Sosok Empat Gerbang Surgawi tiba di padang rumput sesaat setelah Jiang Chen sampai di sana.
Hujan masih turun dengan deras, dan air meluap di beberapa bagian tanah berlubang, menciptakan atmosfer yang semakin tegang.
"Tunggu apa lagi? Silahkan maju dan buka serangan!" Jiang Chen mengarahkan Pedang Tunggalnya ke arah Empat Gerbang Surgawi. Meskipun telah berlari sehari penuh, ia tetap tampak segar bugar. Tangannya yang memegang pedang tidak bergetar sedikit pun seperti orang kepayahan.
"Sombong!"
Penjaga Gerbang Surgawi Utara meluncur maju dengan serangannya menuju Jiang Chen. Meskipun ia adalah yang terlemah diantara keempatnya, ia memiliki sifat yang paling agresif dan paling bersemangat. Pria ini tampaknya belum belajar dari pengalaman sebelumnya; saat mereka bentrokan senjata dengan Jiang Chen, ia masih kalah dalam hal kekuatan.
Cahaya pedang berkelebat dengan suara seperti deru ombak.
Penjaga Gerbang Surgawi Utara menusuk dengan energi penuh, itu dengan niat menjatuhkan Jiang Chen dalam satu serangan. Ia ingin mengembalikan kehormatannya yang tercoreng ketika bentrokan sebelumnya.
Matanya berkilat-kilat, wajahnya penuh dengan keinginan membunuh.
WUSH!
Tentu saja, Jiang Chen tidak tinggal diam saat diserang. Pedang Tunggalnya bergerak dengan suara desiran yang tak kalah kuat. Jiang Chen membalas dengan sebuah Teknik Pedang langka yang aneh, yang ia pelajari dari Kitab Perang Naga Sejati.
TRANG!
Benturan pedang lawan pedang terjadi, dan seketika Sang Gerbang Utara merasa mulutnya terasa pahit, dengan rasa mual yang mendesak. Sepertinya ia akan memuntahkan darah sebentar lagi, tetapi rasa gengsinya yang besar mendorongnya untuk terus memompa energi Qi, memaksa dirinya untuk tetap beradu tenaga.
Wajah Sang Gerbang Utara tampak pucat, sementara Jiang Chen malah tersenyum dengan nada ejekan. Pada saat kedua ujung pedang mereka masih saling beradu, Jiang Chen bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan. Tangan kiri Jiang Chen mendorong ke depan, dengan cepat telapak tangan kirinya telah menyentuh d**a Sang Gerbang Surgawi Utara. Energi dipompa dan menghantam d**a SangGerbang Surgawi Utara.
BOOM!
Tubuh Sang Gerbang Surgawi Utara terlempar mundur, berguling beberapa kali sebelum akhirnya terjatuh. Setelah jatuh, ia memuntahkan seteguk darah, dadanya terasa sangat sakit, tubuhnya lemas dan kehilangan tenaga. Wajahnya pucat seputih kertas.
Sosok itu buru-buru menelan satu pil, lalu duduk dalam posisi lotus untuk memulihkan luka-lukanya.
“Kurang ajar! Kamu sungguh tak tahu tingginya langit dan dalamnya laut! Berani-beraninya melukai salah satu dari Empat Gerbang Surgawi!” kata salah satu dari Empat Gerbang Surgawi dengan marah.
“Terima kematian!” kata yang lain.
Tiga dari Empat Gerbang Surgawi berkelebat cepat dan menghilang dalam Formasi Pedang yang mereka bentuk. Gerakan mereka terkoordinasi dengan baik, dan pertarungan dahsyat terjadi di bawah guyuran hujan yang deras.
Suara gemuruh angin pedang dan percikan lidah api akibat benturan pedang mewarnai padang rumput yang kelam. Mereka berempat terlibat dalam pertarungan hidup dan mati, pertarungan tak seimbang, tiga lawan satu.
Malam berubah menjadi pagi saat hujan akhirnya mereda. Matahari mulai menyinari ufuk timur dengan cahaya merahnya, dan waktu terus berjalan tanpa henti.
Namun, keempat sosok tersebut masih terperangkap dalam pertarungan yang sengit. Mereka seperti bayangan yang bergerak cepat, dan suara desingan serta gemuruh dari senjata spiritual mereka terdengar di sekitar. Tidak ada tanda-tanda yang jelas mengenai siapa yang akan menjadi pemenang atau pecundang.
Pagi berubah menjadi siang, siang berubah menjadi malam, dan pola ini berulang-ulang ketika keempat setengah abadi itu terus bertarung. Padang rumput sekitarnya telah hancur, dan aura pedang serta niat pedang yang mematikan menciptakan pemandangan yang spektakuler. Langit gemuruh, dan cahaya perak berkilau di langit, menerangi malam yang gelap.
Sang Gerbang Surgawi Utara membuka mata, ia menyaksikan pertempuran dahsyat itu.
"Aku akan ikut meramaikan pertarungan ini! Jangan biarkan aku ketinggalan pesta!" kata sosok Gerbang Surga Utara yang telah beristirahat dan meditasi selama dua hari dua malam. Kehadirannya tentu menambah rumit pertarungan, tentu saja ini membuat Jiang Chen semakin terdesak.
Melawan tiga sosok Gerbang Surgawi saja, Jiang Chen sudah merasa kelelahan. Dengan tambahan sosok satu ini, yang juga kembali dalam kondisi bugar setelah penyembuhan luka dalam, membuat situasi semakin sulit.
Ini adalah hari ketiga pertarungan para setengah abadi. Jiang Chen merasa tidak baik-baik saja. Hal ini dimulai dengan suara tusukan pedang menderu-deru. Saat itu Sang Gerbang Surgawi Barat menyerang dan berhasil melukai pundak Jiang Chen.
ARRGH!
Jiang Chen terhuyung-huyung, lalu melompat mundur jauh-jauh untuk meminum pil penyembuhan. Tentu saja Empat Gerbang Surgawi ini paham pentingnya menindas Jiang Chen secara kontinyu dan tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat.
TSING – TSING
Empat pedang menderu melintasi langit, mengejar Jiang Chen tanpa ampun. Jiang Chen, yang dijuluki Si Pedang Tunggal, makin tertekan.
Hari ketiga pertarungan tak berhenti ini telah membuatnya lelah, dengan luka-luka yang menjalar di seluruh tubuhnya. Goresan pedang membekas dalam, dan energinya semakin menipis. Darah terus mengalir, dan Jiang Chen semakin lemah.
"Dengarlah, janganlah keras kepala!" ujar Gerbang Surgawi Utara dengan nada menuntut. "Serahkan Kitab Perang Naga Sejati, dan mungkin kamu akan selamat."
Jiang Chen merenungkan situasinya.
Tubuhnya telah berantakan, sementara tenaganya habis terkuras. Bahkan untuk mengayunkan pedang dengan teknik dasar sekalipun, dirinya merasa sudah tak mampu lagi. Sementara Empat Gerbang Surgawi masih memiliki cukup energi Qi melanjutkan pertarungan.
"Mungkin ini adalah akhir perjalanan bagiku," pikir Jiang Chen dengan penuh penyesalan. "Seandainya aku masih punya kesempatan untuk mempelajari dan mengkultivasi seluruh isi Kitab ini, bahkan tidak hanya empat Gerbang Surgawi, bahkan sepuluh pun tak akan cukup untuk mengalahkanku seperti ini."
Jiang Chen meratapi nasibnya. Tapi ia tak ingin terlihat lemah.
"Kalian menginginkan Kitab ini?" katanya sambil menunjukkan gulungan tebal Salinan Kitab yang begitu diinginkan oleh semua praktisi beladiri di benua ini.
BLAM! Wajah empat Gerbang Surgawi seketika terlihat berubah.
"Ya, serahkan itu padaku, dan mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menyelamatkan hidupmu," kata Gerbang Surgawi Utara dengan penuh serakah.
Seketika, tiga Gerbang Surgawi lainnya melirik dengan wajah tidak senang pada Gerbang Surgawi Utara.
"Apa maksudmu menyerahkan kitab itu padamu? Apakah kamu berniat untuk menguasai kitab itu sendirian?"
Gerbang Surgawi Utara panik. Ia malu. Dengan segera ia menyadari kesalahannya. "M-maafkan aku, itu bukan maksudku," ucapnya dengan wajah merah, merasa malu akan keserakahannya yang terbongkar.
Sementara itu, Jiang Chen yang melihat pertikaian di antara Empat Gerbang Surgawi itu tertawa keras.
"Hahaha, sudah kuduga. Kitab ini bahkan tak layak untuk dimiliki oleh kalian. Lebih baik aku hancurkan saja!"
Jiang Chen melempar gulungan Salinan Kitab Perang Naga Sejati ke udara dengan sisa tenaganya. Dengan Pedang Tunggalnya, ia mengarahkan serangannya ke gulungan yang melayang-layang itu.
DUAR!
Gulungan yang sangat panjang, hanya dengan sentuhan cahaya pedang, berubah menjadi debu tak berbentuk dan pudar tertiup angin senja.
Gerbang Surgawi Utara dan yang lainnya marah.
"Jangan!"
"Kurang ajar!"
"Bunuh dia!"
Serempak empat pedang di tangan Empat Gerbang Surgawi ditebas kearah Jiang Chen.
Duar!
Jiang Chen terbaring tak bernyawa, tubuhnya tampak berantakan akibat serangan empat energi pedang yang merusak semua organ dan meridian di dalam tubuhnya.
Seorang jago pedang tak tertandingi di Benua Naga Perak tewas setelah bertarung tiga hari tiga malam melawan Empat Gerbang Surgawi.
Akhir pertempuran.
Sambil memaki-maki, empat sosok yang disebut Empat Gerbang Surgawi meninggalkan jasad Jiang Chen, yang tampak tersenyum meskipun telah meninggal. Keadaan di padang rumput yang luas itu kini sepi dan sunyi.
Suara burung gagak mengisi suasana dengan rasa seram di tepi Padang Rumput Tangisan Bidadari.
Anehnya, burung gagak itu tidak menyentuh jasad Jiang Chen, seolah-olah mereka menghormati sosok yang pernah dikenal sebagai Praktisi puncak dan Ahli Pedang terkuat di Benua Naga Perak.
Malam pun menjelang, dan jenazah Jiang Chen masih terbujur tanpa sentuhan apapun.
Saat itu, udara tiba-tiba membeku. Seorang perempuan cantik yang usianya sulit ditebak melayang ringan dari atas pepohonan di hutan tepian padang rumput.
Ketika sinar rembulan menerangi wajahnya, terpancarlah kecantikan luar biasa, seperti sepotong bulan purnama di musim salju. Wajahnya putih seperti salju dan dia mengenakan pakaian berwarna putih, juga seperti salju. Setiap langkah yang diambilnya membekukan tanah di bawahnya.
Namanya Dewi Miao Yin.
Dewi Miao Yin adalah seorang ahli pengendali Es, dan dasar kultivasinya adalah elemen dingin. Dirinya serta sekte rahasia yang dikuasainya berbasis di Utara.
Dewi Miao Yin berbisik pelan saat melihat jasad Jiang Chen.
"Sayangnya, kedatangan ini terlambat. Jika aku tiba lebih cepat, mungkin ahli pedang terkuat di benua ini tidak akan mati sia-sia."
Dewi Miao Yin sangat bersimpati pada Jiang Chen. Sebagai sesama praktisi yang sering disebut dalam kategori kaum demigods dan semidevil, Dewi Miao Yin menyesali kematian Jiang Chen.
Dia lalu melepaskan kalung putih berkilauan yang dipegang di lehernya. Kalung itu tampak seperti mutiara tetapi berhawa dingin. Dengan lembut, Dewi Miao Yin mengenakan kalung putih itu, yang merupakan artefak keluarga.
Dalam hatinya, Dewi Miao Yin berdoa, "Semoga bintang-bintang di langit memberikanmu kematian yang damai."
Dewi Miao Yin kemudian melambaikan tangannya, dan sebuah nisan abadi dari kristal es terbentuk, menjaga jasad Jiang Chen dalam kekekalan.
Setelah itu, Dewi Miao Yin menarik napas dalam-dalam, dan tubuhnya melayang ringan. Dia mendarat di puncak pohon willow dan berlari di antara dedaunan di hutan Willow. Dia tidak menunggu lama untuk mengembalikan Padang Rumput Tangisan Bidadari menjadi sunyi dan sepi sekali lagi.
++++
Dewi Miao Yin telah pergi dengan cepat. Ia tak sempat melihat fenomena yang terjadi sesudahnya.
Saat itu, langit secara tiba-tiba berubah menjadi terang ketika cahaya berwarna biru berpendar dari kalung di leher Jiang Chen. Lalu semuanya menjadi terang dan memudar.
WUSH.
Jiang Chen membuka matanya, tapi ia merasa pusing. Ia merasa seolah-olah terjebak dalam mimpi, tapi pengalaman itu terasa sangat nyata.
Kemudian, bulu kuduk Jiang Chen berdiri tegak ketika ia mendengar suara yang sangat akrab dan sangat dirindukannya.
"Kamu telah bangun, anak kecil?" suara itu bertanya.
Jiang Chen merasakan getaran dalam dirinya, dadanya berdebar keras.
"M-Master?" Jiang Chen terbelalak dan mengguman tidak jelas.
Sosok pria muda dan tampan itu tersenyum ramah di depan Jiang Chen. Dalam hatinya Jiang Chen membatin.
"Walaupun Masterku ini mengenakan topeng sekalipun, aku masih dapat mengenalinya,"
Pria itu adalah Pan An, guru pertama Jiang Chen yang terkenal dengan julukan Qilin Giok.
Kepala Jiang Chen terasa berputar, dan napasnya tersengal. Dia ingat bahwa dia telah mati. Bagaimana mungkin dia berada di sini, dan bagaimana mungkin Pan An, gurunya, masih terlihat begitu muda?
“Apa yang terjadi denganku?”
Bersambung.