"Benar, tidak akan ada akhir menyenangkan dari sebuah hubungan yang tidak halal. Kalau tidak luka, berarti dosa yang telah pasti juga akan didapat oleh pemilik luka ataupun bukan. Kesimpulan yang sederhana bukan?" -- Meitantei --. "Suf... bagaimana cara aku minta maaf ke Bagus?" Suara Salsa serak. Dia tidak menatapku saat berbicara, menundukkan pandangan. Tangannya masih memegangi lengan bajuku. Pertanyaan Salsa memenuhi isi kepalaku. Salsa melepas pegangannya. Menatap mataku lamat-lamat, berharap diberi jawaban yang memuaskan. Aduh. Tekanan ini... seharusnya tadi aku tidak meledeknya, apalagi sampai membahas kabar burung si Aldi. Senjata makan tuan untukku sendiri ini. Aku menghela nafas, Salsa masih diam dalam tatapan dalamnya padaku. "Tidak perlu minta maaf Sa." Salsa terperanjat

