Pria Aneh dengan Bayi di Malam Hari.

1596 Kata
Setelah selesai dengan upacara sembahyang mengangkat murid, Pan An mengernyit. Ia heran melihat Jiang Chen yang tampak termangu-mangu, seolah-olah anak itu sedang melamun. “Apakah Jiang Chen sedih karena upacara ini sederhana?” Pan An jadi bingung. Padahal sebelumnya ia sudah menjelaskan bahwa kelak d Sekte Huaqing nanti, upacara pengangkatan murid dan penerimaan sebagai anggota sekte akan diulang agar terlihat resmi. “Muridku Jiang Chen. Apa yang membuatmu melamun?” Jiang Chen yang Tengah terpesona melihat Kitab Perang Naga Sejati yang melayang-layang di bagian internalnya – dantian seketika terkejut. Kitab Perang Naga Sejati adalah Kitab yang berisi bermacam Teknik beladiri, kultivasi dan berbagai penggunaan senjata di masa lalu kehidupan Jiang Chen – Kitab yang di buru para ahli di zaman itu. Jiang Chen tewas di kehidupan sebelumnya gara-gara Kitab Perang Naga Sejati. “Maafkan aku master. Jiang Chen hanya merasa senang bisa menjadi murid anda!” Wajah muda Jiang Chen seketika memerah. Karena masih kanak-kanak, tentu saja rona dadu di pipinya membuat Pan An tergelak. Haha! “Kamu ada-ada saja muridku. Sudahlah kalau demikian. Sekarang kita Kembali ke Sekte Huaqingg. Mengingat jaraknya yang jauh, maka kita tak boleh membuang waktu!” Kedua murid dan Master itu pun memulai perjalanan menuju Sekte Huaqingg. Sekte Huaqingg adalah salah satu Sekte Pedang yang cukup ternama di Negeri Da You. Meskipun bukan termasuk kategori sekte papan atas, tapi banyak yang gentar untuk berhadapan dengan praktisi-praktisi dari sekte ini. Ilmu pedang mereka yang mematikan, itu membuat sekte ini diperhitungkan diantara banyaknya sekte di Negeri Da You ++++ Perjalanan dari Hutan Pinus ke Sekte Huaqingg terasa seperti sebuah perjalanan epik dari rerumputan yang lembut hingga hutan-hutan yang lebat, dengan setiap langkah mereka diiringi oleh desiran angin di antara pepohonan, lembut menyentuh. Jarak Sekte Huaqingg tidak kurang dari Empat Ratus Lie, diukur oleh matahari yang perlahan-lahan mendekati ufuk. Jiang Chen merasakan kehangatan mentari di wajahnya, sementara Pan An meresapi aroma tanah basah setelah hujan ringan semalam. (Satu Li sama dengan Lima Ratus meter) Biasanya Pan An menerapkan ilmu berlari diatas rumput untuk mempersingkat perjalanan. Mengingat kali ini perjalan yang dilakukan Pan An adalah bersama dengan murid barunya, maka Pan An memutuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati pemandangan. Ini bertujuan untuk memperkenalkan situasi alam sekitar, agar menambah pengalaman muridnya itu. Pada wawancara sebelumnya, Pan An tahu kalau Jiang Chen tidak pernah keluar dari Desa Semilir. Jadi tentu saja, pengalaman berjalan kaki ini akan membuat murid terkagum-kagum. “Apakah kamu siap untuk menjadi seorang petarung yang disebut Kultivator?” “Apakah kamu belum Lelah?” Pan An berulang kali menanyakan kondisi muridnya. Ia kuatir anak lima tahun itu belum mampu untuk melakukan perjalanan jauh. Namun sebaliknya. Jauh di lubuk hati Jiang Chen, anak ini mengkhawatirkan kondisi Kesehatan sang Master. Tiap-tiap kali ia selalu teringat akan kematian tragis masternya, dimasa lalu dalam ingatannya. Untuk ha;, sekali lagi Jiang Chen berjanji. “Aku tak akan membiarkan malapetaka itu terjadi lagi. Master Pan An, harus selamat hingga usia tua di kehidupan ini.” Berpikir tentang hal ini, Jiang Chen merasa lega. Kekuatirannya berkurang. “Tapi aku harus menjadi yang terkuat di dalam seni martial arti dan pelatihan kultivasi. Apa yang dapat kulakukan, jika aku selemah ini!” Jiang Chen menatap tangan-tangan kecil dan jari-jari pendeknya dengan geli. “Tunggulah sampai saatnya tiba. Aku akan membuat kejutan terbesar. Kitab Perang Naga Sejati di dantian ini, adalah tiket perjalananku menuju panggung utama di Benua Naga Perak!” ++++ Langit telah memerah, dan matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Meskipun hari semakin gelap, sang Guru dan murid tetap melanjutkan perjalanan mereka. Pan An melirik Jiang Chen dan merasa simpati pada anak muda itu yang mulai terengah-engah dan berkeringat. Bagi seorang anak berusia lima tahun, perjalanan seperti ini tentu merupakan tantangan berat. "Muridku, kita perlu mencari tempat untuk bermalam. Aku tahu ada sebuah penginapan tak jauh dari sini. Para petualang yang melintasi Hutan Pinus selalu singgah di Losmen Tepi Hutan untuk beristirahat. Meski bukan penginapan mewah seperti di kota-kota besar, itu cukup untuk memberi kita perlindungan malam ini," kata Pan An dengan penuh kepedulian pada muridnya. Wajah Jiang Chen tampak lelah, dan keringat mengalir dari tubuhnya. Namun, dia mencoba tersenyum dengan baik. "Guru, Anda tak perlu khawatir tentang Jiang Chen. aku sudah terbiasa dengan hidup yang sulit!" Namun, situasi ini tampak aneh. Sementara Pan An mengkhawatirkan Jiang Chen, sebaliknya, Jiang Chen juga gelisah, mengkhawatirkan sang Guru. Ingatan akan kematian tragis Guru selalu menghantuinya, itulah mengapa dia selalu peduli pada Pan An. Pan An merasa heran mendengar jawaban Jiang Chen. Dia merasa sesuatu yang tidak biasa, tetapi dia tidak bisa menentukan apa yang tidak biasa dalam kata-kata muridnya. "Apakah bukan terlalu dewasa bagi seorang anak seusiamu untuk berbicara seperti itu?" tanya Pan An sambil menatap mata polos Jiang Chen dengan cermat. Dia mencoba mencari tahu apakah ada tanda-tanda ketidakbiasaan di balik kata-kata murid kecilnya, tetapi dia tidak menemukan apapun selain ketulusan dalam hati Jiang Chen. "Aku mungkin terlalu curiga," pikir Pan An, kemudian ia mengusir keraguan dari hatinya. Hatinya menjadi hangat terhadap Jiang Chen, mengetahui bahwa muridnya memiliki perasaan kasih yang tulus padanya. ++++ Losmen Tepi Hutan adalah penginapan yang dikenal oleh para petualang. Para pemburu, petarung, tentara bayaran, hingga orang-orang biasa sering singgah di sini. Jiang Chen menatap dengan penuh kekaguman ke arah bangunan dua lantai Losmen yang berdiri kokoh meskipun berada di pinggiran Hutan Pinus. Dua pilar di pintu gerbang losmen dihiasi oleh ukiran makhluk legendaris, yaitu naga. Papan nama dengan kaligrafi berwarna emas terlihat gagah berdiri di atas pintu masuk. "Losmen ini di masa lalu adalah reruntuhan. Sekarang, terlihat kokoh seperti ini. Pasti ada peristiwa besar yang mengubahnya dari hancur menjadi seperti sekarang," komentarnya, mencari-cari alasan untuk tidak menginap di sana, tetapi sudah terlambat. Pan An sudah melangkah masuk ke Losmen Tepi Hutan. "Kita akan menginap di sini semalam. Terlalu berisiko untuk menginap di hutan dengan seorang anak sekecil kamu," tegas Pan An. Ini adalah argumen yang tak bisa dibantah. Dengan usianya yang masih kanak-kanak, sangat berbahaya berada di tengah hutan pada malam hari. "Ba-baik, Master," Jiang Chen terpaksa mengikuti Pan An masuk ke Losmen Tepi Hutan. Di dalam, suasana sangat sunyi dan hening. Kemungkinan, Jiang Chen dan Pan An adalah satu-satunya tamu yang menginap di sana. Ketika Pan An sedang mendaftar di resepsionis, Jiang Chen dengan hati-hati mengamati sekeliling di ruang tunggu. Insting petarung dalam dirinya membuatnya merasa waspada. "Losmen yang begitu sepi, berdiri sendirian di pinggiran hutan tanpa bangunan lain? Hm, ini agak aneh!" Dia melihat sekeliling. "Tapi semuanya terlihat normal dan aman!" Perasaan cemas Jiang Chen sedikit mereda. Ruangan tunggu losmen terhubung dengan aula kecil yang berfungsi sebagai restoran. Ada sekitar sepuluh meja dan kursi di sana. Hiasan restoran terbatas pada beberapa tembikar dan lukisan di dinding yang menggambarkan makhluk legendaris seperti naga dan phoenix. Selain itu, tidak ada hiasan lainnya. Tidak ada aroma kaldu atau bau tumisan bawang putih seperti yang biasanya ada di restoran. Setelah selesai memeriksa lantai satu, mata Jiang Chen terarah ke lantai dua. Dia mendongak seolah seorang profesional, tetapi sorot matanya masih mengandung kepolosan seorang anak kecil. Tidak seorang pun akan mencurigai anak berusia lima tahun yang bergantian memindai pandangannya dari lantai satu ke lantai dua. Kamar-kamar untuk para pelancong dan musafir terletak di lantai dua. Meskipun jumlahnya tidak banyak, hanya sepuluh kamar, semua tampaknya kosong dan tidak berpenghuni. “Mari beristirahat. Terlihat wajahmu memerah. Kamu pasti sangat lelah,” kata Pan An sambil melangkah mendaki tangga, dan Jiang Chen mengikutinya dari belakang. Meskipun Jiang Chen masih was-was karena naluri petarung masa lalunya, dia merasa lega setelah Pan An menjelaskan bahwa hanya mereka yang akan menginap malam itu. Tidak ada tamu lain yang biasanya adalah petugas ekspedisi pengantar bahkan perampok, karena hal ini adalah situasi umum di losmen-losmen di pinggir hutan seperti ini, sesuai dengan pengalaman petualangannya di masa lalu. ++++ Makan malam kali ini, Pan An meminta pelayan untuk menyediakan hidangan malam di dalam kamar. “Makan di dalam kamar lebih nikmat daripada hanya kita berdua yang menjadi tamu di losmen ini,” jelas Pan An saat Jiang Chen menatapnya dengan seribu pertanyaan dalam benaknya. Setelah santap malam selesai, Pan An memutuskan untuk berbaring karena merasa lelah. Tetapi bagaimana dengan Jiang Chen? Meskipun anak itu tampak berpura-pura memejamkan mata dan tidur, ia sebenarnya tak dapat menutup mata sejenak pun. Entah mengapa, di dalam hatinya, Jiang Chen masih merasa bahwa Losmen Tepi Hutan dengan kesendirian dan ketenangan yang melingkupinya terasa terlalu aneh. Saat periode Hai (21.00 - 23.00) yang mewakili akhir malam, saat babi hutan mulai keluar dari sarangnya, Jiang Chen merasa gelisah. Dengan mencari-cari alasan, ia keluar dari kamar dan mulai berkeliling di lantai dua untuk memeriksa apakah ada yang mencurigakan, sesuatu yang membuatnya merasa gelisah. “Tidak ada yang mencurigakan!” pikirnya lega. "Ayo kita periksa lantai satu," gumamnya sambil bergerak menuju anak tangga. Meskipun anak tangga terbuat dari kayu mahoni yang kuat dan mahal, mereka tak mampu menyembunyikan suara langkah kaki Jiang Chen saat ia melangkah dengan hati-hati dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Tiba-tiba, suatu pemandangan mengganggu pikirannya. Jiang Chen terhenti di tengah-tengah tangga. Ia menahan napas dan bulu kuduknya merinding saat ia melihat sesuatu di lantai satu, tepatnya di meja makan di restoran losmen. Seorang pria mencolok tampak duduk di sana dengan penampilan yang misterius, seperti seorang petarung Jianghu. Di atas meja terletak sebuah pedang, dan yang lebih mencolok adalah bahwa pria tersebut menggendong seorang bayi yang mulai menangis dengan suara melengking yang menyeramkan, terlebih dalam suasana losmen yang sepi di tepi hutan, terutama saat diluar sana malam telah semakin kelam. Mengapa seorang pria paruh baya berpakaian seperti petarung membawa seorang bayi di tengah malam, di losmen yang terpencil di tepi hutan yang sunyi? Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN