Rupanya dia berniat membayar dua porsi lain yang kami makan. “Eh, Mas Furqan! Biar kami bayar sendiri!” “Ah, sudah! Biar aku saja! Boleh kan Bunda?” “Iya, boleh kok, makasih ya, Nak.” “Sama-sama Bunda!” Kami keluar dari tenda yang mengelilingi tempat makan warun itu. “Bunda, Furqan antar ya!” “Eh, jangan Mas!” “Iya Furqan katanya mau kerja?” tambah Bunda. “Masiih banyak waktu, ayo Furqan antar! Tunggu di sini ya, Furqan ambil mobil.” “Biar, Mas. Kami naik angkot saja!” “Jangan! Panas! Kasian kamu. Tunggu di sini sebentar ya!” dia berlari menjauh ke afrah mobilnya yang tampak diparkir di depan toko emas. “Bund, naik angkot saja.” Rengekku. “Tak apa, Nak. Furqan kan cuma mau antar. Lagipula dia kan teman kamu. Enggak enak nolaknya!” Aku menghela nafas, apa boleh buat. Aku sungguh tak menyadari kalau semua itu adalah rencana Bunda dan Mas Furqan. Dari dulu, Bunda memang sangat suka dengan laki-laki riang itu. Dia menyebutnya anak lanang tatkala menyapanya kala kami kecil dulu. Kami naik mobil, aku dan Bunda duduk di jok tengah. Sementara Mas Furqan duduk di belakang kemudi. “Hebat ya, anak lanang Bunda!” “Ah, Hebat apanya Bunda!” “Kamu berusaha sendiri, sampai sukses seperti sekarang.” Mas furqan tertawa. “Sukses apanya, Bunda. Mobil ini aja masih nyicil!” “Ya, setidaknya kamu bener-bener berjuang dari bawah, dan seorang diri pula.” “Iya, Bunda. Alhamdulillah, meski tidak mewah, yang penting ada buat antar Ibu kalau ke dokter.” “Iya, antar Bund juga ya kalau ke pasar!” “Haha, siap Bunda!” Aku tercengang, kenapa Bunda jadi genit begitu. Apa maksudnya? Meskipun aku tahu, sejal dulu Bunda dan Mas Furqan memang gemar sekali adu candaan. Mereka benar-benar sangat akrab. “Apa ih, Bunda, pasar kan deket! Naik angkot sama ojek kan bisa!” “Ya, kan beda, Nak. Naik mobil ini adem!” Benar, suamiku memang kaya, sebelum bangkrut seperti yang dikatakan Ibu mertuaku tempo hari. Mas Axel punya banyak mobil, tapi Bunda sama sekali belum pernah aku ajak berjalan-jalan denga mobil-mobil mewah itu. Tiba-tiba saja otakku kembali sibuk, memikirkan hal-hal negatif yang datang dengan kecepatan tinggi melebihi kecepatan kilat. Aku menghela nafas, aku takut kalau airmataku keluar dengan sendirinya. “Pokoknya, Bunda kalau mau kemana-mana, telepon Furqan aja, ya! Serius nih!” Bunda tertawa kecil. Dasar mereka itu, aku hanya diam saja mendengarkan candaan Bunda dan Mas Furqan. “Mau mampir ke tempat Ayah enggak, Bunda?” “Jangan deh, nanti Furqan terlambat kerja!” “Ya sudah, langsung ke rumah saja ya, Bunda.” Aku sama sekali tak bicara sampai kamu sampai di halaman depan rumah kami, saat aku dan Bunda turun, tetangga sebelah kami memicingkan mata, melihat dengan siapa kami datang. Namun, pengemudi mobil tak turun seperti titah bunda padanya. Aku cukup lega, karena tetanggaku yang gemar mencari kesalahan orang itu tak melihat Mas Furqan. Mobil itu kembali menjauh, aku dan bunda cepat-cepat masuk sebelum disapa oleh tetangga kami itu. Bukan kami tak mau akur dengannya, hanya saja kami rasa lebih baik kalau menghindar karena dia selalu saja berkata hal-hal yang buruk pada kami. “Furqan itu baik sekali ya, Nak!” “Iya, kan dari dulu Mas Furqan memang baik, Bunda.” “Kenapa ya, anak Bunda dulu enggak bisa jatuh cinta sama laki-laki sebaik dia.” “Bunda, kan Zanna sudah bersuami sekarang!” “Iya, Bunda bilang kan dulu, Nak.” “Kita doakan saja, semoga Mas Furqan mendapatkan istri yang sama baiknya dengan dia ya, Bunda.” “Amiiin..” “Zanna mau nyuci dulu ya, Bunda.” “Biar Bunda saja!” “Biar Bunda, Zanna saja! Cuma dikit kok!” “Ya sudah, jangan terlalu capek ya, Nak.” “Siap, Bunda.” *** Selepas mencuci dan membersihkan diri, aku mendirikan salat zuhur empat rakaat dan mengakhirinya dengan terpekur di atas sajadah, menyebut Kebesaran NamaNya, dan beristigfar sebanyak yang aku mau. Aku melepas mukena, dan meraih ponselku yang aku letakkan di meja tadi. Sekali lagi mencoba mengubungi Mas Axel. Bunda benar, bagaimanapun cabang bayi yang aku kandung ini adalah buah hatinya, darah dagingnya, apa dia akan sampai hati menolak permintaanku untuk datang ke selamatan tujuh bulan? Panggilan teleponku dijawab, tapi bukan suara Mas Guntara yang aku dengar, itu pasti mbak Clarissa. “Halo? Axel masih molor! Nanti saja telepon lagi!” Aku terkejut, apa katanya? Molor? Dia mengatai suaminya, molor? Astagfirullah.. Mbak Clarissa pasti tahu bahwa yang menghubungi Mas Axel adalah aku, jadi dia tidak bertanya siapa aku atau ada perlu apa. Tapi, kenapa dia bisa sekasar itu cara bicaranya? Apa sedang terjadi sesuatu di antara keduanya? Apa mereka tengah bertengkar? “Maaf, Mbak Clarissa, bisa sampaikan pesan saya untuk Mas Axel?” “Pesan apa? Kalau kamu mau minta uang, aku kasih tahu dari sekarang, kalau dia itu sekarang kere! Bangkrut! Jadi dia enggak bakal bisa kirim uang ke kamu! Huh, aku mau shopping aja susah, kemana-mana harus naik ojek online, gila banget!” celotehnya dari sebrang sana. Aku membuka mulutku lebar-lebar. “Mbak, kenapa bicara seperti itu?” lirihku yang luar biasa kaget, bahwa Clarissa benar-benar tak punya sopan santun, dia bahkan mengatai Mas Axel seperti itu. Kasar sekali! “Kenapa emang? Ada perlu apa sih? Cepetan deh!’ “Bu-bukan itu, Mbak!” jawabku. “Terus apa? Halah nanti aja deh! Tunggu dia bangun! Lagian suamimu itu ya! Bukannya mikir, lagi enggak punya uang gini malah asik tidur!” gerutunya tiada henti. Samar kudengar suara Mas Axel mengaduh. Dia mengeluh dan berkata pada Clarissa bahwa dia sedang tak enak badan. Namun, kudengar Mbak Clarissa terus saja mengomel. Apa Mas Axel sakit? Biasanya kalau dia sakit, semua harus disiapkan, makan dan obat, dia biasanya sama sekali tak mau makan jika tidak disuapi. Meski dia selalu saja bersikap kejam padaku saat itu, namun aku dengan sabar menyuapinya bubur saat dia sakit. “Apa dia sakit?” tanyaku tak terencana. Pertanyaan itu mengalir begitu saja dari bibirku. “Bukan sakit, tapi malas!” sentaknya. “Ini, bicara sendiri dengan orangnya!” ujarnya ketus. Ya Allah, kenapa wanita berhijab panjang itu sangat arogan dan kasar. Kemudian terdengar suara Mas Axel, dia agak mengerang sebelum berkata halo di telepon. “Mas, apa Mas sakit?” tanyaku peduli. “Enggak, ada apa?” jawabnya judes. “Mas, aku..” “Apa?!” bentaknya kasar. “Bunda minta Mas datang..” jawabku perlahan. “Untuk apa? Mas enggak pegang uang!” “Bukan itu, Mas. Bunda mau selamatan tujuh bulan kehamilan Zanna. Bunda mau Mas datang.” “Sudah Mas bilang kan enggak pegang uang!” “Bukan soal uang, Mas..” tapi panggilan tiba-tiba diputus secara sepihak oleh Mas Axel. Aku menghela nafas, dan terbengong menatap jendela yang terbuka. Harusnya aku gigih dengan keputusanku, untuk tidak mengadakan acara selamatan itu, dengan begitu aku tidak perlu meminta Mas Axel untuk datang. Dan dengan begitu pula, aku tidak akan mendapat penolakan dan sakit hati ini. Bodohnya aku. Mas Axel mengapa semakin buruk tabiatnya, dalam keadaan terpuruk begini, bukankah seharusnya dia sadar, bahwa inilah saatnya merefleksikan diri. Bahwa inilah saatnya menyudahi semua hal-hal yang negatif. Namun, rupanya dia tak lebih baik dari sebelumnya. Cobaan yang Allah berikan padanya tak lantas membuat dia sadar dan merubah tabiatnya. Aku iba padanya, karena hidupnya jadi kacau kini. Tapi, ah Zanna. Hidupmu bahkan lebih kacau, bukan lebih kacau.. entah apa namanya, karena aku dan Mas Axel sesungguhnya ada satu kesatuan, berlayar dengan kapal yang sama, mengarungi samudera dengan layar terkembang yang sama. Namun, beginilah kami sekarang. Terpisah karena hal yang sebenarnya bukan masalah besar. Sampai pada akhirnya dia menikah lagi dan hidupnya hancur, jadi bisa dikatakan hidup aku juga hancur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN