Jiang Chen terkejut saat melihat sosok pria muda di hadapannya. "M-master?"
Dengan ragu, ia mengucek matanya, masih tak percaya dengan semua yang sedang terjadi. Pan An, gurunya yang sudah lama meninggal, kini berdiri di depan matanya dalam keadaan yang sangat berbeda. Pan An atau Pendekar Qilin Giok terlihat muda seperti saat Jiang Chen pertama kali bertemu dengannya.
"Kamu memanggilku apa, anak kecil?" Pan An, pria tampan itu, menatap serius ke mata Jiang Chen. Ia tersenyum dengan rasa asing.
Pan An merasa heran. Mengapa anak kecil yang baru saja ia temui memanggilnya dengan sebutan 'master'?
"Master. Aku memanggil Anda master. Itu karena..."
Jiang Chen belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba Pan An berseru, "Master? Ide yang menarik, meskipun kita baru pertama kali bertemu."
Pan An mendekati Jiang Chen dan mengelus kepala Jiang Chen dengan lembut.
"I-ini..."
Jiang Chen merasa canggung. Meskipun Pan An adalah gurunya, rasanya terlalu berlebihan untuk mengelus kepala seorang dewasa, meski Jiang Chen adalah murid Pan An.
"Maafkan aku, master. Tapi bukankah ini terlalu berlebihan?" Jiang Chen hampir mengangkat tangannya untuk menepis elusan sang guru dengan lembut. Ia khawatir bahwa Pan An akan tersinggung jika ia menolak elusan kasih akung seorang guru.
Tapi Jiang Chen merasa ada yang aneh. "Tunggu sebentar!" Tiba-tiba saja Jiang Chen tersadar dan merasa panik di dalam hatinya.
Saat ia mengangkat tangannya, ia mendapati bahwa tangannya terlihat kecil, lengan dan jari-jarinya pendek seperti tangan seorang anak kecil.
"Apa yang terjadi?" Jiang Chen menatap heran pada tangan kecilnya. "Mengapa semuanya berubah?" Jiang Chen bersuara dengan keras, suaranya melengking dalam oktaf yang tinggi.
"Tunggu!" Ada yang aneh. "Mengapa suaraku terdengar cempreng seperti suara seorang anak kecil?" Jiang Chen semakin panik. Sebagai seorang yang cerdas dan bisa dianggap sebagai jenius pada masanya, Jiang Chen mencoba menebak-nebak.
Dengan hormat, ia berkata pada Pan An, masih tetap menyebutnya master.
"M-master, apakah Anda memiliki cermin atau sesuatu yang bisa memantulkan bayangan?"
Pan An yang sejak tadi telah tersenyum melihat reaksi Jiang Chen tidak bisa menahan diri. Ia pun berkata, "Aku akan memberikanmu cermin. Tapi berjanjilah sesuatu setelah itu!"
"Katakan saja, Master," suara Jiang Chen melengking, terdengar seperti suara kanak-kanak berusia lima tahun.
"Ini berarti kamu akan menjadi muridku. Setujukah kamu?" Tanpa berkata apa-apa, Jiang Chen mengangguk tegas. Bagaimanapun, ia tidak akan pernah menolak untuk menjadi murid dari gurunya yang pertama, Pan An. Saat ia mengangguk dengan tegas, wajah Jiang Chen terlihat lucu. Anak kecil yang bertindak dewasa, terlihat aneh namun menggemaskan.
Pan An tidak tahan untuk tertawa tatkala melihat anak berusia lima tahun yang terlalu serius.
TSING!
Pan An mencabut pedangnya yang berkilat-kilat dan menyodorkannya kepada Jiang Chen. "Inilah pedang terbaik yang kumiliki. Seluruh sisinya mengkilap seperti cermin. Kamu dapat melihat dirimu sendiri di salah satu sisi pedang ini."
Tanpa bicara, Jiang Chen mengangkat pedang itu.
BOOM!
Pedang terlepas dari tangannya. Pan An hanya memandang tindakan anak berusia lima tahun itu tanpa bermaksud menolongnya. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan anak kecil dengan pedang yang seperti cermin itu.
Sementara itu, Jiang Chen merasa frustasi ketika ia menyadari tubuhnya yang sekarang melemah.
"Bahkan mengangkat pedang ini saja aku tidak sanggup!" pikirnya dengan gelisah. Semua dugaannya semakin jelas dan mendekati kebenaran. Melihat dirinya sendiri di cermin adalah langkah terakhir yang harus diambil untuk memastikan teorinya.
Akhirnya, sambil merangkak, Jiang Chen menatap ke arah bilah pedang yang berkilau seperti cermin.
BOOM!
Ekspresi terkejut melintas di wajah Jiang Chen saat ia melihat sosok di dalam cermin. Itu adalah sosok asing, sosok yang puluhan tahun lalu pernah menjadi bagian darinya.
"Aku menjalani hidup yang sama lagi dan kembali menjadi seorang anak kecil!" Jiang Chen tidak bisa mengingat apa-apa lagi setelah itu.
Ia roboh dan pingsan kembali.
++++
Desa Semilir, sebuah desa terpencil yang miskin dan jauh dari kota terdekat, ini adalah desa tidak mendapatkan penjagaan yang memadai dari pihak Kerajaan. Tidak ada pasukan pengamanan Kerajaan ada disana, dan tidak seorang pun di desa ini memiliki pengetahuan tentang seni beladiri.
Semua penduduk desa adalah petani dan berdagang.
Pada hari yang panas, ketika matahari bersinar cerah dan tak ragu-ragu untuk mencurahkan sinarnya untuk membakar dunia, kejadian di salah satu rumah di Desa Semilir.
"Jiang Chen, jangan keluar bermain saat hari begini. Panasnya bisa merusak kesehatanmu!" Perempuan itu adalah ibu Jiang Chen. Namanya bernama Yi Cui. Dia adalah seorang wanita cantik, sedangkan suaminya, Jiang Guanyu, adalah seorang pedagang berpengaruh di Desa Semilir. Mereka hidup dengan cukup berkecukupan.
"Baik, Ibu," Jiang Chen menjawab tanpa melawan.
Sebagai anak tunggal yang sangat diakui dan patuh pada kedua orang tuanya, Jiang Chen selalu berusaha membuat mereka bahagia. Dia adalah anak yang patuh dan rendah hati, meskipun berasal dari keluarga yang cukup berada di Desa Semilir.
Jiang Chen hanya berdiam diri di rumah sepanjang hari, mengisi waktunya dengan membaca karya sastra pelajar dan sastrawan terkenal dari Negeri Da You.
Hari masih terang, namun matahari sudah condong ke arah barat. Tiba-tiba, seluruh desa terkejut oleh suara kentongan yang berulang kali terdengar. Itu tanda bahaya dari warga desa.
TENG!
TENG!
"Sesuatu terjadi! Cepat, sembunyikan diri di dalam lemari!" perintah Yi Cui pada Jiang Chen yang masih muda.
"Aku tidak ingin bersembunyi, jika Ibu tidak bersembunyi bersamaku," protes Jiang Chen yang muda.
"Ssst!" Ibunya menatap serius. "Jiang Chen, ingatlah janjimu kepada Ibu ketika kita berbicara tentang kemungkinan ini. Tolong jangan melawan. Selama kamu bersembunyi di dalam lemari, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah bahwa Ibu akan membuka lemari ini segera, dan kita akan bersama lagi."
Suara Yi Cui bergetar.
Ia tidak yakin dengan kata-katanya sendiri. Keributan kali ini disebabkan oleh sekelompok bandit yang selalu datang ke Desa Semilir untuk memungut pajak. Selama ini, warga desa dapat memenuhi permintaan mereka dengan memberikan koin-koin yang diminta oleh para bandit. Akungnya, pada musim ini, semua hasil panen gagal. Itu berarti warga Desa Semilir tidak mampu membayar upeti kepada para bandit.
"Semoga semuanya akan baik-baik saja. Dan semoga para bandit mau menerima alasan kami tentang kegagalan panen ini."
Yi Cui menutup pintu lemari yang tersamar sebagai dinding, yang hanya dia dan suaminya yang mengetahui keberadaannya.
++++
Jiang Chen muda tersentak dan terbangun dari tidurnya, ingatannya segera mengantarnya kembali ke masa lalu. Itu adalah saat pertama kali ia bertemu dengan guru barunya, Pan An. Pan An telah menyelamatkan Jiang Chen ketika bandit-bandit mengejar Jiang Chen kecil yang berlari keluar dari tempat persembunyiannya. Saat itu, Jiang Chen mengalami luka-luka parah akibat berusaha melarikan diri dari kejaran bandit yang semakin banyak, semua bersatu untuk mengejarnya dan menciderainya.
Hati Jiang Chen penuh dengan rasa sedih saat mengenang semua itu.
"Master Pan An adalah sosok yang menggantikan kedua orang tuaku! Aku tidak akan membiarkannya menderita dengan nasib tragis yang akan menimpa keluarganya di masa depan!" pikir Jiang Chen dengan tekad bulat. "Aku juga akan membalaskan dendam orang tua aku dan seluruh desa yang telah dihancurkan oleh kelompok bandit itu."
Jiang Chen menghela nafas dan menatap Pan An, sang guru yang tampak muda dan tampan.
Suara Pan An membuyarkan lamunan Jiang Chen. "Bagaimana, anak kecil? Sesuai dengan janjimu tadi, apakah kamu mau menjadi muridku?" Pan An bertanya dengan rasa khawatir. Ia merasa ada yang aneh dengan anak berusia lima tahun yang baru saja ia selamatkan.
"Master!" Tanpa ragu, Jiang Chen memeluk Pan An dan menangis tersedu-sedu. Ia tidak merasa risih lagi, karena kini Jiang Chen telah menerima kenyataan bahwa hidupnya dimulai lagi saat usianya baru lima tahun.
"Jiang Chen bersedia menjadi murid Anda. Mulai sekarang, Anda adalah pengganti orang tua aku!" Anak kecil itu menangis dengan keras dan melengking.
Pan An membiarkan Jiang Chen menumpahkan seluruh air matanya. Setelah beberapa saat, ia berbicara, "Anak kecil, meskipun kamu telah memanggilku 'master' berulang kali, namun kamu belum menjalani upacara resmi pengangkatan murid seperti yang lazim dilakukan."
"B-bagaimana jika aku berlutut dan mengakui Anda sebagai master sekarang?" Jiang Chen memerah dan merasa sangat malu mengingat kelakuannya.
Jiang Chen kemudian memutuskan untuk melakukan upacara sederhana. Ia melakukan tiga kali sembah kepada sang master, di bawah saksi langit dan bumi.
"Langit dan bumi menjadi saksi, aku, Jiang Chen, mengakui Pan An sebagai master aku. Di masa depan, aku akan melindungi Master aku dengan segala yang aku miliki. Jika aku melanggar sumpah ini, biarlah aku tidak lahir kembali sebagai manusia, melainkan sebagai makhluk yang lebih rendah!"
BLAM!
Ini adalah sumpah yang sangat berat. Meskipun Pan An merasa bahwa kata-kata itu terlalu berat bagi anak berusia sembilan tahun, ia tidak menghalanginya. Entah mengapa, dalam hatinya, ia merasa bahwa murid barunya ini selalu bersikap seperti orang dewasa.
Namun, di dalam hatinya, Pan An merasa sungguh terharu mendengar sumpah Jiang Chen. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipinya.
Di tempat lain, setelah mengucapkan sumpah di mana langit dan bumi menjadi saksi, Jiang Chen merasakan sesuatu yang aneh terjadi dalam tubuhnya. Perutnya bergejolak dan terasa panas.
"Dantian!" bisik Jiang Chen dengan panik.
Ketika ia memeriksa dantiannya, ia sangat terkejut. Ada energi hangat yang mengalir dan menyembuhkan semua luka dalam akibat pelarian dari kejaran bandit. Tetapi itu bukan satu-satunya yang membuatnya terkejut. Ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam tubuhnya, tepat di bagian dantian. Benda itu tampak seperti sebuah gulungan kitab langka.
Jiang Chen memeriksanya dengan teliti, hatinya berdebar-debar. Setelah pemeriksaan internal, Jiang Chen tersenyum ceria.
"Kitab Perang Naga Sejati!"
Bersambung.