bc

Dokter Di Dusun Bidari

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
doctor
drama
bxg
pack
musclebear
like
intro-logo
Uraian

PERINGATAN BANYAK ADEGAN 21++ 🔞🔞 Dusun Bidari bukan dusun biasa. Hampir 90 persen penduduknya perempuan. Cantik. Kulit putih cerah alami, mata putih bersih serta warna rentina mata Coklat muda terang, rambut hitam panjang, wajah-wajah yang seperti tidak pernah tersentuh dunia luar. Tapi di balik semua itu… ada keanehan yang bikin dunia medis bingung. Selama puluhan tahun, bayi yang lahir di Bidari hampir selalu perempuan. Faktor genetik diduga jadi penyebabnya. Akibatnya, banyak gadis dewasa di sana tumbuh tanpa pasangan, tanpa pernikahan, dan tanpa jawaban. Dr. Asep Sutejo, 39 tahun. Dokter umum sekaligus spesialis kandungan. Dikirim ke dusun terpencil itu dengan satu misi: mencari penyebab ketidakseimbangan kelahiran… dan mencoba membuat rasio kelahiran kembali normal lewat penelitian genetik. Tapi tugas itu tidak sesederhana data medis dan sampel darah. Karena semakin lama tinggal di Bidari… semakin sulit bagi Asep untuk tetap fokus pada penelitiannya. Apalagi saat satu per satu gadis dusun mulai mendekat. Di dusun yang dipenuhi perempuan… Pak dokter datang membawa ilmu. Tapi yang menunggunya… mungkin jauh lebih rumit dari sekadar penelitian genetik.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1. Tersesat
Suara tawa perempuan terdengar samar dari balik rumput liar. Langkah Dokter Asep Sutejo langsung berhenti. Setelah berjam-jam jalan sendirian nembus hutan gunung, suara manusia harusnya terasa melegakan. Tapi entah kenapa, yang muncul malah rasa nggak enak. Sambil menahan napas, dia menurunkan carrier besarnya pelan ke tanah. Tangannya menyibak semak setinggi d**a yang nutup pandangan ke arah sungai di bawah. Di tepian sungai yang jernih, kabut sore tipis menggantung di atas permukaan air. Tiga gadis muda sedang mencuci kain sambil bercanda. Asep sempat terpaku. Kulit mereka bersih tanpa riasan. Rambut hitam panjang jatuh begitu aja di punggung. Dan anehnya, nggak ada satu pun barang modern yang mereka pakai. Saat salah satu gadis menoleh sambil tertawa, Asep langsung sadar ada yang janggal. Putih mata gadis itu terlalu bening. Irisnya cokelat terang, mirip madu kena cahaya senja. Seumur hidup, dia belum pernah lihat mata kayak gitu. "Sial... ketahuan lagi ngintip." Dia cepat-cepat mundur ke balik semak, berusaha ngatur napas. — 7 JAM SEBELUMNYA — "Permisi, Pak. Mau tanya jalan ke Dusun Bidari." Asep baru turun dari bus tua yang berhenti kasar di kampung kecil kaki gunung. Sambil membetulkan posisi carrier dan tas medisnya, dia menghampiri warung kopi tempat beberapa bapak lagi nongkrong. Pemilik warung menaruh gelas tehnya pelan. "Tanya apa?" "Mau ke Dusun Bidari." Begitu nama itu keluar, obrolan warung langsung mati. Seorang pria di bangku kayu menoleh pelan, matanya mengukur Asep dari ujung kepala sampai kaki. "Jauh." Nada suaranya datar. Asep mulai merasa ada yang nggak beres. "Kalau buat orang normal... seberapa jauh, Pak?" Beberapa orang di warung ketawa kecil. Pemilik warung menunjuk tanjakan di belakang kampung. "Ikutin jalan kebun kopi terus." Cuma itu. Nggak ada penjelasan tambahan. Asep mengernyit. "Jadi Bapak ngasih petunjuk ke tempat yang Bapak sendiri belum pernah datangi?" Orang itu cuma ngangguk santai. Asep mengusap wajah pelan. Mantap. Belum juga mulai, kesabarannya udah dites duluan. Dia beli air mineral sama mi instan buat bekal, lalu mulai mendaki. Satu jam pertama lewat kebun kopi yang lembap masih aman. Masuk jam berikutnya, carrier di punggungnya mulai terasa kayak diisi batu bata. Sambil ngos-ngosan, dia merutuki nasib sendiri. "Dokter spesialis kandungan lain sibuk seminar di hotel mewah. Lah gua malah hiking bawa laboratorium mini." Dia berhenti sebentar. Mengeluarkan HP satelit, lalu membuka ulang file briefing dari Dinas Kesehatan. Dusun Bidari. Tempat yang katanya selama puluhan tahun lebih sering melahirkan bayi perempuan. Tugasnya kelihatan simpel di atas kertas. Datang. Observasi. Ambil sampel genetik. Selesai. Masalahnya, lokasi dusun itu ada di gunung terpencil sampai GPS pun mulai ngaco. Waktu sampai di simpang tiga tanpa petunjuk apa pun, Asep nekat ambil jalur kanan. Salah besar. Nggak lama kemudian, dia sadar dirinya udah nyasar total di tengah hutan berkabut tanpa sinyal. "Hebat, Sep. Dokter spesialis, navigasi nol besar." kesel sama diri sendiri. Lalu telinganya menangkap suara aliran air. Dia langsung ngikutin suara itu sampai tembus ke sungai berarus dingin. Mengingat briefing yang bilang Bidari dekat sungai besar, Asep menyusuri pinggir batu dengan sisa tenaga yang ada. Sampai akhirnya suara tawa perempuan dari balik rumput tinggi membuyarkan lamunannya. "Sore." Asep mengangkat tangan pelan, mencoba kelihatan ramah saat tiga gadis tadi keluar dari balik semak sambil membawa keranjang anyaman. Langkah mereka langsung berhenti. Mata mereka naik turun menilai Asep yang kucel, penuh debu, dan lebih mirip pendaki gagal daripada dokter. Asep nyengir canggung. "Maaf. Saya Dokter Asep Sutejo dari Dinas Kesehatan. Lagi cari Dusun Bidari. Kalau saya salah jalur... tolong jangan suruh saya muter balik tujuh jam lagi." Dua gadis di belakang keliatan nahan senyum. Sementara gadis bermata madu di depan maju satu langkah. Tatapannya pindah ke carrier besar di punggung Asep, lalu ke tas medis di tangannya. Kayak lagi nimbang apakah orang asing di depan mereka ini bahaya... atau cuma dokter apes yang nyasar. berjalan fokus ke jalan setapak tanpa banyak bicara. Lalu gadis itu akhirnya buka suara. "Bapak... dokter baru itu, ya?" “Apa Bapak dokter baru itu?” tanya gadis berambut panjang yang berdiri paling depan. Asep baru sadar tangannya masih mencengkeram tali carrier erat-erat. “Iya, saya Dokter Asep Sutejo dari Dinas Kesehatan,” jawabnya sambil melempar senyum tipis. “Tenang aja, ini cuma obat sama alat medis.” Dua gadis di belakang langsung ketawa kecil, sementara gadis di depan cuma menahan senyum. Dari jarak sedekat ini, Asep baru sadar ketiganya punya warna mata cokelat muda yang jernih. Tapi mata gadis di depan sedikit lebih terang dibanding dua temannya—hal kecil yang refleks ketangkep sama mata dokter. “Bapak jalan sendirian dari bawah lewat jalur kebun kopi?” tanya gadis itu lagi sambil melirik carrier di tanah. Asep langsung menghela napas panjang. “Nah, bagian kebun kopi itu awalnya bener,” katanya sambil menggaruk kepala. “Tapi habis simpang tiga saya malah ambil kanan. Ternyata insting saya cocoknya buat milih gorengan, bukan nyari dusun di gunung.” Dua gadis di belakang langsung cekikikan lagi. “Pasti ambil jalur kanan, ya?” sahut salah satu dari belakang. Asep menoleh heran. “Kok kalian bisa tahu?” “Karena hampir semua orang selalu salah ambil kanan di simpang batu itu.” Asep mendengus pelan sambil membetulkan posisi tas medisnya. “Bagus deh. Saya lega tahu ternyata saya gak gagal sendirian.” Udara makin dingin. Kabut mulai turun di sela pepohonan. Gadis paling depan sempat melihat langit yang mulai gelap sebelum kembali menatap Asep. “Kalau Bapak mau ke Bidari sekarang, ikut kami aja. Udah sore. Kalau salah jalur lagi, malam keburu turun.” Asep gak mikir dua kali. “Dengan senang hati.” Dia langsung mengangkat carrier-nya lagi lalu berjalan di belakang mereka. Beberapa menit pertama, cuma suara langkah kaki dan angin gunung yang terdengar. Asep baru sadar langkah ketiga cewek di depannya cepet banget. Postur mereka ramping, tapi jalannya enteng. Sementara dia baru beberapa menit jalan, punggungnya udah protes duluan. “Bapak bawa apa aja sih di tas?” tanya gadis yang paling belakang. “Berat banget kayak mau pindahan.” Asep tertawa kecil sambil menyeka keringat di dahinya. “Kurang lebih begitu. Baju ganti, alat medis, dokumen dinas… sama HP satelit.” “HP?” tanya mereka bertiga hampir barengan. Asep baru ingat. “Oh… benda buat komunikasi jarak jauh.” “Komunikasi?” tanya gadis paling depan. “Kayak radio di balai dusun?” “Mirip,” jawab Asep. “Cuma lebih canggih dikit.” “Nonton itu apa?” tanya gadis di sebelah kiri dengan muka polos. Asep sempat bingung milih penjelasan. “Hmm… susah dijelasin kalau belum lihat barangnya.” Gadis paling depan mengernyit pelan. “Jadi orang yang jauh… bisa kelihatan di benda itu?” Asep ketawa pendek. “Kurang lebih begitu.” Ketiganya saling pandang sambil berusaha mencerna jawaban aneh itu. Yang paling depan akhirnya ikut tersenyum kecil untuk pertama kalinya. Dan entah kenapa, senyum itu malah bikin otak dokter Asep mulai mikir lagi soal genetik dusun ini. “Bapak kenapa?” tanya gadis itu. “Dari tadi suka melamun.” Asep langsung tersentak. “Oh, maaf.” Dia berdeham kecil. “Kebiasaan dokter… suka ngamatin orang.” Gadis itu mendengus geli. “Bohong banget.” Asep langsung terkekeh. “Ya… dikit.” Perjalanan mereka berlanjut sampai cahaya lampu minyak mulai terlihat dari kejauhan. Rumah-rumah panggung kayu berdiri di lereng gunung. Asap tungku naik pelan dari sela dapur. Asep berhenti sebentar begitu menginjak tanah dusun. “Jadi ini Bidari…” Dia menyeka keringat sambil tertawa lega. “Syukur. Saya sempet takut perjuangan dari pagi cuma berakhir nyasar ke desa orang.” Ketiga gadis itu ketawa kecil lagi lalu membawa Asep ke rumah paling besar di tengah dusun. Begitu sampai di depan tangga, seorang pria paruh baya keluar sambil membawa lampu minyak. “Ada apa?” Gadis paling depan maju selangkah. “Pak, dokter baru dari kota udah sampai.” Asep langsung mengangguk sopan. “Saya Dokter Asep Sutejo, Pak. Dari Dinas Kesehatan.” Pria itu mengamati Asep yang penuh debu dari atas sampai bawah. “Kamu datang sendirian lewat bawah?” tanyanya. “Terus salah belok di simpang tiga?” Asep langsung melongo. “Jangan bilang semua orang di dusun ini bisa nebak begituan.” Kepala dusun menghelakan napas pendek lalu tertawa kecil. “Hampir semua orang kota kena jebakan simpang itu.” Dia membuka pintu rumah. “Masuk dulu.” Rumah itu hangat karena tungku yang masih menyala. Asep menjatuhkan carrier ke lantai papan dengan bunyi gedubrak pelan. Sambil menyeruput teh hangat, dia menceritakan kesialannya dari awal naik bus sampai nyasar di sungai. Kepala dusun cuma mendengar sambil manggut-manggut. “Udah malam,” katanya setelah Asep selesai cerita. “Tidur dulu. Soal penelitianmu, besok aja.” Asep baru mau mengucapkan terima kasih saat seorang gadis keluar membawa selimut lipat. Asep sempat diam. Warna iris matanya jauh lebih terang dibanding yang lain. Hampir mirip amber kena cahaya lampu minyak. “Narumi,” panggil kepala dusun. “Siapkan kamar tamu buat dokter.” Asep baru ngeh. Anak kepala dusun. Narumi mendekat lalu menyerahkan selimut itu. “Kamarnya udah siap, Pak.” Asep buru-buru menerima. “Ah… terima kasih, Mbak Narumi.” Narumi mengangguk kecil. Matanya sempat jatuh ke kantong jaket Asep tempat HP satelit menyembul keluar. “Benda itu…” tanyanya pelan. “Beneran bisa dipake nonton?” Asep tersenyum kecil. “Iya. Namanya HP satelit.” Narumi masih kelihatan penasaran. “Nonton itu… sebenarnya kayak mana, Dok?” Asep menahan tawa kecil. “Agak susah dijelasin.” Dia menepuk kantong jaketnya pelan. “Nanti kalau ada waktu, saya tunjukkin.” Mata Narumi langsung sedikit berbinar. “Beneran?” “Iya.” Narumi mengangguk kecil lalu masuk lagi ke dalam. Setelah pintu kamarnya tertutup, Asep rebaan di ranjang. Kayaknya tugas di dusun terpencil ini gak bakal sesederhana isi briefing dari dinas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
757.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
989.3K
bc

A Warrior's Second Chance

read
365.4K
bc

Not just, the Beta

read
351.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook