Dio mengerjap. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Rasa nyeri bahkan menjalar di seluruh tubuhnya. Walau pun begitu, ia bisa melihat dengan jelas sosok Kris yang berdiri di sana dengan sebuah balok kayu di tangannya. Selain Kris, ia pun melihat Zito terbaring di sana. Kedua matanya bahkan terpejam. Kris mengulurkan tangan pada Dio, yang kemudian disambut dengan ragu oleh Dio. “Apa yang terjadi padanya?” tanya Dio dengan suara lemah, diliriknya tubuh Zito yang sama sekali tidak bergerak. “Kuharap aku sudah berhasil membunuhnya,” gumam Kris. Dio mengernyit. “Apa? Membunuhnya? Apa maksudmu?” “Saat perjalanan ke sini, aku bertemu dengan seorang pak tua. Bapak itu bilang aku harus melukai orang yang tubuhnya telah diambil roh jahat di sini, atau membunuhnya sekali lagi. Dengan begitu roh i

