"SAH!" Suara gemuruh itu membuatku mengucap syukur berkali-kali. Rasa haru dan bahagia begitu membuncah di dalam diri ini. Setitik air mata mengalir begitu saja, tidak bisa rasa bahagia ini diungkapkan dengan kalimat. Apalagi, saat bunda dan Kesi datang menjemputku di kamar. Mereka berniat membawaku keluar dan bertemu dengan Arghani. Rasanya ini seperti mimpi, padahal aku merasa baru kemarin mengejar-ngejar Arghani. "Selamat ya sayang. Kamu sekarang udah jadi istri," ujar Bunda sambil memelukku lembut. Aku berusaha keras untuk tidak menangis terlalu banyak. Takutnya eyeliner-ku luntur dan aku malah jadi menyeramkan. Gak lucu kalau Arghani kabur karena takut melihat eyeliner lunturku. "Dio sayang Bunda," gumamku sambil membalas pelukan bunda. Kini gantian Kesi yang memelukku dan berka

