bc

Dibandung Aku Menemukan Cinta Pertamaku

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
fated
drama
sweet
lighthearted
serious
campus
city
small town
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Bandung selalu punya cara untuk membuat seseorang jatuh cinta. Pada dinginnya hujan sore, hangatnya lampu kota, dan pada seseorang yang datang di waktu yang tidak pernah diduga.

Alya Maharani, gadis sederhana dari kota kecil, akhirnya berhasil meraih impiannya kuliah di kampus ternama di Bandung. Ia datang membawa harapan besar untuk masa depan dan janji untuk fokus mengejar cita-cita, bukan memikirkan cinta.

Namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan Raka Adhitama—mahasiswa dingin, pintar, dan terkenal yang sulit didekati siapa pun. Pertemuan mereka yang sederhana di halte kampus saat hujan deras perlahan berubah menjadi kedekatan yang tak terduga.

Di tengah kehidupan kampus modern, persaingan, kesalahpahaman, dan hadirnya orang ketiga, Alya mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: cinta pertama.

Cinta yang datang tiba-tiba.

Cinta yang membuatnya belajar tentang kehilangan, perjuangan, dan arti bertahan untuk seseorang yang benar-benar dicintai.

Akankah Alya dan Raka mampu mempertahankan hubungan mereka di tengah banyaknya rintangan?

Ataukah cinta pertama memang hanya ditakdirkan menjadi kenangan?

“Dibandung Aku Menemukan Cinta Pertamaku” adalah kisah romance remaja yang manis, penuh drama, hangat, dan penuh semangat tentang jodoh, mimpi, serta cinta pertama yang tumbuh di tengah indahnya kota Bandung.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 Kota yang Baru
Kereta malam yang membawa Alya Maharani akhirnya berhenti perlahan di Stasiun Bandung tepat pukul enam pagi. Suara gesekan roda kereta terdengar panjang sebelum akhirnya benar-benar diam. Dari balik jendela, Alya memandang kota yang selama ini hanya ia lihat lewat foto media sosial dan cerita orang-orang. Bandung. Kota yang katanya selalu berhasil membuat siapa pun jatuh cinta. Udara dingin langsung menyambut ketika pintu kereta dibuka. Alya menarik napas perlahan sambil menggenggam erat pegangan koper birunya. Di sekelilingnya, para penumpang sibuk turun sambil membawa barang masing-masing. Ada yang tertawa, ada yang terlihat terburu-buru, dan ada pula yang tampak mengantuk setelah perjalanan panjang semalaman. Namun Alya justru diam beberapa detik. Dadanya berdebar. Ini pertama kalinya ia pergi sejauh ini dari rumah. “Ayo, Lya.” Suara ayahnya membuyarkan lamunan. Pria paruh baya itu berdiri sambil membawa tas ransel hitam mereka. Alya tersenyum kecil lalu mengangguk. “Iya, Yah.” Mereka berjalan keluar dari stasiun bersama arus orang-orang. Langit Bandung masih abu-abu dan udara pagi terasa sangat dingin dibanding kota kecil tempat Alya tinggal sebelumnya. Alya mengusap kedua tangannya pelan. “Bandung dingin banget…” Ayahnya tertawa kecil. “Nanti juga terbiasa.” Di depan stasiun, jalanan mulai ramai oleh kendaraan. Suara klakson bersahutan. Beberapa pedagang kaki lima mulai membuka dagangan mereka. Aroma kopi dan roti bakar bercampur dengan udara pagi membuat suasana terasa hangat. Alya memandang semuanya dengan kagum. Kota ini benar-benar berbeda. Gedung tinggi berdiri di mana-mana. Orang-orang berjalan cepat dengan pakaian rapi dan modern. Bahkan cara mereka berbicara terdengar berbeda. “Masih takut?” tanya ayahnya tiba-tiba. Alya terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Sedikit.” Ayahnya menatapnya lembut. “Takut itu biasa.” “Tapi aku belum pernah tinggal sendirian.” “Kamu nggak sendiri.” Alya menoleh. “Ayah dan Ibu selalu dukung kamu.” Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat mata Alya terasa hangat. Sejak kecil, keluarganya hidup sederhana. Ayahnya bekerja sebagai guru, sementara ibunya membuka warung kecil di depan rumah. Mereka bukan keluarga kaya, tapi kedua orang tuanya selalu berusaha memenuhi kebutuhan Alya. Termasuk mimpinya untuk kuliah di Bandung. Bahkan Alya masih ingat bagaimana ibunya diam-diam menjual beberapa perhiasan agar biaya awal kuliahnya cukup. Karena itulah Alya berjanji pada dirinya sendiri. Ia harus berhasil. Apa pun yang terjadi. Perjalanan menuju apartemen mahasiswa memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Selama di mobil, Alya sibuk melihat keluar jendela seperti anak kecil yang baru pertama kali pergi ke kota besar. Bandung terlihat hidup. Ada kafe estetik di hampir setiap sudut jalan. Dinding-dinding penuh mural warna-warni. Motor dan mobil berlalu-lalang tanpa henti. Beberapa mahasiswa terlihat berjalan sambil tertawa bersama teman-temannya. Semua terasa asing. Namun juga indah. “Di sini kampus kamu nanti,” ujar ayahnya sambil menunjuk sebuah bangunan besar. Alya langsung menoleh cepat. Matanya membesar. Kampus itu jauh lebih megah dibanding yang ia bayangkan. Gedung modern berdiri tinggi dengan kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi. Mahasiswa berlalu-lalang memenuhi area kampus. Jantung Alya kembali berdegup cepat. “Aku bakal kuliah di situ…” Ayahnya tersenyum bangga. “Iya.” Alya menelan ludah perlahan. Mendadak rasa gugup memenuhi kepalanya. Bagaimana kalau ia tidak punya teman? Bagaimana kalau ia tidak bisa mengikuti pelajaran? Bagaimana kalau orang-orang di sini ternyata tidak menyukainya? Pikiran-pikiran itu terus muncul sampai mobil berhenti di depan apartemen mahasiswa. Bangunannya cukup tinggi dan modern. Tidak terlalu mewah, tapi terlihat nyaman. Alya turun perlahan sambil membawa kopernya. Beberapa mahasiswa tampak hilir mudik membawa barang pindahan. “Lantai tiga, kamar 312,” ujar ayahnya sambil melihat catatan. Mereka masuk ke lift bersama beberapa mahasiswa lain. Alya berdiri diam sambil memegang tali tasnya erat. Ia benar-benar gugup. Saat pintu lift terbuka, mereka berjalan menyusuri lorong apartemen yang cukup panjang. Ayahnya mengetuk pintu kamar 312. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang gadis berambut pendek muncul dengan senyum lebar. “Halo!” Alya sedikit terkejut. “Kamu Alya ya?” tanyanya antusias. “I-iya.” “Aku Nisa! Teman sekamar kamu!” Nisa langsung membantu membawa koper Alya masuk ke kamar. Kamarnya cukup nyaman dengan dua tempat tidur, meja belajar, dan jendela besar yang menghadap jalan kota. “Wah, akhirnya roommate aku datang juga,” kata Nisa sambil tertawa kecil. Alya tersenyum malu. Nisa terlihat sangat berbeda darinya. Gadis itu tampak percaya diri, ceria, dan sangat mudah bicara. Sementara Alya lebih pendiam. “Om, tenang aja. Aku bakal jagain Alya kok,” ujar Nisa pada ayah Alya. Ayah Alya tertawa kecil. “Titip anak saya ya.” “Siap!” Suasana hangat itu sedikit membuat Alya merasa lega. Setelah membantu merapikan barang, ayah Alya akhirnya harus pulang sore harinya. Dan itu adalah bagian yang paling berat. Di depan apartemen, Alya memeluk ayahnya erat. “Hati-hati di jalan…” “Iya.” Alya berusaha menahan air mata. Namun suaranya mulai bergetar. “Ayah…” “Hm?” “Aku takut nggak bisa.” Ayahnya menatapnya lama sebelum mengusap kepala Alya perlahan. “Kamu lebih kuat dari yang kamu pikir.” Kalimat itu membuat air mata Alya akhirnya jatuh. Ia langsung memeluk ayahnya lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar merasa sendirian. Malam harinya, Bandung diguyur hujan. Alya duduk di dekat jendela kamar sambil memandangi lampu kota yang terlihat samar karena air hujan. Nisa sedang sibuk menelepon pacarnya di balkon. Sementara Alya diam sendiri. Ia membuka galeri ponselnya dan melihat foto keluarganya. Rumah kecil mereka. Warung ibu. Halaman depan. Semua mendadak terasa sangat jauh. “Jangan homesick dong.” Alya menoleh. Nisa sudah berdiri sambil membawa dua gelas mi instan. “Aku nggak nangis kok,” ujar Alya cepat. Nisa tertawa kecil. “Matamu merah.” Alya salah tingkah. Nisa duduk di sampingnya lalu menyerahkan satu gelas mi. “Bandung memang bikin kaget di awal.” “Kamu juga gitu dulu?” “Iya. Aku juga pernah nangis tiga hari pertama.” Alya tertawa kecil mendengarnya. “Nanti kamu juga bakal terbiasa,” lanjut Nisa. Alya mengangguk pelan. “Makasih ya.” “Santai.” Hujan semakin deras di luar. Suasana kamar terasa hangat. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Bandung, Alya merasa sedikit lebih tenang. “Besok ospek fakultas kan?” tanya Nisa. “Iya.” “Semangat ya. Senior di sini lumayan galak.” Alya langsung membelalak. “Hah?” “Tapi ada juga yang ganteng.” “Nisa!” Mereka tertawa bersama. Dan malam itu menjadi awal persahabatan mereka. Keesokan paginya, Alya bangun lebih awal. Ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam sesuai aturan ospek. Tangannya dingin karena gugup. “Tenang aja,” kata Nisa sambil merapikan rambutnya di depan cermin. “Aku takut telat.” “Masih setengah jam lagi.” Alya tetap terlihat panik. Nisa akhirnya tertawa. “Kamu lucu banget sih.” Mereka berjalan menuju kampus bersama mahasiswa lain. Udara pagi Bandung terasa sejuk. Alya memandang gedung kampus dengan rasa campur aduk. Hari ini hidup barunya benar-benar dimulai. Area kampus sudah ramai oleh mahasiswa baru. Suara panitia terdengar di mana-mana. Alya berdiri sambil memegang map erat. Matanya sibuk melihat sekeliling. Dan saat itulah— BRUK! Tubuh Alya menabrak seseorang. Map dan beberapa kertas langsung jatuh berserakan. “Aduh! Maaf!” Alya buru-buru jongkok mengambil kertas-kertasnya. Namun seseorang lebih dulu membantu. Sepasang tangan mengambil lembaran yang tercecer. Alya mendongak. Dan untuk beberapa detik, ia terpaku. Cowok itu tinggi. Memakai jaket hitam sederhana. Wajahnya tenang. Tatapannya tajam namun dingin. “Aman?” tanyanya singkat. Alya cepat mengangguk. “Iya… maaf…” Cowok itu menyerahkan map miliknya. “Lain kali jangan jalan sambil melamun.” Nada suaranya datar. Namun tidak terdengar kasar. Alya menerima map itu perlahan. “Terima kasih…” Cowok itu mengangguk kecil lalu pergi begitu saja. Alya masih diam memandang punggungnya. Entah kenapa jantungnya berdetak aneh. “Heh!” Nisa muncul tiba-tiba sambil memegang pundaknya. Alya langsung kaget. “Apa?” “Kamu tahu tadi siapa?” Alya menggeleng. Nisa membelalak dramatis. “Itu Raka Adhitama!” “Siapa?” “Senior paling terkenal di kampus!” Alya berkedip bingung. “Memangnya kenapa?” “Ganteng, pintar, dingin, anak organisasi, dan katanya susah dekat sama cewek!” Alya kembali melihat ke arah cowok tadi pergi. Namun sosoknya sudah hilang di tengah keramaian kampus. Aneh. Padahal itu baru beberapa detik. Tapi entah kenapa pertemuan singkat itu membekas di pikirannya. Dan Alya belum tahu… bahwa cowok bernama Raka Adhitama itu perlahan akan mengubah seluruh hidupnya di Bandung.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
774.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
997.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
369.9K
bc

Not just, the Beta

read
354.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook