Aku masih menangis sesegukan dan menyesali semua kekonyolan ini. Mungkin ini karena aku yang terlalu lebay kebanyakan nonton sinetron. Tapi, tetap saja, rasanya apa yang aku katakan tadi terasa benar dan terasa salah. Benar karena ini demi kebahagian bersama dan salah karena menentang prinsipku sendiri. Ingat sekali aku dulu menolak mati-matian Arghani hanya karena aku takut dan tidak mau dimadu nantinya. Nyatanya, ketika semua sudah berjalan, justru aku yang melupakan semua itu. Aku membuat diri ini dalam posisi sulit. Tapi? Apakah masih pantas aku untuk tetap bersikap egois? "Di!" Aku mengangkat wajahku saat mendengar Arghani menyerukan namaku di depan pintu kamar. Aku menunggu Arghani yang diam mematung di depan pintu kamar. Pakaiannya telah berganti, dari pakaian santai menjadi pak

