*** “So, bagaimana kesepakatannya?” Baru saja masuk memenuhi ijin dari sang punya kamar, aku langsung disuguhkan pertanyaan aneh seperti itu dari Kak Audy yang kini duduk bersandar dengan nyaman pada kepala ranjang. “Kesepakatan apa?” tanyaku tak mengerti. “Kesepakatan tentang pernikahan kalian. Bukannya, kamu ke sini karena setuju untuk kembali pada Sean?” tuduhnya kemudian. Kok, dia bisa berpikir begitu? Perasaan tidak ada yang bilang seperti itu tadi. Ah, aku tahu. Kak Audy pasti cemburu karena suaminya kupinjam tadi. “Memang tadi aku ada bilang kayak gitu? Tidak ada, kan?” terangku kemudian, sambil menghampirinya dengan tenang. “Memang tidak ada. Tapi, bukannya kamu baru membahasnya sama Sean?” Kak Audy bersikukuh. “Ck, jangan ngaco deh, Kak. Bukan itu yang tadi kami bahas.” “L

