*TIGA HARI BERIKUTNYA DI SEKOLAH*
Boy dengan penampilan lebih bersih, wajah yang cerah, berjalan dengan tegak dan penuh percaya diri memancarkan kharisma yang kuat disekelilingnya. Para siswa tampak pangling dengan sosok anak pintar no satu di sekolah ini, karena biasanya dia datang dengan wajah lesu, dengan lingkar hitam di bawah matanya, berjalan dengan bungkuk dan selalu terlihat kelelahan.
Namun kali ini Boy datang dengan aura yang penuh rasa percaya diri, hal ini disebabkan karena level statusnya yang meningkat dan pengalamannya berhadapan dengan para monster di dunia lain.
Saat berjalan di lorong sekolah menuju kelas, seperti biasa Fian dan gengnya selalu mengusili anak-anak cupu dan lemah yang melewati lorong ini tak terkecuali Boy yang memang dulunya termasuk ke dalam kategori cupu dan lemah.
“Hoy hoy hoy siapa ini? Gue pikir ada anak baru, oh ternyata siswa no satu di sekolah ini baru saja melewati kita.” Ucap Agus salah satu kroco geng Fian yang terkenal songong dan tanpa ampun merundung siswa yang lemah di sekolah ini.
“Lo terlihat sangat berbeda dari biasanya? Apa lo menjalani perawatan kecantikan? Ah! Tidak mungkin anak yang ditelantarkan oleh keluarganya dan hidup dalam kemiskinan ini mampu merawat dirinya sendiri hahahaha.” Ucap Fian meledek Boy.
Lalu segerombolan anggota geng nya mengerubungi Boy sehingga jalan menuju kelas di tutup oleh mereka. Para guru tahu kelakukan geng Fian ini, tapi mereka menutup mata karena siswa-siswa ini memiliki latar belakang keluarga yang kuat dan cukup terpandang di kota ini. Sebelumnya ada satu guru baru yang menegur geng ini, esoknya guru tersebut tidak pernah mengajar lagi dan rumornya dia mengalami kecelakaan dan berada di rumah sakit. Karena hal ini, para guru lebih memilih mengabaikan mereka demi menjaga karir mereka bekerja di sekolah ini.
Boy berdiri dengan tegap diantara kumpulan anggota geng Fian yang memang sering merundung dia sejak kelas satu SMA hingga saat ini ia sudah memasuki semester ke dua kelas tiga SMA. Jadi, selama masa sekolahnya Boy belum sekali pun menikmati masa-masa sekolah yang menyenangkan, penuh energi, merasakan percintaan remaja atau pun berkumpul bersama gengnya.
Yah karena selama ini Boy berjuang untuk bertahan hidup, sepulang sekolah ia harus bekerja hingga tengah malam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membayar kontrakan. Jika ada waktu luang dia lebih banyak menggunakan waktu itu untuk istirahat dan belajar, paling dia mendapatkan hiburan ketika Lucky memaksanya untuk bermain bersama.
Tapi untuk hari ini, Boy memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk mempertahankan diri atau melawan kelompok perundung di sekolah ini.
“Fian... apa kau tidak bosan selalu merundung ku selama hampir tiga tahun ini?” Tanya Boy dengan berani, sebenarnya kaki dan tangannya cukup gemetar karena masih ada rasa trauma dengan sosok yang sering menyiksanya selama di sekolah ini.
“Oh waw... ini pertama kalinya kamu berani berbicara dan bertanya seperti itu kepada ku? Bukannya kau menikmati setiap hantaman dari kepalan tinju ku ini Boy?” Jawab Fian dengan sorot mata yang tajam dan senyum menyeringai menghampiri Boy, kepalanya condong ke wajah Boy dengan aura yang mengintimidasi.
Boy bergeming, walaupun dia sadar memiliki kekuatan yang luar biasa saat ini. Tapi karena tubuhnya selama ini sering di hajar oleh Fian dan kawan-kawannya, dia jadi ragu untuk membalasnya, tubuhnya masih gemetar, namun aura mempertahankan dirinya cukup kuat dan hal ini dirasakan oleh Fian.
Fian tanpa sadar melangkah mundur, dia seakan-akan melihat bayangan hewan buas dan besar di belakang tubuh Boy.
“Perasaan apa ini? Entah kenapa seketika aku merasa ada ancaman besar dari anak culun ini.” Gumam Fian yang menyadari ada suatu perubahan pada diri Boy.
Ting Tong... Ting Tong...
Suara bel masuk kelas mengumandang ke seluruh gedung sekolah.
Mendengar suara bel ini Fian dan geng nya membubarkan diri dan menuju kelas mereka masing-masing, namun sebelum masuk kelas Fian membisikkan sesuatu ke telinga Boy.
“Seperti biasa, ku tunggu kau di gudang belakang di jam istirahat siang nanti.” Bisik Fian, ia pun berlalu melewati Boy.