bc

Cinta di Medan Perang

book_age16+
349
IKUTI
4.2K
BACA
adventure
dark
love-triangle
family
HE
love after marriage
fated
opposites attract
second chance
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
brave
neighbor
stepfather
doctor
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
lucky dog
witty
city
office/work place
another world
childhood crush
enimies to lovers
rejected
secrets
dystopian
kingdom building
war
love at the first sight
affair
polygamy
addiction
actor
civilian
like
intro-logo
Uraian

Hilya Kanaya tak pernah membayangkan hidupnya berubah drastis ketika dipaksa menikah dengan Arshaka Yaseer, seorang tentara perdamaian dunia yang belum pernah ia temui. Pernikahan megah mereka mendadak berubah menjadi teka-teki besar saat Arshaka pergi tanpa sepatah kata, meninggalkan Hilya di tengah kebingungan.

 

Di medan tempur, mereka terpisah oleh jarak dan tugas. Hilya berjuang sebagai dokter di zona konflik, sementara Arshaka menghadapi bahaya di garis depan. Di balik ketegangan dan ketidakpastian, mereka harus menemukan jalan untuk memahami satu sama lain—dan mungkin, membangun cinta yang tumbuh di antara reruntuhan perang.

 

Bisakah hati yang terpisah oleh medan tempur menemukan kedamaian bersama?

chap-preview
Pratinjau gratis
Pernikahan yang Terluka
Di sebuah rumah yang dipenuhi dekorasi pengantin yang megah, suasana cemas dan penuh antisipasi mengisi setiap sudut. Langit yang tampak cerah di luar seolah-olah mengabaikan ketegangan yang melanda dalam rumah tersebut. Ruangan utama dipenuhi dengan bunga-bunga putih dan emas yang bersinar di bawah cahaya lampu kristal, menciptakan atmosfer yang tidak cocok dengan suasana hati pengantinnya. Di depan meja akad yang dihias indah, seorang mempelai pria berdiri tegak. Tubuhnya yang atletis dan penampilannya yang tampan menarik perhatian siapa pun yang melihat. Namun, wajahnya yang dingin dan ekspresi kaku menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya berada di situ. Dengan setiap detik yang berlalu, ekspresi ketegangan di wajahnya semakin terlihat jelas. Dia mengatur napas, berusaha untuk tetap tenang meskipun ada sesuatu yang jelas mengganggu pikirannya. Sementara itu, di dalam kamar yang terletak jauh dari ruang utama, mempelai wanita duduk dengan anggun di kursi berhias. Gaun pengantinnya yang indah, yang mengalir lembut seperti air terjun, tampak kontras dengan kekuatiran di wajahnya. Dia belum pernah bertemu dengan calon suaminya sebelumnya, perjodohan ini adalah hasil keputusan keluarga mereka. Dia mencoba untuk menenangkan diri, mengingat pesan dari ibunya untuk tetap kuat dan sabar. Ketika suara ijab qabul mulai terdengar dari ruangan utama, hati mempelai wanita berdegup kencang. Setiap kata yang diucapkan oleh penghulu seolah menjadi momen yang menegangkan, dan setiap detik terasa seperti satu abad. Ia berdoa agar segala sesuatu berjalan lancar dan berharap bisa menemukan kebahagiaan dalam perjalanan yang baru ini. Tiba-tiba, suara penghulu mengumumkan bahwa ijab qabul telah selesai. Mempelai pria muncul dari ruang utama dengan langkah cepat, wajahnya penuh dengan ekspresi yang sulit untuk dibaca. Dia tidak memberikan satu pun tatapan atau senyuman kepada mempelai wanita yang menunggu di kamar. Tanpa menunggu lebih lama, dia langsung menuju pintu depan dan segera meninggalkan rumah. Mempelai wanita merasa bingung dan sedikit terkejut. Rasa penasaran menyelimuti hatinya ketika dia mendengar suara mobil yang pergi cepat dari halaman rumah. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mempelai pria meninggalkan tempat itu dengan begitu terburu-buru? Di luar rumah, mempelai pria, yang bernama Arshaka Yaseer, tergesa-gesa menuju mobilnya yang menunggu. Ia melihat jam tangannya dengan cemas. Tugas penting menunggunya—sebuah penerbangan ke luar negeri sebagai bagian dari misi perdamaian dunia yang sudah dijadwalkan jauh sebelum perjodohan ini terjadi. Meski dia sangat mementingkan tugasnya, perasaan yang membebani pikirannya membuatnya semakin terburu-buru. Pria tampan yang dipanggil Shaka itu melangkah ke dalam mobil dan memerintahkan sopir untuk langsung menuju bandara. Sambil menatap ke luar jendela, pikirannya berlari kembali ke momen-momen yang baru saja terjadi—momen di mana dia mengikatkan diri dalam ikatan yang tak pernah dia bayangkan akan terjadi. Dia tahu bahwa dia harus pergi, namun dia tidak bisa menghilangkan rasa bersalah yang tiba-tiba timbul terhadap wanita yang baru saja menjadi istrinya. Di rumah, mempelai wanita, yang bernama Hilya Kanaya, keluar dari kamarnya dan melangkah ke ruang utama. Dia melihat dekorasi pengantin yang sekarang terasa seperti barang-barang asing yang tidak memiliki makna. Melihat ruangan yang sekarang sepi dan kosong, dia merasa kehilangan dan kebingungan. Dia duduk di salah satu kursi, berpikir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Rasa penasaran semakin mendalam—siapa sebenarnya Arshaka? Mengapa dia terlihat begitu dingin dan tergesa-gesa? Apa yang sebenarnya akan terjadi pada pernikahan mereka? Para tamu mulai merasakan keganjilan saat mempelai pria meninggalkan rumah dengan begitu tergesa-gesa tanpa memberi tahu atau bahkan menemui mempelai wanita. Suasana yang semula meriah dan penuh keceriaan, tiba-tiba berubah menjadi canggung dan penuh kebingungan. Banyak tamu yang bertanya-tanya dan saling bertukar pandang, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di tengah-tengah kebingungan ini, orang tua Arshaka, Pak Hendra dan Bu Nabila, berdiri dengan ekspresi malu dan cemas di depan tamu-tamu yang mulai merasa tidak nyaman. Pak Hendra, yang dikenal sebagai sosok yang terhormat dan bijaksana, terlihat tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa terpaksa untuk menjelaskan situasi yang tidak diinginkan ini kepada keluarga mempelai wanita. Dengan langkah ragu, Pak Hendra menghampiri Hilya, yang masih duduk di ruang utama, memandangi dekorasi pengantin yang kini terasa kosong. Hilya menatap Pak Hendra dengan rasa ingin tahu dan sedikit bingung. Melihat ekspresi wajahnya yang lelah dan tertekan, Pak Hendra merasa semakin berat untuk berbicara. "Maafkan kami, Nak Hilya," Pak Hendra memulai, suara pria paruh baya itu penuh dengan rasa menyesal. "Kami tidak menyangka situasi ini akan menjadi seperti ini. Shaka... Shaka harus pergi dalam waktu singkat untuk tugas penting. Dia adalah bagian dari misi perdamaian dunia, dan tugasnya sangat mendesak." Hilya mendengarkan dengan seksama, namun rasa bingung dan kekecewaan di hatinya tidak bisa sepenuhnya menghilang. Dia mencoba menahan emosinya dan bertanya, "Mengapa dia tidak memberi tahu saya tentang ini sebelumnya? Apakah ada sesuatu yang salah?" Pak Hendra menggelengkan kepala dengan penuh penyesalan. "Kami juga tidak mengetahui detail lengkap mengenai tugasnya. Ini adalah hal yang mendesak dan mendadak. Kami minta maaf jika hal ini menimbulkan ketidaknyamanan untukmu. Kami berharap kamu bisa memahami situasi ini." Bu Nabila, yang berdiri di samping suaminya, menambahkan dengan lembut, "Kami tahu ini sangat mengecewakan, dan kami sangat menyesal. Jika ada yang bisa kami bantu atau jika ada pertanyaan yang ingin kamu ajukan, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjawabnya." Hilya mengangguk perlahan, berusaha untuk menahan air mata yang hampir jatuh. Dia menghargai usaha mereka untuk menjelaskan situasi, meskipun dia masih merasa kehilangan dan bingung tentang bagaimana melanjutkan hidupnya setelah pernikahan yang belum sempat dimulai dengan baik. Di tengah keramaian yang kacau, ayah kandung Hilya, Pak Hadi, dan ibu tirinya, Bu Nurul, melangkah dengan hati-hati menuju Pak Hendra dan Bu Nabila. Rasa malu dan kekacauan yang mengelilingi mereka seolah menambah berat langkah mereka. Pak Hadi tampak berusaha untuk tetap tenang, meski jelas terlihat kemarahan dan kebingungan di matanya. Di sisi lain, Bu Nurul, dengan ekspresi sinis yang sulit disembunyikan, tampak siap memanfaatkan situasi ini. “Pak Hendra, Bu Nabila,” sapaan Pak Hadi terlihat dipenuhi ketidaknyamanan. “Kami benar-benar terkejut dan kecewa dengan kejadian ini. Ini seharusnya menjadi hari bahagia bagi anak-anak kita, tetapi kini berubah menjadi sebuah kekacauan.” Pak Hendra mengangguk dengan penyesalan, mencoba menjelaskan lagi. “Kami sangat minta maaf, Pak Hadi. Shaka harus pergi dalam waktu singkat untuk tugas kemanusiaan yang mendesak. Kami tidak menyangka bahwa situasinya akan menjadi seperti ini.” Sementara itu, Bu Nurul, dengan nada yang sengaja meninggi dan penuh nada sindiran, berusaha menambah ketegangan. “Jadi, Nak Shaka, yang baru saja menjadi menantu kami, harus pergi begitu saja tanpa memberi tahu atau bahkan menemui istrinya? Sepertinya ada yang tidak beres dengan situasi ini. Ini sangat tidak pantas.” Pak Hadi mencoba menenangkan istrinya dengan suara yang lebih tenang. “Ma, mari kita tidak memperkeruh keadaan. Ini adalah situasi yang tidak terduga. Kita harus memberikan ruang dan waktu untuk Hilya dan Shaka untuk menyesuaikan diri.” Namun, Bu Nurul tidak berhenti di situ. “Bagaimana kita bisa yakin bahwa ini bukan hanya alasan untuk menghindari tanggung jawab? Sepertinya ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Dan siapa yang akan menjaga perasaan Hilya sekarang? Kita semua tahu betapa sulitnya dia menjalani hari ini.” Sementara ketegangan semakin memuncak, Pak Hendra mencoba untuk menjaga ketenangan. “Kami benar-benar minta maaf atas semua ketidaknyamanan ini. Kami akan memastikan bahwa Shaka segera menghubungi Nak Hilya dan memberikan penjelasan yang lebih lengkap.” Bu Nurul menatap Pak Hendra dengan sinis. “Bagaimana jika Shaka tidak kembali tepat waktu? Bagaimana jika ada sesuatu yang lebih besar yang harus dihadapi Hilya? Kami semua khawatir tentang masa depan Hilya. Kami hanya ingin memastikan bahwa dia tidak dibiarkan begitu saja.” Pak Hadi mencoba untuk meredakan ketegangan. “Ma, mari kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin. Kita harus fokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Hilya melalui masa sulit ini.” Namun, suasana tetap tegang dan tidak nyaman. Ketidakpastian mengenai masa depan pernikahan Hilya dan Arshaka semakin menambah rasa cemas dan kekacauan di rumah tersebut. Hilya, yang berdiri di samping, merasakan beratnya situasi dan merindukan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Ketegangan antara kedua keluarga dan keadaan yang semakin rumit meninggalkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran. Bagaimana Hilya akan mengatasi situasi ini? Dan apakah Arshaka akan mampu menghadapi misi perdamaian dunia sambil menyelamatkan pernikahan yang baru dimulai? Ketidakpastian ini menggantung di udara, menciptakan sebuah cerita yang penuh dengan misteri dan emosi yang mendalam. Bersambung....

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook