*TAMAN BERMAIN THE CRYSTAL WORLD*
Para siswa anak sekolah sudah di sebar ke beberapa tempat di taman bermain The Crystal World yang berada di sisi istana Black Dragon. Suasana malam yang mencekam terasa di taman bermain ini, lalu tidak lama kemudian Fian dan gengnya baru saja sadarkan diri setelah pingsan karena menghirup asap bius yang di lempar oleh Boy sebelumnya.
“Aah… HAH?! APA INI?!” Teriak Agus salah satu kroco preman sekolah kelas tiga, ketika membuka matanya dia sudah duduk di atas perahu Niagara dalam keadaan tangan dan kaki terikat.
“Kenapa kita ada disini? Apa ini di alam mimpi?” Ucap Fian penuh tanya dengan keadaannya saat ini, dia teringat tidak sadarkan diri setelah diselimuti asap putih di gudang belakang sekolah.
Sebuah perahu seperti dalam wahana Niagara di Dufan berlayar menyusuri sungai kecil yang mengarah ke sebuah gua yang begitu gelap di depan sana.
“HIII HIHIHIHI” Suara kikikan Kuntilanak terdengar menggema dari dalam mulut gua tersebut dan hal ini membuat Fian dan para kroconya ketakutan.
“Sial! Kita mau di bawa kemana? Dan sebenarnya mimpi macam apa ini kok terasa nyata?!” Ucap salat satu kroco.
ZZZRRRRRRR ZZZZRRRRR!
Suara air deras terdengar ketika mereka sudah tepat berada di mulut gua. Perlahan-lahan perahu ini masuk ke dalam kegelapan yang amat sangat pekat.
“Ini gelap sekali!”
“Dan kenapa perahu ini semakin condong ke bawah? Dan bergerak semakin cepat?!”
Aliran sungai semakin kencang mendorong perahu kecil ini menyusuri gua misterius yang gelap itu. Tubuh Fian dan para kroconya terpontang-panting karena gelombang air yang juga semakin besar, sampai-sampai bagian sisi perahu membentur dinding gua berkali-kali.
AAAAAARRRRRGGGHHHH!
WAAAAAAAAA!
MAMAAAAAAAA!
MANG UDIIIIIIINNN!
Para berandal yang terkenal sangar ini teriak ketakutan ketika mereka menyadari di depan sana adalah ujung sungai. Lalu perahu pun terbang dan terjun ke bawah..
BYUUUURRRR!
Tubuh Fian dan gengnya menghantam air di bawah dengan keras yang membuat tubuh mereka terasa perih dan sakit seakan-akan tulang-tulang akan lepas dari tubuhnya. Dalam keadaan terikat mereka tidak mampu berenang kepermukaan dan membuat tubuh mereka tenggelam.
“I ini bukan mimpi! Rasa sakitnya nyata!” Gumam Fian yang berusaha menggoyang-goyangkan tubuh dan kakinya agar bisa terangkat ke atas permukaan air.
“Water wave cannon!” Dari sisi danau dalam gua Fay mengeluarkan sihir gelombang air yang mendorong Fian dan para kroconya keluar dari dalam air sehingga tubuh mereka terseret ke sisi danau bawah tanah di dalam gua The Crystal World yang sebelumnya tempat ini merupakan bagian dari Pulau Kelelawar, namun Boy memindahkan sebagian wilayah istana sayap timur ke ruang penyimpanan dimensi tanpa batas ini.
“Uhuk uhuk uhuk...”
“Ada apa ini?”
“Apa kita selamat dari kematian?”
“Kita harus melepaskan ikatan ini dan segera mencari jalan keluar dari tempat aneh ini?”
Fian berusaha untuk bangun dan meminta kawan disebelahnya untuk sama-sama membuka ikatan talinya.
“Uhuk.. Gue pikir bakalan mati tenggelam disini? Ini beneran nyata, bukan mimpi! Hah hah hah” Ucap Agus terengah-engah dan masih merasakan perih pada tubuhnya karena menghantam air dengan keras.
Setelah usaha yang cukup lama, mereka pun berhasil melepas ikatan tali yang mengekang berdiri sehingga mereka bisa berdiri dan mencoba menyusuri area danau bawah tanah ini. Namun, ketika Fian dan yang lainnya hendak berjalan, tiba-tiba tanah bergetar.
“Apalagi ini?”
“Apa ada gempa?”
“Sial! Sebenarnya apa yang terjadi pada kita?!”
Tanah yang bergetar itu mulai bergelombang dan memunculkan tulang tangan dari bawah tanah dan memegang kaki anak-anak berandalan ini.
“AAARRRGGGH!”
“Apa ini? Tulang?!”
Tidak lama kemudian, monster mayat hidup muncul dari bawah permukaan tanah yang retak itu. Para berandalan terkejut ketakutan, bahkan diantara mereka ada yang sampai kecing di celana.
Salah satu monster mayat hidup mendekati Fian yang ke dua kakinya di tahan oleh tangan zombie di bawahnya. Monster itu mendekati wajah Fian dan tangannya yang bau, kotor, juga bersimbah darah itu menyentuh wajah Fian sehingga membuat pipinya terbasahi darah yang kotor itu.
“AAAAH! A ap apa yang kau lakukan?! Setan b******n!” Sergah Fian melihat dirinya dipelototi dan di sentuh oleh monster dengan tubuh yang busuk dan tidak utuh itu, dia merasa jijik dan juga ketakutan.
“Kau kah itu yang suka mengganggu tuan kami?” Tanya monster mayat hidup itu dengan suara yang lirih, bibirnya tepat di sisi Fian yang gemetar ketakutan, namun ia tidak bisa lari dan tanpa disadarinya celananya sudah basah karena air kencing yang mengalir karena rasa takutnya dengan keadaan yang menyeramkan menimpanya saat ini.
“Ttu tuan mu... ss ssi ssiapa?!” Tanya si raja perundung sekolah yang terkenal kejam itu ternyata memiliki rasa takut dengan hantu. Sebuah fakta baru terungkap karena sebenarnya Fian takut dengan hantu sejak kecil, tapi dia menutupi rasa takutnya ini dengan bersikap kasar ke orang lain.
“Tuan kami... tentu saja dia adalah master dari tempat ini gyahahaha!” Jawab monster mayat hidup dengan tertawa melepaskan tangannya dari wajah Fian dan saat itu cengkraman tangan mayat hidup bawah tanah melepaskan kaki Fian dan gerombolannya. Setelah terlepas, mereka pun berlari ke dalam lorong gua lainnya menjauhi kumpulan monster mayat hidup itu.
Hah hah hah hah
Gerombolan berandalan remaja ini terus berlari sekencang-kencang menyusuri lorong gua bawah tanah yang hanya diterangi dengan api obor yang menyala di dinding gua.
“BUK!”Fian menabrak tubuh seseorang yang besar dihadapannya, tubuhnya tersungkur dan sehingga kawan-kawan dibelakangnya saling bertabrakan karena langkah mereka terhenti dengan tiba-tiba.
Menyadari ada seseorang yang ditabraknya, Fian melihat sosok tubuh pria yang sangat besar dengan kepala yang besar berbentuk persegi dan ada sekrup disetiap sisi kepalanya. Fian dan yang lainnya sadar kalau kulit pria tersebut berwarna pucat dan penuh dengan jahitan.
“Kalian... segerombolan manusia... kenapa ada disini?” Tanya Frenkenstein pada mereka.
“AAAAARRRGGGHHHH!” Menyadari sosok monster lainnya Fian beserta para kroconya segera bangkit dan lari ke sisi lain lorong gua.
“Aaarghh arrghh aku lelah dan sangat haus.” Keluh Agus kelelahan dan ia berjalan sempoyongan. Gerombolan ini mengalami tekanan fisik dan mental yang bercampur-baur antara rasa bingung, takut, jijik, cemas dan lelah.
“Dosa apa kita sampai mengalami hal seperti ini?”
“Bukannya dosa kita memang banyak yah? Karena sering merundung orang-orang yang lebih lemah dari kita?”
Dalam keadaan sempoyongan kini mereka berada di wilayah gua yang dipenuhi dengan jaring laba-laba.
“Tempat apa ini? Banyak jaring laba-laba dimana-mana” Ucap Agus sambil melepas jaring-jaring tipis berwarna putih yang menempel pada tubuhnya.
Di saat itu langkah Fian terhenti karena merasakan hawa yang kuat dan menakutkan di depan sana yang begitu gelap.
Lalu tidak lama kemudian cahaya merah berbentuk mata bermunculan dari lorong-lorong yang gelap itu.
“A ap apa itu?”
Tidak lama kemudian cahaya merah itu mendekati mereka dan tersingkaplah kalau mereka sekarang berada di sarang monster laba-laba putih.
Fian dan gengnya mendapatkan siksaan dari monster-monster yang berada di The Crystal World ini. Setelah dari sarang laba-laba putih mereka di ikat dengan jaring laba-laba monster ini dan di lempar ke atas permukaan ke wilayah taman bermain yang di huni oleh para monster boneka.
Para monster boneka membawa para berandalan remaja ini memainkan wahana-wahana ekstrim yang dapat membuat jantung mereka hampir berhenti, mata mereka hampir copot, bahkan darah-darah mereka keluar dari lubang hidung juga telinga, dan juga ada wahana yang bisa membuat mereka muntah darah sampai-sampai semua isi perut mereka hampir keluar.
Rencana wahana neraka di taman bermain putri raja iblis ini memang di rancang oleh Avriel, tapi Boy meminta agar dia tidak terlalu berlebihan dan membuat para remaja ini mati. Walaupun sebenarnya penyiksaan ini sudah hampir membuat nyawa para berandalan ini melayang.
Setelah membuat mereka semua pingsan, Avriel membuka gerbang keluar dan menyuruh pasukan bonekanya mengembalikan geng ini ke gudang sekolah.
Dan pada hari itu seisi sekolah pada heboh karena sejak istirahat makan siang, para berandalan yang meresahkan itu sempat menghilang dan sore harinya mereka ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan, namun nyawa mereka masih utuh. Para guru menganggapnya mungkin terjadi pertarungan internal diantara mereka, walaupun sebenarnya tidak ditemukan tanda-tanda lebam akibat pukulan pada tubuh mereka.
“Sepertinya untuk beberapa minggu kedepan kita akan merasakan kedamaian di sekolah ini.” Ucap Lucky sambil memegang pundak Boy.
“Yah sepertinya begitu, setidaknya kita harus menikmati saat-saat terakhir di masa SMA.” Kata Boy sambil berjalan keluar menuju pintu gerbang sekolah.