PRELUDE
Dinasti Da You adalah sekumpulan kerajaan-kerajaan yang memprioritaskan kekuatan seni bela diri dan seni berperang. Di Da You, tidak ada tempat bagi seseorang yang disebut kelemahan.
Prinsip yang berlaku di Da You: jika kamu kuat, kamu akan menjadi mendapat panggung dan puji-pujian, bahkan menjadi sorotan dunia. Tapi berbanding terbalik, jika kamu lemah. Hidupmu hanya akan menjadi sosok yang terabaikan, bahkan terinjak-injak oleh kekuatan-kekuatan besar di Dinasti Da You ini.
Malam ini, rembulan bersinar dengan muram. Bintang-bintang tersembunyi di balik kabut tebal, sementara hujan lebat turun membasahi Benua Naga Perak hampir merata. Udara terasa dingin ketika angin bertiup, dan suara air hujan yang jatuh di atap rumah menimbulkan perasaan rindu akan kampung halaman.
Namun, bagi lima individu yang berlari melintasi hujan saat itu, situasinya sangat berbeda.
Mereka telah berlari saling mengejar selama satu hari dan semalaman. Mereka telah saling kejar- mengejar, menjelajahi seluruh wilayah Da You mulai dari utara, selatan, barat, dan timur Negeri itu. Akan tetapi empat bayangan di arah belakang, mereka belum dapat menyamai kecepatan pergerakan ilmu berlari yang dimiliki oleh sosok di depan yang mengenakan pakaian serba putih.
Hari telah Kembali menjadi malam, pada akhirnya kejar-mengejar itu berakhir pada satu padang tandus penuh rerumputan. Namanya adalah Padang Tangisan Bidadari.
Sosok itu berhenti berlari, dan ia menunggu empat sosok yang mengejarnya.
Meski hujan masih lebat, namun ia tidak terlihat basah kuyup. Bajunya masih putih bersih, kering dan melambai seiring desiran angin. Ia tampak agung dengan tunik longgar berlapis jubah besar. Lengan bajunya longgar dan melayang tertiup hembusan angin membuatnya tampak dari jauh seperti figure seorang dewa.
++++
Namanya adalah Jiang Chen. Dia seorang Jago Pedang tiada tara yang dikenal dengan julukan "Si Pedang Tunggal," yang mendominasi seluruh Benua Naga Perak.
Pertemuannya dengan warisan tak ternilai, yang dikenal sebagai "Kitab Perang Naga Sejati," adalah hasil dari pencarian dan nasib yang beruntung. Kitab ini bukan hanya memuat panduan berlatih cara kultivasi kuno tentang mengumpulkan energi Qi, tetapi juga berisi banyak sekali teknik-teknik serangan menggunakan tangan kosong yang kuat, serta ilmu pedang yang sangat mematikan.
Keberuntungan Jiang Chen muncul sekitar lima tahun yang lalu, ketika dia menjelajahi reruntuhan kuno di satu hutan asing. Tanpa sengaja di sana, dia bertemu dengan sosok roh yang menunjukkan keberadaan Kitab Perang Naga Sejati kepadanya.
Dalam waktu singkat, berkat pemahaman akan Kitab Perang Naga Sejati, Jiang Chen menjadi terkenal di seluruh Negeri berkat kemampuan Ilmu bela dirinya yang sangat tinggi. Bahkan negeri-negeri tetangga yang gentar dengan keberadaan sosok Jiang Chen memberinya gelar "Rising Star," yang berarti bintang cemerlang Benua Naga Perak.
Namun, selain kemajuan pesat dalam budidaya, Jiang Chen juga menarik perhatian dan kecemburuan banyak pihak. Kemudian kabar angin mulai menyebar di kalangan praktisi dan sekte-sekte besar. Bisikan-bisikan rahasia menyatakan bahwa Jiang Chen, sang Jago Pedang, memperoleh warisan berharga dari reruntuhan yang berisi banyak seni beladiri.
Lalu, satu per satu praktisi yang haus akan sumber daya mulai memburu Jiang Chen. Awalnya, mereka melakukannya dengan cara yang sembunyi-sembunyi. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin banyak praktisi yang secara terang-terangan berusaha membunuh Jiang Chen demi kitab rahasia itu.
Namun, siapa yang bisa melawan Jiang Chen, Si Pedang Tunggal?
Banyak praktisi yang jatuh sebagai korban dalam upaya menjarah Kitab Perang Naga Sejati. Tentu saja sebab mereka bukanlah tandingan Jiang Chen, Si Pedang Tunggal.
Suatu ketika, empat individu yang dikenal sebagai Empat Gerbang Surgawi tergiur berita tentang rahasia kepandaian yang di dapat Jiang Chen. Merek mencoba untuk mendapatkan Kitab Perang Naga Sejati dengan cara merebut. Empat Gerbang Surgawi ini dikenal dengan Namanya sesuai empat mata angin. Utara, Selatan, Barat, dan Timur. Mereka juga memiliki kesaktian yang tinggi, dan disebut sebagai Demigods, yaitu setengah abadi.
Pada permulaan dimulai, letaknya di satu jalanan sepi antara kota di Kerajaan Da You. Empat Gerbang Surgawi menghadang Jiang Chen. Kala itu malam tak berbintang dan rembulan tampak seperti arang. Kelam!
Seorang di antara mereka, dialah Sang Gerbang Surgawi Utara, menunjuk pedangnya ke arah Jiang Chen.
“Serahkan Kitab Perang Naga Sejati atau mati!”
Pedang yang digerakkan Sang Gerbang Surgawi Utara menimbulkan desiran angin kencang yang membawa aura kematian.
Tapi Jiang Chen tidak gentar. Hanya dengan sekali lambaian tangan, sosoknya lenyap dan serangan tiba-tiba itu menghantam tempat kosong. Jiang Chen berpindah puluhan meter ke belakang seperti Gerakan ibli. Cepat tak terduga.
Meskipun Jiang Chen belum menyelesaikan seluruh isi Kitab Perang Naga Sejati, sesungguhnya kemampuannya tak kalah dari Empat Gerbang Surgawi.
Jiang Chen berdiri di kejauhan sambil mengejek tanpa rasa takut.
"Cih, kalian Empat Gerbang Surgawi yang mengaku sebagai Demigods, rupa-rupanya kalian masih tergoda dengan Kitab seperti ini. Aku kira sebagai sosok setengah abadi, kalian tidak akan lagi terlibat dalam urusan dunia seperti berebut Kitab ini. Ternyata aku salah!"
Jiang Chen meludah ke tanah.
Tidak sedikit ia mendengar cerita tentang keserakahan mereka yang dijuluki Empat Gerbang Surgawi, yang sering kali melakukan kecurangan untuk memperoleh sumber daya peningkatan kultivasi. Karena itu, Jiang Chen berpikir bahwa jika ia menyerahkan Kitab Perang Naga Sejati kepada Empat Gerbang Surgawi, mereka akan lebih cenderung menggunakannya untuk memperkuat diri mereka sendiri daripada menjaga dan melindungi kitab yang dapat menimbulkan kekacauan di seluruh Benua.
Saat itu, hujan mulai turun rintik-rintik, dan langit menjadi semakin gelap. Terlihat seperti badai akan segera datang.
"Aku tidak akan menyerahkan Kitab ini!" Wajah Jiang Chen terlihat penuh ejekan saat ia menolak tawaran Sang Gerbang Surgawi Utara.
Tentu saja, tindakannya ini memicu kemarahan Empat Demigods tersebut.
"k*****t! Terimalah kematian!"
Sosok Gerbang Surgawi Utara merasa terhina dan segera mengayunkan pedangnya ke arah langit, dia melukis kaligrafi dengan pedang di udara.
Sebuah angin kencang melanda, dan aura kematian tampak mengalir dalam bentuk Niat Pedang, yang tujuannya menghantam d**a Jiang Chen.
Namun, bukannya menghindari serangan Niat Pedang itu, Jiang Chen malahan mendengus dingin. Ia membentuk segel dengan tangannya dan dengan tak kenal takut membalas serangan tersebut dengan tebasan Pedang Tunggal, senjata spiritual yang selalu menemaninya.
Cahaya pedang tampak berkilat-kilat. Suaranya terdengar berdecit-decit mengikuti aura dingin yang terlepas dari Pedang Tunggal Jiang Chen. Sasarannya adalah untuk membuat pertahanan, untuk memblokir serangan pedang Sang Gerbang Surgawi Utara.
DUAR!
Dua kekuatan dahsyat itu bentrok, menciptakan ledakan eksplosif yang mengguncang dunia kecil di sekitarnya.
Sang Gerbang Surgawi Utara terdorong mundur sejauh lima langkah, sementara Jiang Chen hanya terdorong mundur dua Langkah saja. Namun, keduanya sama-sama merasakan sesak di d**a akibat benturan itu. Jiang Chen dengan cepat memulihkan aura serangan di d**a, sedangkan Gerbang Surgawi Utara tampak masih kesakitan.
"Kurang ajar! Tingkat kultivasinya sudah setingkat dengan kami para Demigods! Jika dia tidak dihentikan sekarang, kekuatannya akan terus meningkat. Sementara kita, Empat Sang Gerbang Surgawi, akan menjadi bahan tertawaan dunia!" Sang Gerbang Surgawi Utara memanas-manasi tiga rekannya.
"Kita harus bekerja sama untuk membunuhnya. Aku yakin jika kekuatan kita berempat bersatu, dia tidak akan bertahan lama!"
Keempat Sang Gerbang Surgawi ini mungkin pintar, tetapi Jiang Chen lebih cerdik dan licik.
"Ingin membunuhku dengan cara mengeroyok? Hm, tidak semudah itu!"
Disertai dengan suara siulan yang memekakan telinga, Jiang Chen tiba-tiba menghilang dari depan Empat Gerbang Surgawi. Dengan kecepatan yang sulit dipahami, ia tahu-tahu berpindah puluhan meter di depan sana. Dan kejar-kejaran pun dimulai antara lima sosok ini.
Dari kejauhan pandangan, lima sosok itu tampak bukan berlari, melainkan mereka terlihat seperti sedang terbang diatas tanah. Bagaimana kelanjutan kejar-kejaran itu? Apakah empat sosok maha sakti itu mampu mengejar Jiang Chen – Si Pedang Tunggal?
Bersambung