Sekelompok Penyergap.

1411 Kata
Suasana muram semakin mencekam dengan cakrawala yang tertutup kabut tebal, menutupi rembulan dan bintang-bintang yang gagal bersinar melalui kepungan awan hitam. Desiran angin di antara tajamnya dedaunan pohon pinus membawa aroma harum hingga ke dalam Losmen Tepi Hutan. Namun, ketenangan dan khusyu itu tiba-tiba terpecah oleh suara tangisan bayi. Itu bukanlah sekadar tangisan sesenggukan, melainkan jeritan yang menusuk hati. Jiang Chen terdiam di tengah anak tangga, tangan kecilnya menggenggam erat susunan kayu yang terasa begitu tinggi. Hatinya tercekat saat melihat bayi mungil yang menangis seolah-olah merasakan ketakutan yang tak dapat diucapkan. Sementara dibawah sana, pria yang terlihat seperti seorang petarung tampak bingung menghadapi situasi ini. Rupanya, pria itu tidak memiliki pengalaman menangani bayi, apalagi bayi yang menangis. "Ini sungguh kejadian aneh!" bisik Jiang Chen dalam hati. Pria petarung itu tampak sibuk mencoba menenangkan bayi dengan penuh kasih dan sangat berhati-hati, tak ada tanda-tanda sikap kasar. Namun, upayanya tampaknya sia-sia karena suara mengerikan yang keluar saat dia bernyanyi malah membuat bayi semakin keras menangis. Bayi itu ketakutan mendengar suara senandung mengerikan pria petarung itu! Jiang Chen baru saja menyemprot pria petarung itu tanpa sadar, memintanya untuk menghentikan nyanyian yang menakutkan. "Hentikan nyanyianmu! Hentikan suaramu yang menakutkan!" Namun, suara yang keluar dari mulut Jiang Chen adalah suara seorang kanak-kanak, menjelaskan lebih banyak kebingungan kanak-kanak daripada upaya memerintah. Seketika Jiang Chen merasa malu dengan suaranya. Setelah balas menatap ke tangga losmen dengan garang, tatapan pria petarung itu kembali melembut saat menyadari bahwa yang dihadapinya hanyalah seorang anak kecil. "Lagi-lagi, aku harus berurusan dengan anak-anak akhir-akhir ini. Semoga anak itu tidak menangis lagi setelah tatapan tajam yang aku berikan tadi." ++++ “Paman, mengapa adik kecil ini menangis?” tanya Jiang Chen dengan rasa ingin tahu yang khas anak berusia lima tahun. Pria itu hanya berpaling sebentar, mengulas senyum ramah pada Jiang Chen sebelum menjawab, "Adik, apakah kamu bisa membujuk bayi ini agar tidak lagi menangis?" Jiang Chen mengangguk dan menatap pria petarung itu dengan tajam, mencari tahu apakah ada yang mencurigakan. "Tidak ada yang mencurigakan. Sepertinya pria ini adalah kerabat dari bayi ini!" pikir Jiang Chen dalam hati. Pria itu tertawa setelah Jiang Chen menatapnya. Dia bertanya dengan suara ceria di tengah gelak tawanya dan tangisan bayi, "Adik kecil, mengapa kamu menatap paman sebegitu tajam? Apakah kita saling kenal sebelumnya?" Sadar bahwa dia hanya seorang anak kecil, Jiang Chen mencoba terlihat malu. Dengan suara melengking yang menjadi ciri khas anak berusia lima tahun, dia berkata, "Tidak apa-apa, paman. Aku hanya ingin bermain dengan adik kecil itu. Dia menangis, dan aku ingin menghiburnya." "Pergilah mendekat, adik kecil. Coba kamu bermain dengannya. Mungkin jika itu kanak-kanak sepertimu yang mengajaknya bicara, bayiku ini akan berhenti menangis," pria itu berkata dengan suara yang ramah dan lembut, membuat Jiang Chen yakin bahwa pria petarung ini adalah orang baik. "Baiklah, paman. Aku akan mencoba bermain dengannya," jawab Jiang Chen. Jiang Chen berdiri di kursi, sehingga sejajar dengan meja tempat bayi mungil itu berbaring saat ini. Bayi itu memiliki alas yang tebal untuk berbaring dan selimut penghangat tubuh yang cukup untuk melindunginya dari dinginnya angin malam. Jiang Chen mulai bernyanyi lagu pengantar tidur untuk bayi, sebuah lagu lama yang hampir saja ia lupakan. Yang mengejutkan, suara yang keluar dari bibir Jiang Chen terdengar merdu di telinga bayi itu. Bayi itu seketika berhenti menangis. Meskipun wajahnya masih tampak murung dan matanya basah oleh air mata, suara histeris tak lagi keluar dari mulut bayi itu. Jiang Chen berhasil meredakan bayi yang sebelumnya menangis dengan keras. Semakin lama Jiang Chen bernyanyi dan bermain dengan bayi itu, semakin pudar kesedihan dan air mata di wajah sang bayi. Sekarang, bahkan bayi itu tertawa-tawa dengan suara khas bayi, mengikuti dengan mata ke mana pun Jiang Chen bergerak. "Pria itu tampak terkejut dan terharu. "Ini tidak seperti yang kusangka..." matanya tampak berkaca-kaca. Wajahnya terlihat lega setelah tangisan bayi terhenti. Ia tak henti-hentinya menatap Jiang Chen dengan berbagai makna dalam tatapannya. Bibirnya kelu karena haru. Ia tak mampu mengucapkan kata-kata terima kasih pada Jiang Chen, selain wajah terharu dan hampir meneteskan air mata. Beberapa saat kemudian, setelah berhasil mengendalikan emosinya, pria petarung itu berniat untuk mengucapkan terima kasih kepada Jiang Chen atas bantuannya dalam meredakan bayi tersebut. Jiang Chen menjawab dengan bijak dan penuh kasih kepada bayi tersebut. Tiba-tiba, suasana berubah menjadi sangat mencekam. Angin bertiup begitu kencang, mendorong daun-daun pinus yang gugur dari hutan masuk ke dalam ruang Losmen melalui celah-celah di dinding atas tembok Losmen. Seiring dengan perubahan cuaca yang mendadak ini, ekspresi wajah pria petarung berubah menjadi sangat serius. Sorot matanya seperti mata harimau yang tajam, aura pertarungan meledak dan menonjol dengan jelas. Pria tersebut dengan cepat mencabut pedangnya yang berkilauan di bawah cahaya lampion di dalam ruangan. Dengan lompatan yang mantap, dia berdiri tegak dengan sikap yang memperlihatkan kesiapannya dalam pertempuran. Sementara itu, Jiang Chen, meskipun merasa tegang, tidak lagi memiliki kemampuan sebagai seorang ahli pedang yang mampu mendeteksi aura berbahaya dan aura kematian. Namun, Jiang Chen tetap tenang. Suara lembutnya terus bersenandung dengan lagu tidur, mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan bayi yang ada di dekatnya. Tatapan pria petarung itu melekat erat ke arah pintu yang tertutup rapat di Losmen Tepi Hutan. Dia tampak menunggu dengan antisipasi yang mendalam, siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Sementara itu, Jiang Chen hanya melirik, tersenyum dalam hati, dan memberikan penilaian dalam benaknya. "Paman ini pasti seorang ahli yang berilmu tinggi. Bahkan jauh sebelum musuh-musuhnya tiba, dia sudah mencium kehadiran mereka dan bersiap siaga!" Jiang Chen terus bersenandung seolah tidak terpengaruh oleh situasi yang tegang. Tiba-tiba, PRANG! PRANG! Jendela Losmen Tepi Hutan menjadi hancur berkeping-keping ketika sekelompok sosok manusia menerobos masuk dengan cara merusak jendela-jendela losmen. Pada masa itu, jendela-jendela umumnya besar dan terbuat dari kayu kotak-kotak, dan kaca sudah digantikan oleh kertas penutup berwarna putih. Penerobosan sekelompok orang itu mengakibatkan kondisi Losmen menjadi berantakan. Kecepatan dan gerakan para penyerbu yang terlatih terlihat mengesankan. Mereka bergerak seperti kilat, dengan cepat mengelilingi pria petarung yang berdiri sambil memandang mereka dengan dingin. Meskipun terjadi keributan dan kekacauan saat para penyerbu merusak masuk, gerakan cepat para penyerbu yang mengelilingi pria petarung tidak mengganggu Jiang Chen dan bayi yang ada di dekatnya. Pria petarung itu terheran, lalu kagum setelah melihat bahwa Jiang Chen tetap tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda panik atau ketakutan dalam situasi ini. "Adik kecil, tolong jaga bayiku sementara aku menangani orang-orang yang tak menghormati aturan ini," pria petarung tersebut meminta dengan tulus kepada Jiang Chen. Jiang Chen mendengar suara lirih yang berbisik ke dalam transmisinya, tetapi dia hanya tersenyum dan terus bernyanyi sambil menjaga mata cermat pada bayi kecil itu. Pria petarung itu melihat Jiang Chen dengan mata penuh perasaan lega. "Anak yang tabah dan penuh percaya diri. Kelak dia akan menjadi sosok yang tangguh!" gumam pria tersebut dengan suara pelan. Sementara itu, suara dengungan pedang mengisi ruangan di aula Losmen Tepi Hutan, saat sepuluh pria berpakaian hitam berkumpul, bersiap untuk mengakhiri pria petarung itu. WUSH! Dalam sekejap mata, pria petarung itu seperti bayangan yang berkelebat dan menghilang. Pedang di tangannya berkilauan saat dia membentuk pertahanan yang kuat untuk menghalangi serangan sepuluh pedang yang mendekat. TRANG! TRANG! TRANG! Percikan api tercipta saat senjata-senjata bertabrakan, menghasilkan suara gemerincing besi yang menusuk telinga. Satu pedang dengan cepat menghalangi sepuluh serangan pedang. "k*****t!" "Aduh!" Sepuluh sosok berpakaian hitam itu merintih kesakitan. Setelah bentrokan sengit itu, tangan mereka terasa kesemutan dan mati rasa. d**a mereka terasa sesak, dan ada rasa amis di mulut mereka yang membuat mereka ingin muntah. Darah! Itulah cita rasa yang menggumpal di mulut mereka. Bagaimana dengan kondisi pria petarung itu sendiri? Dia terlihat baik-baik saja. Wajahnya terlihat gembira dengan senyuman mengejek. “apakah kalian masih akan melanjutkan pertarungan?” dia menantang. ++++ Sementara itu, suara ribut akibat bentrokan senjata di lantai pertama Losmen membuat Pan An terbangun dengan kaget. "Jiang Chen? Di mana muridku itu?" Wajah Pan An seketika memancarkan ekspresi panik. Ia segera mendobrak pintu kamarnya dan berlari ke tangga yang menuju lantai pertama. Pan An tiba-tiba terdiam, mematung di tengah perjalanan. Dia menyaksikan kejadian yang luar biasa di bawah. Seorang pria yang sangat mahir dalam seni bela diri menggunakan pedang, tampak berhadapan dengan sepuluh sosok misterius. Namun, pria itu tidak terlihat kebingungan atau kesulitan menghadapi serangan mereka. Ketika pandangannya berpindah ke area lain, Pan An semakin terkejut. Jiang Chen, muridnya, duduk santai di atas meja. Anak itu terlihat riang, sedang bermain dan bersenandung dengan bayi mungil yang terbungkus selimut dan tertawa bersama-sama. Yang lebih mengejutkan lagi, kedua anak kecil dan bayi itu tampak sama sekali tidak terganggu oleh pertempuran yang sedang berlangsung di dekat mereka. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN