Chapter 26 "Zanna.." Bunda bergegas menghampiriku yang masih mematung di tempat. Cepat-cepat kuseka airmata. Berusaha tenang dan tegar, di depan Bunda. "Zanna.." ulang Bunda. Aku menoleh, tersenyum manis meski sikapku itu agak tidak sinkron dengan situasi ini. "Iza mana, Bunda?" "Di kamar Bunda." Mata Bunda memerah, wanita baik itu menatapku iba. Bunda menatap ke arah pintu, tapi tak bicara apapun. Aku mengikuti arah pandangan Bunda, apa mungkin Mas Axel kembali lagi untuk meminta maaf dan berganti pikiran. Tapi, bukan dia yang aku lihat. Di sana ada Mas Furqan berdiri dengan rahang agak mengeras. Sorot matanya lebih tajam dari biasanya. Dia membawa sebuah kantong kresek putih. Entah makanan apa lagi yang dia bawa kali ini. Laki-laki baik yang bukan muhrim bagiku itu, selalu saja d

