Chapter 1
PROLOG
“Menikahlah dengan Sean.”
Seketika tubuhku menegang, kala mendengar permintaan terakhir Ayahku yang saat ini sedang kritis.
Tidak! Itu tidak mungkin!
Mana Bisa aku menikah dengan Kak Sean. Sementara pria itu sendiri ....
“Tapi, Pih Kak Sean kan, sudah mau menikah dengan Kak
Audy.”
Aku mencoba menolak, seraya melirik dua orang yang kusebutkan tadi, di kaki tempat tidur Papiku.
Itulah kenapa, aku bilang ini gak mungkin, karena aku gak mungkin merusak pernikahan mereka, kan?
“Me ... menikahlah, ber ... sam ... a..sam a,”
Namun, Papi masih bersikukuh, meski kini Papi mulai terbata dalam berucap.
Terlihat sekali kalau dia sedang menahan kesakitan yang luar biasa. Membuat aku makin gusar melihatnya.
“Ta-tapi, Pih. Itu ... itu ....” Aku pun jadi bingung sendiri sekarang. Antara menolak permintaan Papi atau menurutnya.
Aku tak mau mengecewakan Papi. Tetapi ... aku juga tak mungkin menuruti kemauan Papi itu.
Karena itu tak mungkin! Benarkan?
Menikah muda bukanlah impianku sejak dulu. Apalagi sampai menjadi istri kedua.
Itu mimpi buruk!
Namun, bagaimana dengan papi? Aku benar-benar tak ingin mengecewakannya.
Tuhan, aku harus bagaimana?
“Me ... reka ... su-dah set-tuju.” Papi kembali berucap dengan
susah payah.
Apa katanya? Mereka sudah setuju? Bagaimana mungkin? Apa mereka sudah gila?
“Tapi—”
“Pa..pi mo..hon.” Papi pun berusaha menyela ucapanku.
Membuat aku bingung untuk melanjutkan penolakanku lagi.
Tuhan ... harus bagaimana ini? Aku gak mau jadi istri kedua!
Saat aku masih bingung dengan permintaan Papi. Kak Audy tiba-tiba menepuk bahuku pelan, meminta atensiku.
“Aku rela di madu kok, Ra,” ucapnya kemudian, dengan mimik wajah yang tidak terbaca.
Benarkah? tapi kenapa?
“Tapi, Kak. Aku ... aku gak mau jadi orang ketiga di antara kalian,” jawabku dengan jujur.
Tentu saja aku harus menolak. Karena aku mengenal kedua orang itu, dan menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri. Jadi ... mana mungkin aku tega menghancurkan kebahagiaan mereka.
Namun, Kak Audy terlihat menggeleng dan tersenyum menenangkan.
“Ayahmu sudah seperti ayahku sendiri, Ra. Dan bagiku, membahagiakannya adalah salah satu keinginanku dalam hidup ini. Jadi, kalau memang Paman Theo ingin kita menjadi madu. Aku gak keberatan sama sekali.”
Ini gila! Sungguh! Aku gak bisa mengerti maksud mereka sebenarnya dalam hal ini.
“Lagi pula, Sean juga sudah setuju, kok. Iya, kan Sean?” Kak Audy masih mencoba mengubah keputusanku, seraya menoleh ke arah Kak Sean, yang berdiri tak jauh darinya.
Kak Sean tak berkomentar apapun. Dia hanya mengangguk pasrah. Sambil meliriku sekilas. Meski begitu, dari raut wajahnya saja, aku bisa melihat dengan jelas, rona keterpaksaan dalam wajah itu. Melihat hal tersebut, bagaimana aku bisa ikhlas menerima pernikahan ini?
“Tap—”
“Ra, percayalah! Kita pasti bisa kok, Hidup bertiga dengan rukun.” Kak Audy masih mencoba meyakinkanku lagi. Akan tetapi, tetap saja hatiku tak bisa menerima hal ini begitu saja. Karena ....
Istri Nomor Dua
Demi Tuhan. Aku benar-benar tak mau menikah sekarang. Apalagi langsung jadi istri kedua seperti ini. Tuhan ... lelucon apa sebenarnya yang sedang kau mainkan dalam hidupku.
“Ra?” panggil Kak Audy lagi. Meminta atensiku. Namun kali ini tak kuhiraukan. Karena aku benar-benar bingung harus bagaimana sekarang.
Aku pun terdiam sejenak, seraya melihat ke brankar tempat papi terbaring lemah. Wajahnya pucat, dengan selang dan kabel menempel di seluruh tubuhnya. Raut wajahnya sangat terlihat lelah sekali di sana.
Mungkin, dia benar-benar tak bisa bertahan lagi setelah ini.
Oh, papiku yang malang. Pasti dia sangat tersiksa saat ini dengan kondisinya.
Aku tak tega melihatnya. Sungguh! Namun, menerima permintaannya pun rasanya ....
“Pa ... pi mo ... hon.” Papi kembali berucap, dengan mata tuanya yang sudah sangat sayu.
Aku yakin, Papi pasti sudah sangat lelah, dan ingin segera istirahat dari kejamnya dunia ini. Hanya saja, papi masih belum bisa istirahat dengan tenang, karena memikirkan kondisiku yang akan dia tinggal sendirian.
Ya! Aku anak tunggal, dan sudah tak punya Mami. Jadi, jika Papi pergi. Aku benar-benar akan jadi yatim piatu.
Aku yakin, itu juga yang membuat Papi meminta hal gila ini padaku. Karena Papi tak ingin meninggalkan anak kesayangannya seorang diri setelah dia pergi.
Oh, Papi. Haruskah seperti ini?
Selama ini Papi selalu memberikan, dan memenuhi kebutuhanku tanpa memanjakanku. Dia adalah cinta pertamaku yang tak kan pernah tergantikan oleh siapapun.
Bagiku, sosoknya sangat sempurna untuk dijadikan panutan. Bahkan demi aku, Papi sampai rela tidak menikah lagi setelah kepergian Mami. Dia ... benar-benar menjadi single parent yang luar biasa untukku.
Padahal, aku sama sekali tak pernah melarangnya untuk menikah lagi. Karena aku tahu, Papi juga butuh pendamping, dan dia juga berhak untuk bahagia lagi.
Akan tetapi, setiap kali aku mengutarakan keinginanku untuk memiliki ibu lagi, papi pasti akan menolak dengan sangat tegas.
Papi bilang, “Istrinya cuma satu, dan selamanya hanya akan satu, yaitu Mami! Lagipula, Papi sudah sangat bahagia dengan kehadiranmu. Jadi, Papi tidak butuh yang lain lagi.”
Mengenang semua itu, tak urung hatiku pun langsung mencelos. Karena pengorbanannya sangat besar untukku. Lalu, bisakah aku membalasnya? Aku menghela napas berat tanpa sadar, seraya menutup mata dengan erat. Tuhan ... ini berat!
“Papi mungkin, bukan ayah yang sempurna untukmu, Ra. Papi juga tidak selalu bisa memberikan kebahagiaan kepadamu. Tapi, Papi janji, Nak. Papi akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Selalu percaya sama Papi, ya?”
Tiba-tiba sebuah ucapan papi di masa lalu melintas begitu saja di benakku. Membuat aku sontak membuka mataku dengan cepat. Aku tidak ingin mengakuinya, tapi jujur saja, ingatan itu berhasil membuatku mulai goyah pada pendirianku saat ini.
Sekali lagi, aku pun menatap papi yang terlihat lemah di tempat tidurnya. Kemudian mulai mencerna semuanya dengan baik. Meski aku tidak tahu apa tujuan papi membuatku jadi orang ketiga diantara hubungan Kak Sean dan Kak Audy. Tapi, aku percaya papi pasti punya alasan dibalik semua ini.
Maka dari itu, aku pun akhirnya mencoba menguatkan hatiku, dan berkata, “Baik, Pih. Rara setuju!”
Aku sengaja memandang mata tua itu dengan intens. Ingin menegaskan padanya, bahwa aku selalu percaya pada keputusannya.
Papi pun terlihat tersenyum tipis, Sebelum ....
Tuuuutttttt ....
Suara mesin kardiograf berbunyi nyaring memekakan telinga.
Mengiringi kepergian Papi pada tidur tenangnya, untuk selamanya.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain meraung dengan tubuh gontay memintanya untuk kembali.
Papiiiii ....
BAB 1
“Saya terima nikah dan kawinnya Andara Prameswari binti Matheo Prameswari dengan mas kawin tersebut Tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?” “Sah ”
Terdengar suara gemuruh, untuk kedua kalinya diluar kamarku, yang menyatakan keberhasilan Kak Sean mengucapkan ijab kabul hari ini.
Ya. Hari ini, adalah hari pernikahan Kak Audy dan Kak Sean,
juga pernikahanku dengan pria yang sama.
Lalu, tadi itu adalah suara gemuruh para saksi, yang secara serentak menyatakan kalo sekarang aku dan Kak Audy sudah sah menjadi istri Kak Sean.
Miris, ya?
Setelah Kak Sean mengucapkan ijab qobul untuk Kak Audy. Tak berselang lama setelahnya, Kak Sean pun melakukan ijab qobul atas namaku.
Entah bagaimana pandangan orang tentang pernikahan kami ini? Aku sudah tidak bisa membayangkan apapun lagi saat ini. Perasaanku terlalu kacau memikirkan semuanya.
Seharusnya hari ini aku merasa senang karena bisa menunaikan salah satu perintah Agama. Tetapi sungguh, aku juga tak pernah membayangkan, akan jadi istri kedua seperti ini.
Apalagi, aku harus jadi orang ketiga di antara orang-orang yang sudah kuanggap kakakku sendiri. Ini konyol sekali.
Tok ... tok ... tok ....
Terdengar sebuah ketukan di pintu kamarku. Lalu tak lama kemudian, pintu itupun di buka dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya, yang tersenyum menatapku. Dia adalah Tante Sulis. Ibunya Kak Sean. Aka ibu mertuaku sekarang.
“Ayo, Sayang. Suami kamu sudah menunggu,” ajaknya dengan lembut, seraya mengusap bahuku dengan pelan
“Tante, aku—”
“Ssttt ... jangan panggil Tante lagi, dong. Panggil Mama. Kan, sekarang kamu udah jadi menantu Mama,” selanya lembut. Namun aku hanya bisa menunduk bingung menanggapinya.
Jujur, aku belum bisa menerima pernikahan ini sebenarnya. Karena ... memang bukan seperti ini pernikahan yang kuinginkan. Aku memang mengenal keluarga Kak Sean dari kecil. Kami bertetangga, dan Tante Sulis sudah kuanggap seperti ibuku sendiri dari dulu. Apalagi, aku kehilangan Ibu kandungku sejak sekolah dasar. Karena itulah, sosok Tante Sulis sudah melengkapi hidupku selama ini.
Walaupun begitu. Tetap saja, aku tak pernah bermimpi akan menjadi menantunya seperti ini. Bukan tak mau. Hanya saja ... apa, ya? Aku cuma masih merasa canggung dengan keadaan ini. Karena memang tidak pernah bermimpi akan menikahi anaknya.
Sudah kubilang, kan? Kak Sean itu sudah kuanggap seperti Kakakku sendiri. Namun kini, saat aku malah di haruskan menikah dengannya. Aku jadi seperti ... Aneh aja gitu rasanya. Aku merasa seperti menikahi Kakak sendiri.
“Sayang, Mama tau ini berat buat kamu. Mama bisa mengerti perasaanmu itu. Tapi, Mama juga tidak bisa apa-apa. Karena permintaan Papimu memang di luar dugaan kami.” Mama Sulis menatap aku dengan lekat.
“Entah apa yang dipikirkan Papimu waktu itu. Tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri. Tapi, percayalah. Apapun yang dia inginkan. Itu semata-mata hanya untuk kebaikanmu.”
Aku tau itu. Tapi, sampai saat ini aku masih belum paham. Kebaikan macam apa yang bisa aku dapat, dari menjadi orang ketiga seperti ini? Aku benar-benar tak habis pikir.
Namun, Aku tidak berkomentar apapun. Hanya bisa mengangguk saja dan mencoba menerima semuanya dengan ikhlas. Karena untuk mundur pun, aku sudah tidak bisa, iya kan? Nyatanya, sekarang aku sah menjadi Nyonya Abdilla.
Tante— ralat, Mama Sulis lalu membimbingku menuju mimbar, tempat dilaksanakannya ijab kabul, dengan patuh.
Waktu aku sampai di tempat itu. Kak Audy sudah duduk manis di sebelah Kak Sean. Memakai pakaian yang serupa denganku, juga make up yang tak beda jauh.
Bukan dia mau menyamakan diri dengan aku. Justru di sini aku yang mengutip tampilannya. Karena aku memang hanya bisa menyesuaikan apa yang sudah mereka siapkan sebelumnya, tanpa bisa menyuarakan sedikit pun keinginanku. Aku tak punya hak suara dalam pernikahan ini.
Ketika aku hampir sampai mimbar, Kak Audy langsung menyambutku dengan senyum yang merekah. Cantik sekali. Berbanding terbalik dengan Kak Sean, yang hanya melirikku sekilas, kemudian langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan raut wajah dingin.
Aku tau, kok. Dia juga masih tak bisa menerima pernikahan ini. Dan sebenarnya, itulah yang membuat bebanku semakin terasa berat sekali. Tolong Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar tidak bermaksud jadi orang ketiga di keluarga kecilmu.