*** “Eh, Bunda? Kok ” Aku langsung mengerjap bingung siang itu, saat menemukan Bunda Karina tiba-tiba hadir di ambang pintu Apartemen tanpa kabar sebelumnya. “Hai, maaf ya kalau Bunda ganggu, Bunda tadi abis ambil pesanan kue dekat sini. Jadi, ya Bunda pikir, kenapa gak sekalian mampir aja ke sini, gak papa kan?” celoteh Bunda Karina dengan riang. “Oh, gitu? Gak papa dong, Bun. Rara juga seneng Bunda mau mampir ke sini. Ayuk masuk, Bund.” Aku pun membuka pintu apartemen selebar mungkin, dan segera mempersilahkan Bunda Karina masuk dengan sopan. “Bunda mau minum apa? Coklat hangat, ya? Atau--” “Air putih aja, gak usah repot-repot,” sela Bunda Karin, sambil mengibaskan tangannya. Aku pun tak mendebat lagi, lalu segera menyuruh Bi Mirna membawakan kami minuman. Sementara itu, ak

