Chapter 23

553 Kata

*** “Hi, b***h! Ternyata wajahmu lumayan tebal, ya?” sindir Abigail, saat aku baru saja mendaratkan p****t di ruang kuliah. “Tidak tahu malu!” sahut yang lainnya dengan sinis. Seperti biasa, aku tak berkomentar apapun, dan mencoba mengabaikan mereka. Bisa apalagi? Mulut mereka terlalu ramai jika dilawan. Jadi, mending abaikan saja. Toh, biasanya juga seperti ini, kan? Tak lama setelahnya, Diego dan Miranda pun datang, dengan keintiman yang bukan hal umum lagi. Diego sempat menunduk kikuk saat melihatku. Sejak aku melabrak mereka, dia kini memang sudah tak berani menyapaku lagi. Begitupun dengan Miranda, yang terlihat selalu gusar jika melihat keberadaanku. Aku sudah tidak mau tahu lagi siapa yang bersalah saat ini. Miranda atau Diego, sudah tidak penting. Karena bagiku percuma saja me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN